Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 37. Mobil Menabrak Amanda.


__ADS_3

Setelah Amanda sampai di apartemen yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang, dengan tatapan melihat ke atas, Amanda memikirkan pria yang tadi tiba-tiba muncul dihadapannya saat lampu menyala.


Saat ini Amanda masih memegangi bunga mawar merah yang pria itu berikan tadi, sembari bertanya-tanya dalam benaknya siapa pria itu? dan apa tujuannya?.


Beberapa kali Amanda mendapat kiriman selalu dari orang yang mengatakan pengagum Amanda, dan sekarang jadi berpikir bila mungkin pria yang tadi itu adalah orang yang sama.


Hah, kenapa dia memberiku bunga mawar? kita juga kan tidak kenal, apa dia miliki maksud jahat sama aku, bisa jadikan seperti itu, awalnya baik ternyata miliki niat buruk, batin negatif Amanda.


Amanda tidak bisa percaya begitu saja, atau terus bahagia mendapatkan bunga dari pria itu, karena tidak mau tertipu lagi, Amanda lebih milih hati-hati, apa lagi tidak kenal sama sekali.


Amanda memejamkan matanya mengingat wajah pria itu, perlahan Amanda membuka matanya, Amanda ingat jelas wajah tampan pria itu.


"Setidaknya andai aku bertemu lagi dengan dia aku tidak akan lupa," ucap Amanda sembari meletakan bunga mawar itu di atas meja sebelahnya tempat tidur.


Amanda kemudian mencoba untuk tidur, dan tidak menunggu lama Amanda sudah terlelap. Lelah seharian ini yang harus bekerja dan malam harinya masih juga menghadiri pesta, membuat Amanda cepat tidur.


...****************...


Keesokan harinya di siang hari. Amanda yang saat ini bersama Merry sedang mengecek keadaan pabrik pakaian yang ada di Pekalongan.


Amanda saat ini sedang berbicara dengan Manajer yang bekerja di pabrik tersebut.


"Seperti yang Anda lihat Nyonya, semua pekerja di sini pada semangat, dan hasil desain batiknya pun juga bagus, Anda boleh mengecek dan melihat kualitasnya langsung." Manajer tersebut menjelaskan sembari menunjukan betapa profesionalnya para pekerja.


"Jika tidak ada hambatan atau masalah, aku juga ikut senang," ucap Amanda sembari melihat ke arah mereka yang lagi bekerja.


"Tidak ada Nyonya, keadaan pabrik juga bagus belum ada yang perlu mau diganti."


Amanda manggut-manggut paham.


Amanda menoleh seraya menepuk pundak Manajer tersebut. "Terimakasih karena sudah mengawasi pabrik ini dengan baik."


Manajer tersebut mengangguk cepat. "Sama-sama Nyonya."

__ADS_1


Amanda dan Merry kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut, Amanda tidak akan lama di kota ini, saat ini juga Amanda dan Merry segera pulang ke Jakarta.


Disaat sudah berada di dalam mobil dan siap mau jalan, Manajer yang tadi tiba-tiba memanggil Amanda. Kebetulan kaca mobil belum bagian pintu depan belum di tutup hingga masih mendengar dan bisa melihat Manajer itu sedang berjalan ke arah mobil.


Setelah Manajer berdiri di samping mobil, Amanda menurunkan setengah kaca mobilnya.


"Nyonya kemarin ada dua bos besar datang kemari dan akan membeli pakaian batik dengan jumlah banyak, hanya saja saya belum kasih, selain karena belum banyak setok, saya juga belum ijin dengan Nyonya, barang kali akan Nyonya jual seperti sistem yang biasanya."


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Manajer itu, membuat Amanda berpikir sejenak.


Amanda menatap Manajer itu setelah mendapat idenya. "Apa bila stok tidak banyak maka jangan dikasih, kasihan pedagang yang lain, cukup dijual dengan sistem biasanya."


Manajer tersebut menganggukkan kepalanya mendengar saran dari Amanda.


Setelah tidak ada yang dibicarakan lagi ahirnya Merry melajukan mobilnya. Saat dalam perjalanan yang rumayan jauh itu, Pekalongan -Jakarta. Tidak ada pembicaraan antara mereka berdua, Merry hanya fokus mengemudi. Sedangkan Amanda tidur di kursi belakang.


