
Amanda sedang menyisir rambutnya duduk di depan cermin, permintaan Ibu Lili masih terekam jelas di ingatannya.
Apa Ibu akan menjadi Ibu yang jahat untukmu, Nak? apa bila Ibu tetap meneruskan perceraian ini.
Tidak terasa cairan bening lolos begitu saja di pipi Amanda, Ibu siapa sih yang tidak ingin memberikan keluarga yang utuh untuk anaknya, begitu pun juga Amanda, dirinya sangat ingin, tapi apa pun yang Amanda pilih akan tetap melukai dirinya sendiri.
Bertahan, Amanda akan terus terluka dengan sikap Tomi. Berhenti, Amanda juga sakit bahkan membayangkan saja tidak mampu ketika melihat anaknya menangis mencari sosok ayah.
Amanda menghela nafas panjang, semua ini membuat Amanda benar-benar dilema, harus dipikirkan matang-matang untuk mengambil keputusan nanti.
Amanda mengecek hp nya, membaca pesan ulang dari Jefri, pria itu sudah berada di Indonesia, dan malam ini mengajak Amanda untuk ketemu, membahas masalah yang beberapa Minggu lalu Amanda sampaikan pada Jefri.
Malam ini Amanda tidak menyetir mobil sendiri, Amanda milih pergi dengan taksi online, setelah melakukan pemesanan taksi online, Amanda beranjak dari duduknya, tidak lupa membawa tas, kemudian berjalan keluar kamar.
Setelah tiba di depan pintu apartemen, Amanda menguncinya kemudian berjalan menuju lift.
Lift membawa Amanda menuju lobby apartemen, setelah keluar dari sana, Amanda berjalan menuju pintu keluar dan menunggu taksi online di halaman sana.
Tidak menunggu lama, taksi online tiba, Amanda segera masuk ke dalam, dan mobil kembali melaju menuju tempat tujuan.
Restoran xx.
Pria tampan berkaca mata hitam, menggunakan jaket Levis dengan celana jins, tubuhnya kekar dan tinggi, saat ini sedang duduk sendiri di ruang VVIP.
Kostum yang digunakan anak muda banget, wajahnya yang tampan makin terlihat tampan. Dan seperti itu lah kostum yang sering digunakan, jarang sekali menggunakan jas seperti orang kantoran, karena memang bukan pekerjaannya.
Pekerjaan pria itu tidak terlepas dari senjata api, dan adu pukul.
Orang-orang menyebutnya serigalanya mafia, hanya menyebut namanya saja sudah membuat orang yang mendengarnya merinding.
"Jefri."
Suara Amanda yang baru sampai memanggil namanya, membuat pria itu mendongakkan kepalanya menatap Amanda yang malam ini terlihat cantik.
Jefri tersenyum tipis seraya melepas kaca mata hitamnya. "Telat lima menit."
Amanda duduk di kursi sofa, menatap Jefri dengan malas, pria itu selalu bercanda tidak pernah serius.
"Aku akan melipat gandakan bayaranmu."
__ADS_1
Jefri terkekeh, menarik gumamnya, Amanda selalu menarik bagi Jefri.
"Jauh-jauh aku dari Amerika datang ke Indonesia, yakin nih cuma dikasih bayaran saja?"
Amanda langsung melotot ke arah Jefri. "Jefri."
Hahaha, Jefri tertawa. "Bercanda girl."
Setelah pembicaraan becanda itu, Jefri dan Amanda mulai serius, Jefri saat ini fokus dengan laptop di depannya, tadi ia sengaja membawa karena Amanda butuh bantuannya untuk meretas data.
"Siapa nama lengkap suami aneh mu itu?" tanya Jefri seenaknya.
"Tomi Ardiansyah." Amanda menjawab, tanpa mau protes ucapan Jefri barusan, baginya juga Tomi memang pria aneh.
Jefri mulai mengetik nama Tomi Ardiansyah di laptopnya, Jefri fokus dengan pekerjaannya ini, melakukan peretasan data-data milik orang, butuh kefokusan luar biasa.
Amanda diam tidak mengganggu Jefri, mengalihkan kejenuhannya dengan memainkan hp.
Setelah menunggu beberapa saat, Jefri menatap Amanda. "Aku berhasil mencuri beberapa datanya, jika kamu menunggunya ini akan selesai sampai larut malam, lebih baik kamu pulang."
