
"Ya Allah...! sampai kapan aku dicoba seperti ini, tolong segera turunkan PertolonganMu, ya Allah! Tolonglah hamba bagaimanapun caranya, yang terpenting Hamba bisa bebas dari semua Belenggu yang sedang mengikatku. Abah, ambu.... ternyata Beginilah kalau hidup tidak menuruti perintah orang tua, Ranti mengalami kejadian hal yang buruk, sehingga berubah wujud menjadi babi hutan. tolong Ranti Ambu....! tolong Ranti Abah....!" gumam hati babi ngepet itu, terlihat dari sudut matanya keluar cairan bening yang membasahi pipinya.
Orang-orang yang menonton semakin lama semakin banyak, karena pemberitaan tentang adanya babi aneh yang ditangkap oleh Mbah Turo menyebar begitu cepat, sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Karmin. orang-orang yang baru datang Mereka menyela-nyela ingin melihat babi yang bisa menangis dan memiliki anting di telinganya, Mungkin dia ingin melihat lebih jelas apa yang didengar, membuat Ranti semakin merasa sedih, merasa sengsara. kalau mampu, Mungkin dia sudah melepaskan ikatan, kemudian kabur meninggalkan rumah Karmin. Namun apa daya tangan tak sampai, jangankan untuk kabur untuk bergerak saja Ranti sangat kesulitan, karena dia masih diikat dipikulan bambu yang digantungkan di pohon jambu.
Kesedihan Hati Ranti yang sedang ditonton oleh para warga kampung terkontak dengan perasaan Mbah Turo. karena kakek tua itu terlihat bangkit dari tempat istirahatnya, kemudian dia berjalan menemui seseorang.
"Yi.... Ayi....! Sudah selesai belum kandangnya?" tanya Mbah Turo sama anak muda yang tadi dia tugaskan untuk membetulkan kandang Karmin.
"Sudah bah! tinggal memasukkan babinya!"
"Ayo tolong bantu Abah!" ajak Mbah turos sambil mendekat ke arah pohon jambu di mana Ranti digantungkan. Setelah itu mereka berdua pun menggotong tubuh Ranti membawa ke dekat kandang yang berada di samping rumah Karmin. para warga yang menonton pun mereka bergeser memberi jalan, agar tidak mengganggu pekerjaan orang lain.
Setelah sampai di samping rumah Karmin. dengan hati-hati babi itu dimasukkan ke dalam kandang, dengan cara Ayi ikut masuk ke dalam. Karena kandang itu ukurannya lumayan luas. setelah semua tubuh babi Masuk, Ayi pun dengan hati-hati dia pun keluar dari kandang. Kemudian pintunya ditutup lalu dikunci dengan tambang yang sangat kuat.
"Sekarang Bagaimana bah?" tanya Ayi yang menatap penasaran ke arah orang tua yang sejak dari tadi memperhatikan.
"Lepaskan ikatan yang ada di pikulannya?"
"Caranya bagaimana?"
"Potong pakai golok, tapi jangan sampai terkena kulitnya. kamu bisa memotong tali yang ada di pikulan!" seru Mbah Turo.
Ayi pun mengangguk kemudian dia mengeluarkan golok yang tadi dipinjam dari Karmin. lalu dengan segera Dia memotong tali tali yang mengikat tubuh Ranti dari luar kandang, sehingga tali yang mengikat itu habis tak tersisa. membuat babi itu segera bangkit dari tempat tidurnya. namun ketika dia hendak melarikan diri, kakinya yang terasa kebas, karena sejak dari subuh kaki itu tidak pernah berdiri dengan sempurna, hingga akhirnya tubuh babi ngepet itu ambruk kembali.
Niat hati dan nafsu yang memenuhi jiwanya, Ranti ingin segera menubruk kandang yang terbuat dari bambu geluntungan itu. Namun sayang jangankan untuk berlari, untuk berdiri saja dia tidak mampu. Yang bisa dia lakukan hanya menangis kembali, dengan tangisan yang begitu memilukan. memikirkan nasib diri yang begitu menyedihkan. Ranti sekarang di penjara di dalam kandang berukuran dua kali dua Meter, dengan batang bambu haur geluntungan yang sangat rapat, mungkin jaraknya antara 5 sampai 10 cm. sehingga membuat pandangan Ranti terbatas tidak awas menatap ke arah luar.
