
Rita menepuk pundak Amanda saat melihat Amanda malah melamun.
Amanda lalu menoleh menatap Rita dan tersenyum.
"Kamu ngapain bengong, sini pilih tas tasnya aku yang bayar." Rita membawa Amanda untuk memilih tas branded di depannya.
"Serius ini kami yang bayar, bukan aku," canda Amanda disertai tawa.
Rita mengangkat dua jarinya yang artinya dua rius, Amanda terkekeh melihatnya dan ahirnya memilih tas branded cukup mengambil satu aja.
"Udah satu aja?" tanya Rita lagi yang sok-sokan mau nraktir banyak.
"Ini bisa kamu bayar aja sudah untung," ucap Amanda seraya mengangkat tas ia pegang.
Rita meringis. "Iya aku tidak sekaya elo."
Disusul tertawa bersama.
Kini semuanya sudah berada di depan mall, ketiga teman Amanda pulang naik taksi, Amanda pulang bersama Merry, mengantar Amanda pulang baru Merry pulang ke apartemennya, tempat Merry tidak jauh dari tempat Amanda, hanya lima menit sudah sampai.
Amanda hanya diam disepanjang jalan menuju pulang, Merry tidak berani bertanya hanya milih terap fokus menyetir.
Sampai mobil tiba di rumah Amanda, wanita itu langsung keluar menuju ke dalam rumah, Merry melajukan lagi mobilnya menuju pulang.
Amanda langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, seraya menghela nafas panjang, hari ini begitu lelah bagi Amanda.
Setelah dari acara gaun show nya, saat pulang harus dikejar mobil yang tidak tahu siapa orangnya.
Tiba-tiba Amanda teringat kejadian tadi dan berpikir siapa dalang dari mobil yang mengejarnya tadi.
Hah, bila tidak bersama Merry mungkin nyawanya sudah melayang pikir Amanda.
Aku harus berhati-hati sekarang, tapi siapa yang tega bertindak sejauh itu padaku, setahu aku musuhku hanya Tomi dan Dinda, aku rasa Tomi tidak mungkin berbuat seperti itu, apakah Dinda yang melakukannya? batin Amanda terus bertanya-tanya sendiri seraya menatap langit-langit kamar.
"Nyonya ... teh hangatnya mau diminum di kamar atau di luar saja!" teriak bibi pelayan di luar pintu kamar.
Amanda bangkit dari tidurnya kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya.
__ADS_1
"Bawa ke dalam kamar saja, bibi. Malam ini saya tidak makan, mungkin Tuan juga tidak, masukkan ke dalam kulkas lagi saja makanannya atau mau bibi makan juga boleh."
Selesai bicara Amanda langsung melenggang masuk ke dalam kamar, pintu kamar masih terbuka, bibi pelayan mengambil teh hangat yang sudah dibuatnya, lalu kembali lagi masuk ke dalam kamar Amanda.
"Bibi letakkan di sini, Nyonya." Setelah bicara bibi undur diri, Amanda mengangguk.
Merasa tubuhnya begitu lengket, Amanda kemudian mandi. Berendam di dalam bathtub sampai menutup seluruh tubuhnya hanya wajahnya yang tidak terendam air busa.
Sayup-sayup Amanda mendengar ponselnya bunyi, Amanda segera menyelesaikan mandinya, mengguyur tubuhnya di bawah air shower, kemudian keluar menggunakan handuk kimono.
Berjalan mendekati ponselnya, melihat siapa yang barusan menelpon.
"Jefri," gumamnya lirih, kemudian Amanda menelpon balik ponsel Jefri.
"Ada apa Jefri, maaf tadi aku lagi sibuk," ucap Amanda setelah sambungan telepon diangkat oleh pemilik orang di sana.
"Satu Minggu lagi aku akan datang ke Indonesia, tunggu aku baby," suara Jefri di sambungan telepon, terdengar gelak tawa saat menyebut kata baby.
Amanda menghela nafas berat mendengar tawa Jefri. "Baiklah aku tunggu, aku butuh bantuan kamu untuk menyelesaikan masalah aku."
Terdengar suara jawaban ok dari Jefri sebelum ahirnya sambungan telepon dimatikan.
