Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 69. Malaikat maut.


__ADS_3

Setelah melewati drama yang panjang, ahirnya Valentino keluar dari ruang kerja Amanda, dengan hati yang terpaksa.


Sampai di dalam mobil Valentino menutupnya dengan kencang sampai menimbulkan bunyi yang memekik. Orang yang berada di sekitar parkiran mobil sampai menoleh saat mendengar suara pintu mobil yang di tutup keras.


Valentino menjalankan mobilnya dan pergi dari sana.


Sementara itu di dalam ruang kerja Amanda. Wanita itu menasehati Mommy Vio.


"Mom, kenapa Mommy galak banget sama anak sendiri?" tanya Amanda, takut melihat Valentino yang keluar dari ruang kerjanya wajahnya terlihat kesal.


"Mommy tidak galak hanya tegas sama dia, supaya dia tidak lupa dengan tanggung jawabnya," terang Mommy Vio yang dibenarkan juga oleh Amanda.


"Dia kan seorang pemimpin, tidak boleh dong bersikap seenaknya seperti itu," lanjut ucapnya lagi.


Amanda mengangguk kini paham alasan kuat Mommy Vio.


"Meski dia sudah dewasa, Mommy harus tetap tegas sama dia, karena pemimpin tidak bagus seperti itu, kasihan bawahnya nanti membuat kepercayaan mereka jadi hilang pada pemimpinnya."


Mendengar ucapan Mommy Vio barusan, Amanda berpikir Mommy Vio dulunya adalah pemimpin yang bijak sana.


Di tatap Amanda begitu lekat, Mommy Vio bicara lagi. Seolah paham dengan arti tatapan itu.


"Setelah Daddy nya Valentino meninggal, Mommy yang melanjutkan perusahaan itu, karena saat itu usia Valentino baru sepuluh tahun. Apa bila bukan Mommy siapa yang akan melanjutkan, karena Valentino masih kecil." Mommy Vio menangis teringat masa lalu.


Amanda langsung memeluk Mommy Vio, melihat Mommy Vio menangis, Amanda jadi ikutan bersedih.


"Mom, tenanglah," pinta Amanda sembari mengusap punggung Mommy Vio.


Mommy Vio masih terisak dalam pelukan Amanda, tiap kali mengingat kejadian saat itu, rasanya kejadian menyedihkan itu terekam kembali.


"Mom," ucap Amanda.


Mommy Vio melerai pelukannya, Amanda menyerahkan tisu untuk menghapus air mata Mommy Vio.


Setelah lebih tenang Amanda meminta Mommy Vio untuk istirahat, tidak ingin melihat Mommy Vio terus semakin bersedih.


"Mommy pulang saja," ucap Mommy Vio.


"Mommy yakin?" tanya Amanda memastikan, ada perasaan khawatir karena Mommy Vio baru saja menangis.


"Mommy tadi datang bersama sopir," jelasnya, yang membuat Amanda langsung lega, apa bila pulang bersama sopir berarti akan aman.

__ADS_1


Amanda dan Mommy Vio saling berpelukan sebelum ahirnya Mommy Vio pergi dari sana.


Amanda melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.


Sementara Valentino baru saja tiba di perusahaan Primer Group.


Masih menggunakan kaca mata hitam, Valentino berjalan masuk ke dalam perusahaan, para karyawan wanita yang mau masuk ke lift langsung terdiam sesaat saat melihat CEO masuk ke lift khusus para petinggi perusahaan.


Tampan sekali, gumam mereka semua yang terpaku dengan ketampanan Valentino hari ini.


Menunggu beberapa saat di dalam lift, setelah pintu terbuka Valentino segera keluar, namun matanya melihat dua karyawan wanita yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.


Dua karyawan wanita itu langsung menunduk saat melihat CEO sudah datang.


"Ada apa, kenapa kalian di sini." Sebuah pertanyaan yang terdengar sangat dingin, dua karyawan wanita itu sudah tahu bahwa saat ini CEO sedang tidak suka, dan pasti sudah menebak ada masalah.


"Maaf kan kami Tuan, saya sudah melarangnya. Tapi Nona Ervina tetap memaksa masuk ke dalam."


