
Ahir pekan.
Setelah bangun tidur seorang pria tampan belum mau beranjak dari tempat tidurnya, masih membawa tubuhnya guling-guling di atas ranjang, bermalas-malasan di sana.
Emm tidak ada hiburan, gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Lengan kokohnya memukul-mukul guling di sebelahnya sembari matanya terpejam, benar-benar enggan mau bangun.
Sementara itu di lantai satu.
"Bibi apa kah Valentino sudah bangun?"
"Belum Nyonya," jawab pelayan sembari meletakkan teh hangat di atas meja depan majikannya duduk.
Hah anak itu selalu setiap hari libur mesti bermalasan untuk bangun pagi, gumam Mommy Vio.
"Bibi tolong bangunkan Valentino sekarang, katakan padanya bahwa Mommy mau mengajaknya keluar pagi ini."
"Baik Nyonya," jawab patuh pelayan tersebut yang kemudian langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai tempat kamarnya Valentino berada.
Sampainya di depan pintu kamar Valentino, pelayan tersebut mengetuk pintu itu.
"Tuan Muda ... Tuan Muda ..." teriaknya dari luar namun tidak ada sahutan dari dalam.
Pelayan tersebut kembali mengetuk pintu hingga beberapa kali, dan tetap saja tidak mendapat sahutan dari dalam, kemudian pelayan itu memutuskan untuk kembali ke lantai satu.
Di dalam sana, Valentino yang mendengar suara ketukan pintu serta suara lembut sudah bisa menebak bahwa yang memanggilnya adalah pelayan, karena apa bila Mommy nya sudah dapat dipastikan tidak akan selembut itu.
Valentino malas menjawab, lagi malas melakukan apa pun, hanya satu yang diinginkan Valentino yaitu mingguan dengan Amanda, tapi malu mau mengajak Amanda, khawatir ilfil bila terlalu sering bertemu pikirnya.
Sementara itu pelayan setelah tiba di lantai satu segera mendekati Mommy Vio. "Nyonya Tuan Muda tidak menyahut seruan saya tadi."
Hah Mommy Vio sudah dapat menduga bahwa ini yang akan terjadi, sembari menghela nafas panjang Mommy Vio membuat gerakan tangan bertanda pelayan boleh pergi.
Ahirnya Mommy Vio yang turun tangan untuk membangunkan Valentino, setelah membuka pintu kamar Valentino, Mommy Vio masuk ke dalam pelan-pelan tanpa menimbulkan suara langkah kaki.
Aww! Pekik Valentino saat merasakan telinganya sakit karena dijewer Mommy Vio.
"Ayo bangun, bangun!" ucap tegas Mommy Vio sembari menarik tangan Valentino.
"Mom aku masih ngntuk tidak mau bangun," protes Valentino yang tidak mau diganggu.
Tapi Mommy Vio terus menarik tangan Valentino, pria itu jadi punya ide untuk dirinya mau bangun, ahirnya Valentino mau duduk kemudian berbisik sesuatu ditelinga Mommy Vio.
__ADS_1
"Tidak, Mommy tidak mau." Mommy Vio menggeleng cepat.
"Yasudah aku tidur lagi." Valentino kembali berbaring.
"His kau! yasudah!" jawab kesal Mommy Vio ahirnya milih mengikuti kemauan Valentino.
Valentino tertawa saat Mommy Vio keluar dari dalam kamarnya.
Ahirnya aku punya cara untuk memperkenalkan dia dengan Mommy aku, batin Valentino masih disertai tawa.
Valentino mengambil hp nya kemudian melakukan sambungan telepon.
"Pagi, aku boleh minta tolong?" tanya Valentino saat sambungan telpon diangkat oleh Amanda di seberang sana.
"Bisa tidak kamu datang ke rumah aku, mom aku lagi sakit, tolong buatkan bubur, di sini saja buatnya," ucap Valentino lagi.
Amanda mengatakan masakannya tidak enak.
"Ah, tidak. Masakan kamu enak, plis." Pinta Valentino lagi, yang entah dari mana mengatakan enak, pernah makan hasil masakan Amanda saja belum.
