
SATU BULAN KEMUDIAN.
Di dalam sebuah pesawat yang terbang mengudara saat ini, tujuan dari Paris ke Indonesia salah satu penumpangnya adalah wanita cantik, yang dalam satu bulan ini sudah kembali seperti dahulu seorang wanita yang ceria, mandiri dan semangat.
Senyum yang dahulu selalu menghiasi bibirnya kini sudah kembali, membuat siapa pun yang melihat wajahnya tidak ada keraguan lagi bahwa wanita itu kini sudah sembuh dari rasa traumanya yang dialami dalam kekerasan rumah tangganya.
"Amanda, minumlah sedari tadi Mom melihat kamu belum minum." Mommy Vio memberikan botol Aqua ke tangan Amanda.
Amanda menerimanya dengan tersenyum.
Liburan di Paris Amanda bersama Mommy Vio juga Valentino, pria itu tidak pernah ketinggalan kemana pun Amanda pergi pasti ikut. Di mana ada Amanda pasti ada Valentino, mereka seperti sejoli yang tidak bisa dipisahkan, yang kadang meresahkan Amanda karena tingkah konyol pria itu.
Untuk kalangan pengusaha sukses seperti Amanda tentu kedekatannya dengan lawan jenis pasti menjadi hal sensitif bagi orang-orang.
Dekat dengan pria baru pasti langsung ada gosip beredar pasangan baru atau pacar baru, apa lagi yang saat ini statusnya menjanda, mata mereka yang melihat Amanda bersama pria langsung membuat bibirnya mencibir.
Yang tidak suka pasti akan mencibir jelek, yang mendukung pasti akan menjodoh-jodohkan.
Tapi Amanda menanggapi bukan suatu hal yang serius, bahkan sampai Valentino sudah memberikan sinyal-sinyal cinta Amanda juga tidak mengerti, yang hanya ia tahu sebatas teman tidak lebih.
Mommy Vio menoleh ke arah Valentino, saat ini pria itu sedang bersandar sembari menopang dagu matanya tampak melamun.
Ya, Valentino memang sedang melamun mikirin gimana caranya untuk memberitahu Amanda bahwa dirinya mencintai wanita itu.
Pasalnya selama satu bulan ini setelah perceraian itu, Valentino sudah menunjukan cintanya, tapi sejauh ini Valentino sepertinya tahu bahwa Amanda belum peka atau mungkin tahu tapi hanya pura-pura, entahlah Valentino pusing.
Mungkin memang terlalu cepat Valentino menunjukan perhatiannya disaat Amanda baru bercerai dan ini masih satu bulan.
Lebih tepatnya Valentino posesif takut Amanda diambil orang lain, pria itu hanya malas miliki persaingan, kalau boleh minta pria itu ingin tidak di kasih persaingan, karena baginya persaingan hanya memperlambat.
__ADS_1
Sedangkan tanpa persaingan prosesnya dengan Amanda saja sudah lambat, hah miris sekali apa bila di pikir-pikir.
Ahirnya mereka bertiga menikmati perjalanan dalam pesawat, dan setelah beberapa jam pesawat tersebut ahirnya mendarat.
Valentino yang menarik dua koper setelah keluar dari dalam pesawat, membiarkan dua wanita yang dicintainya itu berjalan lebih dulu.
Amanda dan Mommy Vio bercengkerama bahagia yang saat ini berjalan di depan Valentino. sementara pria itu hanya fokus berjalan sembari menarik dua koper milik Amanda juga miliki Mommy Vio.
Sampainya di luar bandara sudah di jemput sekertaris Son, pria tampan itu sudah membukakan pintu untuk Nyonya dan juga Amanda.
Sekertaris Son melihat bosnya yang wajahnya di tekuk jadi ingin tertawa keras namun ia tahun, kemudian sekertaris Son mengambil alih koper yang Valentino bawa sembari membisikkan sesuatu di telinga Valentino.
"Cie ... Bos yang cintanya masih di tempat belum ada kemajuan."