Setelah menempuh waktu empat jam tiga puluh tiga menit, mobil yang Merry kendarai sudah sampai di Jakarta, sore hari masuk ke kota ini.


"Merry di area jalan ini sepertinya boleh berhenti, tolong berhenti sebentar aku mau ke Alfamart di seberang jalan sana," ucap Amanda yang langsung cepat mendapat anggukan kepala Merry.


Setelah mobil Merry hentikan di pinggir jalan, Amanda beneran keluar dari dalam mobil, setelah melewati penyebrangan jalan, Amanda memasuki Alfamart, di dalam sana Amanda membeli minuman dingin juga cemilan ringan merek chitato.


Setelah membayar semua harga belanjaannya, dengan menenteng tas belanjaan Amanda berjalan keluar dari Alfamart.


Di saat Amanda masih berjalan di area halaman Alfamart, di jalan yang lawan arah dari mobil tempat Merry berhenti, ada mobil Dinda, yang tadi saat melajukan mobilnya sempat melihat Amanda menyebarang jalan.


Dinda juga langsung menghentikan mobilnya, namun saat Amanda mau menyebrang jalan lagi, Dinda menghidupkan mesin mobilnya dan dengan kecepatan penuh Dinda menjalankan bersamaan Amanda melangkah mau menyebarang.


Merry yang melihat mobil melaju kencang ke arah Amanda, hanya bisa berteriak terkejut, tubuhnya kaku tidak bisa berlari untuk menolong.


"Nyonya awas ...."


Aaaaaa!

__ADS_1


Brukk!!


Sungguh saat ini jantung Merry berasa mau copot, menyaksikan Amanda mau ditabrak mobil, dan dirinya tidak bisa menolong.


Sementara mobil yang mau menabrak Amanda langsung melesat pergi tidak terlihat lagi.


Merry segera keluar dari dalam mobil untuk melihat keadaan Amanda.


"Nyonya ... Nyonya bangun Nyonya," ucap Merry setelah berjongkok di samping Amanda yang berbaring di jalanan, yang sedang berada dalam pelukan pria yang menolong Amanda tadi.


Merry melihat orang yang bajunya tengah kotor saat ini. "Terimakasih telah menolong Nyonya saya, bila tidak ada Anda mungkin Nyonya saya-." Merry menangis tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Pria tersebut berusaha duduk. "Sebaiknya kita bawa ke klinik sana," ucap pria itu yang kemudian langsung membopong tubuh Amanda menuju klinik yang kebetulan tidak jauh dari tempat Alfamart tadi ada sebuah klinik.


Ya, tadi di saat Amanda mau di tabrak mobil Dinda, ada seorang pria yang menarik tubuh Amanda sampai jatuh ke jalanan bersama, namun setelah itu Amanda langsung pingsan.


Setelah tiba di klinik, Amanda langsung dibawa masuk ke ruang IGD, di dalam sana langsung ditangani dokter.


Merry dan pria yang tadi menolong Amanda menunggu di luar, duduk di kursi tunggu.


Siapa orang yang berani mau mencelakai Nyonya, apa Dinda? sepertinya aku harus cari tahu, batin Merry dengan tangan terkepal.


Merry marah karena apa bila Amanda sampai kenapa-napa tidak bisa memaafkan diri sendiri, karena merasa tidak bisa menjaga Amanda.


Di dalam sana, Amanda sudah sadar, Dokter yang menangani Amanda barusan tersenyum ke arah Amanda.


"Kehamilan saya baik-baik saja dokter?" tanya Amanda penuh khawatir sembari mengusap perutnya.


"Tenang, Bu. Masih aman, setelah ini Ibu cukup istirahat," jelas dokter tersebut yang membuat Amanda langsung merasa lega.


Dokter kemudian keluar dari ruang IGD, Amanda merasakan keningnya di perban.


Untung saja aku dan bayiku masih selamat, gumam Amanda haru, saat mengingat tadi dirinya mau ditabrak mobil.

__ADS_1


__ADS_2