Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 9. Cinta sebuah pembuktian.


__ADS_3

Pagi ini Amanda dan Ibu Lili belanja di supermarket, bertiga dengan Ayah Andre yang juga ikut menemani belanja. Nanti malam ada acara tiga bulanan kehamilan Amanda, jadi pagi ini membeli semua kebutuhan untuk persiapan nanti malam.


Seperti aneka buah, kue roti, dan hadiah mainan untuk anak-anak yang belum sekolah, yang sudah sekolah mendapat hadiah perlengkapan alat tulis, ada buku, pena, pensil dan perlengkapan yang lain.


Acara tiga bulanan ini mengundang anak-anak panti asuhan, memberikan hadiah untuk membuat mereka senang.


Keranjang troli yang Ayah Andre dorong sudah mau hampir penuh, tapi belanjaan belum semua dibeli.


"Ayah capek? sini aku bantu." Amanda membantu mendorong troli, sesekali berhenti jika ada barang yang mau Ibu Lili masukkan. Berjalan lagi mencari yang belum dibeli, melihat susu ibu hamil, Ibu Lili mengambil tiga dus susu ibu hamil yang Amanda suka.


Berhenti sebentar sembari mengingat yang belum dibeli, setelah yakin semua sudah dibeli tidak ada yang tertinggal, Ayah Andre mendorong keranjang troli menuju kasir.


Setelah menunggu beberapa saat, semua belanjaan sudah dimasukan kardus, sekitar ada enam kardus banyaknya jumlah belanjaan, dengan dibantu karyawan supermarket, Ayah Andre membawa kardus-kardus itu ke mobilnya.


Mobil langsung melesat pergi setelah semua masuk ke dalam tanpa ada yang tertinggal, dalam perjalanan pulang, Ibu Lili membatin bahwa sudah banyak perubahan di setiap jalan, banyak bangunan ruko dan gedung, lima tahun lalu belum sempat dibangun.


Kini mobil sudah sampai di rumah, para pelayan mendekat untuk membantu membawa semua belanjaan, Amanda juga ikut membawa kardus yang berisikan hadiah.


Sampainya di dalam rumah, Amanda dibantu dua pelayannya membungkus kado buat hadiah anak-anak panti, sekitar enam puluh anak-anak panti yang nanti malam akan datang ke rumah ini.


Sampai sore tiba membungkus kadonya baru selesai, Amanda mulai bersiap mandi, acara akan dimulai pukul tujuh malam.


Tomi saat ini sedang dalam perjalanan untuk pulang, terpaksa meninggalkan urusannya demi acara tiga bulanan kehamilan Amanda.


"Amanda, Amanda, Amanda!" maki Dinda dengan marah, tangannya mengepal memukul meja kerjanya.

__ADS_1


"Sekarang kamu lebih mementingkan Amanda dari pada aku Tomi! perempuan itu rasanya aku ingin menghabisi!"


Matanya menyapu tajam keseluruhan ruangan, Dinda benar-benar kesal sama Tomi yang pergi menyudahi pembicaraannya demi Amanda yang di rumah ada acara.


Sementara itu Tomi saat ini sudah sampai di rumah, Tomi segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap. Sampainya di dalam kamar Amanda sudah berdandan cantik.


Tiba-tiba Tomi mengecup pipi Amanda, wanita itu mendengus kesal, merasa sudah rapi Amanda lebih milih keluar kamar meninggalkan Tomi yang sedang mandi.


Tomi nampak terus tersenyum, saat mandi Tomi begitu semangat, seperti miliki rencana setelah ini, tidak butuh waktu lama, Tomi sudah selesai mandi dan kini sedang berpakaian.


Sedikit kecewa hatinya saat melihat Amanda lebih dulu keluar kamar, Tomi segera menyelesaikan semuanya, dan menyusul Amanda di bawah.


Calon ibu itu kini sedang sibuk membantu pelayan menyusun makanan di atas meja, pelayan yang lain sudah menggelar karpet untuk tempat duduk para tamu nanti malam.


