
Pukul sebelas siang, Amanda menelpon Valentino.
"Apa aku boleh ke mall? ada kerja sama dan aku harus melihatnya langsung gambar desainer yang dimiliki klien aku." Amanda bicara di sambungan telepon.
Terdengar suara Valentino di seberang telepon sana, menolak permintaan Amanda.
"Aku tidak ijinkan, aku khawatir dengan keadaan kamu, apa klien mu tidak bisa datang ke perusahaan?"
"Tidak bisa, ya sudah jika tidak boleh." Amanda menjawab dengan suara sedih.
Valentino menghela nafas panjang, merasa sudah mengekang kebebasan Amanda, jadi tidak tega. "Baiklah aku ijinkan kamu pergi ke sana, tapi ingat setelah selesai harus langsung pulang."
Amanda tersenyum. "Baik, terimakasih."
Sambungan telepon dimatikan, Amanda segera bersiap, Merry sudah menyiapkan berkas yang harus dibawa.
Mereka keluar gedung perusahaan bersama, setelah masuk ke dalam mobil, Merry segera menjalankan mobilnya. Tidak butuh waktu lama, cukup tiga puluh menit, mobil sudah sampai di tempat tujuan.
Amanda dan Merry berjalan masuk ke dalam gedung Mall, seketika banyak orang yang dijumpai di sana, Amanda dan Merry segera menuju tempat kliennya yang saat ini sudah menunggu.
Di restoran KFC.
Amanda dan Merry masuk ke dalam sana, di salah satu bangku restoran ada pria yang melambaikan tangan ke arah Amanda.
Amanda yang melihat, langsung berjalan mendekat, pria itu adalah klien yang harus Amanda temui.
Setelah Amanda dan Merry duduk di sana, meeting segera di mulai, tidak perlu mengulur waktu.
Amanda mencermati gambar desainer yang di kasih klien nya.
Amanda tampak sedang berbicara dengan Merry meminta pendapat Merry mengenai gambar desainer tersebut.
Setelah yakin Amanda baru memberikan keputusan. "Baiklah saya terima, Tuan."
"Terimakasih, Nyonya Amanda sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap pria itu tulus.
Setelah itu mereka terpisah, Amanda juga segera mau pulang tanpa ada kemauan untuk mampir belanja.
Setelah mereka berdua turun dari eskalator, tiba-tiba tubuh Amanda ada yang menabrak sampai tas yang Amanda pegang jatuh ke lantai.
Brukk!
__ADS_1
"Maaf Nona," ucap seorang pria setelah menabrak Amanda.
Amanda menatap lekat wajah pria itu.
Pria itu tersenyum. "Tadi saya buru-buru, maaf jika jadinya saya menabrak Anda."
Pria itu beralih melihat ke bawah, dimana di sana ada tas Amanda yang tergeletak di lantai, pria itu mengambilnya.
"Ini milik Anda Nona," ucap pria itu seraya menyerahkan tas itu ke Amanda.
Amanda mengangguk kecil seraya menerima tas itu. "Terimakasih."
Setelah itu Amanda dan Merry permisi untuk pergi lebih dulu.
Pria itu terus melihat punggung Amanda yang berjalan menjauh sampai keluar dari pintu keluar Mall.
Pria itu tersenyum miring. "Dia memang sangat cantik aku lihat dari jarak sedekat tadi, wajar saja Valentino menikahi wanita itu, dan melupakan Ervina wanita ja-la-ng."
Ya, pria itu adalah Jordan, yang berniat sendiri ingin melihat Amanda seperti apa wanita itu, dan setelah bertemu langsung, Jordan mengakui kecantikan Amanda.
Jordan pergi dari sana dengan rencana baru yang akan ia buat.
Amanda segera mengangkat dengan bibir tersenyum.
"Apa kamu sudah pulang?" pertanyaan Valentino di sambungan telepon.
"Sudah, ini aku lagi dijalan menuju pulang," jelas Amanda.
"Baiklah, hati-hati di jalan. katakan sama Merry tidak perlu ngebut saat mengendarai," perintah Valentino di sambungan telepon.
