Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 84. Mengambil peluru.


__ADS_3

Tepat pukul dua belas malam, Valentino tiba di rumah sesuai ucapannya tadi.


Valentino saat ini sudah berdiri di depan pintu kamarnya, sebelum memutar handel pintu Valentino menghela nafas panjang, setelah pintu terbuka mendapati suara televisi masih menyala, Valentino semakin melangkah masuk ternyata Amanda masih terjaga yang saat ini sedang nonton televisi.


Amanda merasa ada orang yang masuk, saat menoleh matanya langsung bertemu dengan mata teduh milik Valentino.


Amanda bangkit mau mendekati Valentino, sampai di depan Valentino, Amanda mau memeluknya namun Valentino tahan, Amanda bingung saat mendapat penolakan Valentino.


Dan terus melihat apa yang Valentino lakukan saat ini yang sedang melepas jas serta kemejanya.


Saat Valentino balik badan dan berjalan, seketika mata Amanda mendelik melihat punggung Valentino mendapat luka tembak, kali ini Amanda tidak bisa diam saja, rasa penasaran langsung membuncah di hatinya untuk ingin tahu.


"Valentino, kamu terluka! Kamu tertembak!" Amanda bicara tinggi karena panik sembari mengikuti langkah Valentino, pria itu terus berjalan dan Amanda terus mengikuti, sampai pria itu berhenti dan berdiri di depan almari, Valentino menunduk tangannya membuka laci yang terkunci dan setelah terbuka Amanda terkejut dengan apa yang Valentino ambil. Sebuah pisau.

__ADS_1


Valentino balik badan menatap wajah Amanda, bibirnya tersenyum seolah menunjukan Amanda tidak perlu khawatir.


"Tolong ambil peluru di punggung aku dengan ini." Valentino memberikan pisau itu ke tangan Amanda.


Amanda ragu mau menerimanya, bagaimana bisa dirinya melakukan hal tersebut, ini bukan bidangnya untuk merobek kulit.


"Valentino, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja." Amanda memberi saran, belum melakukan perintah Valentino tapi tangannya sudah gemetar.


"Lakukan lah kamu pasti bisa." Setelah bicara Valentino langsung duduk saja di lantai tanpa alas, menunjukan punggungnya ke Amanda.


Sungguh saat ini tangan Amanda gemetar hebat, bahkan air matanya kini sudah mengalir. pisau belum Amanda gunakan.


"Amanda, lakukan sekarang." Kalimat yang terucap dari bibir Valentino seolah tahu bahwa Amanda saat ini meragu.

__ADS_1


Amanda menarik nafas dalam, dan perlahan mengarahkan ujung pisau tajam itu ke bagian punggung yang terluka itu, Amanda mulai merobek kulit yang terluka itu, karena pelurunya masuk begitu dalam.


Valentino menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara mengaduh sakit, Valentino memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit. Semua ini Valentino lakukan supaya Amanda terus melanjutkan untuk mengeluarkan peluru itu dari dalam punggungnya.


Amanda berhasil mengambil peluru itu, dan seketika darah segar mengalir deras. Amanda segera mengambil tisu dan mengusap darah itu, darah terus keluar tidak mau berhenti, tapi anehnya Valentino tidak mengaduh kesakitan, Amanda sedikit heran.


Amanda segera memperban punggung Valentino yang terluka. "Tahan sedikit, sebentar lagi selesai."


Dan benar saja tidak lama setelah Amanda bicara, kini punggung Valentino sudah di perban rapi.


Valentino bangkit yang di susul Amanda juga, mereka duduk menuju sofa, kini saling berhadapan, Amanda duduk di sebelahnya.


Amanda menatap serius wajah Valentino, apa bila tadi Valentino diam tidak menjawab pertanyaannya, Amanda terima tapi kali ini Valentino harus jujur, Amanda tidak mau ada yang dirahasiakan.

__ADS_1


Istri mana yang tidak terkejut saat suaminya pulang mendapati tengah terkena luka tembak.


"Ayo jelaskan." Amanda bicara datar dan dingin, Amanda menunjukan keseriusan supaya Valentino mau berkata jujur.


__ADS_2