
Amanda sudah selesai berlatih, seperti janji Valentino tadi pagi bahwa akan menemani Amanda belanja sesuai kesepakatan yang diminta Amanda.
Saat ini mereka sudah berdiri di samping mobil siap mau masuk ke dalam, namun tiba-tiba ponsel Valentino berdering, pria itu mengambilnya sedikit terkejut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Pelayan menelpon, Valentino segera mengangkat.
"Tuan Muda, Nyonya jatuh sakit."
Kalimat pertama yang Valentino dengar setelah panggilan telepon ia angkat. Valentino tidak menjawab hanya raut wajahnya berubah cemas, sementara sambungan telepon sudah dimatikan.
"Ada apa?" tanya Amanda saat melihat wajah Valentino berubah tampak khawatir.
"Mommy sakit," jawab Valentino dengan suara khawatir terdengar jelas.
Amanda juga tidak kalah khawatir, setelah masuk ke dalam mobil, Valentino segera melajukan mobilnya ke rumah.
Tidak butuh waktu lama mobil sudah sampai di halaman rumah, jangan ditanya seperti apa Valentino tadi mengendarai mobil, tentu sangat kencang, Amanda tidak protes karena tahu saat ini Valentino sedang panik.
Valentino berlari lebih dulu masuk ke dalam rumah, Amanda berjalan menyusul di belakangnya.
Sampainya di lantai tiga Valentino segera berjalan ke arah kamar Mommy Vio dan segera membuka pintu kamar.
"Mom," sapa Valentino.
Mommy Vio yang masih dalam keadaan sadar tiduran di atas ranjang mendengar suara Valentino yang terdengar panik. Menoleh dan melihat Valentino berjalan ke arahnya.
Valentino langsung memeluk Mommy Vio, Valentino merasakan tubuh Mommy Vio panas.
Amanda yang baru sampai langsung mendekat, mengecek panas Mommy Vio, dan alangkah terkejutnya mereka berdua, saat ini Mommy demam tinggi.
"Mommy harus dibawa ke rumah sakit, jika tidak ini bisa berbahaya," ucap Amanda. Namun Mommy Vio menggelengkan kepala.
"Tidak usah Mommy di rumah saja," tolak Mommy Vio dengan suaranya yang lemah.
"Tidak Mom, Mommy harus dibawa ke rumah sakit." Valentino bicara dan tapa pedulikan ucapan Mommy Vio, Valentino langsung membopong tubuh Mommy Vio untuk dibawa ke luar.
__ADS_1
Amanda mengikutinya berjalan di belakang mereka. Sampainya di dekat Mobil, Amanda membukakan pintu mobil, Valentino mendudukkan Mommy Vio ke dalam mobil.
Amanda masuk ke dalam mobil juga, duduk di samping Mommy Vio, sementara Valentino duduk di kursi kemudi dan tidak lama kemudian mobil dijalankan.
Valentino membawa mobilnya sedikit cepat, tapi tidak secepat saat pulang tadi, karena saat ini sedang membawa Mommy Vio, takut membuat Mommy nya jantungan kalau diajak ngebut-ngebut.
Tidak lama kemudian mobil sampai di rumah sakit.
Valentino kembali membopong Mommy Vio untuk dibawa masuk ke dalam menuju ruang IGD.
Sampai di ruangan tersebut, Valentino membaringkan Mommy Vio dengan perlahan, selanjutnya dokter beserta dua perawat datang untuk memeriksa keadaan Mommy Vio.
Valentino bersama Amanda menunggu di luar.
Amanda menggenggam tangan Valentino, seolah meminta pria itu untuk tenang bahwa semua akan baik-baik saja.
Valentino baru sadar ternyata datang ke rumah sakit bersama Amanda, karena panik dengan keadaan Mommy Vio sampai lupa sama Amanda.
Valentino menarik Amanda mendekat kemudian memeluknya.
Menunggu beberapa saat ahirnya dokter keluar, Valentino dan Amanda segera berdiri meminta penjelasan keadaan Mommy Vio saat ini.
"Pasien butuh istirahat total, kami sudah memberikan obat turun panas, namun karena tensi darah pasien sangat tinggi, kami sarankan pasien menginap di rumah sakit dahulu untuk mendapatkan penanganan terbaik."
