
Keesokan harinya.
Amanda pagi ini tidak masuk ke kantor, ia mau menemani Mommy Vio ke panti asuhan dalam rangka santunan anak panti asuhan.
Setiap tahunnya Mommy Vio pasti akan melakukan hal tersebut, dan tahun ini karena sudah memiliki menantu, Mommy Vio mengajak Amanda. Merasa sangat bahagia sudah memiliki menantu.
Apa lagi menantunya sudah cantik, sukses. Orang tua mana pun pasti bangga memiliki menantu seperti itu.
Saat ini Amanda sedang memasangkan jas di tubuh Valentino, warna dasi dan kemeja yang pas, menambah ketampanan Valentino pagi ini.
"Dah," ucap Amanda tersenyum, bersamaan itu Valentino mencium bibir Amanda.Ciumam lembut beberapa saat.
"Hati-hati nanti saat pergi sama Mommy," ucap Valentino setelah melepas ciumannya. Ibu jarinya mengusap bibir Amanda yang basah karena ulahnya.
Amanda mengangguk.
Kemudian mereka berjalan keluar bersama, Amanda juga sudah berpakaian rapi, karena begitu setelah Valentino berangkat kerja, Amanda juga Mommy Vio akan ikut berangkat juga. Namun ke pantai asuhan bukan ke perusahaan.
Pelayan yang sedang beres-beres ruang tengah melihat Tuan Muda dan Nona Muda berjalan menuruni tangga dengan tersenyum sembari berpegangan tangan, membuat hatinya ikut bahagia, seolah kebahagian mereka menular ke pelayan itu.
Yang satu tampan, yang satunya cantik benar-benar seperti putri dan pangeran, batin pelayan itu.
Tibanya di lantai satu, Amanda tersenyum ke arah pelayan itu, yang semakin membuat pelayan itu memuji Amanda.
Amanda dan Valentino juga Mommy Vio sarapan pagi saat ini.
Setelah sarapan pagi selesai, Amanda mengantar Valentino sampai di depan rumah, Valentino mencium kening juga bibir Amanda sebelum ahirnya masuk ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian mobil dijalankan meninggalkan pelataran rumah utama. Valentino selalu menyetir sendiri, jarang dia membawa sopir atau meminta bantuan sekertaris Son, kecuali ada meeting di luar dan berangkat dari perusahaan pasti sekertaris Son yang akan mengemudikan mobilnya.
"Sayang, sudah siap?" Mommy Vio menepuk bahu Amanda, seketika membuat Amanda menoleh.
"Sudah Mom," jawab Amanda tersenyum.
"Pak Ron, ayo kita berangkat!" teriak Mommy Vio pada sang supir.
__ADS_1
Dengan segera Pak Ron mengeluarkan mobil Mommy Vio, membawa ke halaman rumah. Amanda dan Mommy Vio masuk ke dalam, dan mobil pun segera melaju.
"Nanti mungkin kita di sana akan sampai sore, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Mommy Vio, saat ini duduk di kursi belakang bersama Amanda.
"Tidak ada masalah Mom, pekerjaan kantor sudah ada Merry yang menghandle," jelas Amanda yang membuat Mommy Vio lega seketika.
"Di sana nanti banyak anak-anak pasti kamu sangat suka," ucap Mommy Vio menceritakan keadaan di sana.
"Iya Mom, tapi Amanda tidak pernah datang ke tempat seperti itu Mom selama ini, jadi merasa bersalah karena kurang peduli," ucap Amanda dengan sendu.
"Belum terlambat, mulai sekarang mari kita biasakan." Mommy Vio menasehati.
Amanda bersyukur memiliki mertua yang baik seperti Mommy Vio. Apa lagi ditambah dermawan, Amanda semakin suka dengan Mommy Vio, ingin ikut mencontoh perbuatan baiknya.
Perjalanan sekitar empat puluh menit, memang rumayan jauh, dan setelah sampai Amanda juga Mommy Vio segera keluar dari dalam mobil.
Kedatangan mereka berdua di sambut hangat oleh pengurus panti asuhan.
"Terimakasih Mommy sudah mau berkunjung," ucap ketua panti asuhan sembari memeluk Mommy Vio.
