Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 86. Mengetahui pelaku sebenarnya.


__ADS_3

Valentino ternyata tidak melajukan mobilnya ke perusahaan, tetapi ke markas. Di sana Valentino mengumpulkan semua anggotanya. Saat ini Valentino sedang mau berencana untuk melakukan sesuatu.


Namun kali ini yang masuk ke ruangan kerja Valentino di tempat tersebut, hanya Sekertaris Son dan tiga pria orang kepercayaannya. Mereka akan membahas rencana untuk melindungi diri dari serangan musuh, tapi andai mereka sampai menyakiti orang yang Valentino cintai, pria itu juga menyusun rencana untuk balas dendam.


"Saat ini perlindungan harus ketat untuk Nyonya dan Nona Amanda," ucap Glen memberi saran untuk sang Tuan.


"Baik aku setuju." Valentino menjawab matanya menatap mereka semua. "Dan kalian harus ingat kita akan menggunakan formasi yang ke 6 untuk melumpuhkan mereka semua." Valentino bicara dengan suara yang terdengar dingin.


Pintu terbuka, obrolan mereka terhenti melihat siapa yang datang. Orang suruhan Valentino yang ditugaskan mencari informasi tentang pelaku semalam.


"Katakan."


Nada suara Valentino saat memberikan perintah tersirat tidak sabaran dan terdengar begitu dingin.


"Suruhan Tuan Jordan."


Mendengar penjelasan orang itu seketika amarah Valentino seakan mau meledak.


Brakk!!


Tangan Valentino menggebrak meja dengan keras, lagi-lagi Jordan yang mengusik hidupnya, padahal sudah lama Valentino tidak mau berurusan dengan Jordan, setelah mengikhlaskan Ervina menjadi milik pria itu.


Tapi apa ini? Lagi-lagi Jordan membuat ulah dan mencari masalah lagi dengannya, Valentino benar-benar marah.


"Awas saja sampai kau berani menyentuh Amanda, akan aku ambil nyawamu detik itu juga." Valentino bicara begitu arogan dengan tatapan lurus ke depan seolah pandangannya mampu menembus Jordan.


Obrolan hari ini selesai, Valentino dan Sekertaris Son harus kembali ke perusahaan, namun sebelum pergi, berpesan pada yang lain untuk selalu waspada.


Valentino dan Sekertaris Son segera melajukan mobilnya ke perusahaan, sampai di sana langsung menjalankan rapat yang sejak tadi mereka yang berada di ruang rapat sudah menunggu pimpinannya datang.


Hari ini Valentino cukup sibuk dengan pekerjaan kantor, namun masih bisa memantau kesibukan Amanda melalui CCTV yang sudah terhubung ke hp nya.


Dan setelah tiba sore hari, pekerjaan selesai Valentino segera pulang, dalam rekaman CCTV tadi melihat Amanda sudah pulang lebih dulu.


Dan bahkan saat perjalanan pulang, Merry selalu memberi kabar pada Valentino bahwa Amanda baik-baik saja.

__ADS_1


Valentino segera masuk ke dalam rumah setelah baru saja mobilnya sampai, Valentino menuju kamarnya berada, saat melewati ruang tengah sepi, dan berpikir tumben Mommy Vio tidak berada di sana?


Tiba didalam kamarnya, Valentino langsung memeluk Amanda, sebenarnya dalam hatinya begitu khawatir Amanda kenapa-napa.


Malam hari tiba.


Semua sedang berkumpul di ruang makan, saatnya makan malam.


Di sela-sela makan Mommy Vio bercerita yang mengundang tawa, Valentino juga ikutan menimpali, sesaat makan malam ini menghapus rasa kekhawatiran Amanda, dan Valentino memasang wajahnya begitu apik tidak menunjukan hal-hal yang perlu di khawatirkan.


"Kalian ini kapan sih mau bulan madu, jangan kerja terus." Selesai bicara Mommy Vio menyuap makanan.


Amanda dan Valentino saling pandang dan saling melempar senyum, mereka mengakui karena sibuk bekerja sampai belum kepikiran untuk bulan madu.


Valentino tiba-tiba menggenggam tangan Amanda seraya memperhatikan wajah istrinya. "Kamu mau pergi kemana bulan madunya, kalau kamu mau Minggu ini aku usahakan."


