
"Assalamualaikum....! assalamualaikum...!" ujar Mas sujiman kembali mengucapkan salam, karena tidak ada yang menjawab. Sehingga lama-kelamaan terdengar suara deru langkah kaki yang menapaki pelupuh papan yang mendekat ke arah pintu, hingga akhirnya pintu rumah itu pun terbuka.
"Waalaikumsalam," jawab salah seorang wanita yang membuka pintu." Eh, ada mas sujiman, tumben-tumbenan Mas main ke rumah saya?" tanya wanita itu sambil menatap ke arah tamunya.
"Yah, kebetulan ada kepentingan sama Kang Surya Jaya Ceu! Akangnya ada di rumah tidak?" jelas Mas sujiman sambil manggut memberi hormat.
"Ada, lagi memangkas bulu kambing di belakang, bentar saya panggilkan dulu. Silakan masuk dulu Mas!" ujar yang punya rumah menyambut dengan baik.
"Nggak usah repot-repot ceu Hamidah, Biarkan saya saja yang menemui Kang Surya ke belakang," tolak sujiman sambil berjalan menuju ke arah samping rumah, langsung menuju ke arah belakang di mana ada kandang kambing di sana.
Siang itu matahari lumayan terik, beruntung di dekat rumah Surya Jaya banyak pohon-pohon yang menjulang tinggi, sehingga bisa menyerap panasnya sang mentari itu. Sesampainya di belakang rumah, terlihat ada seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan badan tegap. sedang menggunting bulu-bulu dombanya.
"Assalamualaikum Kang surya!" ujar sujiman setelah melihat orang yang dia cari.
"Eh, sujiman....! kapan ke sini Mas, maaf nih Akang lagi sibuk, jadi nggak bisa bangun..." jawab surya yang terlihat kakinya sedang mengapit tubuh domba, agar tidak bergerak-gerak ketika dong sedang dicukur.
"Nggak apa-apa Kang, gimana sehat?" tanya sujiman sambil duduk di Batu dekat Surya.
"Alhamdulillah sehat Mas, bagaimana kamu sehat?"
"Kalau badan Mah sehat kang! tapi kalau kantong sedang sakit."
"Yah sama aja kalau begitu mah Man, sama kayak Akang." ujar Surya sambil mulai menggunting kembali bulu-bulu domba yang masih di dekap dengan kakinya.
"Percaya kalau sama Akang, sesakit-sakitnya kantong Akang, tidak akan sakit semengenaskan seperti kantong Saya," Puji sujiman mulai melancarkan aksinya.
"Mau apa kamu datang ke sini Man?" tanya Surya Jaya yang terkadang manggil Mas terkadang Memanggil nama.
"Saya ada kebutuhan sedikit. namun sebenarnya yang akan mendapat untungnya Akang sendiri. soalnya saya hanya sebagai perantara dan saya sadar diri, kalau saya hanya orang bodoh , kalau saya banyak kekurangan, tidak seperti Akang yang sangat cerdas."
__ADS_1
Mendengar cerita sahabat lamanya yang terdengar serius, membuat Surya jaya menghentikan aktivitas memangkas bulu Dombanya, mata pria itu menatap ke arah sujiman. "kebutuhan Apa itu mas?" tanya Surya Jaya yang terlihat penasaran.
"Sebelum saya menceritakan yang akan menjadi inti permasalahannya, Akang Tolong jawab dulu beberapa pertanyaan saya. sekarang Akang masih suka mengadu domba?"
"Halah.....! kamu sulit amat sih Man, padahal cuma mau ngomong doang. Begini Mas..! kalau untuk mengadu domba Akang sudah lama berhenti, soalnya Akang sekarang Mengerti, Akang harus menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat. salah satunya mengadu domba, mengadu ayam, ngadu kartu dan ngadu babi, dan memasang togel. intinya Akang sudah menjauh meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela itu." Jelas Surya Jaya yang terlihat sudah insaf.
"Oooohhhh, Seperti itu. tapi kalau pun sudah berhenti, kenapa sekarang Akang masih mengurus domba jalu?"
"Yah, kamu tuh Man...! Kenapa bertanya seperti itu. Asal kamu ketahui kalau mengurus domba itu tidak melulu untuk diadukan, dan ketika kita mengurus domba itu tidak akan membuat kita rugi. soalnya ketika musim qorban datang, domba jantan bisa kita jual dengan harga yang sangat mahal, dan ini adalah hobi saya, rasanya Saya punya mainan saja kalau mengurus domba seperti ini.
"Lah, lah, Akang...! kok sekarang pintar berbohong, buktinya Minggu kemarin saya lihat Akang berada di pengaduan domba, yang ada di Lapang Tegalega. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, tidak meminjam mata orang lain. Saya melihat bahwa domba ini sedang diadukan dengan domba yang lain, dan domba Akang lah pemenangnya."
"Hush..! itu bukan ngadu domba, tapi itu lomba ketangkasan domba." elak Surya Jaya sambil mengulum senyum, melirik ke arah sujiman. membuat orang yang diliriknya pun sama-sama mengulum senyum.
"Nah itu sama aja lah Kang. ngadu, ya diadukan, lomba ketangkasan, ya tetap diadukan!"
"Hush...! itu tetap beda Man!" Jawab Surya Jaya yang tak terlihat sedikitpun merasa malu.