Amanda segera memakai baju sadar belum bajuan sedari tadi, malam ini hanya menggunakan dress rumahan panjang selutut.
Waktu menunjuk pukul delapan malam, Amanda mencoba berusaha tidur, namun tetap saja tidak bisa tidur, duduk lagi di atas ranjang, membuka hp lihat Instagram, tiba-tiba matanya menangkap gambar petis jambuk.
Amanda menelan ludah kasar, ingin rasanya mencicipi petis jambu yang terlihat segar, bahkan dalam bayangannya akan lebih segar dengan rasa asam manis pedas.
Semakin membayangkan Amanda semakin ingin memakan petis jambu.
Tapi waktu sudah malam, Amanda tahu diluar sana pasti sudah tidak ada yang jualan, Amanda memilih tidur lagi mengurungkan niatnya, tapi ternyata sampai jam sembilan malam Amanda juga tidak kunjung tidur.
Ahirnya Amanda memutuskan ke dapur, siapa tahu ada jambu di sana, namun hatinya harus menerima kekecewaan karena setelah membuka almari es tidak ada buah jambu, bahkan buah-buahan yang lain juga tidak ada, bila dilihat almari es yang kosong, sepertinya bibi belum belanja.
Ehem!
Amanda menoleh kebelakang saat mendengar suara dehheman keras, ternyata Tomi.
__ADS_1
Tomi mengambil air minum, setelah meneguk air minum Tomi menghampiri Amanda.
"Belum tidur?" tanya Tomi setelah berdiri di depan Amanda.
Amanda menggelengkan kepalanya, matanya masih melihat ke dalam isi kulkas.
"Kamu mau makan apa?" tanya Tomi setelah dirinya melihat Amanda melihat ke arah dalam kulkas, dan di sana kosong tidak ada makanan.
Amanda tiba-tiba terbesit ide setelah mendengar pertanyaan Tomi, bibirnya tersenyum kecil.
"Aku mau makan petis jambu."
"Malam-malam gini," ucap Tomi heran, seraya melirik ke dalam kulkas, tidak ada jambu di sana.
Amanda mengangguk. "Bisa kah kamu membelikan untuk aku." Wajah Amanda memelas.
Tomi menghela nafas panjang, merasa kasihan melihat wajah Amanda yang memelas, tapi juga bingung mau cari kemana malam-malam begini pikirnya.
"Ini sudah malam, toko buah pasti sudah tutup, bagaimana bila makan yang lain," tawar Tomi, namun seketika wajah Amanda ditekuk merasa kesal Tomi tidak mengabulkan keinginannya.
Amanda mau berjalan pergi, tapi buru-buru Tomi memegang pergelangan tangan Amanda.
"Jangan marah, baiklah aku carikan, kamu tunggu di rumah ya."
Amanda mengangguk tapi wajahnya masih pura-pura ditekuk.
Amanda menuju kursi ruang keluarga duduk di sana sembari nonton TV, Tomi mengambil jaket kemudian keluar dari rumah mau mencari buah jambu.
Mau cari kemana malam-malam begini, gumam Tomi setelah mobil melaju di jalan siap mencari toko buah.
Amanda langsung tertawa keras setelah Tomi pergi, hatinya puas mengerjai Tomi, balas dendam karena tadi siang pria itu sudah berani jalan bersama Dinda di belakang Amanda.
Setelah tertawa kencang, wajah Amanda berubah aura dingin dan tatapan menusuk.
"Dinda, tunggu pembalasan aku, saat ini kamu masih bebas berkeliaran di luaran sana, tunggu waktunya kamu akan hancur," ucap Amanda penuh amarah mengingat nama Dinda.
Sementara itu Tomi yang sudah mendatangi toko buah, dari toko buah pertama yang Tomi datangi sampai toko buah yang ke sepuluh tidak ada yang buka malam ini.
__ADS_1
Hah bagaimana ini, aku tidak mungkin pulang dengan tangan kosong, batin Tomi.
Tidak ada pilihan ahirnya Tomi menghubungi Amanda, namun jawaban Amanda di seberang sana Tomi tidak boleh pulang sebelum membawa petis jambu, Tomi hanya bisa menghela nafas berat, dan ahirnya malam ini terpaksa tidur di dalam mobil.