Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 13. Ingin berangkat bersama.


__ADS_3

Pukul delapan pagi Tomi sampai di rumah, masuk ke dalam kamar Amanda setelah meletakkan buah jambu di atas meja makan.


Ya, hanya buah jambu karena penjual petis jambu belum ada, ahirnya Tomi memilih beli buahnya saja, akan meminta pembantunya untuk membuatkan sambal petisnya nanti.


Namun saat membuka kamar Amanda seketika aroma wangi parfum Amanda tercium, bertanda Amanda sudah pergi.


Tomi menghela nafas kasar, merasa kesal dirinya baru pulang Amanda sudah pergi, ahirnya Tomi mutusin untuk mandi dan untuk segera berangkat kerja.


Gedung Fashion Amanda Corp.


Amanda sedang duduk di kursi kerjanya, hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dirinya selesaikan, sampai harus berangkat pagi-pagi sekali.


Tidak sempat menunggu Tomi pulang meski rasanya masih kepingin makan petis jambu, tapi pekerjaan lebih penting, apa lagi sekitar pukul sepuluhan pagi nanti akan ada meeting bersama klien.


Semua berkas yang saat ini ada di depannya harus dengan segera Amanda selesaikan.


Merry masuk ke ruang kerja Amanda tanpa mengetuk pintu, khusus untuk Merry tidak perlu mengetuk pintu.


Merry duduk di depan Amanda, berkas yang sudah Amanda baca dan ditanda tangani, Merry tumpuk jadi satu, sembari menunggu berkas yang selanjutnya masih Amanda baca, Merry duduk berdiam diri.


Di ruang kerja lain.


Dinda sedang senyum-senyum sendiri, kali ini entah rencana apa lagi yang akan Dinda perbuat, wanita itu tertawa sendiri seolah begitu puas.


Hahaha!


"Aku yakin kemarin saat di mall Amanda melihat aku dengan Tomi, suami tercintanya itu."


Hahahah!


Tertawa sembari tepuk tangan.


"Penasaran dengan hubungan mereka, apa lagi semalam Tomi bercerita tidur di luar dan itu di dalam mobil, pasti mereka habis bertengkar hebat.


Hahahah!


"Tomi, Tomi ... kasihan sekali kamu," ucapnya lagi disertai senyum menyebalkan.


Sementara itu Tomi yang baru sampai di kantor, langsung menemui Amanda.

__ADS_1


Tomi langsung masuk ke dalam setelah Merry membukakan pintu dan Amanda mengijinkan masuk.


Merry keluar lebih dulu memberikan ruang untuk mereka bicara, setelah Merry pergi Amanda dengan tatapan sinis meminta Tomi untuk langsung bicara.


"Sayang, aku kan sudah minta maaf sama kamu, tapi kenapa kamu masih saja lirik-lirik tidak suka begitu dengan aku," ucap Tomi yang kini berdiri di samping Amanda yang sedang duduk.


"Jika datang kesini hanya bicara hal tidak penting silahkan keluar pintu tidak dikunci, masih ingat jalannya, kan?"


Tomi langsung mengacak rambutnya mendengar ucapan Amanda yang sinis.


"Amanda kamu-."


"Aku lagi sibuk Tomi! lihat pekerjaan aku!" tegas Amanda dengan tatapan tajam memotong ucapan Tomi.


Brakk!


Tomi menggebrak meja kerja Amanda, Amanda tidak bergetar takut dan terus menatap tajam ke arah Tomi.


Tomi pergi dengan perasaan kesal, membanting pintu ruang kerja Amanda dengan keras.


Kenapa aku dulu bisa menikah dengan pria gila seperti itu, dan kenapa aku dulu bisa jatuh cinta dengan pria gila seperti itu! batin kesal Amanda dengan dirinya sendiri menyesali keputusan di masa lalu.


Amanda dan Merry sudah keluar dari pintu utama perusahaan.


Di luar sana mobil Amanda sudah disiapkan oleh petugas kantor penjaga parkiran mobil.


Merry langsung melajukan mobilnya menuju restoran tempat akan jadi pertemuan bersama klien.


Tiga puluh menit mobil sudah sampai di sana, Amanda dan Merry masuk ke dalam bersama, beberapa pelayan restoran yang masih bekerja menunduk saat melihat Amanda datang, salah satu pelanggan VVIP di restoran ini, jadi mereka patut menghormati.