Valentino setuju dengan saran dokter, setelah itu Mommy Vio dipindahkan ke ruang rawat.
Setelah Mommy Vio sudah di pindahkan, Amanda juga Valentino melihat keadaan Mommy Vio.
Mommy Vio masih tidur terpulas, Amanda jadi kasihan melihat Mommy Vio sakit, mengingat bahwa tensi darah Mommy Vio tinggi, Amanda jadi bertanya-tanya dalam hati. Apa kah ada yang sedang Mommy Vio pikirkan? Namun pertanyaan itu belum bisa Amanda tanyakan karena Mommy Vio masih tidur.
Valentino yang berdiri di samping ranjang di samping Amanda juga, melihat Mommy Vio yang saat ini wajahnya tampak pucat.
Namun tiba-tiba mendengar perut berbunyi, Valentino menoleh ke arah Amanda.
"Kamu lapar?" tanyanya, dan Amanda hanya bisa tersenyum sungguh saat ini malu sekali.
__ADS_1
Valentino tersenyum kecil. "Ayo kita cari makan, aku juga lapar." Valentino sengaja berkata juga lapar karena supaya Amanda tidak malu lagi.
Mereka berdua berjalan keluar menuju kantin rumah sakit. Sampainya di sana, Amanda memesan makanan, untuk dirinya juga untuk Valentino, serta dua minuman es teh manis.
Hanya makanan sederhana yaitu mie ayam, mereka berdua makan bersama, tanpa ada yang bicara, karena supaya cepat selesai dan segera kembali ke ruang rawat Mommy Vio.
Kasihan Mommy Vio apa bila ditinggal terlalu lama. Tidak butuh lama kini mie ayam mereka sudah habis, menghabiskan juga es teh manis. Istirahat sebentar kemudian pergi dari sana.
Pas sekali, Amanda masuk ke dalam, Mommy Vio bangun sudah sadar. kini tersenyum melihat dua kesayangannya berjalan mendekat.
"Maaf Mom, tadi kami makan sebentar," ucap Amanda saat ini duduk di kursi samping ranjang pasien, Amanda menggenggam tangan Mommy Vio.
"Tidak apa-apa." Mommy Vio menjawab dengan suara yang terdengar lemah.
"Mommy sudah lama bangunnya?" Kali ini Valentino yang bertanya. Merasa bersalah andai Mommy sudah bangun sedari tadi dan dirinya baru datang sekarang.
"Tidak, Mommy baru bangun." Menatap Valentino sekilas, kemudian berganti menatap Amanda. "Apa Mommy boleh bertanya?"
Amanda tersenyum. "Mom, tidak perlu minta ijin, Mommy boleh bertanya apa pun sama Amanda." Amanda memberikan usapan lembut di punggung tangan Mommy Vio.
"Mommy pengen punya cucu, jangan ditunda ya sayang, andai kamu bisa cepat." Menatap sayu.
Amanda sedikit terkejut dengan permintaan Mommy Vio, Amanda kemudian menatap Valentino, mereka berdua saling pandang, seolah sedang bertanya melalui bahasa mata.
Amanda memutus pandangan matanya dan beralih menatap Mommy Vio. "Iya, Mommy," jawab Amanda ahirnya.
"Mommy sudah tua, khawatir tidak bisa melihat cucu," bicara sedih.
"No, Mommy jangan bicara seperti itu." Amanda berdiri memeluk Mommy Vio.
Obrolan itu harus selesai karena waktu sudah semakin malam dan Mommy Vio harus segera istirahat.
Setelah Mommy Vio tertidur, Amanda dan Valentino duduk di kursi sofa panjang, mereka saling berpelukan.
"Tadi hanya sekedar permintaan, jangan dipikirkan, hem?" Valentino menciumi puncak kepala Amanda. Valentino sengaja bicara seperti ini supaya Amanda tidak merasa tertekan dengan permintaan Mommy Vio, Valentino sangat mencintai Amanda tidak mau memaksa Amanda sedikitpun.
__ADS_1
Dalam pelukan Valentino Amanda merasa nyaman, entah di menit ke berapa, Valentino merasakan Amanda sudah tertidur pulas.
Valentino membaringkan Amanda di sofa, memandangi wajah Amanda yang cantik, bibir Valentino tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala Amanda.