
Keesokan harinya.
Amanda yang saat ini sudah berada di kantor, sedang berdiri di balik jendela, Amanda melihat ke arah luar yang dimana di sana jalanan begitu ramai banyak kendaraan yang lalu lalang, dari tempat gedung setinggi ini Amanda mampu melihat yang terjadi di luar sana.
Tapi pikiran Amanda bukan tertuju dengan yang Amanda lihat, Amanda memikirkan teror yang terjadi baru-baru ini padanya.
Amanda tidak mau membiarkan teror ini terus berlanjut, secepatnya harus ditemukan pelakunya.
Maunya apa ya? Kenapa harus melakukan teror tidak datang aja langsung padaku bicara sama aku, apa bila aku salah ya katakan salah, dari pada teror meneror mulu, batin Amanda sangat kesal.
Klekk.
Pintu terbuka.
Amanda menoleh kebelakang melihat siapa yang tengah membuka pintu.
"Nyonya Amanda, Tuan Jefri sudah tiba," ucap salah satu karyawan Amanda yang ditugaskan untuk melapor setiap ada orang yang mau bertemu.
"Perintahkan dia masuk." Amanda berjalan menuju kursi sofa yang panjang dan duduk di sana.
Karyawan yang tadi mempersilahkan Jefry untuk masuk ke dalam, Jefry mengayunkan kakinya melangkah masuk dan seketika pandangannya bertemu dengan Amanda yang menunggunya di dalam sana.
Jefry berjalan mendekat dan ikut duduk di kursi sofa tersebut. "Ada hal penting apa kamu meminta aku datang kesini?" tanya Jefry seraya menatap wajah Amanda yang saat ini terlihat banyak pikiran.
"Ada yang meneror aku," jawab cepat Amanda menyahut pertanyaan Jefry.
"Teror! Sejak kapan?" Jefry terkejut mendengar penjelasan Amanda.
"Masih baru-baru ini, makanya aku meminta kamu datang ke sini karena mau minta tolong bantuan kamu, tolong selidiki siapa pelaku di balik teror ini," jelas Amanda yang sangat berharap Jefry mau membantu lagi seperti sebelumnya.
"Mungkin mantan suami kamu," ucap Jefry yang menduga apa bila semua itu akal-akalannya Tomi.
"Aku juga tidak tahu, lebih baik kamu selidiki saja, aku tidak mau teror ini semakin berlanjut," ucap Amanda lagi yang sudah merasa lelah dengan semua ini.
"Baiklah-baiklah aku akan membantumu, nanti akan segera aku kabari." Jefry tersenyum menenangkan Amanda tidak perlu khawatir lagi.
"Terimakasih Jefry." Amanda senang ahirnya Jefry mau membantunya lagi, dan berharap pelaku teror segera ditemukan.
"Apa masih ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Jefry lagi memastikan mungkin Amanda mau bicara hal lain.
__ADS_1
Amanda menggelengkan kepala. "Sudah tidak ada, cukup itu saja."
"Jika begitu aku pergi karena aku ada pertemuan dengan teman-teman anggota aku hari ini," jelas Jefry yang tidak bisa lama-lama.
"Ya aku mengerti, kamu boleh pergi." Amanda bangun dari duduknya mempersilahkan Jefry.
Jefry bangkit dari duduknya tersenyum ke arah Amanda yang kemudian terus berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Amanda kembali duduk, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya terpejam merasakan tubuhnya yang terasa lelah.
Membuka mata sebentar menoleh ke arah meja kerjanya, melihat banyaknya tumpukan file-file yang belum ia kerjakan, tapi badannya malas mau bekerja.
Kejadian aneh baru-baru ini membuat Amanda jadi hilang konsentrasi untuk bekerja, pekerjaan yang harusnya sudah selesai kini jadi terbengkalai karena merasa malas ada yang dipikirkan.
Amanda menghela nafas panjang, ahirnya milih memaksa diri untuk lanjut bekerja, toh sudah ada Jefry yang akan membantunya untuk menemukan pelaku teror. Jadi Amanda harus bisa berusaha tenang.
Amanda berdiri lagi berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana, Amanda mulai mengambil satu file dan mulai mengoreksi serta memberi tanda tangan, begitu terus pada file-file selanjutnya.
