
Valentino menyambar bibir Amanda menciumnya dengan panas, tidak pedulikan tatapan orang-orang yang menganggap mereka tidak sabaran.
Bahkan tamu undangan yang mau menyalami mereka sampai menghentikan langkahnya karena melihat pengantinnya masih asyik ciuman.
Mommy Vio yang juga melihat hal itu ingin mendekat, ingin menegur Valentino, hatinya sudah tahu pasti Valentino yang tidak sabaran, kan malu dilihat banyak tamu.
Namun baru beberapa langkah Mommy Vio berhenti saat melihat mereka menyudahi ciuman itu.
"Kenapa kau mencium bibirku seperti itu?" Amanda mengusap bibirnya yang basah sehabis bertukar slavina.
"Itu hukuman untuk kamu." Leonardo menatap intens wajah Amanda.
"Hah, mana bisa memang salahku apa." Amanda belum mengerti akan kesalahannya dari mana.
Leonardo kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Amanda. "Karena kau mengabaikan aku dengan asyik berfoto ria." Leonardo mau mencium bibir Amanda lagi.
Ehem!
Suara dehheman keras itu menghentikan niat Valentino yang ingin kembali mencium bibir Amanda.
"Kalian ini sabaran dikit, tunggu nanti malam. Kalau kalian tetap lanjut lalu aku mau sampai kapan berdiri di sini," gerutu kesal Jefry yang sedari tadi sudah menunggu tapi Valentino dan Amanda malah asyik berciuman.
Amanda jadi kikuk berasa sangat malu, apa lagi melihat barisan tamu undangan di belakang Jefry, Amanda semakin malu pasti mereka melihatnya juga, Amanda menoleh ke Valentino sembari menghela nafas panjang. Tapi ternyata pria itu memasang wajah datar seolah sehabis tidak terjadi apa-apa.
Ahirnya Amanda dan Valentino kembali berdiri untuk menyalami tamu undangan.
Sementara itu wanita yang berdiri di ujung sana, menatap dua pengantin dengan perasaan hancur, marah dan kecewa. Tatapan itu diberikan untuk Valentino pria yang masih wanita itu cintai. Hanya mampu berdiri di sana tanpa berani mendekat, karena memang statusnya sudah bukan lagi kekasih.
Di samping wanita itu ada sahabatnya yang datang ke pesta pernikahan ini bersama wanita itu.
"Kamu yakin tidak mau menemui mereka dan mengucapkan selamat?" tanya sahabatnya yang merangkul pundak wanita itu.
"Tidak Ica, aku cukup melihat mereka sampai di sini saja." Menjawab dengan suara serak, menahan rasa bergemuruh dalam dada.
"Lalu apa rencana kamu setelah ini, Ervina?" Ica menatap lekat sahabat yang menatap lurus ke arah Valentino dan Amanda.
"Rencanaku?" Ervina tertawa kecil. "Tentu aku akan merebut Valentino dari tangan wanita murahan itu," ucap Ervina berapi-api dengan sorot mata tajam kearah Amanda.
__ADS_1
Ica menepuk pundak Ervina. "Jika begitu kau harus tenang, kau harus bermain cantik," tutur Ica dengan seringai tipis di bibir.
Ervina mengangguk membenarkan apa yang Ica ucapkan barusan, bahwa dirinya harus bermain cantik untuk bisa merebut hati Valentino kembali.
Ervina begitu yakin dan percaya diri, sebab dahulu Valentino sangat mencintainya, dan sangat lah mudah untuk menjerat Valentino kembali pikirnya.
"Lihatlah wanita itu tersenyum manis, aku mual melihat wajahnya yang sok cantik dan sok lugu itu." Ervina semakin merasa cemburu.
Ica menghela nafas panjang sembari merangkul pundak Ervina. "Tenang, lebih baik kita pulang untuk menjalankan rencana."
Ervina mengangguk kemudian mengikuti langkah Ica yang mengajaknya pergi dari sana.
Sementara Jefry sedari tadi tampak mencari seseorang, tapi orang yang Jefry cari tidak kelihatan batang hidungnya.
Sudah mencari ke sana dan ke sini, bahkan ke rombongan Jihan juga Rita tapi orang itu tidak gabung bersama mereka.
Saat ini Jefry sedang berdiri di dekat pohon hias yang terdapat di ruangan tersebut, Jefry tengok-tengok mencari sosok yang sedari tadi ia cari.
