
Saat melihat sang Nyonya di culik, anak buah Valentino yang mengawasi Amanda, langsung mengikuti mobil Amanda.
Namun ternyata pria yang menculik Amanda, menyadari itu, dan semakin menambah kecepatan mobilnya.
Anak buah Valentino tidak kalah cepat juga mengejar mobil Amanda.
"Cepat hadang mereka!" perintah tegas pria yang menculik Amanda, bicara dengan kawanannya yang berada di sambungan telepon.
Tidak lama kemudian beberapa mobil mengecoh kan mobil anak buah Valentino sehingga tidak bisa lagi mengejar.
"Ah sial! Kita kehilangan jejak," umpat anak buah Valentino seraya memukul setir mobil.
"Kita putar balik saja lapor ke bos," ucap teman yang duduk di sebelahnya.
Ahirnya mobil mereka tidak lanjut mengejar, karena mau mengejar juga tidak tahu kemana mobil Amanda pergi, ahirnya mutusin menuju perusahaan Valentino.
Tiga puluh menit, sudah sampai di perusahaan Valentino. Mereka berdua segera masuk dan menuju ruang kerja Valentino.
Setelah sampai di sana, mereka diijinkan masuk, dan segera melapor.
"Tuan, Nyonya Amanda di culik."
Selesai bicara pria itu menunduk dalam. Tidak berani melihat wajah tuannya yang jangan di tanya pasti saat ini aura wajah Valentino langsung berubah menjadi semkin dingin. bahkan darahnya langsung mendidih mendapat kabar Amanda di culik.
Valentino langsung bangkit dari duduknya dan mendekati mereka.
Bugh! Bugh!
Dua pria itu langsung mendapat bogem mentah di perut masing-masing.
Tidak berhenti begitu saja, Valentino kembali memukul anak buahnya itu sampai mereka terkulai tidak berdaya.
"Kalian semua tidak pecus menjaga istriku!" teriak Valentino ingin kembali memukul orang itu namun sekertaris Son menahannya.
"Tuan, ada yang lebih penting dari pada memukul mereka, mari kita cari Nona Amanda sekarang."
Dan ucapan Sekertaris Son barusan berhasil menyadarkan Valentino, pria itu menjauh dari sekertaris Son seraya mengusap kasar wajahnya.
Arghhhh!!
Teriak Valentino, matanya memerah dan giginya beradu. Saat ini ia benar-benar marah apa lagi setelah tahu kemana Amanda dibawa penculik itu.
"Markas Jordan!"
Setelah bicara Valentino langsung berjalan cepat, Sekertaris Son mengikuti langkah pria itu.
Kebetulan saat ini hp Amanda masih aktif, hingga Valentino masih bisa mendeteksi keberadaan Amanda saat ini, yang ternyata pelaku penculikan adalah Jordan dalangnya.
__ADS_1
Setelah berada di dalam mobil, Valentino yang mengemudikan mobilnya dengan cepat dan ugal-ugalan. Sekertaris Son duduk di sebelahnya.
Di belakang mobil Valentino ada beberapa mobil anak buahnya yang mengikuti.
Mereka semua mengendarai mobil sudah tidak mematuhi rambu-rambu lalulintas, dan sudah bagaikan pembalap mobil, laju yang mereka gunakan di atas rata-rata, sudah tidak kebayang seperti apa kecepatannya. Bahkan suara klakson mobil bunyi terus di sepanjang jalan guna mobil di depan mereka menyingkir dan memberikan jalan.
Waktu yang seharusnya tiga puluh menit sampai, kini lima belas menit mobil mereka sudah sampai di markas Jordan.
Valentino keluar mobil sembari membawa pistol besar yang sekali saja membidik ke arah musuh pasti akan mati, juga ada dua pisau yang Valentino simpan di pinggang.
Di dalam mobil Valentino selalu menyiapkan alat-alat senjatanya, sewaktu di butuhkan tidak akan pusing lagi.
Berjalan dengan langkah lembar yang diikuti anak buahnya yang lain berjalan di belakang Valentino.
Seolah nyawa musuh akan dihabisi saat ini juga.
Di tempat lain.
Mommy Vio yang menunggu Amanda sedari tadi saat ini jadi cemas, karena Amanda tidak juga kembali-kembali.
"Saya tinggal dulu ya, mau menyusul menantu saya di kamar mandi," ucap Mommy Vio pada temannya yang satu meja dengannya.
