
"Tadi seru banget di panti asuhan banyak anak kecil, suasana baru yang aku lihat. Selama ini aku hanya tahu masalah perusahaan dan perusahaan." Amanda curhat.
"Ngapain saja tadi di sana?" tanya Valentino tangannya masih asyik menggulung rambut Amanda.
"Banyak hal yang dilakukan, tadi juga aku menggendong anak kecil dia menangis dan langsung diam setelah berada di gendongan aku."
"Benarkah?" tanya Valentino seperti tidak percaya dengan penjelasan Amanda barusan.
"Sungguh." Amanda menjawab mantap.
Kali ini Valentino berganti fokus menatap lekat wajah Amanda, dan Amanda pun membalas tatapan itu.
"Kamu bahagia?"
Amanda mengangguk.
"Sangat senang bertemu anak-anak kecil?"
Amanda mengangguk.
"Seneng bisa membuat tangis anak kecil mereda?"
Amanda mengangguk.
"Ayo bikin anak?"
Amanda mengangguk. Setelah sadar salah menjawab Amanda menggelengkan kepalanya cepat. Sembari dalam hatinya menjerit mengapa bisa terhipnotis ucapan Valentine pikirnya.
"Tidak ada perubahan kan tadi sudah mengangguk." Valentino tersenyum menyeringai.
"Val-."
Empp.
Belum sempat protes bibir Amanda lebih dulu dibungkam dengan bibir Valentino sampai tidak melanjutkan ucapannya.
Valentino menciumnya dengan lembut dan begitu menuntut, tangan Valentino sembari meremas pa-yu-da-ra Amanda, membuat wanita itu seketika merasa meremang. Apa lagi saat bibir Valentino berganti menyapu lehernya dan menggigitnya kecil, sensasi luar biasa Amanda rasakan.
Valentino tersenyum setelah menyudahi kecupan di leher Amanda.
Valentino berganti menatap wajah Amanda. "Tidurlah aku akan menemani kamu." Valentino menarik Amanda mendekat dan memeluknya begitu erat.
Malam ini mereka kembali tidur seperti biasa, tidak jadi melakukan penyatuan.
Keesokan harinya.
Pukul sepuluh pagi.
__ADS_1
Gedung Fashion Amanda Corp.
Amanda saat ini sedang kedatangan tamu, tamu yang menyebalkan karena mertamu disaat jam bekerja.
"Cepat katakan apa maumu!" Amanda bicara tegas, pasalnya sekarang lagi banyak pekerjaan dan orang tersebut supaya segera pergi.
"Galak amat mentang-mentang sudah tidak butuh bantuan gue," protes Jefry dengan bibir mayun.
Amanda menghela nafas panjang. "Jefry, ayolah. Pekerjaan aku masih banyak, kamu mau bicara apa?"
Nada bicara Amanda kali ini lebih pelan tapi tetap tersirat ketegasan.
"Baiklah aku akan mengatakan, tapi ...."
Amanda mengerutkan keningnya saat Jefry menghentikan ucapannya, benar-benar buang-buang waktu pikir Amanda.
"Kamu jangan marah," lanjut ucap Jefry, dan seketika Amanda menghela nafas panjang. Bukan kah sudah sedari tadi marah-marah masih saja dibilang jangan marah, kalau tidak bicara-bicara ya malah membuat marah batin Amanda yang merasa kesal.
"Aku mencintai Merry dan aku ingin menjadikan dia wanitaku," ucap Jefry penuh percaya diri.
Mendengar ucapan Jefry barusan membuat Amanda menatap intens pria itu, masalah hati bukan main-main bagi Amanda, Merry sangat Amanda lindungi untuk jangan sampai sakit hati seperti yang pernah ia alami.
Di tatap segitu intens oleh Amanda membuat Jefry kembali bersuara.
"Oh ayolah, Amanda percaya sama aku sekarang aku sudah berubah, jadi pria baik," bicara serius ingin membuat Amanda yakin.
"Kalau cuma untuk dijadikan ke kasih saja aku tidak akan kasih, Merry terlalu baik untuk pria cabul seperti kamu." Amanda tersenyum sinis.
"Ia setia, setiap malam ganti wanita," sindir Amanda.
"Nda ... Bukan seperti itu, sekarang aku sudah tidak seperti itu lagi." Jefry frustasi menjelaskan, Amanda belum bisa percaya.