"Dimana dia," bicara sendiri sembari meminum minuman di gelas yang ia bawa.
Saat pandangannya tanpa sengaja melihat ke arah pintu masuk ballroom hotel, seketika melihat sosok yang ditunggu sedari tadi, ternyata dia baru datang. Tapi anehnya tidak menggunakan baju pesta seperti yang lain, orang itu memakai baju kerja setelan jas hitam.
Gila gila ini benar-benar gila, bagaimana mungkin bosnya lagi menikah dia tetap saja bekerja, apa tidak diundang ke pesta ini, batin Jefry yang menatap begitu terlalu.
Dan setelah orang itu turun dari pelaminan, saat mau menuju pintu keluar lagi, Jefry segera menghadang.
"Hei, Nona cantik kenapa kau buru-buru pergi?" tanya Jefry yang langsung mendapat tatapan tajam wanita itu.
"Minggir atau aku-."
"Atau apa," sela Jefry cepat, membuat wanita itu geram.
"Kau-." Terhenti lagi saat ada suara yang memanggil namanya.
"Merry ...."
Merry menoleh dan ternyata Jihan yang memanggilnya. Merry menundukkan kepala saat Jihan sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak mau berkumpul dengan kami?"
"Tidak Nona saya ada urusan dan ini lebih penting," tolak Merry karena ada perintah Amanda yang jauh lebih penting untuk segera ia lakukan dari pada sekedar bersantai.
"Baiklah, lakukan jika begitu." Jihan mengangguk yang di balas anggukan kepala juga oleh Merry.
Setelah Merry berjalan ke arah pintu keluar, Jefry hanya bisa menatap nanar punggung itu yang terus berjalan menjauh.
"Hei kenapa kau melamun." Jihan menepuk pundak Jefry.
"Bukan urusanmu," bicara ketus sembari berlalu.
"His dia," cibir Jihan yang ikut pergi dari sana kembali gabung dengan para teman-temannya.
Pesta terus berlangsung sampai malam hari, banyak juga keluarga Valentino yang datang, tidak hanya itu saja, undangan kolega bisnis juga banyak yang datang, dari pihak Valentino juga pihak Amanda, membuat tamu undangan mbludak begitu banyak.
Amanda sampai merasa lelah tidak ada istirahatnya sama sekali, dan setelah tiba pukul sepuluh malam, Amanda diajak masuk ke dalam kamar, setelah sudah tidak ada lagi tamu undangan yang datang.
Di dalam ruang kamar presiden suit.
Amanda dibantu Mommy Vio untuk melepas gaun pengantin. Setelah gaun itu terlepas, Amanda langsung membersihkan diri. sementara Mommy Vio langsung pergi dari dalam kamar.
Tidak lama kemudian setelah Mommy Vio Keluar, Valentino masuk ke dalam kamar. Bibirnya ngoceh terus entah bicara apa tidak jelas.
Di dalam ruang kamar ini ada sebuah lilin, yang apa bila dinyalakan membuat aroma ruangan menjadi wangi.
Valentino tersenyum tipis sembari menyalakan lilin itu, dan seketika ruangan menjadi harum.
Valentino menggesek-gesek dua telapak tangannya sembari tersenyum, menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, dan ....
Pandangan mata Valentino dan Amanda bertemu, Amanda langsung menutup dadanya karena saat ini menggunakan handuk yang melilit di tubuh, tapi tidak tahu bahwa Valentine akan masuk, Amanda pikir masih Mommy Vio yang berada di dalam kamarnya.
"Aku akan berbalik," ucap Valentino yang mengerti bahasa mata Amanda.
Amanda langsung menghela nafas lega, setelah Valentino berbalik, Amanda langsung segera memakai baju. Setelah selesai Amanda berjalan menuju ranjang.
"Mandilah, aku akan tidur." Amanda sudah duduk di atas ranjang. Melihat Valentino sekilas kemudian lanjut menarik selimut.
__ADS_1
Valentino mandi lebih dulu, beberapa saat setelah kembali melihat Amanda yang sudah terlelap karena lelah.
Valentino berdiri di depan cermin masih telanjang dada, tubuhnya yang berotot terpampang jelas di sana. Menyibak ke belakang rambutnya yang masih basah. Menoleh dan tersenyum tipis ke arah Amanda.