Setelah temannya mengangguk Mommy Vio berjalan pergi, hatinya tiba-tiba cemas dan merasa khawatir, berpikiran yang tidak-tidak karena Amanda tidak kembali-kembali.
" Semoga tidak terjadi apa-apa," bicara lirih sembari terus berjalan.
Dan alangkah terkejutnya tidak menemukan Amanda di sana.
Mommy Vio memegangi dadanya yang langsung berdetak cepat karena ketakutan. "Amanda kamu di mana sayang."
Mommy Vio panik tidak tahu apa yang harus dilakukannya, untuk memastikan lagi Mommy Vio kembali membuka semua pintu kamar mandi, kali ini yakin benar-benar tidak ada Amanda.
"Lalu Amanda di mana?" bertanya pada diri sendiri. Hatinya semakin khawatir mendapati Amanda tidak ada di kamar mandi.
Saat ini yang terlintas di pikiran Mommy Vio menelpon Valentino. Namun sampai lima panggilan juga tidak Valentino angkat.
Mommy Vio kembali semakin cemas, namun di detik berikutnya ia teringat Merry, dan berniat menghubungi gadis itu.
Mommy Vio lega saat Merry mengangkat sambungan teleponnya.
"Nyonya," sapaan pertama Merry di sambungan telepon.
"Merry, apa Amanda bersama kamu, Nak?"
Di seberang sana Merry mengerutkan keningnya, pasalnya Amanda sejak tadi keluar dan belum kembali, tapi Mommy Vio menanyakan Amanda kepadanya. Perasaan Merry langsung tidak enak.
Tanpa menjawab ucapan Mommy Vio, Merry mendeteksi keberadaan Amanda saat ini, kening Merry langsung berkerut saat mendapati Amanda saat ini berada di tempat asing, tapi di detik kemudian Merry tidak bisa mendeteksi.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba tidak terhubung. Nyonya dalam bahaya, batin Merry yang langsung diserang kepanikan.
"Merry kenapa kamu diam?"
Mendengar pertanyaan Mommy Vio di sambungan telepon, Merry sadar kembali bahwa sambungan telepon masih aktif.
Merry menghela nafas panjang. "Nyonya, saya akan mencari Nyonya Amanda."
Setelah bicara Merry langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, Merry berlari cepat keluar perusahaan untuk menyusul Amanda ke tempat Jordan.
Di markas Jordan.
Di saat Valentino datang di sana tidak ada satu pun orang, semua anak buah Jordan pergi sampai Jordan ikut pergi.
Dan saat ini yang ada di hadapan Valentino adalah Tomi.
Dengan gaya yang luar biasa dan keberanian penuh dalam dirinya, Tomi mau membalas dendam kepada Valentino dan mewujudkan keinginannya untuk membunuh Valentino dengan kedua tangannya sendiri.
Valentino tersenyum miring, saat pedang panjang yang Tomi pegang saat ini di arahnya ke lehernya.
Saat anak buahnya Valentino mau mendekat, Valentino mengangkat tangannya bertanda tidak perlu. Valentino ingin melihat ketangguhan Tomi.
"Dengar Valentino aku akan membunuhmu sekarang!" teriak Tomi dan di detik berikutnya langsung menggesekkan pedang itu ke kulit leher Valentino.
Sreett.
Valentino langsung berbalik meski sudah terlanjur tergores, mereka berdua kembali bertarung.
Valentino yang tidak memegang pedang panjang, terus berusaha menghindar. Dan Tomi sudah seperti orang kesetanan terus ingin menebus kepala Valentino.
Mereka hanya bertarung berdua saja, Valentino melarang anak buahnya untuk membantu.
Saat pedang terus di arahnya ke leher Valentino, pria itu langsung menjatuhkan diri sembari menendang perut Tomi dengan kuat.
Bugh!
Tomi jatuh ke lantai, tendangan kuat Valentino berhasil melumpuhkan Tomi.
Dan kesempatan ini Valentino manfaatkan dengan segera membuang jauh-jauh pedang yang Tomi pegang.
Valentino mengambil pisau di pinggangnya, matanya menatap tajam ke arah Tomi.
Tomi ketakutan saat sudah tidak memegang senjata lagi.
"Inilah bayaran untuk mu!" teriak Valentino.
Jleb! Jleb!
__ADS_1
Valentino menusukkan pisaunya ke dada Tomi tepat jantung pria itu. Valentino yang lagi diselimuti amarah sampai membuatnya tidak terkendali entah sudah berapa kali Valentino menusuk dada Tomi dengan pisaunya. Padahal saat ini Tomi sudah mati.