Kau hanya mengada-ada ucap Amanda namun juga Amanda sanggupi.
Setelah sambungan telepon mati, Valentino langsung berkata yes, dan langsung bangun dari tempat tidur kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan semangat.
Di luar sana mobilnya sudah disiapkan, Valentino segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju apartemen Amanda.
Sementara itu Amanda saat ini sedang bersiap-siap, Amanda duduk di kursi depan meja rias, sembari melihat wajahnya yang baru saja di poles make up tipis-tipis.
Amanda memegangi dadanya. "Kenapa aku gerogiya."
"Mau bertemu ibunya Valentino, hah aku kesana cuma menjenguk ibunya sakit, jadi tidak perlu gegorogi," ucapnya lagi menenangkan rasa gerogi.
Amanda bangkit dari duduknya, menuju tasnya semua sudah Amanda bawa tidak ada yang tertinggal.
Bubur, Amanda mengingat-ingat nama bubur, sudah lama sekali tidak membuat bubur, sebenarnya Amanda tidak percaya diri takut nanti hasil masakan buburnya tidak enak.
"Hah apa aku batalkan saja ya." Amanda bicara lagi sembari memegang hp siap mau menelpon Valentino, namun tiba-tiba layar hp nya menyala.
Valentino, gumam Amanda yang langsung mengangkat panggilan masuk dari Valentino.
"Baiklah aku turun sekarang," ucap Amanda menjawab ucapan Valentino di sambungan telepon, ternyata Valentino sudah menunggunya di bawah.
Tidak ada pilihan ahirnya Amanda keluar dari apartemennya dan segera menuju halaman depan gedung apartemen.
__ADS_1
Sampainya di sana, senyum manis Valentino langsung menyambut kedatangan Amanda. Valentino sedang berdiri di samping pintu mobil yang sudah ia buka.
"Silahkan masuk tuan putri," ucapnya saat Amanda masuk ke dalam mobil."
Setelah menutup pintu mobil Valentino segera menyusul masuk lewat pintu sebelah, tidak lama kemudian mobil pun melaju.
Tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Valentino sudah sampai di rumahnya, Valentino bersama Amanda berjalan masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam sana, Amanda juga mengagumi rumah Valentino yang begitu besar namun itu hanya sesaat karena suara Valentino yang mengajak Amanda masuk ke dalam kamar ibunya.
Setelah pintu terbuka, Amanda melihat wanita paruh baya yang sedang tiduran di atas ranjang, wajahnya tampak pucat dan begitu lemas.
Amanda berjalan mendekat, mata mereka berdua bertemu, ternyata ibunya Valentino tidak tidur.
"Ibu," sapa Amanda kemudian duduk di pinggiran ranjang sembari menggenggam tangan Mommy Vio.
Mommy Vio hanya tersenyum kecil.
Amanda meletakkan punggung tangannya di kening Mommy Vio, tidak panas batin Amanda.
"Apa Ibu sudah makan?" tanya Amanda sembari menatap kasihan pada Mommy Vio.
Mommy Vio hanya menggelengkan kepala.
"Jika begitu Amanda buatkan bubur dulu untuk Ibu."
Mommy Vio mengangguk.
Amanda kemudian bangkit dari duduknya, Valentino mengantar Amanda mau menunjukkan tempat dapurnya, namun sebelum Valentino berjalan ia mengangkat tangannya memberikan dua ibu jarinya bertanda bagus akting sang Mommy.
Mommy Vio langsung melotot ke arah Valentino.
Valentino segera berjalan menyusul Amanda.
Setelah mereka sampai di dapur, Amanda membuat bubur dibantu pelayan, karena letak bahan-bahannya hanya pelayan yang tahu.
Setelah bubur sudah dibuat tinggal menunggu prosesnya selama empat puluh menit.
Valentino masih duduk di kursi yang ada di dapur, sebenarnya tadi sudah diminta pergi oleh Amanda, hanya saja Valentino menolak dengan alasan mau mencicipi pertama hasil bubur buatan Amanda.
Padahal dalam hatinya hanya ingin melihat wajah cantik Amanda.
Duh Gusti kapan dia menjadi milikku, batinnya nelangsa.
__ADS_1