
Keesokan harinya.
Tomi dan Amanda saling bertemu saat keduanya sama-sama saling masuk ke dalam lift dengan tujuan lantai yang sama juga.
Tapi Tomi dan Amanda tidak saling tegur sapa, keduanya diam membisu seolah tidak saling kenal.
Sampai sama-sama keluar dari dalam lift menuju ruang kerja masing-masing, mereka juga masih diam.
Di lantai ini ruang kerja Amanda yang kedua, Amanda jarang masuk ke ruang kerja di lantai ini, dan saat ini karena ada berkas yang harus Amanda ambil jadi membuat Amanda harus datang ke ruangan tersebut.
Ruang kerja Amanda yang biasanya ada di lantai dua puluh, dan saat ini berada di lantai delapan belas.
Tomi yang saat ini duduk di kursi kerjanya, bersandar seraya memijit pangkal hidungnya, Tomi pusing menghadapi Amanda yang diam saja tidak mau bicara.
Bahkan masalah pekerjakan lebih milih minta Merry untuk datang ke Tomi, padahal urusan penting itu harus dibicarakan berdua antara CEO dan Presdir.
Tapi Amanda tidak mau melakukannya, hanya alasan karena Merry sudah bisa dipercaya.
Memang sudah bisa dipercaya, Tomi akui itu kehebatan Merry, tapi tetap saja Tomi ingin Amanda yang datang.
"Aku harus gimana Amanda? apa yang harus aku lakukan supaya kamu maafkan aku," bicara sendiri dengan kepala terasa pusing.
Hp Tomi tiba-tiba bunyi, Tomi melihatnya ternyata tanda pengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Amanda.
Tomi terdiam tampak sedang berpikir, kemudian tersenyum entah apa yang sedang Tomi pikirkan.
Tomi kemudian menyelesaikan pekerjaannya dengan penuh semangat, entah apa yang membuatnya dirinya semangat, sampai tidak menghiraukan telpon dari Dinda.
Dinda yang saat ini berada di ruang kerjanya merasa sangat kesal, karena sedari tadi telponnya tidak diangkat-angkat oleh Tomi.
"Sedang apa sih dia! tumben abaikan aku," ucap kesal Dinda seraya menatap layar hp nya.
"Aku harus temui dia sekarang." Dinda langsung berjalan membuka pintu, namun setelah pintu terbuka matanya langsung bertemu dengan wanita yang sangat Dinda benci, musuh sekaligus bosnya.
__ADS_1
"Mau kemana." Amanda bicara dingin dengan tatapan tajam seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Em-em aku." Dinda bingung mau bicara apa, mendadak tidak miliki ide.
"Dinda ... aku cuma mau ingatkan kamu, kerja yang benar atau aku akan memecat kamu dengan secara tidak terhormat!"
"Kamu tidak lupa kan, siapa aku," lanjut ucapan Amanda yang terdengar dingin dan penuh penekanan.
Dinda hanya mampu menjawab dengan sorot mata kebencian, di perusahaan ini Amanda memang miliki wewenang tinggi karena ini adalah perusahaan milik Amanda, tapi Dinda tidak terima dengan ucapan Amanda yang menunjukan kekuasaannya itu.
"Awas kamu Amanda!" Menatap tajam ke arah Amanda yang saat ini berjalan pergi.
Dinda tidak jadi untuk menemui Tomi, kembali masuk ke ruang kerjanya, dan kembali melanjutkan kerjaannya.
Saat tiba siang hari, Tomi keluar dari perusahaan, saat ini sedang mengendarai mobil, entah mau kemana tujuan Tomi, namun setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mobil Tomi berhenti di pusat perbelanjaan.
Tomi masuk ke dalam sana, tujuannya langsung ke toko perhiasan.
"Ini Tuan kalung yang Anda pilih tadi di gambar," terang pemilik toko perhiasan seraya menunjukan kalung itu, yang saat ini masih dalam kotak perhiasan.
