Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 25. Dipecat secara tidak terhormat.


__ADS_3

Hari ini adalah hari persidangan perceraian antara Amanda dan juga Tomi.


Sejak pukul Sembilang pagi tadi Amanda sudah sampai di tempat persidangan, hanya duduk sendiri tanpa keluarga yang mendukungnya, karena memang Amanda hanya hidup sebatang kara.


Ayah dan ibunya sudah tiada, sayangnya pria yang dijadikan sebagai sandaran malah menyakiti.


Siapa pun wanita bila berada di posisi Amanda pasti akan terluka.


"Apa saudara Tomi sudah ada tanda-tanda menuju lokasi?" tanya hakim ketua, karena sebentar lagi sidang perceraian akan dimulai, namun Tomi belum ada di tempat.


"Tunggu sebentar Pak, mungkin masih di jalan," ucap Amanda berusaha meyakinkan hakim ketua, supaya sidang tetap lanjut.


Tomi di mana kamu Tomi! jangan bilang kamu tidak hadir, batin Amanda seraya melihat pintu masuk dengan perasaan cemas.


Ahirnya waktu diundur dari jadwalnya, namun sudah diberi kesempatan waktu sampai waktu selesai, Tomi juga tetap tidak datang.


Amanda memejamkan mata menahan kekesalan.


"Untuk sementara sidang kami tunda dahulu, silahkan dibicarakan dahulu masalahnya, siapa tahu ada solusi lain selain perceraian."


Setelah bicara hakim ketua berjalan pergi, yang disusul oleh hakim lainnya.


Amanda hanya bisa mengepalkan tangannya seraya mengumpat dalam hati, memaki Tomi dalam hati.


Sidang kali ini kamu bisa membuat gagal Tomi, tapi saya pastikan di persidangan berikutnya kita akan benar-benar bercerai.


Amanda memakai kaca mata hitam seraya keluar dari gedung persidangan, aura dingin terpancar di wajahnya yang saat ini berjalan menuju parkiran mobil.


Setelah berada di dalam mobil, Amanda langsung membawa mobilnya melesat pergi.


Perusahaan Fashion Amanda Corp.


"Apa-apaan ini!" ucap Dinda yang tidak terima melihat ruang kerjanya jadi berantakan, bahkan peralatan kerja miliknya sudah dikemas dimasukan di dalam kardus.


"Beraninya mereka mengacak-ngacak ruang kerja aku!" Dinda menggebrak meja, dan setelah itu berjalan keluar untuk menemui sekertarisnya.


Dinda berteriak-teriak memanggil Celine, padahal Celine ada di ruang kerjanya, Celine yang melihat Dinda datang langsung menghampiri.


"Celine, kau lihat mengapa ruang kerja aku berantakan!"


Celine hanya diam dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


"Jawab Celine! siapa yang melakukan!" Amanda yang baru datang langsung menyela, "Aku yang melakukan."


Deg!


Dinda langsung terkejut, matanya seketika terbelalak lebar.


Amanda berjalan mendekati Dinda yang masih berdiri membelakanginya. "Lebih tepatnya bawahan aku yang melakukan, atas perintah aku," ucap santai Amanda seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Dinda langsung balik badan menuding wajah Amanda dengan marah. "Apa maksudmu, hah!"


Amanda menepis tangan Dinda yang menunjuk wajahnya. "Bawa keluar semua barang-barang milik Dinda, dan kosongkan ruangan itu."


"Baik Nyonya," jawab kompak dua sekuriti yang berada di belakang Amanda, yang tadi datang bersama Amanda.


Dinda yang melihat dua sekuriti itu berjalan ke ruang kerjanya langsung panik dan tidak terima.


"Amanda apa maksud kamu! kau memecat aku!"


Amanda tidak menanggapi teriakan Dinda, melengos pergi begitu saja, namun Dinda menghalangi langkah Amanda, hingga kini Dinda kembali berdiri di depan Amanda.


Amanda berdecak, rasanya sudah muak melihat wajah Dinda.


Dinda memegang bahu Amanda dengan marah. "Kau tidak bisa memecat aku Amanda, tidak bisa!"


Amanda membersihkan pakaiannya yang baru saja di pegang tangan Dinda, seolah jijik sehabis Dinda sentuh.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Dinda seraya memberontak, namun dua sekuriti begitu kuat memegangi tangan Dinda.


