
Sarman ditanya seperti itu oleh Pak RT dia hanya menarik nafas dalam, matanya mulai dibuka dengan sempurna, namun sorot matanya sangat lemah, menunjukkan bahwa penyakit yang dideritanya sangat menyakitkan.
"Saya nggak tahu kejadian sebenarnya seperti apa Pak RT," ujar Sarman sambil menghela nafas kembali, para warga yang ada di situ dengan Setia mendengar cerita Sarman. "Ketika saya lagi mencari kayu bakar, tiba-tiba ada suara babi membuat saya terkaget dan sangat ketakutan. Saya mencari keberadaan suara babi itu, namun sayang saya tidak menemukannya. tapi tiba-tiba dari arah belakang ada babi yang hendak menerjang, babi yang begitu besar dengan warna hitam pekat, taringnya panjang sampai terlihat beradu," lanjut cerita Sarman meski terputus-putus, namun bisa dimengerti oleh orang yang mendengar.
Sebelum melanjutkan ceritanya, Sarman pun meminum air terlebih dahulu. setelah meminum air dia mulai bercerita kembali. "ketika saya berlari untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba saya diseruduk babi dari arah samping. setelah kejadian itu saya pun tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya."
"Jadi babi yang menyerang Jang Sarman ada banyak?" tanya aki Tardi yang menyimak.
"Iya aki, banyak sekali!"
"Ya Allah! kok bisa seperti itu," gumam Pak RT sambil menarik nafas dalam berigidik ngeri, tak mampu membayangkan bagaimana ngerinya dikeroyok babi seperti itu.
"Iya Padahal di hutan itu tidak pernah ada babi liar," ujar salah Seorang warga yang sudah tahu seluk beluk tentang hutan di mana Sarman diserang.
"Iya bener, Tapi kalau lagi celaka di mana pun itu bisa terjadi," Timpal warga yang lainnya.
"Jang Sarman!" aki Tardi mulai memanggil kembali.
Mata Sarman pun mulai terbuka kembali, lalu menatap sayu ke arah orang yang bertanya, memberikan respon bahwa dia masih tersadar.
"Apa Jang Sarman belakangan ini punya rahasia, atau punya musuh yang sedang saling menyerang?" tanya aki Tardi yang mulai mencium kejanggalan.
Ditanya seperti itu, Sarman hanya mengangguk memberikan jawaban, bahwa dia memiliki rahasia dan musuh.
"Tolong ceritakan sama aki, biar aki bisa menyimpulkan kejadiannya seperti apa, dan agar aki mudah membantunya. tapi ceritanya jangan ada yang ditutup-tutupi, jangan ada yang bohong!" pinta aki Tardi sambil menatap lekat ke arah Sarman.
"Mbah Abun Ki!" jawab Sarman pendek.
"Mbah Abun?" Aki Tardi memastikan.
"Seminggu yang lalu, saya yang sudah terbakar amarah karena melihat Mbah Abun yang semakin maju, dan orang-orang semakin menjauhi saya, karena saya selalu menjelekkan Mbah Abun. Akhirnya saya yang sudah kehabisan akal, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."
"Astagfirullahaladzim!" gumam Pak RT yang tak menyangka Sarman bisa berbuat keji seperti itu.
"Sudah jangan diputus ceritanya, dengarkan dulu kelanjutanya Seperti apa Pak RT, jangan cepat menyimpulkan!" Pinta orang tua itu yang terlihat tidak setuju ketika Pak RT memotong cerita Sarman.
__ADS_1
"Saya terus Mencari waktu yang tepat, untuk menghabisi nyawa Mbah Abun. hingga kesempatan yang bagus itu datang, ketika dia pergi ke kota sendirian. dengan segera saya mencegat orang itu di pasir, Saya ingin cepat menghabisi nyawa Mbah abun. Namun ternyata Mbah Abun adalah orang yang pintar bermain silat, sehingga bukan Mbah Abun yang terluka, melainkan saya sendiri."
"Ya Allah! kok bisa?" tanya Pak RT seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya begitulah kejadiannya Pak RT, saya awalnya ketakutan takut Mbah Abun mengadukan Kejadian ini ke Pak RT. namun sampai sekarang tidak ada orang yang tahu bahwa saya pernah mau menghabisi nyawa Bah Abun. sehingga terjadilah kejadian seperti ini," jelas Sarman tak ada yang ditutup tutupi. kemudian dia pun mulai menutup kembali matanya, merasakan rasa sakit yang ada di sekujur tubuh.
"Bagaimana kalau kenyataannya seperti ini aki?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah aki Tardi.
"Aki Bingung Jang RT, Aki tidak tahu harus seperti apa menolong Jang Sarman. tapi walau Bagaimanapun kita harus memikirkan cara mengobati luka jang Sarman, agar tidak menyebar, ke bagian tubuh yang lain.
"Iya benar! Coba tolong para warga ada yang punya saran untuk mengobati luka Sarman?" tanya Pak RT sambil membagi tatap ke arah para warga yang hadir di tempat itu.
