
"Besok Mbah! setelah Subuh kita berangkat ke sana. kalau malam seperti ini, perjalanannya akan sangat sulit. karena tidak ada angkutan umum yang lewat ke sana."
"Berarti jauh Mang, tempatnya?"
"Jauh bah! kalau kita berangkat habis subuh, Paling nyampe ke rumah aki sobani, kira-kira tengah hari." jelas Mang Sarpu.
"Kira-kira! uang Abah cukup nggak buat naik mobilnya?" tanya Mbah Abun yang merasa menyesal karena kemarin dia tidak tuntas bertanya kepada Mang Sarpu.
"Abah tenang aja! Abah Jangan memikirkan hal itu. kemarin saya tidak bilang, karena saya bisa menghandle itu semua, kalau abah berminat." jawab Mang sarpu sambil tersenyum bahagia melihat keseriusan sahabatnya.
"Sekali lagi, Abah ucapkan beribu-ribu terima kasih! Atas semua bantuan yang diberikan keluarga Mang sarpu." jelas Mbah Abun yang menatap Haru ke arah tuan rumah.
Akhirnya mereka pun dengan senang hati, mengobrol ngalor ngidul, membahas kejadian-kejadian masa lampau. namun apapun yang dibicarakan, obrolan itu akan berakhir dengan obrolan-obrolan tentang Perjanjian dengan siluman babi.
Kita ringkas cerita Mbah Abun yang hendak melakukan pesugihan ke siluman babi. kita ceritakan waktu sudah lewat dari waktu salat subuh.
Kedua orang yang sudah sepakat untuk berangkat pagi-pagi, sudah bersiap-siap dengan memakai baju kebanggaan masing-masing. setelah dirasa tidak ada yang kurang dan tidak ada yang tertinggal. mereka berdua pun berjalan menapaki jalan Setapak yang membelah gunung, yang nantinya Jalan setapak itu akan sampai di perempatan jalan raya.
Setelah berada di Jalan Raya. mang Sarpu dengan cepat mengangkat tangan ketika ada mobil angkutan umum yang melewati mereka. tanpa pikir panjang kedua sahabat itu masuk ke dalam mobil.
Tak di ceritakan lamanya di perjalanan di dalam mobil. kita ceritakan mereka berdua pun sudah turun dari angkutan umum.
"Dari sini Masih jauh, Mang?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah sahabatnya, tangannya yang penuh dengan kantong plastik yang berisi makanan serta sajen yang harus disiapkan.
"Lumayan! tuh gunungnya!" jelas Mang sarpu sambil menunjuk ke arah salah satu Gunung yang sudah terlihat meski jaraknya lumayan jauh.
"Iya kalau segitu lumayan Mang." jawab Bah Abun membenarkan pendapat mang Sarpu
"Ya sudah! jangan ngobrol terlebih dahulu, kita harus fokus dengan tujuan kita. ayo kita jalan lagi!" ajak mang sarpu sambil mendahului langkah Mbah Abun.
Akhirnya Mereka berjalan beriringan. menaiki bukit dan menuruni bukit. dengan perjuangan yang sangat begitu melelahkan. namun ketika dibarengi dengan tekad yang bulat, akhirnya perjalanan itu bisa sampai di kaki gunung Karang. gunung yang biasa dijadikan tempat bagi orang-orang yang kesasar langkah, orang-orang yang ingin mengambil Jalan instan. ketika mereka ingin mencapai kesuksesan.
"Sebentar lagi kita sampai! rumah aki sobani berada di sana." ujar mang sarpu memberi tahu sahabatnya, ketika mereka berada di kaki gunung Karang. Sambil menujuk kearah atas.
__ADS_1
"Ayo Mang, sedikit lagi!" ajak Mbah Abun yang menggebu-gebu.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, Setelah mengambil beberapa nafas. karena Medan yang akan mereka lalui sekarang lebih sulit. selain sulit, Medan yang menanjak membuat mereka, para orang tua yang sudah berusia lanjut. harus menggunakan tenaga ekstrak untuk menapakinya.
Meski dengan perlahan, dan beberapa kali beristirahat. akhirnya kedua sahabat itu, tiba di salah satu rumah gubuk yang sudah reyot. namun walaupun sudah reyout rumah itu terlihat Asri, karena tidak ada sampah sedikitpun yang berserakan di halamannya. Apalagi ditambah dengan kolam ikan, yang berada di samping rumah. airnya sangat bening karena air asli dari pegunungan.
"Apa benar ini rumah Kuncen aki sobani?" tanya Mbah Abun seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Iya Abah! meski gubuknya reyot, tapi dia sudah menolong banyak orang. salah satunya adalah saya, mungkin sebentar lagi Abah juga akan merasakan pertolongan itu." jawab Mang sarpu seolah tahu apa yang dikhawatirkan oleh Mbah Abun.
"Iya sih! tapi kalau dia bisa membuat orang lain kaya raya. harusnya agennya terlebih dahulu yang kaya duluan." gumam hati Mbah abun.