Amanda mencekal rahang Dinda. "Pergi Dinda, aku sudah muak melihat wajah kamu! jangan sekali-kali menampakkan wajah kamu di depan aku! atau kamu mau aku merusak wajah cantikmu dengan kuku panjangku." Amanda menunjukan kukunya yang panjang di depan Dinda.


"Seret dia keluar!" ucap tegas Amanda seraya menjauhkan wajahnya.


Sesuai perintah Amanda, dua sekuriti itu menyeret Dinda membawanya keluar perusahaan, karena Dinda tetap bersikeras tidak mau keluar dari perusahaan tersebut.


Di dalam lift Dinda terus memberontak, setelah sampai di pintu keluar, sekuriti meninggalkan Dinda di luar beserta barang-barang Dinda.


Dinda marah campur menangis, sangat malu dirinya di pecat secara tidak terhormat.


Apa lagi jabatan dirinya di perusahaan ini itu tinggi, semua orang yang biasanya segan sama dirinya, kini mereka mulai berbisik-bisik negatif tentangnya.


Arghhhh!

__ADS_1


Teriak Dinda yang begitu kesal, semua rencananya gagal, belum sempat menguasai harta Amanda tapi malah sudah dipecat.


Dinda seperti orang gila yang terus berteriak-teriak tidak jelas, menyalahkan Amanda, makin membuat karyawan lain berbisik-bisik negatif tentangnya.


Dinda langsung membawa mobilnya pergi dari perusahaan tersebut.


Sementara itu ruang kerja Dinda saat ini dikosongkan, tidak digunakan lagi.


Amanda masuk ke ruang kerja Tomi, niat hati mau menemui pria itu, namun saat sampai di sana, tidak menemukan batang hidungnya.


Tomi bolos lagi tidak masuk kerja, Amanda menghela nafas panjang, tidak keluar begitu saja, Amanda mau mengobrak-abrik ruang kerja Tomi, Amanda yakin Tomi menyembunyikan sesuatu.


Jika barang bukti yang Amanda miliki itu kuat, saat perceraian nanti akan mudah, tanpa kehadiran Tomi pun tetap bisa dilakukan.


Semua laci meja Amanda gledah, namun tidak menemukan apa pun, Amanda mencari lagi di tempat lain, di ruangan ini ada beberapa almari.


Amanda membuka satu per satu pintu almari itu, sampai memilah tumpukan file-file namun tetap tidak menemukan sesuatu.


Amanda makin penasaran, namun semua sudah ia buka, dan saat mengedarkan pandangannya ternyata masih ada satu laci di bawah lemari yang belum Amanda buka.


Amanda mendekatinya namun ternyata dikunci saat Amanda berusaha membuka.


Amanda tidak kehilangan cara, Amanda menelpon Merry untuk datang ke ruang CEO.


Tidak lama kemudian Merry datang dengan membawa kunci yang Amanda pinta.


Setelah berhasil Amanda buka, Amanda menemukan DVD, Amanda penasaran dengan DVD itu, ahirnya Amanda ambil dan kembali mengunci laci itu. Dan kemudian Amanda dan Merry pergi dari ruangan tersebut.


Di tempat lain.


Ternyata Tomi beneran menghindar untuk tidak datang di sidang pengadilan, namun saat ini Tomi sedang di telpon Ibu Lili, Tomi dimarahi ibunya habis-habisan.


"Ibu kecewa sama kamu Tomi! ibu marah, ibu tidak mendidik kamu menjadi laki-laki jahat tapi kamu malah berbuat seperti itu! Ibu kecewa!" makian Ibu Lili di sambungan telepon.


"Ibu ... dengarkan Tomi."


"Halah! ibu tidak lagi percaya sama kamu lagi, setelah kalian bercerai, Ibu tidak mau kau tinggal sama Ibu, pergi sejauh mungkin!"


"Ibu! Ibu!" teriak Tomi namun ternyata sambungan telepon sudah dimatikan.


Ahh!

__ADS_1


Tomi membanting hp nya di sofa, mengusap wajahnya dengan kasar, pikiran Tomi jadi pusing, Amanda tidak mau diajak balikan, sedangkan ibunya tidak mau menerima dirinya lagi bila sampai bercerai.


"Hah! mengapa semuanya jadi begini ..." teriak Tomi seraya menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


__ADS_2