Setelah berjabatan tangan dengan keempat ibu-ibu pengurus panti asuhan, Amanda dan Mommy Vio masuk ke dalam.
Anak-anak panti tampak senang dan gembira semua mendapat mainan baru.
Di dalam ruang penerima tamu.
"Ini menantu saya, putra saya baru menikah." Mommy Vio memperkenalkan Amanda pada ibu panti dengan bangganya.
"Wah ... Selamat Mom, sekarang sudah miliki menantu kemana pun tidak sendiri lagi," ucap ibu ketua panti ikut merasa bahagia.
"Iya dulu sering ngeluh sama ibu panti kalau saya kemana pun selalu sendiri," ucap Mommy Vio yang kemudian di susul tawa. Kalau diingat-ingat malu-maluin sangking pengen punya menantu.
Tiba-tiba suara tangis anak kecil terdengar, ternyata ibu pengasuh panti masuk dengan menggendong bayi perempuan jika dilihat sekitar usia delapan bulan.
"Hei sayang kenapa nangis?" Ibu ketua panti bertanya dengan suaranya yang manja seraya mengangkat dua tangannya mau menggendong anak perempuan itu, tapi tidak mau anaknya, semakin erat memeluk ibu panti yang saat ini menggendongnya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Ibu ketua panti ahirnya.
Ibu pengurus panti menenangkan anak kecil itu tapi belum mau diam masih menangis terus.
Seketika menjadi perhatian Amanda.
"Bu, berapa bulan anaknya?" tanya Amanda tiba-tiba ingin tahu.
"Delapan bulan, tinggal sama kami masih kecil," terang Ibu ketua panti, tanpa dijelaskan lanjut Amanda mengerti bahwa anak itu dibuang oleh kedua orangtuanya.
Tiba-tiba dada Amanda terasa sesak, matanya terasa panas ingin menangis, di saat dirinya pernah menginginkan anak tapi ditakdirkan pergi, sedangkan ada orang lain diberi anak tapi malah dibuang.
Dan karena tangis anak kecil itu tidak mau diam, Amanda jadi merasa kasihan, ingin melakukan sesuatu tapi tidak yakin apa kah akan berhasil.
"Bu, apa saya boleh menggendongnya siapa tahu mau diam," ucap Amanda meminta ijin.
"Tentu boleh, silahkan." Ibu ketua panti mengijinkan.
Dengan semangat Amanda berdiri berjalan mendekati ibu pengurus panti yang sedang menggendong anak kecil itu.
"Ma-ma."
Anak kecil itu berkata mama saat melihat Amanda berdiri di depannya, dengan suara yang tidak begitu jelas.
Saat Amanda mengatungkan tangan mau menggendong, anak kecil itu mengulurkan tangan dan dalam sekejap sudah berpindah di gendongan Amanda.
"Waduh langsung diam ya nangisnya digendong Kakak cantik," ucap Ibu pengurus panti, dan anak kecil itu tersenyum seolah mengerti ucapan Ibu pengurus panti.
Amanda mengajaknya keluar untuk melihat anak-anak panti lainnya, sementara Mommy Vio melanjutkan ngobrolnya di dalam.
Dan ternyata pertemuan singkat ini begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah tiba sore hari, Amanda dan Mommy Vio harus pulang.
Setelah berpamitan dengan para pengurus panti dan anak-anak panti lainnya, saat ini Amanda memberikan anak kecil tadi yang berada di gendongannya ke ibu panti, dan seketika anak kecil itu menangis kencang saat dipindah gendongan, dia tidak mau.
"Hei Kakak cantik akan bermain ke sini lagi jangan nangis ya," ucap Amanda sebelum ahirnya pergi, dalam hatinya kasihan harus meninggalkan anak kecil itu yang menangis karena tidak mau ia tinggal.
__ADS_1
Saat tiba malam hari.
Kini Amanda dan Valentino sudah berbaring di atas ranjang dengan saling berhadapan. Amanda melukis gambar abstrak di dada Valentino yang tanpa baju, sementara itu tangan Valentino sedang memainkan rambut Amanda, ia gulung-gulung kemudian di lepas lagi begitu pun seterusnya.