
Tiba-tiba ada seorang pria berlutut di depan Valentino. Pria itu adalah anak buah Jordan yang tidak ikut pergi bersama mereka.
Melihat kedatangan pria itu anak buah Valentino langsung mengarahkan senjata api ke pria itu.
"Tuan, mohon beri saya kesempatan hidup. Saya akan memberi tahu kemana mereka membawa pergi istri Anda," ucap pria itu masih setia berlutut.
"Katakan!" suara tegas Valentino. Ia sudah tidak sabar lagi untuk mendengar informasi keberadaan Amanda.
"Negara Z."
Valentino langsung berdecih mendengar ucapan pria itu, dan segera memerintahkan anak buahnya untuk menangkap pria itu, akan Valentino bawa ke negara Z, dan apa bila di sana tidak menemukan Amanda. Akan Valentino habisi nyawanya.
Beberapa saat kemudian, datang sepuluh Helikopter, mereka semua anak buah Valentino. Sekarang juga Valentino bersama yang lain akan pergi ke negara Z.
Setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam, ahirnya mereka tiba di negara Z.
Dengan bersama anak buah Jordan yang memohon minta hidup tadi, Valentino dengan mudah menemukan mansion besar milik Jordan.
Diantara mereka juga sudah ada Merry, tadi sebelum helikopter terbang, Merry tiba di sana dan ingin ikut gabung.
Valentino tidak bisa memarahi Merry karena ini murni bukan kesalahan Merry.
Mansion yang besar itu terlihat banyak penjaganya, dan melihat hal itu amarah Valentino semakin membuncah. Tidak perlu pikir panjang lagi Valentino langsung naik pagar garansi yang tinggi itu, dan melompat dari sana, anak buah Valentino yang berjumlah lima puluh orang ikutan melompat masuk ke dalam.
Kehadiran mereka langsung jadi pusat perhatian anak buah Jordan.
Mereka semua langsung bertarung. Suara tembakan dan pedang beradu saling bersahut-sahutan.
Darah mulai menetesi halaman mansion besar itu, ada yang langsung kepalanya terpisah dari badan, ada yang langsung ditusuk mengunakan pedang panjang tubuhnya. Ada yang matanya ditembak pake pistol.
Yang tumbang pasti mati, saat ini nyawa tidak ada artinya lagi.
Dengan pedang panjangnya yang dibawakan oleh anak buahnya yang tadi datang membawa helikopter, Valentino menebas kepala musuh tanpa ampun, saat ini pikirannya hanya Amanda dan Amanda.
Mereka yang jadi penghalang langkah Valentino untuk bertemu Amanda, kepala mereka akan langsung pria itu tebas.
Sementara itu di dalam kamar mewah yang berada di dalam mansion itu. Ada Amanda di sana. Hanya seorang diri karena saat ini Jordan meninggalkan Amanda.
__ADS_1
Amanda baru sadar dari pingsan. Dan begitu terkejut saat ini saat berada di tempat asing.
Amanda menuju jendela yang kebetulan arahnya ke halaman Mansion ini, seketika Amanda bisa melihat pertarungan pertumpahan darah itu, bahkan saat ini Amanda bisa melihat Valentino yang membabi buta mengalahkan musuh.
"Valentino!" teriak Amanda namun di detik berikutnya ia menutup mulutnya.
Saat ini Amanda sadar bahwa sedang dalam bahaya, dan di bawah sana Valentino sedang berusaha untuk menolongnya.
Amanda menjauh dari jendela itu. "Aku harus cari cara untuk bisa keluar dari sini."
Amanda berinsiatif membuka lemari yang ada di kamar ini, tapi tidak menemukan apa pun di sana.
Amanda terus mencari apa pun itu benda yang akan ia dapat, yang penting bisa untuk melindungi diri.
Di laci paling bawah Amanda buka , bibirnya seketika tersenyum melihat benda di dalam laci itu, ada sebuah pistol dan pisau. Amanda pikir senjata ini pasti milik pria jahat yang sudah menculiknya.
Mengingat pria yang menemuinya di kamar mandi restoran, Amanda menjadi marah. Merasa sudah ditipu pria itu. sangking banyaknya anak buah Valentino sampai membuat Amanda tidak bisa mengenali satu per satu. Dan tadi Amanda pikir pria itu adalah anak buah Valentino makanya ia percaya saja.
