
"Masya Allah, kenapa kejadiannya seperti ini. tolong Jalannya semakin dipercepat!" gumam aki Tardi memberikan perintah, karena langit semakin mendung padahal waktu itu kalau diukur dengan jam, mungkin kira-kira pukul 10.00 siang. tapi keadaan di hari itu seperti sudah mendekati waktu maghrib. namun walau mereka terus mempercepat langkah, itu sangat sia-sia karena kalau bertanding dengan kecepatan hujan, maka mereka akan kalah telak. mereka hanya berjalan di bawah, sedangkan hujan datang dari atas.
Jegeeeerer!
Tiba-tiba kilat berkerelap, disusul dengan petir yang sangat menggelegar, meruntuhkan hati-hati orang yang sedang mengantar Sarman, jantung mereka berdegup dengan kencang. apalagi perasaan Darmi dan Mita yang tak karuan, bahkan jalannya pun merasa tidak menapaki bumi.
Angin semakin membesar, meniup daun-daun yang berserakan di samping jalan, hingga daun itu berterbangan ke sana kemari, bahkan ada yang masuk ke dalam sarung yang dipakai penyangga tubuh Sarman.
plak...! plak! plak!
Suara hujan yang pertama jatuh dengan begitu besar, karena suaranya yang begitu nyaring ketika jatuh menimpa daun pisang, yang tumbuh di samping kanan kiri jalan. hingga akhirnya hujan pun turun dengan begitu deras, membuat para warga Kampung Ciandam yang mengantar Sarman untuk berobat, mereka merasa kaget tertegun. aki Tardi merasa bingung harus melakukan apa, Pak RT yang terlihat gugup dengan perubahan alam yang begitu mendadak.
"Din....! Adin....! cepat kamu ambil daun pisang, untuk memayungi orang yang sakit," seru Pak RT kepada Adin karena kebetulan dia membawa golok yang diikatkan di pinggangnya.
Mendengar perintah seperti itu, Adin dengan cepat berlari menuju ke rumpun pisang yang tak jauh dari jalan, dengan cepat dia menebas beberapa pelepah pisang, lalu dibawa menghadap ke Pak RT, untuk menyerahkan daun pisang itu ke tetuah kampungnya.
"Tolong payungi yang sakit dengan daun pisang ini, dan ini buat menutupi wajahnya, agar air tidak masuk ke dalam sarung." seru Pak RT sambil bergegas menyela-nyela mendekat ke arah Sarman yang sedang digotong dengan tergesa-gesa. kemudian Pak RT memayungi wajah Sarman dengan daun pisang. Adin mendapat perintah seperti itu, dengan cepat dia pun memayungi tubuh Sarman, dibantu oleh para warga yang lainnya.
Sarman yang berada dalam tandu, dia terlihat tak memberikan respon apapun, bahkan napasnya sangat lemah.
Baru saja daun itu dipasangkan menutupi tubuh sarman agar tidak terkena hujan. tiba-tiba angin besar datang dari arah lembah, sehingga menerbangkan daun-daun yang dipegang oleh para warga. ada yang tidak terbang namun daun itu hancur tak berbentuk.
__ADS_1
"Cepat cari lagi daun pisangnya!" pinta aki Tardi yang terlihat gelagapan, mendapat kejadian yang begitu memilukan.
Adin mendapat perintah seperti itu, dengan cepat dia melompat menuju ke arah tebing, di mana rumpun pisang tumbuh.
Plas! plas! Plas!
Sabetan goloknya menebas pelapah daun pisang, setelah Adin mendapat 6 pelepah daun pisang, Adin pun kembali lalu memayungi tubuh Sarman yang sudah terlihat basah kuyup. namun sekarang dia menggunakan akalnya, daun pisang yang baru diambil dimasukkan ke dalam sarung, agar Ketika angin datang daun pisang itu tidak terbang.
Byur! byur! byur!
Suara hujan semakin membesar, keadaan semakin gelap. Sarman yang ditutup oleh daun pisang, dia tetap terlihat basah kuyup. karena hujan yang dibarengi angin membuat datangnya hujan itu dengan miring. sehingga daun yang digunakan untuk memayungi tubuh serman tidak ada gunanya sama sekali. Begitu juga dengan daun pisang yang dipegang oleh Pak RT, untuk menutup wajah Sarman, daun itu bergoyang kesana kemari, bahkan terlihat sudah sobek karena diterpa oleh angin yang disertai badai hujan, sehingga tubuh Sarman menjadi basah kuyup, apalagi dengan orang-orang yang mengantar mereka sudah basah duluan.
Akhirnya semua warga yang mengantar Sarman, mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi menimpanya. karena kalau alam sudah berkata, maka tidak ada satu orang pun yang sanggup menahannya. Pak RT terlihat mendekatkan daun pisang ke arah wajah Sarman, agar wajah orang yang sakit itu tidak terlalu banyak kena air. sedangkan Mita kerjaannya hanya menangis, tidak kuat menerima kejadian yang menimpa keluarganya. mata merah darmi berkedip-kedip, terkena air hujan yang menerpa wajahnya.