Klek!
Pintu terbuka.
Amanda dan Jefry langsung menoleh dan seketika melihat Merry wanita itu membawa beberapa file yang harus Amanda tandatangani.
Melihat file yang Merry bawa, seketika Amanda ingat bahwa pekerjaannya masih menumpuk. Amanda segera bangkit dari duduknya meninggalkan Jefry.
Amanda kembali ke meja kerjanya. Merry menyerahkan file yang ia bawa ke Amanda.
Sebelum keluar membawa file yang sudah Amanda cek, Merry tersenyum ke arah Jefry dan seketika Jefry terpaku sampai memegangi dadanya jantungnya langsung berdebar-debar.
"Aku seperti baru saja melihat senyuman bidadari," ucap Jefry lirih, tapi Amanda masih mampu mendengar dan seketika tersenyum melihat tingkah Jefry.
Wanita bersikap dingin itu makin terlihat cantik saat bersikap angkuh, batin Jefry yang suka wanita sulit disentuh.
__ADS_1
Amanda tetap lanjut bekerja, sementara itu Jefry yang melihat Amanda begitu sibuk, jadi khawatir sendiri, pasalnya belum mendapat ijin dari Amanda, dan wanita itu sekarang malah sibuk.
Beberapa saat kemudian Amanda menghentikan pekerjaannya, sembari bekerja tadi Amanda memikirkan omongan Jefry dan sekarang sudah mendapat jawaban.
Amanda menoleh ke arah Jefry. "Asal kamu mau berubah aku tidak masalah ... Tapi semua tetap berada pada keputusan Merry karena dia yang akan menjalani."
Terlepas akan diterima atau tidak sama Merry, Jefry akan pikirkan nanti, yang pasti saat ini Jefry bahagia setelah mendapat ijin dari Amanda.
"Dan satu hal lagi, sebenarnya bukan restu dari aku yang yang terpenting, tapi bagaimana cara supaya kamu masuk di hati Merry, itu yang lebih penting." Amanda lanjut kerja lagi.
Jefry merenungkan ucapan Amanda, karena semua itu benar, mungkin untuk mendapatkan wanita murahan hanya ibarat satu detik sudah dapat, tapi untuk menyentuh hati Merry, Jefry merasa akan berjuang keras.
"Amanda terimakasih, aku pergi sekarang."
Amanda mengangkat tangannya mempersilahkan.
Setelah Jefry pergi, Amanda hanya sendiri di ruang kerjanya, di sana sampai siang, juga sampai tiba sore hari.
Tidak disangka baru saja selesai pekerjaannya, saat pintu terbuka ternyata suami berkunjung.
"Hei," sapa Amanda saat melihat Valentino berjalan masuk.
Amanda berdiri menghampiri Valentino saat pria itu diam saja.
"Aduh suami aku capek banget ya? Kasihan lho sudah kerja seharian ya? Duh duh kasihan tadi sibuk banget ya?" Amanda bicara dengan suara mendayu-dayu yang kemudian disusul tawa.
Valentino langsung memeluk Amanda, istrinya gemesin.
Mereka berpelukan sambil berdiri.
"Aduh duh jangan erat-erat peluknya aku sesak," ucap Amanda yang merasa tidak nyaman.
"Biarin habisnya kamu ngangenin." Valentino bicara dengan suara yang terdengar begitu gemas.
Amanda terima pasrah, protes pun tidak akan didengar.
"Malam ini kita diner ya." Valentino bicara masih dalam posisi memeluk Amanda.
"Ya sudah kita berangkat saja sekarang, aku sudah selesai kerja kok."
Mendengar ucapan Amanda, Valentino melerai pelukannya yang berganti menggenggam tangan Amanda untuk diajaknya keluar.
Namun baru beberapa langkah terhenti.
"Aku bereskan dulu ruang kerjaku, tunggu sebentar." Amanda melepas genggaman tangan Valentino, kemudian berjalan menuju meja kerja.
Amanda merapihkan semua berkas yang ada di atas meja, Amanda simpan ke dalam laci kemudian menguncinya, setelah itu mendekati Valentino.
__ADS_1
"Let's go," ucapnya penuh semangat sembari meraih tangan Valentino untuk Amanda genggam.
Mereka keluar dari perusahaan dengan berjalan mesra, benar-benar pasangan yang serasi, yang lihat pada dibuat iri.