"Abah harus percaya! dulu juga saya sempat ragu, namun setelah saya rasakan pertolongannya, saya sangat yakin dengan ilmu yang dimiliki oleh aki sobani." tambah Mang Sarpu yang mendapat sahabatnya tidak menjawab.
"Abah yakin kok! kan sudah ada buktinya."
"Ya sudah! Abah jangan banyak ngobrol, nanti kita lanjutkan obrolannya dengan aki sobani." ujar Mang sarpu setelah berada di halaman rumah aki Kuncen.
"Ke mana ya, si Abah? sebentar saya lihat dulu ke belakang." ujar mang sarpu sambil berjalan menuju arah samping rumah, dia terus berjalan mencari keberadaan tuan rumah. tak susah mencari, karena ketika aki sobani tidak ada di rumah, dia pasti sedang berada di kebun yang ada dibelekang gubuk itu.
Melihat ada orang yang menghampiri. kakek-kakek yang sudah terlihat bongkok, dengan rambut yang sudah memutih semua. dia pun mengerutkan dahi, mengingat-ngingat Siapa orang yang bertamu kepadanya. karena mungkin saking banyaknya orang yang datang, yang meminta pertolongannya.
"Saya sarpu Ki! orang yang dulu meminta pertolongan aki."
"Sarpu! Sarpu! SarpuSukaraja bukan?" tanya aki sobani memastikan.
"Iya benar Ki! saya sarpu orang Sukaraja."
"Gimana kamu sehat pu? sampai lupa sama aki kalau sudah menjadi orang sukses seperti sekarang."
"Maafkan saya Ki! bukan saya lupa sama orang yang menjadi dewa penolong saya, namun saya sibuk bekerja Ki."
"Syukurlah kalau begitu, berarti kalau kamu masih sibuk bekerja, berarti kamu masih sehat."
__ADS_1
"Iya Ki! Tidak ada yang kurang satu apapun."
"Sebentar! kita mengobrol nya jangan di sini, masa menyambut tamu di kebun." ujar Aki Sobani sambil merapikan peralatan kerjanya. kemudian dia berjalan diikuti oleh Mang sarpu menuju gubuk reotnya.
"Saya datang ke sini tidak sendiri Ki! saya membawa sahabat saya yang sama sedang merasakan kesulitan." jelas Mang Sarpu.
"Iya aki! sudah tahu."
"Hebat, dari mana aki bisa tahu?"
"Ya kalau nggak ada kesulitan. orang-orang tidak mungkin mengingat ada Aki di sini. ya sudah! kamu tunggu di depan! Aki mau mencuci kaki terlebih dahulu." seru aki sobani sambil masuk ke ****** yang ada disamping rumah. ****** yang airnya terlihat sangat bening seperti kaca.
Mang sarpu pun kembali berjalan ke depan, untuk menemui sahabatnya yang masih menunggu. terlihat Mbah Abun sedang duduk di bangku, yang terbuat dari bambu. sambil mengipasi dadanya yang terbuka, dengan topi koboi kebanggaannya.
"Gimana aki sobaninya ada, nggak Mang?" Tanya Mbah Abun sambil bangkit menyambut kedatangan sahabatnya.
"Sudah duduk aja, bah! sebentar lagi aki sobani membukakan pintu." tolak Mang Sarpu, sambil duduk di samping Bah Abun.
Benar saja! tak lama setelah itu, pintu rumah aki sobani pun terbuka. lalu tuan rumah itu mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.
Setelah masuk ke dalam rumah aki sobani. Mang Sarpu yang sudah tidak merasa menjadi tamu, dengan cepat dia pun mengambil air minum untuk dihidangkan.
"Silakan diminum Jang!" tawar aki sobani kepada Mbah Abun, yang sudah menelan ludah beberapa kali, setelah melihat air yang ada di dalam gelas begitu bening.
Tak menunggu ditawari untuk yang kedua kali, dengan segera bah abun mengambil gelas yang terisi oleh air, lalu dia menekuknya sampai habis.
"Sarpu, ambilkan kuali diatas tungku. tadi aki sebelum pergi ke Kebun, aki masak liwet terlebih dahulu." seru Aki sobani ke mang sarpu
Mang serpu pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia kembali ke dapur, untuk mengambil kuali berisi nasi liwet, lalu membawanya ke dalam rumah. Mang sarpu terus disibukkan dengan Menyiapkan makan siang mereka. mulai dari mencari daun pisang, sebagai alas makan, serta menyiapkan yang lain-lainnya. Mang sarpu tidak kaku karena dia sudah terbiasa melakukan hal itu.
Setelah nasi itu tersaji, tanpa bertanya kepemtingan tamunya terlebih dahulu. aki sobani mengajak kedua tamu itu, untuk makan bersama. makan nasi liwet yang masih mengepul dengan aroma ikan asin yang dikukus di atas nasinya.
Rasa lapar sehabis Perjalanan yang sangat jauh, sehingga Bah Abun dan Mang sarpu terlihat sangat Lahat menyantap makan siang mereka. sehingga nasi satu kuali penuh, habis dimakan mereka berdua, karena aki sobani makannya sangat sedikit.
__ADS_1