
Bugh!!
Bukan rasa manis bibir Amanda yang dirasakan, tapi rasa perih di bibirnya sendiri saat tiba-tiba ada pukulan ke bibirnya. Yang dilakukan oleh seseorang.
Pria itu sampai mundur beberapa langkah sehabis terkena pukulan tadi. Tangannya mengusap bibirnya yang saat ini mengeluarkan darah segar.
"Beraninya kau mau melecehkan istriku, huh!" bentak Valentino yang saat ini memegang kerah jas pria itu, Valentino angkat tubuh pria itu, tanpa aba-aba Valentino lempar pria itu sampai menabrak kursi dan meja.
Brukk!!
Ahw! Merasakan tubuhnya yang seketika remuk, pria itu langsung pingsan.
Kekacauan ini seketika mengundang semua perhatian tamu undangan pesta. Bahkan Frans juga segera melihat keributan ini. Dan terkejut melihat temannya yang baru beberapa detik lalu keluar dari ruangannya kini sedang berkelahi.
Frans diam tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa mengikuti kemana arah pandangan mata Valentino.
Istrinya, gumam Frans. Kini ia tahu permasalahannya.
Valentino mendekati Amanda, memeluk wanitanya dan mencium pipi dan mata Amanda yang saat ini menangis.
"Kita pulang ya sekarang ya? Jangan takut ini aku," bisik Valentino lembut di telinga Amanda, yang kemudian membopong tubuh Amanda dibawanya keluar dari sana.
Sampainya di dalam mobil, Valentino yang mau mendudukkan Amanda, malah mendapat ciuman bibir dadakan dari Amanda, wanita itu menciumnya penuh nafsu. Sampai menarik Valentino yang kini posisinya menjadi di atas tubuh Amanda. Semua itu pengaruh obat dalam diri Amanda.
Beberapa saat Valentino membalas ciuman Amanda, dan hampir terhanyut ingin melakukan lebih andai tidak segera sadar, bahwa saat ini Amanda sedang dalam pengaruh obat perangsang.
Valentino menarik mundur wajah Amanda untuk menyudahi ciumannya, tangan Valentino yang saat ini menangkup wajah Amanda seketika merasakan suhu tubuh Amanda saat ini panas. Beralih menatap sayu mata polos Amanda yang seperti menginginkan sesuatu.
Sialan siapa yang berani membuat Amanda seperti ini! umpat marah Valentino.
Dalam hati Valentino tidak terima Amanda dibuat seperti ini, bagaimana jika tadi dirinya terlambat sedikit menolong Amanda, Valentino tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Yang pasti Valentino tidak bisa memaafkan diri sendiri.
Amanda menggenggam tangan Valentino yang saat ini menangkup wajahnya, Amanda mau mencium bibir Valentino lagi, tapi Valentino menolak.
"Tenanglah kita pulang sekarang."
Setelah berkata seperti itu, Valentino menutup pintu mobil, kemudian masuk ke dalam mobil bagian pengemudi. Valentino segera menjalankan mobilnya.
Selama mengendarai mobil, sesekali Valentino melirik kaca mobil untuk melihat Amanda di belakang sana, yang duduk dengan gelisah. Saat ini Amanda tampak sedang menurunkan gaunnya, dinginnya AC di dalam mobil tidak mengurangi rasa panas dalam tubuhnya.
Valentino menambah lagi kecepatan mobilnya, dan malam ini kurang dari tiga puluh menit, mobil Valentino sudah sampai rumah.
Valentino langsung membopong Amanda untuk segera dibawa masuk ke dalam kamar, tidak membiarkan wanita itu berjalan, karena hanya akan menghambat waktu.
Tibanya di ruang tengah ternyata Mommy Vio belum tidur dan masih duduk di sana, terkejut saat tiba-tiba melihat Valentino membopong tubuh Amanda dengan langkah cepat.
__ADS_1
"Hei kalian kenapa!" sapa Mommy Vio dengan berteriak.