Tangan Tomi mengambil kalung itu, matanya menatap berbinar, membayangkan Amanda akan cantik bila memakai kalung ditangannya itu.
Tapi apa kah Amanda mau menerimanya? bagaimana bila Amanda menolaknya? batin Tomi terus bertanya-tanya sendiri.
"Bagaimana Tuan?"
Pertanyaan pemilik toko itu menyadarkan lamunan Tomi, dengan cepat Tomi mengangguk kemudian langsung membayar tagihannya.
Setelah itu Tomi langsung pergi dari tempat tersebut, setelah masuk ke dalam mobil langsung melajukan kembali mobilnya.
Saat melewati toko bunga, Tomi menghentikan mobilnya, kemudian keluar lalu menuju toko bunga, Tomi membeli bunga mawar untuk kado ulang tahun Amanda.
Setelah itu Tomi langsung pergi, saat dalam perjalanan di dalam mobil, Tomi masih berpikir terus, caranya untuk memberikan hadiah itu untuk Amanda.
__ADS_1
Sementara itu Amanda yang saat ini sedang duduk di ruang kerjanya, tengah senyum-senyum sendiri saat mendapat ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya.
Amanda asyik berbalas chat dengan teman-temannya di grup, meskipun jarang bertemu karena mereka semua juga sibuk, dan jarak tempat tinggal juga jauh, mereka ada yang tinggal di luar negeri, jadi hanya bisa berkomunikasi lewat grup chat.
Yang paling lucu ucapan selamat dari Jefri, pria itu mengirim emot setumpuk bunga, membuat Amanda sampai tertawa dan menggelengkan kepala.
Amanda menghentikan berbalas chat dengan teman-temannya, karena bila dituruti tidak ada habisnya, pekerjaan Amanda masih banyak.
Sementara Tomi kini sudah berdiam diri di depan pintu Apartemen Amanda, Tomi tidak berani memberikan hadiahnya langsung pada Amanda, takut bila wanita itu akan menolaknya.
Ahirnya Tomi berniat meninggalkan hadiah itu di depan pintu apartemen Amanda, setelah berpikir lama ini adalah yang terbaik menurutnya.
Amanda semoga kamu menyukainya, aku berharap kamu tidak membuangnya, maafkan aku yang pernah menyakitimu, batin Tomi seraya meletakkan hadiah itu di lantai tepat di depan pintu.
Setelah yakin, Tomi ahirnya pergi dari tempat tersebut, perpisahan ini benar-benar membuat Tomi sedih, ingin berusaha sebisa mungkin untuk tidak bercerai dengan Amanda.
Pukul enam sore, Amanda baru tiba di apartemennya, saat mau membuka pintu matanya menangkap sesuatu sebuah kado yang diletakkan di depan pintu.
Amanda mengambil kertas yang diselipkan antara kado dan bunga mawar, Amanda mulai membaca surat itu.
*Dear Amanda, mungkin di saat kamu membaca surat ini aku sudah pulang ke rumah, aku cuma mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk kamu, sehat selalu ya.
Dan maafkan aku yang pernah menyakitimu, semoga kamu suka dengan hadiah yang aku beri, maaf jika mungkin harganya tidak begitu tinggi, tapi aku membelikan untuk kamu tulus, tolong terima hadiah aku ya.
Tomi*.
Amanda menghela nafas panjang selesai membaca surat itu, melipat lagi kertas surat itu, mengambil kado dan bunga, Amanda membuka pintu, kemudian berjalan masuk ke dalam.
Amanda meletakkan hadiah-hadiah di atas meja yang ada di dalam kamarnya, Amanda melepas jas yang melekat di tubuhnya.
Dahulu sebelum semua berubah, mungkin Amanda akan bahagia mendapat hadiah ulang tahun seperti itu, tapi sekarang entah mengapa Amanda merasa biasa saja.
Tomi yang saat ini sedang duduk di kursi keluarga, terus menatap layar hp, berharap Amanda menelpon dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1