Semua persiapan sudah selesai, salah satu pelayan masuk memberi tahu bila para anak panti asuhan serta ibu panti sudah datang, Ibu Lili dan Amanda menuju halaman rumah untuk menyambut mereka datang.


Berbondong-bondong mereka semua memasuki rumah, bersalaman satu per satu dengan Amanda dan juga yang lainnya, suasana rumah jadi ramai banyak anak kecil, bahkan ada yang sangat menggemaskan usia dua tahun pake baju syar'i.


Pelayan menunjukan tempat mereka semua untuk duduk, dengan rapi dan teratur semua anak-anak duduk dengan tenang.


Ahirnya tepat pukul tujuh malam acara dimulai, membaca beberapa doa yang dipimpin pak ustadz, yang diundang khusus oleh Amanda.


Acara berlangsung sampai selesai, setelah itu acara makan bersama, suasana haru yang jarang sekali dilihat oleh Amanda, anak-anak mulai makan dengan gaya-gaya lucu mereka Amanda tersenyum.


Sebelum mereka semua pulang, Amanda memberikan hadiah kepada anak-anak juga ada hadiah untuk ibu-ibu panti yang hadir.

__ADS_1


Suasana ramai yang baru saja tercipta kini kembali sepi, Ibu Lili memeluk Amanda.


"Selalu sehat ya sayang." Memeluk Amanda erat seraya mengajak Amanda masuk ke dalam rumah, karena barusan di halaman mengantar para tamu pulang.


Amanda masuk ke dalam kamar, saat dirinya sedang duduk di kursi depan meja rias, tiba-tiba Tomi menghampirinya lalu memutar kursinya kini Tomi ada di hadapan Amanda, pria itu berjongkok memegang tangan Amanda yang masih memegang kapas untuk membersihkan makeup.


"Maafkan aku, maafkan semua kesalahan aku." Tomi mengecup tangan Amanda. Mendongakkan kepalanya lagi melihat Amanda. "Aku salah selama ini, mungkin diam-diam kamu tahu yang aku perbuat dibelakang kamu, aku minta maaf." Tomi menangis. "Aku mencintai kamu dan aku ingin rumah tangga yang harmonis seperti dulu." Tomi menunduk memegangi dua kaki Amanda tubuhnya bergetar. "Maafkan aku." Menata Amanda lagi, mengecup tangan Amanda.


Maaf Tomi aku tidak bisa maafkan kamu, jika saat ini aku masih bertahan di sampingmu karena anak kita, tidak ada lagi kepercayaan yang bisa aku berikan padamu lagi Tomi, sekali aku memaafkan kamu maka kamu akan meminta maaf terus menerus.


"Bangunlah sudah tidak usah dibahas."


"Apa kamu sudah maafkan aku?"


"Sedikit, bangunlah." Amanda memutar kursinya lagi menghadap cermin, Tomi kembali mencium pipi Amanda, pria itu nampak sangat bahagia sudah mendapat maaf dari Amanda.


"Aku punya hadiah untukmu." Tomi mengambil sesuatu dari saku celana, lalu membuka kotak kecil itu, ternyata sebuah cincin yang sangat cantik. Tomi memasukkan cincin itu kejari manis Amanda, kemudian mencium tangan Amanda.


"Aku mencintaimu sayang." Tomi mencium kening Amanda begitu dalam.


Cinta bukanlah sebuah sekedar kata, cinta adalah sebuah pembuktian, bagaimana bisa kamu bilang cinta tapi hatimu berdusta, ketika kamu sudah membuatku bahagia, tapi dengan teganya kau renggut lagi kebahagiaan itu, sampai tak tersisa.


Sekarang kamu berusaha mengatakan cinta dan berlaku manis terhadapku, setelah hati ini kau sakiti, setelah aku tahu apa tujuanmu bersama aku.


Hidup ini nyata bukan sandiwara, pura-pura baik tapi nyatanya menusuk, kau begitu tega! bukankah aku adalah pasanganmu bukan musuhmu? tapi kau yang mengubah sendiri cinta tulusku menolak lagi kehadiranmu.

__ADS_1


__ADS_2