Valentino tidak menggubris teriakan Mommy Vio dan meneruskan berjalannya menapaki anak tangga menuju lantai tiga tempat kamarnya berada.
Sampainya di dalam kamar, Valentino menurunkan Amanda, Valentino berbalik untuk mengunci pintu, setelah pintu terkunci Valentino berbalik badan lagi untuk melihat Amanda.
Namun alangkah terkejutnya setelah berbalik, gaun pesta yang tadi Amanda pakai sudah tergeletak di lantai, dan wanita itu saat ini hanya mengunakan bra merah dan cd merah.
Glek!
Valentino menelan ludah kasar, matanya seketika terbelalak lebar, tubuh Amanda terlihat putih dan mulus. Dan pemandangan indah ini seketika membangunkan adik kecilnya, yang saat ini sudah terasa sesak di dalam celana.
Ah sial! Umpat Valentino. Apa bila tidak ingat sangat mencintai Amanda mungkin saat ini juga sudah Valentino terjang, tapi Valentino tidak mau memanfaatkan situasi karena saat ini Amanda dalam pengaruh obat perang-sang.
"Ah panas ... Panas."
Suara Amanda malah terdengar merdu dalam keadaan seperti.
Ah sial malah aku yang tidak waras umpat kesal Valentino dalam hati.
Valentino mendekati Amanda dan memegang tangan wanita itu, malah lagi-lagi mendapat serangan lebih dulu dari Amanda.
Amanda begitu liar menciumi Valentino, lagi-lagi Valentino harus mengumpat dalam hati, Valentino berhasil menghentikan aksi Amanda, dan langsung mengajak Amanda masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Valentino mengguyur tubuh Amanda dengan air berulang kali.
Tapi Valentino terus mengguyur tubuh Amanda dengan air, berharap pengaruh obat itu bisa hilang dan tubuh Amanda tidak merasa kepanasan lagi.
Setelah beberapa guyuran air yang entah tak terhitung banyaknya, Amanda mulai tenang, wanita itu mulai tampak kedinginan. Valentino menangkup wajah Amanda. Menatap dalam bola mata Amanda.
Ada perasaan tidak tega memperlakukan Amanda seperti ini, tapi Valentino terpaksa karena tidak ingin membuat Amanda menyesal.
Mata Amanda berkaca-kaca. "Valentino, kenapa rasanya seperti ini, aku-."
"Aku tidak bisa melakukan, karena saat ini kamu dalam pengaruh obat, aku tidak mau setelah melakukan kamu menyesal," ucap Valentino memotong ucapan Amanda.
Valentino meraih handuk kimono kemudian memakaikan handuk kimono itu ke tubuh Amanda, Valentino mengajak Amanda keluar dari dalam sana.
Mereka berjalan menuju ruang ganti, Valentino mengambil pakaian Amanda, memberikannya pada wanita itu untuk segera memakainya.
Tapi Amanda diam dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayo pakailah bajumu," pinta Valentino sekali lagi.
Amanda tetap diam, kini malah menundukkan kepala, saat ini Amanda sudah sadar, tapi pengaruh obat masih belum hilang sepenuhnya, tapi saat ini Amanda sudah bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Melihat Amanda yang tidak meraih bajunya dan malah menunduk, Valentino mendekat dan memeluk Amanda.
"Tolong aku Valentino, aku janji tidak akan menyesal," ucapnya lirih malah terdengar seperti berbisik.
Valentino melerai pelukannya berganti menangkup wajah Amanda. "Kamu yakin ... Aku tidak bisa berhenti loh kalau sudah di dalam."
Amanda mengangguk.
Valentino tersenyum kali ini mau melakukan karena atas ijin Amanda, Valentino mulai mendekatkan wajahnya dan entah siapa yang lebih dulu memulai kini bibir mereka saling mengecap rasa, lidah mereka saling membelit memberikan kepuasan.
Cukup sekali gerakan santai tangan Valentino, handuk kimono yang tadi untuk membungkus tubuh Amanda kini jatuh ke lantai, meninggalkan tubuh Amanda yang polos.