Valentino langsung mencekal kerah jas Sekertaris Son dengan kuat. "Kau cari mati Son! Beraninya meledekku, hah!"
Sekertaris Son tertawa melihat Valentino yang marah itu terlihat lucu.
Tentu sekertaris Son tahu apa bila cinta Valentino belum ada perkembangan sama sekali, karena hampir tiap malam pria itu selalu curhat sama sekertaris Son, sungguh lucu bukan? Seorang CEO terkenal kesuksesannya juga terkenal arogannya, ternyata tiap malam galau masalah cinta.
"Cinta bikin orang aneh," bicara lirih sembari berjala menuju pintu mobil depan bagian pengemudi. Tidak lama kemudian mobil pun melaju.
Sekertaris Son mengantar Mommy Vio dan juga Valentino pulang ke rumah lebih dulu, baru akan mengantar Amanda ke apartemen.
Jarak dari bandara ke rumah Mommy Vio empat puluh menit, setelah sampai di rumah mereka berdua langsung keluar dari dalam mobil, sekertaris Son melajukan lagi mobilnya.
Tiga puluh menit, mobil sekertaris Son sudah sampai di apartemen Amanda, sebelum mobil sekertaris Son pergi Amanda mengucapkan terimakasih.
Amanda segera masuk ke dalam gedung apartemen, dan segera menuju tempat lantai kamarnya berada.
__ADS_1
Sampainya di dalam sana Amanda langsung membersihkan diri, tidak perlu lama-lama karena Amanda belum makan dan berniat akan turun ke bawah makan di restoran yang ada di bawah apartemennya.
Setelah Amanda berpakaian santai, wanita itu keluar dari dal kamarnya mau menuju restoran di bawah sana.
Sampainya di sana Amanda langsung memesan makanan juga minuman, setelah menunggu beberapa saat pesanan Amanda sudah jadi kini Amanda siap menikmati hidangan itu.
Di kursi ujung sana, seorang pria bertopi hitam serta menggunakan masker, menatap ke arah Amanda, wanita yang ingin sekali ia temui dalam satu bulan ini namun tidak miliki keberanian untuk mendekat.
Rasanya tidak punya muka untuk berhadapan langsung dengan Amanda, sampai saat ini masih saja membuatnya menyesal karena telah bercerai dengan Amanda.
Menyesal bukan karena kehilangan wanita itu tapi menyesal tidak jadi mendapatkan hartanya Amanda.
Ya begitulah Tomi yang ternyata masih belum berubah sikap jeleknya, meski sudah dihukum oleh kedua orang yang tidak lagi menganggap Tomi sebagai putranya, ternyata tidak membuat pria itu kapok dan sadar, yang dipikirnya masih saja harta Amanda.
"Aku harus bicara sama Amanda sekarang, mumpung aku ketemu dia di sini." Tomi melepas topi juga maskernya, kemudian berjalan mendekati Amanda.
Amanda yang baru saja selesai makan dan juga minum, langsung melengos saat melihat wajah Tomi.
Tomi langsung duduk di kursi sebelah Amanda, pria itu memasang wajah memelas sembari melihat wajah Amanda yang tidak mau menatapnya.
"Amanda, aku mohon maafkan aku. Ijinkan aku menjadi teman kamu, aku tidak mau kita sampai putus hubungan, setidaknya kita menjadi teman yang baik, bukan sebuah musuh."
Amanda diam tidak menjawab ucapan Tomi.
Tomi tidak menyerah begitu saja dan kembali bicara lagi, "Untuk menebus kesalahanku, kau bisa menjadikan aku sopir kamu atau apa lah yang kau suka, asal kita masih berteman baik."
"Plis Amanda ..." Tomi mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Ternyata Amanda bukannya menjawab malah bangkit dari duduknya berjalan pergi meninggalkan Tomi.
__ADS_1
Tomi hanya bisa menghela nafas berat saat melihat punggung Amanda yang berjalan menjauh, lagi-lagi mendapat penolakan Amanda.