Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 72. Penasaran.


__ADS_3

Di waktu yang sama di tempat yang beda.


Jihan, Rita juga Jefry saat ini sedang berada di klub malam, mereka sedang berpesta.


Jefry yang sudah biasa datang ke tempat ini membuat wajahnya sudah dikenali, wanita cantik berpakaian menggoda berjalan ke arah Jefry dan tanpa permisi langsung duduk begitu saja di pangkuan Jefry.


"Minumlah wine ini sangat segar," ucap wanita itu sembari menyodorkan gelas wine ditangannya ke mulut Jefry.


Jefry meminum wine dalam gelas itu seraya menatap lekat wajah wanita itu.


Jihan dan Rita pura-pura mau muntah melihat adegan mereka, menjijikkan bagi mereka berdua.


Meski Jihan juga Rita sering datang ke tempat seperti ini tapi mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, minum alkohol pun juga ada aturan tidak pernah sampai mabuk.


Sebenarnya hak mereka mau melakukan apa pun, hanya saja melihat Jefry seperti itu langsung di depan matanya, Jihan dan Rita tidak suka.


"Hei kalian kalau mau bermesraan jangan di sini, sana cari tempat paling aman!" bentak Jihan yang merasa paling kesal, bukan tanpa alasan, tiap kali melihat wanita penggoda ia jadi ingat ayahnya yang meninggalkan ibunya demi wanita penggoda.


Jihan melempar bantal kursi sofa ke arah mereka berdua yang seketika membuat wanita itu menoleh ke arahnya.


"Maaf Nona jika kami mengganggu Anda, sekarang kamu akan pergi."


Kenapa tidak dari tadi, batin kesal Jihan.


"Ayo kita ke kamar," ajak wanita itu pada Jefry seraya memainkan jemari lentiknya mengusap wajah hingga leher Jefry.


Bila dilihat dari wajahnya, bibirnya, senyumnya, tubuhnya, apa lagi bu-ah dadanya yang aduhai besar. Rasanya tidak mungkin kalau Jefry tidak tergoda.


Tapi nyatanya Jefry tidak tertarik sama sekali, bahkan miliknya tidak bangun sama sekali, entah Jefry sendiri juga tidak tahu karena apa.


"Maaf Nona, malam ini aku sedang tidak ingin bermain. Silahkan Anda pergi," tolak Jefry dengan lembut.


Wanita itu tidak memaksa, tapi sebelum beranjak pergi wanita itu mencium bibir Jefry.


"Jika butuh aku carilah aku di sini, aku akan membuatmu puas," bisiknya di telinga Jefry.


Wanita itu pergi dari sana.

__ADS_1


Jihan sama Rita sudah tidak peduli lagi sama Jefry, dua wanita itu sudah asyik dengan dunianya yaitu sedang bermain game online.


Jefry melihat ke arah mereka yang saat ini malah asyik bermain game online di hp. Jefry melempar bantal ke arah mereka yang tadi digunakan Jihan.


Bugh!


Bantal mendarat tepat di kepala Rita.


"Jefry!" bentak Rita kesal, bagaimana tidak kesal gara-gara bantal yang Jefry lempar, bermainnya game yang hampir menang jadi kalah.


"Eh elu bukannya tadi sudah cabut sama cewe tadi." Jihan ikut menimpali, suara berisik Rita mengusik telinganya juga.


"Kalau gue sudah cabut ngapain gue masih ada di sini," geram Jefry seraya memutar bola mata malas.


"Oh iya ya," jawab Jihan membenarkan ucapan Jefry. Tapi itu hanya sesaat karena sesaat kemudian Jihan meluncurkan pertanyaan lagi yang membuat Jefry sampai terkejut.


"Sejak kapan elu tidak tergoda wanita seperti itu, elu berubah jadi pria impoten?"


Jefry mendengar ucapan Jihan, sesaat merasa takut apa bila berubah jadi impoten, namun Jefry segera membuang pikiran kotor itu.


Aku tidak impoten, tapi aku sudah berubah jadi pria baik, batin Jefry.