__ADS_1
"Tarik bekas bambu pikulannya, agar tidak mengganggu!" seru bah Suro sama Ayi yang dari tadi memperhatikan ke arah dalam.
Ayi pun mengangguk kemudian dia menarik bekas pikulan, sedangkan Ranti, Dia mulai mencoba berjalan mengelilingi kandang itu, dengan menggunakan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Ranti mencoba mendorong dinding kandang dengan tubuhnya, namun kandang itu tidak bergeming sama sekali.
"Kayaknya kuat Mbah!" ujar Ayi mengungkapkan pendapatnya.
"Iya kuatlah Jang Ayi, kan Mamang buat untuk domba Garut, domba adu!" jawab Karmin sambil mengulum senyum merasa bangga dengan hasil kinerjanya.
Setelah dirasa aman, anak-anak kecil pun mulai mendekat mengerumuni kandang itu, dengan membawa pohon singkong dan sapu lidi, kemudian mencolok-colok kandang itu melalui celah-celah dinding kandang yang terbuka. sehingga sapu lidi dan pohon singkong itu mengenai seluruh tubuh Ranti, ada yang terkena sama perutnya, ada yang terkena sama kepalanya, ada juga yang terkena sama telinganya, bahkan kalau Ranti tidak waspada mungkin colokan itu bisa mengenai mata, namun beruntung dengan cepat dia menghindar.
Kejadian seperti itu, membuat Ranti semakin merasa sedih. karena sama anak-anak kecil saja, dia tidak dihargai, bahkan dijadikan bahan candaan, dijadikan bahan olok-olokan dan bahan mainan. karena anak-anak kecil itu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya yang berada di dalam tubuh babi itu, adalah seorang wanita yang bernama Ranti anak bah Abun orang Ciandam.
"Hey..! Hey! dasar bocah kurang ajar! Jangan dibuat mainan, kasihan...." bentak salah satu orang tua yang melihat kesal dengan tingkah laku bocah bocah nakal itu.
"Iya....! iya! Daripada digangguin, mendingan kalian kasih makan!" Timpal Karmin sambil duduk di Batu, terlihat keringat membasahi seluruh tubuhnya, sehingga membuat bajunya sangat basah.
"Kasih makan singkong aja. tuh singkongnya ngambil di halaman rumah Mamang!" jawab Karmin.
Dua anak pun berlari, menuju ke arah kebun singkong milik Karmin, tanpa berpikir panjang kedua anak itu mencabut singkong yang masih terlihat sangat muda, karena umbinya hanya sebesar tangan bayi. setelah mendapat singkong anak-anak pun berlari kembali, menuju ke arah kandang babi. kemudian singkong yang baru diambil dimasukkan ke dalam kandang.
Melihat kejadian seperti itu, Ranti hanya melirik sebentar ke arah singkong yang baru masuk ke dalam kandang. hatinya semakin merasa sedih, karena dia tidak suka makan singkong, apalagi singkongnya singkong mentah, masih penuh dengan tanah. "dasar anak-anak kurang ajar! Tidak tahu apa? kalau aku tidak suka dengan singkong, Mending kalau singkongnya singkong rebus atau singkong bakar. ini singkong yang baru diambil, dikasih sama tanah-tanahnya. tega....! benar-benar tega.....! nasib....! Nasib!" gumam hati Ranti, namun tidak ada seorangpun yang mengerti dengan keresahan hati yang sedang ia rasakan, bahkan masuk kembali satu tangkai umbi singkong, membuat Ranti tidak mau meliriknya merasa kesal dengan apa yang menimpanya.
"Makan tuh Babi...!"
"Makan lu....! jangan kayak di hutan, singkong satu kebun kamu habiskan."
__ADS_1
"Yah makan...! jangan pura-pura, Ayo makan! babi."
"Dasar babi nggak tahu di untung, dikasih makan malah menolak.
Ujar anak-anak yang terdengar sangat kasar, karena mereka beranggapan sedang berbicara dengan seekor hewan, yang tak harus memakai sopan santun. berbeda dengan Ranti yang hatinya merasa pilu, perkataan anak-anak itu kalau diibaratkan seperti pedang yang menghunus hatinya, meninggalkan rasa perih yang begitu mendalam, merasa tidak dihargai oleh anak-anak yang sedang mengerjainya. namun walau seperti itu, Ranti tetap sadar bahwa sekarang dia bukan dalam bentuk wujud aslinya sebagai manusia melainkan hanya seekor babi hutan yang sangat hina. karena suka mencuri, merusak tanaman milik para petani. hanya air mata yang bisa dijadikan teman sedih, dan susah. karena hanya air itu yang setia menemani, ketika air itu mengalir seolah sedang melepaskan beban yang membelenggu dirinya.