Seketika Amarah Valentino membuncah mendengar nama Ervina disebut, Valentino menyingkirkan dua karyawan yang berdiri di depan pintunya dengan kasar, dan membuka pintu ruang kerjanya selebar mungkin.


Brakk!! Suara pintu beradu dengan tembok.


Dua karyawan wanita tadi sampai jingkat mendengar suara yang memekik telinga itu.


Ervina tersenyum manis.


Melihat sang Tuan bersitegang dengan mantan kekasih, dua karyawan wanita tadi langsung kabur dari sana.


Valentino berjalan lebih masuk dengan aura dingin yang terpancar, tapi tidak membuat Ervina takut, ternyata nyalinya cukup berani.


"Hei, sayang kamu sudah datang," sapa lembut Ervina seraya tersenyum, bangkit dari duduknya, mau menyentuh pipi Valentino yang saat ini berdiri di hadapannya.


Tapi sebelum tangan Ervina menyentuh pipi Valentino, pria itu lebih dulu menggenggamnya kuat seperti diremat.


"AW! Sayang kau menyakitiku." Ervina masih bicara menggunakan kata lembut meski merasakan tangannya sakit seperti mau remuk.


Valentino menghempaskan dengan kasar.


"Sudah aku katakan hubungan kita sudah berakhir! Masih berani kau menunjukan wajah kamu di depan aku hah!" bentak Valentino disertai tatapan dingin yang begitu menusuk.


Ervina tertawa. "Sayang, kita putus bisa nyambung lagi, apa susahnya?" Ervina mau menyentuh pipi Valentino lagi tapi di tepis lagi.

__ADS_1


Ervina terkekeh, benar-benar wanita tida punya malu.


"Tapi sayangnya aku tidak minat balikan dengan wanita mu-ra-han seperti kamu," hina Valentino disertai senyum miring.


"Valentino! Jaga bicara kamu!" Ervina tidak terima.


"Kenapa marah? Hah! Bahkan aku tidak pernah merasakan seperti apa rasanya tubuhmu ... tapi kau sudah dicicipi sama pria lain! Aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian itu Ervina!


Kali ini Valentino benar-benar marah, sampai membuat Ervina merinding, Valentino segera menarik tangan Ervina untuk ia seret keluar.


"Valentino lepaskan!" teriak Ervina saat ditarik kasar oleh Valentino.


Namun setelah sampai di pintu, saat tangan Ervina Valentino lepaskan, wanita itu langsung memeluk kaki Valentino, memohon sama Valentino.


"Tolong beri aku kesempatan, aku mohon maafkan aku." Ervina menangis seraya memegangi kuat kaki Valentino.


Valentino menghubungi Sekertaris Son tanpa mau menjawab ucapan Ervina.


"Malaikat maut akan segera menjemputmu! Pergilah sendiri atau kau akan mati di seret sekertaris Son!"


Deg!


Ervina langsung melepas pelukannya di kaki Valentino, ucapan Valentino barusan langsung membuat Ervina ketakutan.


Tentu Ervina tahu seperti apa kejamnya sekertaris Son, tidak ingin ada yang patah tulangnya, Ervina milih bangkit dan pergi sendiri.


Valentino sudah kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.


Namun saat Ervina mau masuk ke dalam lift, bertemu sekertaris Son yang baru keluar dari sana, pandangan mata mereka bertemu, Ervina ketakutan melihat tatapan tajam sekertaris Son.


"S-saya a-akan pergi sendiri," ucap Ervina terbata-bata.


Ervina segera masuk ke dalam lift sampai tanpa sengaja menabrak bahu sekertaris Son.


Cih! wanita aneh, umpat sekertaris Son yang langsung berjalan menuju ruang kerja Valentino.


Ervina yang baru saja masuk ke dalam mobil, menumpahkan rasa kesalnya di dalam sana, Ervina menangis tidak terima di tolak oleh Valentino, pria yang dahulu begitu menginginkannya.


"Valentino kau harus jadi milikku ..." teriknya sembari memukul setir mobil.


Arghhhh!

__ADS_1


"Kau hanya milikku Valentino! Lihatlah aku akan menaklukan hatimu lagi!" ucapnya berapi-api dengan begitu yakin.


__ADS_2