Saat ini sudah pukul sebelas siang, sebentar lagi waktunya jam makan siang. Tapi Amanda belum mau istirahat, masih terus sibuk dengan pekerjaannya.
Tepat pukul setengah dua belas, pintu ruang kerja Amanda kembali di ketuk, Amanda menaikan satu alisnya pasalnya Amanda tidak memanggil siapa pun, tapi mengapa ada yang mengetuk pintu pikirnya, tapi tetap Amanda ijinkan masuk.
Sampai pria itu berdiri di depan Amanda dan meletakkan kotak nasi itu di atas meja kerja Amanda.
"Makanlah," titahnya dengan lembut.
Amanda sampai membatin ini orang habis kepentok apa kepalanya mengapa bicara selembut itu, mengerikan.
Amanda hanya mengangguk saja dan milih fokus kembali kerja, tidak pedulikan Tomi yang masih berdiri, menawarkan untuk duduk juga tidak.
Namun ternyata Tomi tidak langsung pergi, pria itu duduk di sofa panjang tanpa Amanda persilahkan. Tomi merasa biasa tidak ada malu-malunya padahal sudah mantan istri.
Ya itu lah Tomi menyingkirkan rasa malunya demi bisa menarik simpati Amanda, lucu kadang mengapa berjuang setelah bubar. harusnya dari dulu.
Tomi melihat terus wajah Amanda yang begitu serius dalam bekerja, dan hari Tomi sudah tekat untuk bisa dekat lagi sama Amanda seperti dulu.
Amanda risih melihat Tomi yang ada di ruangan ini, Amanda sengaja melama-lamakan dalam menyelesaikan pekerjaannya supaya Tomi jenuh dan pergi.
Karena Tomi di usir pun tidak akan pergi, Amanda sudah hafal watak keras kepala Tomi.
__ADS_1
Dan untungnya sepertinya Tuhan membantu Amanda, tiba-tiba Jihan juga Rita datang ke perusahaannya.
"Amanda ... Hai hai ..." teriak mereka berdua dengan suara cempreng setelah membuka pintu.
Hahah!
Mereka berdua tertawa cekikikan sembari berjalan masuk mendekati Amanda.
Tomi langsung menghela nafas berat melihat Jihan juga Rita datang, kini niatnya gagal untuk bisa berduaan dengan Amanda, meski dalam pikiran Tomi cukup melihat wajah Amanda saat wanita itu bekerja, tapi apa bila sudah seperti ini tentu Tomi milih pergi, dari pada menjadi bualan Jihan yang suka bicara pedas.
"Eh itu ada si Tomi manusia aneh."
Tuh kan baru saja Tomi membatin akan jadi bualan Jihan, sekarang wanita itu mengatakan Tomi aneh, Tomi langsung menghela nafas panjang yang kemudian berdiri berniat mau pergi saja.
"Eh, dia ngambek," ucap Jihan disertai tawa mengejek. Jihan berganti melihat kotak bekal nasi. "Ini punya siapa ini?"
"Punya aku."
Bukan Amanda yang menjawab tapi Tomi, pria itu langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara Jihan bertanya kotak bekal.
"Tapi untuk Amanda," ucapnya lagi yang malah mendapat tawa keras dari Jihan.
Hahaha.
"Memang kamu bisa masak! Pasti tidak enak jika begitu aku saja yang makan."
Baru saja Jihan selesai bicara langsung membuka kotak bekal tersebut dan menyantap makanannya.
Tomi hanya bisa menghela nafas panjang, semua sia-sia, harusnya Amanda yang makan tapi malah Jihan.
Sudah tadi mengatakan tidak enak tapi kok dimakan dengan lahap.
"Awas ya aku tidak ikhlas, hati-hati kalo nanti kamu tersedak." Selesai bicara Tomi langsung pergi.
Jihan tidak mendengarkan ucapan Tomi, milih terus lanjut makan sampai nasi goreng itu habis.
"Si Tomi aneh itu bisa masak? Amanda." Jihan bertanya setelah nasi goreng itu habis ia makan.
"Bisa."
__ADS_1
Dah sesingkat itu Amanda menjawab karena tidak mau mengingat masa lalunya yang sudah Amanda kubur.