Amanda melihat arlojinya, waktu menunjuk pukul sembilan malam, bila tidak teringat karena sedang hamil, mungkin Amanda lebih milih menunggu di sini, kasihan dengan calon bayinya, Amanda memutuskan untuk pulang.
Jefri mengantar Amanda pulang, saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju.
"Pokoknya kamu tenang saja aku pasti akan segera mendapatkan yang kamu mau," jelas Jefri seraya melirik Amanda yang duduk di sebelahnya tampak sedang melamun.
Amanda hanya menjawab dengan senyuman.
Tiga puluh menit, mobil yang Jefri kendarai sudah sampai di apartemen Amanda, setelah Amanda keluar mobil, Jefri kembali melajukan mobilnya menuju apartemennya berada, tidak jauh dari tempat Amanda, hanya lima belas menit.
Di klub malam.
Tomi yang merasa pusing dengan masalahnya bersama Amanda, milih menenangkan pikirannya dengan datang ke tempat ini.
Tomi tidak sendiri, dia bersama dua sahabatnya, Aldi dan Rudi. Mereka bertiga sama-sama bersenang-senang di tempat ini.
Disekelilingnya ada wanita-wanita cantik berpakaian seksi menemani mereka.
Di setiap wine yang Tomi minum, selalu teringat wajah Amanda, bahkan saat dirinya datang ke sini, belum tahu keputusan dari sang ibu yang tadi pergi menemui Amanda.
__ADS_1
Namun karena ayahnya sedang sakit, ibunya langsung melakukan penerbangan ke Singapura.
"Aku tidak mau cerai Amanda."
Hahahah.
Tomi sudah mulai meracau, kesadarannya sudah hampir berkurang, namun tetap terus melanjutkan minum alkohol, wanita yang duduk di pangkuan Tomi terus menuangkan alkohol ke gelas Tomi, sesekali mereka berdua juga berciuman bibir.
Dari arah pintu masuk, Dinda baru sampai di klub malam ini, Dinda berjalan masuk tampak toleh-toleh mencari sesuatu.
Kemudian pandangan matanya menangkap sosok yang ia cari, yaitu Tomi, satu jam lalu Dinda bertanya keberadaan Tomi, dan pria itu menjawab sedang berada di klub malam.
Dinda segera menghampiri Tomi, mengusir wanita yang duduk di pangkuan Tomi.
Dinda mendudukkan tubuhnya dengan dramatis seraya menoleh ke arah Tomi dengan tatapan tajam.
Dengan pandangan mata yang mulai buram Tomi seperti melihat kehadiran Dinda, namun kadang-kadang berubah wajah Amanda.
"Amanda," ucap Tomi yang langsung mendapat tatapan tajam Dinda.
"Amanda-Amamda, aku Dinda!" protes Dinda dengan kesal.
"Ya, kamu memang Dinda, karena Amanda itu cantik," ucap Tomi yang sudah mabuk berat menyandarkan tubuhnya tak berdaya.
Bicara dengan orang mabuk memang susah, batin Dinda seraya mengambil gelas berisi wine dan meminumnya.
Niat hati mau minum tapi tidak sampai mabuk, namun karena perasaan Dinda begitu kesal, tanpa sadar minum terus sampai mabuk.
Pukul dua belas malam, Tomi dan Dinda keluar dari klub malam, mereka berdua berjalan sempoyongan menuju mobil.
Tomi tadi datang ke klub bersama sopirnya, jadi aman sampai mereka tiba di rumah, tidak khawatir bila akan terjadi kecelakaan.
Setelah sampai di rumah Tomi, sopir membantu Tomi untuk menuju ke dalam rumah, namun Tomi meminta Dinda juga ikut, sang sopir juga membantu Dinda masuk ke dalam rumah, hanya mengantar sampai di ruang tamu, setelah itu sopir pergi.
Keadaan Tomi dan Dinda yang sama-sama mabuk berat, mereka tidak saling mengenali diri masing-masing, semakin Tomi pandang, wajah Dinda adalah Amanda.
Tomi mengajak Dinda masuk ke dalam kamarnya, Dinda menurut karena tidak sadar diri, pengaruh alkohol.
Di dalam kamar mereka melakukan hal yang tidak semestinya mereka lakukan.
__ADS_1