"What!!" pekik Jihan dan Rita bersamaan. Mereka berdua merasa salah dengar apa lagi suara musik di ruangan ini sangat keras, tapi setelah mendengar ucapan Jefry lagi mereka berdua sadar bahwa ini nyata bukan salah dengar.


"Aku mau menyatakan cinta sama Merry, tapi bingung caranya." Jefry bersandar di kursi dengan tatapan sendu.


"Elu yakin?" tanya Jihan dan Rita bersamaan.


Jefry mengangguk. "Bantuin dong."


Jihan dan Rita saling pandang kemudian menggelengkan kepala bersamaan.


"Kenapa?" tanya Jefry kecewa.


"Elu harus bilang dulu sama Amanda, kalau kita bantuin elu tanpa ijin Amanda disaat elu sakitin Merry, kita juga yang bakalan dimarah Amanda." Jihan yang bicara, Rita manggut setuju.


Jefry merenungkan ucapan Jihan barusan, dan semua itu ada benarnya, karena Merry bodyguard kesayangan Amanda.

__ADS_1


Tapi kan aku tulus mencintai Merry, mau aku ajak nikah malah kalau dia mau, masa iya Amanda bakalan tidak kasih ijin? Batin Jefry yang terus berpikir. Sampai-sampai tidak sadar saat Jihan dan Rita pergi dari sana.


Jihan dan Rita pergi mengikuti Dinda yang keluar dari klub dengan keadaan mabuk berat bersama seorang pria bule.


"Eh mereka mau kemana?" tanya Rita dengan suara bisik-bisik.


"Kita ikuti-ikuti," jawab Jihan berbisik pula.


Rita dan Jihan terus mengikuti Dinda bersama seorang pria, ternyata mereka berdua menuju hotel, masih mengikuti saja otak Jihan sudah traveling. Mau ngapain lagi coba ke hotel dalam keadaan mabuk kalau bukan Aaaa! Jihan tidak sanggup melanjutkan ucapan dalam hatinya.


Jihan dan Rita berhenti jalan sampai tabrakan, saat sudah sampai di kamar penginapan, mata mereka berdua langsung mendelik melihat Dinda masuk ke kamar tersebut bersama pria.


"Tapi cowoknya ganteng ya," celetuk Rita memuji dan seketika mendapat pukulan di lengannya.


"Bukan waktunya memuji-muji, saatnya mengintip mereka." Jihan mengajak berjalan lagi menuju depan pintu, Rita menahannya.


"Ngapain?" tanya Rita karena tidak ada gunanya.


Tapi Jihan tidak menjawab dan malah mengintip sendiri. Kebetulan pintu kamar tersebut tidak di kunci dan masih terbuka sedikit, Jihan mengintip ingin tahu apa yang mereka lakukan.


Baru melihat ke dalam mata Jihan langsung terbelalak lebar.


Aku tidak percaya Dinda seberani itu, batin Jihan seraya menggelengkan kepala.


Di dalam sana Dinda dan pria tadi sudah tidak memakai baju, mereka sedang bermain panas, apa lagi yang memimpin permainan Dinda yang berada di atas pria itu.


Dinda bergerak dengan liar, suara indah mereka berdua sampai terdengar merdu tapi Jihan malah merasa jijik sampai tubuhnya bergidik.


Rita jadi penasaran dengan yang Jihan lihat, Rita mendekati Jihan menarik tangan Jihan untuk menyingkir.


"Ada apa sih sampai lama banget liat ke dalam," ucapnya sembari mau mengintip, dan seketika matanya terbelalak.


Akh! Akh! "Lebih cepat ... Lebih cepat akh! Akh! Lebih cepat akh! Akh!" ucap Dinda yang begitu menikmati permainan pria itu yang saat ini di depan Dinda dengan posisi Dinda sedikit bersandar dan dua kakinya terbuka lebar.


Jihan langsung menarik tangan Rita mengajaknya berlari. Mereka berdua berlari cepat masuk ke dalam lift.


Keluar dari hotel langsung melihat Jefry yang tampak sedang mencari seseorang.

__ADS_1


"Jefry! teriak Jihan dengan nafas yang terengah-engah, karena tadi keluar dari lift mereka berdua kembali berlari.


Jefry melihat mereka yang keluar dari dalam hotel seketika memberikan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2