Rombongan orang yang mengantar Sarman, mereka sudah sangat kedinginan, karena tidak ada satu orang pun yang selamat dari guyuran air hujan yang sangat besar itu. namun walau dengan kenyataan seperti itu, para rombongan pun akhirnya sampai ke pinggir perkampungan. awalnya mereka Berencana untuk beristirahat dan berteduh, namun melihat kenyataan mereka yang sudah basah kuyup. akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena kalau berhenti pun rasanya sangat percuma, tidak akan membuat baju-baju mereka kering seketika. akhirnya para warga pun memutuskan melanjutkan perjalanan menuju ke dokter yang ada di kecamatan, agar Sarman bisa cepat ditolong.
Perkampungan sudah terlewati, hingga akhirnya rombongan itu tiba di jalan Pesawahan. Jalan yang sangat kecil dan licin, hujan belum terlihat berhenti, angin terus menerpa tubuh-tubuh orang yang mengantarkan Sarman. Darmi istri Sarman Dia terlihat Salah Tingkah, dengan kejadian yang begitu memilukan, mungkin kalau dia masih kecil, dia akan menangis sambil berguling-guling seperti anak kecil.
Jalan kecil yang licin, yang ada di pertengahan sawah. sudah terlewati hingga akhirnya rombongan itu melewati sungai kecil, yang terlihat airnya sangat kuning keruh oleh tanah-tanah yang terbawa aliran sungai itu. air sungai itu terlihat sangat besar, membuat rombongan warga itu terngangap merasa kaget, dengan kejadian yang seperti itu. apalagi ketika melihat jembatan yang tinggal dua, karena terbawa oleh banjir.
"Masya Allah.....! kenapa bisa seperti ini, kenapa cobaan terus datang kepada hamba yang sedang diuji?" gumam aki Tardi yang merasa bingung harus melakukan apa. karena cobaan yang menimpa keluarga Sarman, sangat bertubi-tubi. hujan yang sangat deras, angin yang bergemuruh, jalan yang dilalui sangat licin, sekarang ditambah dengan jembatan yang sudah tinggal dua, mungkin terbawa oleh banjir.
__ADS_1
"Bagaimana nih aki? kalau dipaksakan menyeberang, Saya takut bambu yang tinggal dua itu licin, nanti bisa-bisa mengakibatkan orang yang digotong terjatuh, lalu hanyut terbawa oleh air banjir," tanya Pak RT yang sama terlihat kebingungan, sambil menatap ke arah Sungai kecil yang airnya terlihat bergejolak membuat ombak-ombak besar.
Darmi dan Mita mereka berdua tidak bisa berbicara, kesedihannya sudah kelewat saking, sudah tidak bisa dibicarakan lagi. hingga akhirnya mereka memilih Terdiam, hanya deraian air mata yang tersamarkan oleh air hujan, yang mengalir membasahi pipi masing-masing, sebagai ungkapan Betapa nelangsanya mereka waktu itu.
"Terpaksa Kita harus mencari jalan lain," cetus aki Tardi memberikan keputusan.
"Kalau mencari jalan lain, itu sangat jauh aki. sangat membutuhkan waktu, ditambah jalan yang kita lalui sangat licin," jawab Adin menyampaikan pendapat.
"Kalau seperti itu, kita harus bagaimana?" tanya aki Tardi yang sudah tidak bisa menggunakan akal pikirannya, karena melihat kejadian yang begitu mengerikan, sehingga membuat pemikirannya seperti tertutup.
"Kita perbaiki jembatan ini, kita paksakan menyeberang lewat sini," saran Pak RT sambil memberikan daun yang ia pegang kepada Darmi, daun yang sudah tidak berbentuk karena terus diterpa oleh angin.
Tanpa pikir panjang, Pak RT pun loncat ke sungai kecil yang sebenarnya dangkal, namun airnya sangat deras, karena air itu adalah air arus yang disebabkan oleh hujan. para warga yang melihat ketua kampungnya turun ke sungai, tanpa di komando Mereka pun mengikuti, membantu membenarkan jembatan yang mau mereka lalui.
Sarman yang masih berada di dalam tandu terlihat sangat mengkhawatirkan. bibirnya sudah membiru kedinginan, wajahnya sangat pucat. namun dia tidak berkata apa-apa, mungkin pasrah dengan apa yang menimpanya.
Para warga yang diketuai oleh pak RT, yang membenarkan jembatan. akhirnya pekerjaan mereka selesai, meski jembatan itu tidak sekuat asalnya, karena bagian-bagian dari jembatan sudah menghilang terbawa oleh derasnya arus sungai. hujan semakin lama semakin deras, petir petir saling bersahutan menunjukkan suaranya yang begitu menggelegar. akhirnya para warga yang membetulkan jembatan itu naik kembali ke darat.
"Siap menyeberang jembatan yang hanya tinggal dua, tapi kalian harus berhati-hati, karena jembatan yang terbuat dari bambu akan sangat licin!" ujar Pak RT sambil menatap ke arah orang yang sedang memikul bambu, yang di tengahnya terkait sarung yang diisi oleh tubuh Sarman.
"Mang sahroji, sama Mang Syukron saja yang membawa tubuh Kang Sarman, karena mereka memiliki tenaga yang kuat, sehingga bisa menyeimbangkan tubuh agar tandu tidak oleng," saran salah Seorang warga. karena memang benar dari rombongan itu, sahrozi sama Syukron lah yang memiliki tenaga lebih dari mereka.
__ADS_1
"tolong Mang sahroji sama Mang Syukron, gantian menanduk Kang Sarman, untuk melewati jembatan. tapi kalian harus sangat hati-hati."