Babi Beranting

Babi Beranting
47. jadi babi hutan


__ADS_3

Sore hari di kampung Ciandam, terlihat matahari dari ufuk timur masih menampakan dirinya dengan sempurna. burung-burung berkicauan, serangga cicada terdengar dari arah kebun warga. terlihat di jalan besar ada dua orang yang sedang berjalan, Yang satu masih muda dan yang satu sudah nampak agak tua. namun tidak bisa dibilang seperti itu, karena Zuhri baru berumur 35 tahunan.


"Semakin ke sini, Kampung kita semakin sering didatangi babi. namun babinya aneh, masa ada babi berjalan di jalan besar." ujar seorang yang terlihat agak tua mengawali pembicaraan.


"Emang biasanya babi itu Seperti apa Mang?" Tanya Galih yang masih belum paham dengan masalah perbabihutanan. Benar mereka adalah zuhri Dan Galih yang pulang berburu babi hutan namun gagal.


"Biasanya babi akan menjarah ke kampung itu, malam-malam. karena biasanya kalau siang mereka akan tidur."


"Oh begitu!" jawab Galih yang mencembungkan kedua pipinya, sambil terus mengikuti langkah Zuhri yang semakin mendekat ke arah rumahnya. namun langkah mereka terhenti ketika ada yang memanggil dengan terburu-buru.


"Ada apa Ronah? pake teriak-teriak segala." jawab Zuhri yang melihat istrinya berlari mendekat.


"Ranti Kang! Neng Ranti nggak ada di rumah." jawab Ronah yang terlihat ngos-ngosan.


"Darimana kamu tahu Ranti tidak ada di rumahnya."


"Tadinya mau nganterin nasi ke rumah Mbah Abun. soalnya kan kemarin malam si Abah meminta keluarga kita untuk menyiapkan nasi buat Ranti. namun ketika sampai di rumahnya, Ranti tidak ada. bahkan pintu depannya terbuka." jawab Ronah menjelaskan, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


"Haduuuuuuuh! ada apa lagi ini?" jawab Zuhri sambil berjalan mendahului mereka, karena walau bagaimanapun Dia adalah orang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Ranti, karena Mbah abun telah menitipkan anaknya kepada Zuhri.


Melihat suaminya sudah pergi, Ronah pun tanpa bertanya lagi dia pun mengikuti Zuhri menuju rumah mbah Abun. Galih yang merasa penasaran dia mengikuti suami istri itu.


Benar saja setelah sampai di rumah bandar anyaman itu, terlihat pintu rumah sudah terbuka. meja, kursi yang ada di ruang tamu ajak-acakan, seperti bekas ada orang yang berantem di dalamnya.


"Ada apa ini mang?" tanya Galih sambil menatap ke arah dalam lewat pintu yang terbuka.


"Nggak tahu. Rantiiiiiiii! Neng Rantiiiiiiiiii! Neng.........!" Panggil Juhri sambil berteriak-teriak, tak puas memanggil dari arah depan dia pun berjalan ke arah samping rumah, lanjut menuju ke arah pintu dapur. namun dia tidak bisa masuk, karena pintu dapur terkunci dari dalam.

__ADS_1


"Rantiiiiiiii! Ranti!" teriak Galih memanggil kekasihnya dengan suara yang begitu lantang. Namun sayang orang yang dipanggil tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Bagaimana Jang?" tanya Zuhri yang kembali lagi ke arah depan.


"Nggak ada siapa-siapa mang! Coba Ayo kita cek ke dalam." ajak Galih.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam, karena takut terjadi apa-apa sama Ranti, untuk mengecek keberadaan orang yang punya rumah.


"Ranti....! Neng Ranti!" Panggil Zuhri masih berteriak.


"Mungkin di kamarnya Mang!" saran Galih sambil menunjuk salah satu pintu kamar.


Zuhri mengangguk kemudian Dia mendekati pintu kamar Ranti. Karena dari luar saja terlihat kalau kamar itu tertata rapi seperti kamar gadis pada umumnya. Setelah menyikap gorden, terlihat di dalamnya ada baju yang masih berserakan di atas kasur, kemudian dia mulai memidai seluruh area kamar itu, mencari keberadaan Ranti. setelah puas dan tidak menemukan hasil, mereka berdua pun keluar lalu mengecek ke kamar Mbah Abun. terlihat lemari yang masih terbuka dan ada bambu Tamiang yang terbelah.


"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Galih sambil mengerutkan dahi tidak mengerti dengan apa yang menimpa kekasihnya.


"Celaka Bagaimana Mang?" tanya Galih yang semakin tidak mengerti.


"Ayo kita keluar, kita kunci aja rumah ini dari luar. kebetulan tadi mamang lihat kuncinya masih tergantung di daun pintu." saran zuhri sambil cepat-cepat keluar dari kamar Mbah Abun, dia tidak menyentuh apapun membiarkan tempat kejadian perkara begitu saja.


Setelah berada di tengah rumah Zuhri pun, keluar dari rumah mbah Abun lalu menguncinya dari luar.


"Bagaimana Mang, kok Ranti nggak ada?"