"Baik, aku akan katakan sama Merry," jawab Amanda patuh tidak mau memperpanjang perdebatan.
"Hem," jawab Valentino, kemudian sambungan telepon dimatikan.
Merry tanpa di perintah Amanda, sudah tahu bawa saat ini harus melaju cukup sedang.
Amanda tersenyum kecil saat melihat hp sudah mati, Amanda bersandar seraya memejamkan matanya.
Tiga puluh menit, mobil sampai di perusahaan.
Merry membangunkan Amanda, mengatakan bahwa sudah sampai.
__ADS_1
Amanda bangun dari tidurnya, dan keluar dari mobil menuju perusahaan, Merry berjalan mengekor di belakang Amanda.
Sementara itu, anak buah Valentino yang ditugaskan untuk menjaga Amanda dari jarak aman, memberi informasi ke Valentino, mengirim sebuah foto pria yang tadi menabrak Amanda di mall.
Melihat wajah pria di dalam foto tersebut, tangan Valentino terkepal.
Brakk!
Valentino menggebrak kuat meja kerjanya. Bagaimana mungkin ia tidak marah? Jika pria itu adalah Jordan.
"Jadi laki-laki ini sudah berhasil menemui Amanda, sudah aku duga dia akan mengusik Amanda." Valentino bicara penuh amarah dan tersenyum miring. "Aku tidak akan biarkan kamu kali ini menang, cukup Ervina bodoh yang kamu rebut dari aku, tapi tidak untuk Amanda, mari kita berkelahi sampai siapa yang akan mati diantara kita!"
Sekertaris Son yang saat ini masih berada di ruang kerja Valentino, jelas bisa melihat kemarahan dan aura dingin bosnya itu.
Hah Jordan - Jordan kau selalu bikin ulah sama bos kami, sepertinya kali ini kau tidak akan selamat Jordan, batin Sekertaris Son.
Dan melihat Valentino yang marah, sekertaris Son hanya diam tanpa mau ikut campur, terserah pria itu mau melampiaskan amarahnya ke barang-barang yang dimiliki, yang penting bukan wajahnya yang dipukul pikir Sekertaris Son.
Karena biasanya Valentino apa bila sedang marah, wajah Sekertaris Son yang menjadi pelampiasan.
Apa bila tidak dilempar majalah, akan Valentino tinju, ya begitulah resiko jadi bawahan apa bila atasannya sedang marah.
Sementara itu, Amanda saat ini sedang makan siang, biasanya Amanda akan keluar ke restoran terdekat untuk makan siang, tapi sejak kemarin Amanda pesan makanan saja dan makan di ruang kerja.
Setelah makan siang selesai, Amanda melanjutkan lagi pekerjaannya, sampai tiba sore hari sampai waktunya pulang tiba.
Saat Amanda sudah berdiri bersiap mau berjalan keluar untuk pulang, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan seseorang, yang masuk ke ruang kerja Amanda membawa sebuket bunga mawar.
"Selamat sore, aku menjemputmu untuk pulang bersama," ucap Valentino disertai senyum manis.
Valentino berjalan mendekati Amanda, sampai di depan Amanda yang lagi berdiri, Valentino mendekatkan bunga itu ke hidung Amanda, seketika Amanda mencium wangi bunga mawar itu.
Amanda menerima buket bunga mawar itu. "Kenapa aku diberi buket bunga mawar, kan. Tidak ada peringatkan apa pun."
Valentino merangkul pundak Amanda untuk diajaknya berjalan keluar. "Bagiku setiap hari bahkan setiap hembusan nafas kamu dan aku adalah peringatan cinta kita."
Amanda menyebikkan bibirnya, Valentino selalu saja bisa gombal, kemudian mereka tertawa bersama.
Merry yang baru keluar dari ruang kerjanya, melihat Amanda tertawa renyah dengan Valentino, hatinya bahagia.
Karena Merry saksi hidup Amanda, yang melihat Amanda dari saat masih sedih dulu hidup dengan suami pertamanya, dan sekarang bahagia bersama suami keduanya.
__ADS_1