
Aku tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, yang terpenting sekarang aku bisa menjadikanmu istriku. karena aku yakin seiring berjalannya waktu aku bisa membuatmu mencintaiku, batin Valentino disertai senyum tipis.
Semoga dia pria yang tepat aku pilih menjadi keluarga baruku, setahu aku keluarga itu baik dan saling melindungi. Aku berharap dengan bersamanya aku bisa merasakan sebuah keluarga, batin Amanda menatap intens wajah Valentino.
Tatapan keduanya terputus bersamaan lepasnya jabatan tangan itu.
Amanda memandang ke arah lain, perasaan canggung seketika dirasakan, kerena sadar atau tidak sadar kini statusnya berubah bukan teman lagi, bisa dibilang kekasih dan itu terasa lucu batin Amanda.
Hah entahlah, batin Amanda menggelengkan kepala.
"Mari kita bicara dengan mommy?" ajak Valentino setelah sesaat terdiam, merasa gejolak yang aneh dalam hatinya, yang pasti sangat bahagia.
Amanda mengangguk patuh yang kemudian mengikuti langkah Valentino yang berjalan menuju keluar.
Setelah sampai di ruang keluarga, Valentino meminta Amanda duduk di sebelahnya, tangan pria itu menggenggam tangan Amanda sembari menatap serius ke arah Mommy Vio.
Mommy Vio yang belum paham dengan semua yang dilihatnya itu, hanya melihat Valentino yang menggenggam tangan Amanda dengan kening berkerut.
Valentino yang melihat wajah kebingungan Mommy Vio langsung menjelaskan tujuannya, "Aku sama Amanda mau menikah."
Mommy Vio langsung melongo, sangat begitu jelas ucapan tegas yang baru saja Valentino ucapkan sampai membuat Mommy Vio terkejut.
Sementara Amanda hanya menunduk menyembunyikan senyum kecilnya, demi apa sungguh saat ini Amanda jadi malu, baru beberapa menit lalu datang sebagai tamu dan sekarang diperkenalkan sebagai calon menantu.
Mommy Vio menatap pergantian Valentino dan Amanda, Mommy Vio menghela nafas panjang menghilangkan rasa terkejutnya.
"Valentino kamu tidak becanda bukan?" Mommy Vio melihat Amanda. "Amanda kamu beneran sungguhan mau menikah dengan putraku Valentino? Dia sangat nakal yakin kamu tidak menyesal, hem?"
Mommy Vio sengaja bertanya seperti itu sama Amanda, karena ingin melihat Amanda terpaksa atau tidak, karena bagi Mommy Vio pernikahan adalah hal yang serius bukan mainan, karena itu Mommy Vio ingin memastikan keduanya.
"Amanda yakin Mom." Amanda melihat wajah Valentino. "Sekali pun dia nakal," ucapnya lagi.
His Mommy pakek bilang ke Amanda aku anak nakal, jelas-jelas aku anak baik, batin kesal Valentino atas tuduhan Mommy Vio yang menurutnya tidak benar.
Arah mata Mommy Vio berganti melihat Valentino.
__ADS_1
"Sungguh Mom, Mom ingin miliki punya menantu, kan. Nah ini wanita yang aku pilih." Tangan Amanda yang Valentino genggam itu ditarik sampai mendekati bibir yang langsung Valentino kecup punggung tangan Amanda.
Keromantisan yang Valentino ciptakan berhasil membuat Mommy Vio percaya, meski semua ini nampak dadakan, tapi Mommy Vio yakin Valentino tidak akan main-main, apa lagi putranya itu pernah minta restunya sebelumnya.
"Baiklah Mom restui kalian."
Empat kata itu langsung membuat Valentino bahagia, jelas terlihat diwajahnya langsung memancarkan senyum manis.
"Terimakasih Mom," ucap Amanda, juga ikut merasa bahagia, restu Mommy Vio tentu membuat semua rencananya lancar.
Mommy Vio tersenyum. "Kapan kalian akan menikah?"
"Di Minggu ini," jawab cepat Valentino yang langsung membuat Mommy Vio dan Amanda terkejut berpikir mengapa secepat ini.
"Karena niat baik tidak baik apa bila ditunda," ucapnya lagi saat menangkap wajah terkejut Mommy Vio juga Amanda.