Lama terdiam namun tak ada yang menjawab, sehingga akhirnya ada salah satu warga yang mengangkat tangan, memberanikan diri mengungkapkan penemuannya.
"Iya Kang Isak! Bagaimana?" tanya Pak RT yang melihat warga itu mengangkat tangan.
"Saya pernah mendengar ada tabib yang bisa menyembuhkan luka, Bagaimana kalau kan Sarman dibawa ke sana, untuk mengecek lukanya seperti apa ?"
"Tabib apa dukun?" tanya Pak RT memastikan.
"Sejak kapan ada, kok saya sebagai RT tidak tahu?"
"Baru beberapa minggu Pak! kebetulan kemarin ada tetangga kita yang pulang dari daerah Kecamatan, mereka memberitahu bahwa sekarang ada dokter di Kecamatan kita."
"Oh begitu! tapi beritanya sudah jelas?"
"Kurang tahu Pak! coba nanti saya akan tanyakan lagi kepastiannya seperti apa."
"Kalau bisa jangan nanti-nanti, sekarang saja Kang Isak tanyakan sama orang yang baru pulang dari Kecamatan, agar kita bisa cepat menolong Kang Sarman," pinta Pak RT memberi tugas.
Diperintahkan seperti itu, Isak pun bangkit dari tempat duduknya. kemudian dia hendak pergi meninggalkan rumah Sarman, namun ketika baru beberapa langkah meninggalkan rumah Sarman, terlihat dari arah depan ada orang yang menghampiri.
"Agis kebetulan kamu datang ke sini, ditanyain oleh Pak RT!" Ujar Isak menyambut kedatangan orang beranama Agis
"Ditanyain bagaimana?" tanya Agis yang mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita temui saja!" ajak Ishak sambil masuk kembali ke dalam rumah Sarman. "Ini Pak orangnya!" jelas Isak sambil menunjuk Agis.
Ditunjuk seperti itu Agis, terlihat celingukan tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Ishak. "Ada apa ini pak RT, Kok saya di Serang seperti ini?" tanya Agis yang merasa tidak nyaman ditatap oleh orang banyak seperti itu.
"Hehehe, nggak apa-apa kang Agis, nggak usah panik seperti itu. saya ada yang mau ditanyakan sedikit,"
"Mau bertanya apa Pak RT?"
"Apa benar kemarin habis pulang dari daerah Kecamatan?"
"Benar Pak! kenapa emang?"
"Kata Kang Isak, Kang Agis pernah bercerita bahwa di kecamatan ada dokter yang ditugaskan di daerah kita. Apa itu benar?"
"Menurut orang yang punya warung sekitar tempat itu, benar Pak RT. tapi kenyataannya saya belum membuktikan, Karena saya belum pernah datang ke tempat itu, untuk memastikan kebenaran beritanya. Dan saya tidak punya kepentingan untuk menemui dokter itu."
"Kalau begini bagaimana aki?" tanya Pak RT sambil menatap ke arah aki Tardi, yang sejak dari tadi menyimak pembicaraan orang-orang muda itu.
"Gampang....! kita utus seseorang untuk memastikan kebenarannya, kalau sudah tahu kebenaranya maka kita bawa Jang Sarman ke sana," Jawab aki Tardi memberi keputusan.
"Benar kalau begitu, tapi Siapa di sini kira-kira yang mau pergi ke Kecamatan?" Tanya Pak RT sambil membagi tatap ke arah para warga.
"Biarkan saya aja yang pergi Pak RT," jawab Adin menyanggupi, karena selain tetangga yang paling dekat, dia pun masih ada ikatan saudara bersama Sarman.
"Tapi kalau mau ke Kecamatan, kita harus pastikan dulu apa orang yang sakitnya mau dibawa ke dokter atau enggak?" ujar Isak memberikan saran.
Mendengar saran seperti itu, orang-orang kembali menatap ke arah Sarman, pindah ke arah Darmi, pindah ke arah Mita. di mana mereka saling tertegun menyimak para tetangga yang hendak membantunya.
"Bagaimana Bi, Kalau keadaannya seperti ini?" Tanya Pak RT sambil menatap ke arah Darmi.
"Kalau ke dokter seperti itu bayarnya seperti apa, dan berapa? Saya takut tidak bisa membayar." Adu Darmi yang masih terisak mengeluarkan sisa-sisa air matanya.
"Masalah biaya kita bicarakan nanti, yang terpenting sekarang keadaan Kang Sarman harus cepat ditolong. karena kalau tidak cepat ditolong dengan ahlinya, takut luka ini menyebar ke mana-mana, Bukannya itu semakin berabe," ujar Pak RT memberi saran.
"Kalau seperti itu, saya ikut Pak RT aja, yang terpenting Kang Sarman bisa sembuh seperti sedia kala," jawab Darmi yang sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.
__ADS_1
"Ya sudah kalau seperti itu kang Adin tolong cek dulu keberadaan dokter yang ada di kecamatan, Nanti kalau sudah mendapat keterangan yang jelas, kita bawa Kang Sarman ke sana," putus Pak RT siang itu.