"Adu domba harus pakai uang, kalau ngadu ketangkasan tidak ada tambahan uang, yang ada hanya hadiah dan Piala, ditambah pujian. Selain itu harga domba Akan melambung, seperti domba Akang yang kemarin juara. domba ini sudah ditawar 125," jelas Surya Jaya mengelus sambil tanduk domba yang sedang dicukurnya.
"Nah, nah, kalau begitu, Biarkan saya bayar 130 Kang!"
"Kalau 140, Akang lepas!"
"Jadilah...!" jawab sujiman sambil merogoh kantong celananya, kemudian dia mengeluarkan uang Rp150, lalu diserahkan ke Surya Jaya. "kembaliin 10 rupiah!" Melihat uang yang diserahkan membuat pria pemilik domba itu terdiam seketika, namun setelah lama dia pun tertawa. "hahaha, bukan 140 perak Man!"
"Terus berapa?"
"Rp140.000 Man!"
__ADS_1
Mendapat jawaban seperti itu sujiman pun mengulum senyum, kemudian dia mulai mendekatkan tempat duduknya, mendekat ke arah Surya Jaya.
"Benar nih Kang, Kalau sekarang Akang sudah berhenti mengadu?"
"Aih...! kamu tuh man! kamu susah untuk dibilangin. kalau kamu nggak percaya Nggak apa-apa, lagian Kenapa sih kamu maksa banget. Apa kamu punya informasi yang menggiurkan?"
"Begini Kang, saya menemukan suatu benda yang sangat istimewa, tinggal tergantung sama orang yang memiliki dan merawatnya. Kalau benar mengurusnya, maka ini akan menjadikan keuntungan yang besar. Soalnya kalau saya yang mengurus atau yang memiliki. seperti yang sudah tadi saya bilang, saya ini hanya orang bodoh, hanya orang yang tidak mengerti apa-apa, sehingga benda itu tidak akan menjadi uang karena saya bukan ahlinya. tapi kalau benda itu berada di Akang, Saya yakin itu akan menjadi pohon uang, bahkan Akang akan terus diguyur hujan uang," ujar sujiman yang terlihat serius, agar orang yang sedang diajak mengobrol terpengaruh oleh ucapannya, sehingga dia pun bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.
Mendengar penjelasan sujiman membuat Surya Jaya terdiam kembali, karena sebenarnya dia belum paham dengan apa yang disampaikan oleh tamunya. hingga tempat itupun terasa Hening, hanya suara domba-domba yang terdengar dari arah kandang. sujiman yang sedang menunggu jawaban Dia terlihat terdiam sambil menatap ke arah domba yang berada di hampitan kaki Surya Jaya.
"Jangan terlalu berbelit Man! Coba tolong kamu jelaskan..! apa sebenarnya yang hendak kamu sampaikan?" tanya Surya Jaya setelah terdiam agak lama matanya menatap serius ke arah sujiman.
"Yang berbelit itu saya, apa akang? perasaan akanglah yang berbelit.dari tadi saya tanya, apa Akang masih suka mengadu domba, tapi Apa jawabannya? akang malah menjawab ke mana-mana. sekarang saya tanya lagi, apa Akang masih suka mengadu babi?"
"Kamu tuh dibilangin malah masih ngeyel. Akang sudah berhenti ngadu mengadu hewan-hewan, karena selain pengurusannya sangat ribet, penghasilannya pun tidak ada, hanya membuahkan capek tanpa ada keuntungan."
"Jangan begitu kang! Kalau sekarang akang punya uang yang agak besar dan mau usaha akang maju kembali. Akang nurut sama perkataan saya, karena walaupun Bagaimanapun saya bukan orang yang bodoh-bodoh amat dan bukan orang gila, yang mau menjerumuskan sahabatnya sendiri. nah,"
"Nah Bagaimana Man?"
"Kalau Akang sudah beneran tidak suka, atau sudah berhenti mengadu, itu tidak apa-apa. karena saya juga sekarang sudah berhenti dari masalah-masalah beradu-aduan, sudah tidak senang, sudah tidak hobi. tapi untuk yang ini akang tidak boleh membuang kesempatan yang sangat bagus yang sangat berlian. Akang harus datang ke kampung selakaso, kampung saya. walaupun akang tidak membawa anjing, Akang harus tetap menonton. karena nanti sore pukul 04.00 Mbah Turo mau mengadakan pertunjukan adu babi, bahkan sekarang mereka sedang sibuk membenarkan gelanggang pertandingannya. Saya yakin pertunjukan itu akan sangat ramai, jadi akang mau tidak mau harus datang ke kampung selakaso. kayaknya kalau untuk menonton doang, itu tidak akan dosa."
"Ah kamu tuh terlalu berbelit, jujur Man..! Akang nggak ngerti dengan apa yang kamu ucapkan, Sebenarnya kamu mau bicara apa, dan Ke mana tujuan bicaramu?:
"Waduh.....! Kok akang malah nggak mengerti, begini saja. mau apa nggak nonton pertunjukan adu babi?"
"Ya kalau kamu memaksa, ayu-ayu aja. tapi apa yang menjadi istimewanya pertunjukan adu babi itu, Coba kasih tahu Akang dengan sejelas-jelasnya."
"Dengerin kang! simak perkataan saya baik-baik. Akang dulu suka merawat babi, suka mengadukan babi. bahkan keistimewaan Akang bisa mengadakan pertunjukan babi layaknya doger monyet. Akang bisa menjinakkan babi sehingga babi itu bisa bekerja sama dengan hewan-hewan yang lainnya, seperti monyet dan anjing."
__ADS_1
"Terus?"