Amanda tersenyum, saat bibirnya mau bicara tiba-tiba mendengar dering ponsel Valentino, yang ahirnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Amanda tidak tahu apa yang Valentino bicarakan dengan orang di sambungan telepon, karena Valentino membawanya menjauh.


Tapi Valentino tiba-tiba naik ke atas ranjang dan langsung menyergap tubuh Amanda.


"Valentino sesak, kamu peluknya jangan erat-erat," protes Amanda, karena ini kebiasaan Valentino setiap memeluknya sampai membuatnya sesak nafas.


Amanda merasa lega saat merasakan Valentino mengendurkan pelukannya, pria itu kini beralih menatap wajah Amanda dalam-dalam, dan di detik berikutnya mencium rakus bibir merah Amanda yang sudah menjadi candunya.


Baru terlepas saat Amanda kehabisan nafas, Valentino tersenyum, ibu jarinya mengusap bibir Amanda yang basah karena ulahnya barusan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Valentino mencium dalam kening Amanda.


Valentino membaringkan tubuhnya memberikan Amanda tempat ternyaman, masih memeluknya tapi tidak se'erat tadi.


"Jika kamu tidak masuk kantor, mau tidak? Kerjakan saja semua di rumah," ucap Valentino memecah keheningan.


Amanda mendongakkan kepalanya. "Kenapa? Apa begitu bahaya situasi sampai aku harus tidak masuk kantor, ini tidak mungkin aku lakukan."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Amanda, Valentino menghela nafas panjang, dan tampak berpikir sejenak.


Valentino juga tidak ingin membuat Amanda merasa tidak nyaman, kehilangan kebebasannya,


"Baiklah kamu tetap aku ijinkan masuk ke kantor, tapi dengan syarat kamu tidak boleh keluar dari perusahaan selain jam waktu pulang." Putus Valentino ahirnya setelah merasa jawaban ini tidak begitu membuat Amanda tertekan, dan tetap bisa beraktivitas di luar, hanya saja sedikit dibatasi.


Amanda mengangguk setuju.


Mereka berdua kemudian tidur melewati malam yang panjang.


Setelah pagi tiba.


Saat ini mereka berdua sudah bersiap-siap, Amanda sedang berdandan di depan meja rias, Valentino sedang diruang ganti memakai pakaian.


Setelah Valentino keluar dari dalam sana, Amanda berdiri saat ini sudah rapi, Amanda membantu memakaikan dasi di leher Valentino, juga memakaikan jas untuk Valentino.


Amanda tersenyum memandangi tubuh suaminya yang gagah, apa lagi di balik pakaian yang membungkus itu, ada roti sobek yang setiap malam Amanda inginkan.


Pipi Amanda jadi merah merona membayangkan hal tersebut. Dan saat Amanda menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona, Valentino malah memegang dagunya dan dalam sekejap mencium bibir Amanda.


Mereka berdua berciuman cukup lama sebelum ahirnya turun ke lantai satu bersama-sama.


Setelah selesai sarapan, Amanda dan Valentino langsung berangkat kerja, Valentino mengantar Amanda ke perusahaan wanita itu lebih dulu.


Memastikan sendiri istrinya baik-baik saja sampai tujuan.


Setelah mobil sampai, Valentino juga ikutan keluar, Amanda pikir Valentino tidak masuk ke dalam, ternyata pikirannya itu salah, Valentino begitu perhatian sama Amanda, memastikan aman sampai tujuan ya sampai tiba di ruang kerja Amanda.


Mereka yang sudah berada di dalam lift, berdiri saling memeluk, saat pintu terbuka mereka keluar bersama-sama masih saling memeluk, Valentino merengkuh pinggang Amanda.


Valentino membuka pintu ruang kerja Amanda. "Silahkan masuk ratuku," bicaranya manis sekali bahkan disertai senyum yang sangat manis.


Amanda menghela nafas. "Aku mendengar kamu dahulunya seorang playboy, dan aku membenarkan itu karena ternyata ucapannya begitu manis." Amanda menggelengkan kepala.


Valentino tertawa.

__ADS_1


__ADS_2