Arghhhh! teriak Amanda menahan kesal.
Klek!
Sialan! Umpat Amanda dalam hati. Pistol dan pisau tadi sudah Amanda amankan di dalam baju jas nya.
Amanda menatap tajam saat Jordan mendekat.
"Hei cantik kau sudah sadar ternyata."
Amanda rasanya mau muntah mendengar ucapan manis pria itu, dan saat ini Amanda semakin menatap tajam Jordan.
Jordan malah tertawa melihat mata Amanda yang tajam mengarahnya, terlihat lucu dan menggemaskan baginya.
Sudah segila itu ternyata Jordan sampai orang menatap tajam tapi malah dibilang mengemaskan.
Jordan tidak butuh basa-basi, saat ini tugasnya mengajak Amanda pergi dari mansion, karena di bawah sana sudah ada Valentino. Jordan sendiri tidak tahu bagaimana bisa Valentino menemukan tempat keberadaannya sekarang.
Tapi Jordan tidak bodoh, pasti sudah ada salah satu anak buahnya yang ber penghianat.
__ADS_1
Jordan mencekal tangan Amanda, posisi Jordan saat ini memeluk Amanda dan mengarahkan bibirnya ke telinga Amanda.
"Aku akan membawamu pergi, tempat ini tidak aman untuk kita bersenang-senang," berbisik dengan suara sensual.
Mendengar bisikan pria itu Amanda semakin marah, dan di detik berikutnya Amanda berbalik menghadap ke Jordan, pura-pura membalas pelukan pria itu namun dalam waktu bersamaan Amanda menusukkan pisau ke perut Jordan, Amanda tekan sampai sedalam mungkin, Amanda tarik pisau itu dan Amanda tusukkan lagi ke perut Jordan, masih dalam memeluk pria itu.
"Kau," suara berat Jordan menahan rasa sakit.
Amanda menjauh dari tubuh Jordan, dan seketika pria itu ambruk di lantai tapi masih hidup, Amanda mengambil pistol yang disimpannya di dalam jas nya.
Amanda membidik tepat ke arah Jordan. Pandangan mata yang penuh kebencian dan amarah.
Jordan yang melihat hal itu mau berusaha bangkit ingin menggagalkan niat Amanda, namun sayang dia kalah cepat.
Dor! Dor!
Dua tembakan itu tepat mengenai mata Jordan, yang seketika mata Jordan pecah. Amanda menembak lagi ke bagian dada, dan seketika Jordan mati.
Amanda langsung berlari cepat, tapi bukan turun ke bawah, karena di sana banyak anak buah Jordan. Amanda tidak mau sampai tertangkap.
Amanda berlari naik ke tingkat paling tertinggi, tapi sampainya di sana Amanda tidak menemukan jalan keluar.
Amanda berdiri di balkon, terjun ke bawah ia akan mati, turun ke lantai satu pasti akan tertangkap lagi. Amanda pusing saat ini.
Amanda mau mencari alat yang bisa membawanya turun ke bawah dengan selamat, tapi tidak menemukan tambang atau pun kain panjang. Sungguh saat ini hidup Amanda seperti diujung maut.
"Hah bagaimana ini bagaimana ini!" Amanda gugup sampai dirinya menangis tidak tahu mau kabur kemana.
Tiba-tiba ada pria datang, pria itu tersenyum miring melihat ke arah Amanda. melihat hal itu Amanda mengarahkan pistolnya ke pria itu.
Tidak lama kemudian Valentino datang juga, kini mata keduanya bertemu, Amanda terharu saat melihat Valentino datang, dan keadaan ini dimanfaatkan pria jahat itu untuk segera menyandera Amanda.
"Ah lepaskan!" bentak Amanda setelah menyadari sekarang dalam kuasa pria jahat itu.
"Aku akan membunuh wanita ini," ucap pria itu, sudah mengarahkan pistolnya ke kepala Amanda.
Dor!
__ADS_1
Valentino langsung terkejut bahkan tubuhnya langsung terasa lemas bagai tidak bertulang.