"Dasar babi manja... Kenapa nggak dimakan?" grutu salah seorang anak kecil, sambil menggeserkan singkong dengan pohonnya agar mendekat ke arah mulut Ranti, Mungkin maksudnya mau menyuapi.
"Masih kecapean kali, Coba siram pakai air, biar pakai tubuhnya terlihat segar!" seru Bah Turo, karena memang begitulah adanya, ketika sang babi terlihat lemas maka ketika disiram dengan air. tubuh babi itu akan segar kembali. akan bringas kembali.
Mendapat perintah seperti itu, anak-anak kecil pun berhamburan mengambil wadah air. ada yang mengambil lodong bambu, ada juga yang mengambil ember. kemudian anak-anak itu berjalan menuju ke arah belakang rumah Karmin, yang ada kolam ikannya. tanpa pikir panjang anak anak-anak pun mengambil air yang terlihat sudah berubah warna menjadi kehijauan, dengan sedikit mengeluarkan bau.
Setelah wadah wadah mereka terisi, anak-anak kecil itu mulai kembali mendekat ke kandang babi. tanpa berpikir panjang Mereka pun menyiram Ranti yang berada di dalam, membuat sekujur tubuh Ranti terlihat basah, dengan bau yang sangat khas, bau ******. tanah yang menjadi pijakannya, menjadi seperti Lumpur. "Ya Allah...! jangan tambah Kesedihanku seperti ini," gumam hati Ranti.
Byur! Byur!
Belum habis bergumam air pun mengguyur tubuhnya kembali. "eh....! anak kurang ajar, sudah jangan menyiramiku." bentak Ranti memarahi salah seorang anak yang baru saja menyiramnya, namun dia tidak sadar kalau bentakannya itu terdengar sebagai suara babi yang sangat khas. membuat anak-anak kecil itu bersorak gembira, karena usahanya membuahkan hasil, apalagi ketika melihat babi ngepet itu bangkit dari tempat duduknya. mereka menyangka bahwa babi itu semakin segar, tanpa berpikir panjang anak-anak nakal itu mulai menyiram kembali tubuh Ranti, hingga akhirnya mereka menghabiskan berlodong-lodong dan berember Ember air.
Mendapat perlakuan seperti itu, Ranti hanya semakin merasa sedih, tubuhnya terasa menggigil, karena terus-terusan disiram oleh air. tempat peristirahatannya pun terlihat sangat berlumpur, sehingga ketika dia mau merebahkan tubuhnya, Pasti akan sangat kotor, tubuhnya akan dipenuhi oleh Lumpur.
"Ya Allah...! sedih banget Nasib diriku sekarang. sampai harus mengalami disiram dan tinggal di tempat becek seperti ini. Abah....! Ambu...! tolong Ranti..! Tolong selamatkan anakmu. Apakah kalian tega, membiarkan anakmu tersiksa seperti ini." Gumam Ranti, karena hanya itulah yang bisa dia lakukan, hanya memanggil, menyebut menyebut nama orang tuanya.
Tubuh Ranti yang awalnya berdiri, namun lama-kelamaan kakinya merasa kebas tak mampu menahan beban berat, hingga akhirnya babi itu merebahkan tubuh di atas genangan air, sehingga perutnya terlihat kotor, oleh Lumpur Bahkan tidak sampai di situ, lalat lalat pun mulai datang mengerumuni.
KeJadian seperti ini, bukanlah kejadian yang sangat diinginkan oleh manusia manapun. kejadian yang paling dibenci kalau harus bermain lumpur, apalagi diganggu oleh lalat lalat yang hinggap di tubuh. anak-anak kecil yang tadi tidak jadi pergi ke sekolah, mereka terus mengerumuni kandang Ranti karena mungkin mereka mendapat mainan baru, sehingga mereka betah berlama-lama di samping rumah Karmin.
__ADS_1
"Kita harus mencari makanan yang lain, soalnya singkong nggak mau dimakan," saran seorang anak kecil yang terlihat paling besar.