Alah alasan apa lagi pasti Valentino karena segera ingin menikah dengan Amanda, batin Mommy Vio yang sudah hapal sifat Valentino.
"Valentino, ini terlalu cepat," bisik Amanda di telinga Valentino.
Hah Amanda hanya bisa menerima pasrah, ya sudahlah ikuti saja pikir Amanda.
Setelah obrolan serius itu, Amanda ijin pergi karena harus segera kembali ke kantor, masih ada pekerjaan yang harus Amanda selesaikan.
Mommy Vio mengantar dua kesayangannya Amanda dan Valentino sampai halaman rumah dekat mobil mereka.
Amanda masuk ke dalam mobilnya sendiri, begitu pun dengan Valentino, tidak lama kemudian mobil mereka sama-sama pergi meninggalkan halaman rumah. Mommy Vio tersenyum bahagia.
Beberapa menit berlalu Amanda sudah sampai di perusahaan. Saat langkah kaki Amanda baru menginjak teras perusahaan, Tomi datang menghalangi langkah Amanda.
Amanda menghela nafas berat. "Pergi!"
"Tidak! Aku mau bicara sama kamu," kekeh Tomi tidak mau pergi begitu saja sebelum yang diinginkan tersampaikan.
"Aku banyak kerjaan Tomi, lebih baik kau pulanglah!" ucap tegas Amanda lagi.
__ADS_1
Namun Tomi tetap kekeh tidak mau pergi. "Bicara denganku atau kau akan terus tertahan di sini."
Dih mengancam, umpat Amanda.
Ahirnya Amanda membiarkan Tomi mengikutinya sampai di ruang kerjanya, mungkin saja Amanda bisa mengusir pria itu dengan meminta bantuan sekuriti, tapi Amanda tidak mau membuat keributan yang nantinya akan dilihat para karyawannya, Amanda hanya ingin menjaga sikap kepemimpinannya.
"Katakan yang ingin kamu katakan!" Amanda bicara dingin tidak pedulikan perasaan Tomi. Setelah tiba di ruang kerjanya.
Tomi yang mendengar suara dingin Amanda langsung menghela nafas panjang, kini ia begitu melihat dinding pembatas yang tinggi yang semakin terasa sulit Tomi jangkau, namun Tomi akan berusaha.
"Amanda ... Ijinkan aku menjadi temanmu, aku melihat banyak pasangan mantan suami istri yang masih berkomunikasi dengan baik dan tidak saling membenci, aku ingin kita bisa seperti itu," ucap Tomi lembut.
"Apa untungnya!" tanya Manda sinis, karena mau berteman baik dengan Tomi juga tidak akan memberikan apa pun padanya, malahan nanti Amanda sendiri yang rugi.
"Amanda ... Ini sebuah teman bukan kolaborasi seperti yang sering kamu lakukan dengan klien mu yang menghasilkan keuntungan." Jelas Tomi lagi.
Tapi Amanda makin tidak peduli, dan langsung menelpon pihak keamanan untuk datang ke ruang kerjanya.
"Amanda apa yang kamu lakukan?" tanya Tomi saat melihat Amanda memegang telepon kantor.
"Tunggu saja sebentar," ucap Amanda.
Dan benar saja tidak lama kemudian dua sekuriti datang ke ruang kerja Amanda, melihat kedatangan mereka Amanda langsung memerintahkan untuk membawa pergi Tomi.
Dengan kasar dua sekuriti itu menari Tomi dan membawa pria itu keluar dari ruang kerja Amanda.
Meski dahulu Tomi adalah salah satu atasannya yang dihormati, namun setelah Tomi tidak kerja lagi di perusahaan ini, dua sekuriti itu tidak takut lagi, karena sudah mendapat perintah dari Presdir.
Sampainya di luar perusahaan, Tomi menatap kesal ke arah dua sekuriti itu yang berhasil membawanya keluar.
"Awas kalian kalau aku sudah kembali kerja di sini lagi akan aku pecat!" bentak Tomi karena mereka berdua sudah lancang dengannya.
Dua sekuriti itu hanya terkekeh, mana bisa Tomi kembali sedangkan Bosnya Amanda sudah membuang pria itu pikir dua sekuriti itu.
Ahirnya Tomi pergi dari sana dengan perasaan penuh kekesalan.
__ADS_1