Usapan tangan Valentino di tubuh Amanda. Dari leher, lengan, hingga ke punggung Amanda yang polos, seketika Amanda merasa terbakar, gai-rah nya semakin meledak, Amanda melenguh dan Valentino makin semangat meneruskan aksinya.
Bibir mereka masing berciuman, kini tangan Valentino beralih meraba paha Amanda, yang Valentino rasakan kulit Amanda terasa halus dan lembut, mendapat sentuhan di pahanya, Amanda semakin melenguh nik-mat.
Tangan Valentino mulai berganti menyentuh aset berharga Amanda di bawah sana, jemari Valentino mengobrak-abrik di dalam sana, memainkannya keluar masuk dengan jari telunjuk. Tanpa melepas ciumannya Valentino terus memainkan jari telunjuknya keluar masuk. Amanda semakin melenguh.
Valentino menyudahi ciumannya, tanpa menunggu lama langsung menggendong Amanda ala bridal style dibawanya ke ranjang. Valentino membaringkan Amanda di sana.
Saat ini Valentino masih mengunakan pakaian lengkap, dan saat ini juga Valentino melepaskan semua, sampai kini tubuhnya menjadi polos. Bahkan saat ini adik kecilnya terlihat berdiri gagah besar panjang dan berurat.
Glek! Amanda menelan ludah kasar saat melihat adik kecil Valentino. kini pria itu naik ke atas ranjang langsung ambil posisi di atas tubuh Amanda.
Sesaat mereka saling pandang seolah saling bicara melalui pandangan mata sebelum ahirnya Valentino kembali mencium bibir Amanda, kedua tangan Valentino meremas payu-da-ra Amanda. Beberapa saat meremasnya dengan kuat membuat Amanda melenguh nik-mat.
Valentino berganti menciumi leher Amanda meninggalkan jejak kepemilikan di sana. Valentino berpindah memainkan buah kenyal milik Amanda, bibir Valentino mengulum pu-ti-ng pa-yu-da-ra Amanda, tangan satunya meremas pa-yu-da-ra sebelahnya. Puas di sana Valentino berganti menciumi yang bawah tepat aset berharga Amanda.
Valentino memainkan dengan lidahnya dan bibirnya di adik kecil Amanda, sampai membuat wanita itu terbang melayang, kedua tangannya meremat separi, ke-ni-kmata-n yang baru Amanda rasakan, karena dahulu Tomi tidak pernah melakukan hal seperti, tidak pernah menciumi adik kecilnya.
Amanda merasa ada yang mau tumpah.
"Valentino aku-."
"Tumpahkan," potong Valentino saat ini ia sudah menjauhkan wajahnya. Dan seketika Amanda mengeluarkan pelepasan yang pertama.
Tidak menunggu lama, Valentino segera membuka lebar kedua paha Amanda, kini saatnya adik kecilnya masuk ke dalam sana.
Tidak perlu kesulitan sekali hentakan pusaka Valentino masuk sempurna di dalam sana, meski Amanda sudah tidak perawan tapi Valentino merasakan pusakanya dijepit kuat. Mungkin selama ini Amanda merawatnya.
Valentino mulai menggerakkan pusakanya maju mundur, berawal perlahan namun makin lama bertambah ritmenya, bertambah cepat juga suara ******* Amanda. Akh! Akh! Akh! Seirama dengan hentakan di bawah sana.
Malam ini keduanya melebur menjadi satu, dan disaat Valentino mencapai puncak pelepasan mengeluarkannya di dalam rahim Amanda, berharap akan terlahir makhluk kecil nantinya.
Valentino berguling di samping Amanda, memeluk Amanda. "Aku mencintaimu," bisiknya. kemudian mereka istirahat.
__ADS_1
Dan malam ini mereka lalui dengan melakukan tidak cukup satu kali, tapi sampai empat kali. Itu berhenti karena kasihan Amanda sudah lelah.