"Sudah Jang Jangan banyak bertanya, nanti juga Ujang akan tahu kebenarannya seperti apa." jawab zuhri yang terlihat seperti sudah bisa menebak kejadian apa yang sebenarnya terjadi. sambil berjalan pergi meninggalkan rumah mbah Abun. sedangkan orang yang mereka cari, tadi ketika dikejar anjing, dia terus lari ke tengah hutan. hingga akhirnya dia merasa lelah dan berhenti menjatuhkan tubuh ke atas tanah.


"Kenapa anjing-anjing itu mengejarku?" ujar Ranti yang napasnya terengah-engah, merasa capek sehabis lari begitu jauh.

__ADS_1


Dia pun terdiam sambil terus mengingat-ingat kejadian yang baru saja menimpanya, namun sayang dia tidak mengingat begitu jelas apa saja yang baru terjadi kepada dirinya. rasanya kejadian itu sangat cepat sehingga susah untuk mengingat, seperti berada di dalam alam impian.


Dari arah pohon yang rimbun terdengar suara kinjeng tangis atau tonggeret yang sangat kencang, burung-burung berkicau saling mengejar dengan yang lainnya, mungkin sedang memberitahu bahwa sayap-sayap malam akan segera terbuka. dari sebelah timur matahari sudah mulai meredup, meski belum bersembunyi di balik gunung. panasnya sudah tak sepanas tadi siang, menambah cerahnya sore hari itu. namun berbeda dengan wanita yang sedang berbaring memikirkan apa yang baru saja menimpanya.


"Kenapa tadi pas aku menyapa Daus, dia malah seperti orang yang ketakutan, malah berteriak bahwa ada babi." ingat Ranti yang sedikit samar-samar membuat dia mengerutkan dahi, menerka-nerka Apa yang sebenarnya terjadi.


"Padahal aku memakai baju bagus, Kenapa dia seperti orang yang ketakutan." ujar Ranti sambil bangkit hendak melihat ke arah baju yang tadi ia kenakan. namun dia pun kaget karena Sekuat apapun dia melihat ke arah tubuhnya, dia tidak bisa melihat bentuk tubuh itu.


"Ya Allah, kenapa ini?" ujar Ranti sambil bangkit dari pembaringannya, kemudian dia beberapa kali hendak melihat tubuhnya, Namun sayang dia tidak mampu melakukan hal itu.


Merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia pun bangkit lalu berjalan niatnya hendak kembali ke rumah. namun kenyataannya dia melangkah semakin menjauh dari perkampungan Ciandam, hingga akhirnya tiba di salah satu Sungai yang airnya sangat bening.


Rasa haus yang hinggap di dalam tubuhnya  membuat tenggorokannya bergerak-gerak, setelah melihat air yang begitu bening. "Kayaknya kalau minum air itu akan sangat aman. sambil bercermin di air, mungkin bisa melihat kecantikanku yang mengenakan baju yang sangat bagus." ujar Ranti sambil terus mendekati sungai itu, setelah sampai di tepian dia pun meneguk ke air itu beberapa kali, namun ketika hendak mencuci wajahnya, ternyata dia tidak bisa melakukan hal itu. merasa Aneh dia pun menatap ke arah air dengan seksama, terlihatlah dengan jelas bahwa yang ada di bayangan itu bukan bentuk seorang wanita, melainkan seekor babi hutan yang sangat besar, dengan kulit hitam pekat.


"Ya Allah! ada babi." ujar Ranti yang terperanjat kaget, dia pun mundur beberapa langkah. kemudian memindai area sekitar mencari keberadaan bayangan yang tadi ia lihat di bayangan air, namun dia tidak melihat apapun di area itu.


"Apa jangan-jangan!" gumam Ranti tertahan, terlihat dari sudut matanya keluar cairan bening, tak mampu membayangkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. dengan gontai dia pun melangkah mendekati tepian sungai, untuk melihat kembali Apa yang sebenarnya terjadi, dan ternyata terlihat dengan jelas bahwa yang ada di bayangan itu, bukan dirinya melainkan babi hutan.


Groooook!


Teriak Ranti yang sudah berubah bentuknya menjadi seekor babi hutan yang sangat besar. dia baru sadar bahwa Daus yang tadi berteriak bukan Melihat babi yang lain, melainkan melihat dirinya yang sudah berubah bentuk menjadi babi hutan. tiba-tiba kakinya pun terasa lemas hingga akhirnya Ranti dalam bentuk babi hutannya, menjatuhkan diri di tepian sungai. kemudian dia nangis sejadi-jadinya tak menyangka bahwa kesalahan sepele bisa membuatnya seperti itu.


"Abaaaaah! Abah kenapa tega sama Ranti, kenapa Abah melakukan hal keji seperti ini?" gumam hati Ranti sambil terus menangis menahan pilu.


Kurang puas dengan apa yang dia lihat, Ranti pun mulai bangkit kembali kemudian bercermin di atas air, Namun sayang bentuk tubuhnya tetap masih sama, yaitu seekor babi hutan yang sangat besar.


"Aduh! ya Allah! sekarang aku harus bagaimana? Abah, Ambu! tolong Ranti!" gumam Ranti dalam hatinya sambil kembali menjatuhkan tubuh.

__ADS_1


__ADS_2