Babi Beranting

Babi Beranting
32. pacar galih


__ADS_3

"Ranti, nanti kamu harus mengecek semua kualitas kerajinan yang dibuat oleh para warga, kamu harus belajar berusaha. Siapa tahu saja ke depannya kamu menjadi wanita sukses." seru Mbah Abun sambil menatap ke arah anaknya.


"Baik Bah!" jawab Ranti sambil menundukkan pandangan.


"Segitu aja kali iya Jang! nanti kalau ada kesulitan Jang Galih dan jang Daus bisa konsultasi dengan anak Abah." ujar Mbah abun memberikan kesimpulan.


"Iya bah! terima kasih Atas semua bantuan dan kerjasamanya. Ya sudah kalau seperti itu, kita berdua mohon pamit undur diri terlebih dahulu, agar bisa dengan cepat menyelesaikan pesanan Abah." Jawab Galih.


"Iya jang! Abah doakan semoga usaha kelompok kita diberikan kelancaran."


"Amin!" jawab semua orang yang ada di ruang tamu rumah mbah Abun dengan kompak.


"Ranti maaf! kalau nanti akang dan Kang Daus akan sering merepotkan, dan kita akan sering bertemu." Ujar Galih sambil menatap ke arah Ranti.


"Nggak apa-apa kang!" Jawab Ranti sambil tertunduk malu. Entah kenapa hatinya selalu bergejolak ketika diajak ngobrol oleh pria yang menjadi idaman setiap remaja kampung.


Akhirnya setelah berbasa-basi sedikit, kedua remaja itu pun berdiri, lalu menyalami Mbah Abun dan Ranti sebagai bentuk kerjasama. namun ketika kedua pemuda itu bersentuhan tangan dengan Ranti, ada desiran-desiran aneh yang mengalir di tubuh mereka.


Selesai pembahasan kedua remaja yang bernama Galih dan Daus pun pulang ke rumah masing-masing, dan memberitahu para pemuda lainnya. untuk membeli bambu sebagai bahan pokok kerajinan anyaman.


Dari Semenjak itu kelompok yang diketuai oleh Galih terus berkembang. yang awalnya dalam seminggu kelompok itu menghasilkan 50 kerajinan. di minggu-minggu berikutnya hasilnya semakin naik, sehingga pendapatan para anggota kelompok juga ikut naik.


Galih dan Daus bekerja keras dalam menjaga kualitas produknya, agar Mbah Abun dan konsumen puas dengan hasil kinerja mereka, dan bisa menjalin kerjasama dalam jangka waktu yang sangat lama.


*****


Kita ceritakan di satu sore, terlihat ada seorang remaja laki-laki dan seorang remaja perempuan sedang duduk di salah satu Saung kebun mentimun. mungkin mereka sedang menikmati masa remaja mereka, karena terlihat beberapa kali kepala mereka menyatu, entah apa sebenarnya yang mereka lakukan.


"Kang Galih!" Panggil remaja putri setelah melepaskan penyatuan kepalanya.


"Iya kenapa Mit?" tanya Galih sambil menyeka bibir yang terasa basah oleh cairan ludah.

__ADS_1


"Kalau bisa Akang mengundurkan diri jadi ketua kelompok kerajinan. Mita takut kalau akang terpincut oleh anak pemilik perusahaan." jelas perempuan itu mengungkapkan kekhawatirannya.


"Hehehe, nggak mungkin lah, akang serendah itu. seperti yang Mita ketahui bahwa di hati akang. tidak ada wanita lain selain Mita." jawab Galih mengeluarkan jurus andalannya sebagai pria cap kelinci.


"Kok, tersenyum seperti itu! Mita Serius kang, Mita takut kalau Akang terpincut oleh anaknya Mbah Abun. jadi Mita mohon dengan sangat! Akang keluar dari kelompok itu." ujar Mita mendesak kekasihnya.


"Tidak bisa Mit, karena bukan hanya akang yang akan keluar, tapi nanti para warga juga ikut keluar, kalau Akangnya nggak ada. walau bagaimanapun Akang adalah jembatan mereka untuk menjadi penghubung antara pengrajin dengan pembeli. Tapi walau begitu, Mita nggak usah takut, kalau Akang pindah ke lain hati." ujar Galih sambil mendekatkan kembali wajahnya ke arah wanita yang bernama Mita, sehingga pergulatan bibir pun tak terelakkan.


"Kalau nggak mau keluar! Mita, minta sama Akang untuk secepatnya meresmikan hubungan kita di depan penghulu. karena Mita takut, nanti akang berubah pikiran." ujar Mita setelah melepaskan pergulatan bibir mereka.


Mendapat permintaan kekasihnya seperti itu, Galih pun terdiam seketika. umurnya yang baru menginjak 23 tahun, membuatnya berpikir ulang, ketika hendak melakukan peresmian hubungannya.


"Kenapa diam, akang nggak mau ya?" Tanya Mita sambil menatap wajah kekasihnya, seolah ingin tahu apa yang dirasakan oleh Galih.