Setelah pintu terbuka, sudah ada dua pria yang duduk di dalam sana, mereka berdua berdiri menyambut Amanda dan Merry datang, lalau mempersilahkan Amanda untuk duduk.


Perusahaan Albert, yang di pimpin Tuan Albert, mengajak Amanda untuk bekerja sama yang akan mempromosikan gaun-gaun produksi dari perusahaan Amanda.


"Tawaran yang setara." Amanda tersenyum setelah membaca berkas yang ada penyataan keuntungan besar yang akan Amanda dapat bila bekerja sama dengan perusahaan Albert.


"Apa Nyonya Amanda setuju?" tanya Albert dengan tatapan serius.


"Of course." Amanda langsung bertanda tangan di berkas tersebut.

__ADS_1


"Deal kita bekerja sama," ucap Amanda seraya berdiri dan mengajak Albert untuk berjabat tangan, dengan sedikit ragu Albert membalas jabatan tangan Amanda.


Setelah obrolan penting keduanya, Amanda dan Merry pergi lebih dulu, Albert menatap punggung Amanda yang berjalan pergi dengan pandangan yang sulit diartikan.


Siapa sih yang tidak terpesona dengan kecantikan Amanda, hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita cantik dan berkelas seperti Amanda, pikir Albert sebelum ahirnya ikut pergi dari tempat tersebut.


Setelah Amanda sampai di kantor, dan baru masuk ke ruang kerja, Tomi kembali masuk ke ruang kerja Amanda.


Membuat Amanda lagi-lagi harus membuang nafas berat, begitu jengah harus diusilin Tomi.


Amanda duduk di sofa seraya bersandar, malas menanggapi Tomi.


Tomi duduk di samping Amanda, menggenggam tangan Amanda, pri itu udah lupa bila beberapa jam lalu marah sampai menggebrak meja kerja Amanda.


"Sayang ... nanti malam ada acara amal, kamu temani aku ya," pinta Tomi dengan tatapan memohon.


Amanda diam masih berpikir-pikir ucapan Tomi, tapi rasanya malas, merasa tidak penting.


"Tidak, aku capek mau istirahat," bicara ketus sembari menarik tangannya yang dipegang Tomi.


Seketika terdengar helaan nafas berat Tomi, pria itu langsung tidak semangat lagi setelah mendengar jawaban Amanda. Tapi juga tidak bisa memaksa setelah melihat wajah Amanda yang kelihatan begitu lelah, apa lagi Amanda sedang hamil, Tomi milih pergi tanpa Amanda.


Setelah keluar dari ruang kerja Amanda, Tomi menemui Dinda di ruang kerja wanita itu.


"Tumben kamu datang kemari, apa yang membawa kamu sampai datang kemari, hem?" ledek Dinda dengan tertawa masam.


"Nanti malam temani aku untuk datang ke acara amal." Setelah bicara Tomi langsung pergi, Dinda tertawa sembari berpikir bahwa acara amal tempat yang luar biasa yang akan didatangi banyak pembisnis kaya.


"Aku harus berdandan cantik, siapa tahu diantara mereka ada yang tertarik denganku."


Hahahah!.


Sementara itu Amanda yang masih di ruang kerjanya sembari tiduran di atas sofa, Merry duduk menghampiri Amanda.


"Nyonya apakah nanti malam akan datang di acara amal, info yang saya dapat sebuah mobil antik yang akan dijadikan sebagai amal."


Amanda langsung duduk tegap mendengar penjelasan Merry barusan, sedikit tertarik untuk datang, apa lagi sebuah mobil antik yang akan diamalkan, Amanda ingin memilikinya.


Bila dirinya hadir di sana dan bisa mendapatkan mobil antik itu, itu sama saja menunjukkan kekuasaannya, dan Amanda ingin semua orang melihatnya, bukan untuk pamer, tapi untuk menjatuhkan Tomi di depan semua orang nanti bahwa dia bukan siapa-siapa.

__ADS_1


Lebih baik aku datang dari pada uangku di pakai Tomi lebih baik aku pakai sendiri, batin Amanda sembari tersenyum penuh arti.


__ADS_2