Sebelum menjawab terlihat Galih menarik nafas terlebih dahulu, seperti mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "bukan begitu Mita, seperti yang Mita ketahui, kita belum mapan. baik dalam segi finansial atau dalam segi kedewasaan. kita masih harus banyak belajar mendewasakan diri. sebelum melanjutkan ke jenjang berikutnya." Ujar pria itu memberi keputusan.


"Kok seperti itu? kedewasaan, harta. itu semua akan mengikuti ketika kita sudah menikah. apa jangan-jangan akang beneran sudah terpikat oleh Ranti anaknya babi ngepet." jelas Mita membuat mata Galih terbelalak kaget, karena dia tidak menyangka bahwa kekasihnya memiliki hati sejelek itu.


"Maksudnya bagaimana, kok Mita ngomong seperti itu?"


"Enggak! Akang bukan kaget mendengar Mbah Abun melakukan pesugihan babi ngepet. namun yang akang kaget, kenapa Mita punya pikiran sejahat itu?" jawab Galih menyanggah tuduhan kekasihnya.


"Akang harusnya sadar, masa iya! dengan hanya berjualan anyaman keluarga Bah Abun bisa sekaya sekarang. itu sangat tidak mungkin, dan sangat mustahil. kalau tidak dibantu dengan pesugihan." Tuduh Mita Semakin menjadi.


"Maaf Mita! akang tahu betul Bagaimana keluarga Mbah Abun yang giat dalam bekerja. beliau tidak pantang menyerah dengan keadaan, meski cobaan selalu datang menghampirinya. dulu pernah dengarkan ketika Mbah Abun menjadi bandar hewan ternak, dia sampai sempat mau terbunuh gara-gara kezaliman bandar yang lain, yang Merasa tersaingi. Sehingga harta bahabun Habis tak tersisa. namun dengan cepat beliau bangkit kembali. Karena menjadikan cobaan sebagai pembelajaran. mereka sukses bukan karena pesugihan, tapi memang pada dasarnya mereka giat dalam bekerja." sanggah Galih tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh wanita yang berada di sampingnya.


"Kok, akang lebih percaya sama mereka, Daripada sama Mita yang kekasih akang?" tanya Mita seolah tidak percaya kalau Galih akan membela orang yang sangat ia benci.


"Memang kenyataannya seperti itu Mit! mulai sekarang kamu buang jauh-jauh prasangka buruk itu. Dan mulai sekarang kamu juga harus mengikuti Tata cara hidup mereka, yang bisa sukses dengan kerja keras." jelas Galih memberikan pengarahan.


"Kok?" ujar Mita tertahan, terlihat raut wajahnya yang berubah, seolah memendam amarah yang tak bisa diucapkan.

__ADS_1


"SUdah jangan banyak sanggahan dan tuduhan. Kita harusnya bangga ada orang seperti Bah Abun di kampung kita. orang yang sangat baik karena beliau bersedia memajukan kampung kita. Ya sudah, ayo kita pulang! sebentar lagi adzan maghrib." ajak Galih sambil bangkit dari tempat duduknya, membuat Mita sedikit agak kesal karena ucapannya tidak ditanggapi.


"Sekali lagi Kang!" rengek Mita sambil hendak mendekatkan kepalanya ke wajah Galih, namun pria itu menolak, dia masih merasa kesal karena wanita yang menjadi kekasihnya, memiliki sifat yang buruk. sifat iri, dengki terhadap kesuksesan orang lain.


"Kenapa?" tanya Mita yang menatap nanar ke arah Galih.


"Ayo kita pulang!" ajak Galih sambil berjalan duluan, menyusuri Jalan Setapak tanpa menghiraukan kembali kekasihnya.


"Akaaang!" Panggil Mita berteriak. namun Galih tetap berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke arah Mita. membuat hati perempuan itu terasa panas, mendapat perlakuan dari kekasihnya seperti itu.


Mereka berdua terus berjalan beriringan, tanpa ada sedikitpun kata yang terucap dari kedua bibirnya. hingga kebersamaan itu terpisah di pertigaan jalan menuju rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah, Mita yang terbakar api cemburu dengan berlinang air mata. dia melewati kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di teras rumahnya.


"Baru pulang Mita?" tanya Sarman.


Mendapat pertanyaan dari ayahnya, Gadis itu tidak menjawab. namun terlihat dia mengusap cairan bening yang membasahi pipi, kemudian dia terus berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. lalu membantingkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya.


"Kenapa dia?" tanya Sarman sambil menatap ke arah Darmi istrinya.


"Nggak tahu atuh kang, kan dia belum bercerita."


"Ya harus tahu dong! kan Kamu ibunya, masa anaknya nangis seperti itu, ibunya nggak tahu!" gerutu Sarman.


"Laaaah!" jawab Darmi sambil mendelik dia tidak suka disalahkan seperti itu.


"Bukan lah lah, loh loh. sana cepat temuin!"


"Nanti aja Kang! biarkan dia melepaskan kesedihannya terlebih dahulu, nanti juga kalau udah tenang dia akan bercerita." Jawab Darmi yang lebih paham dengan sifat Putri bungsunya itu.


"Emang dia pulang dari mana?" tanya Sarman

__ADS_1


"Katanya tadi mau bertemu dengan Galih anaknya Pak witra."


"Emang hubungan mereka masih lanjut Bu?"


__ADS_2