
Keesokan harinya, Tomi yang mau berangkat ke kantor, di depan rumah tiba-tiba ada kurir datang.
"Permisi, Tuan. Saya mau mengantar surat," ucap kurir tersebut sembari menyerahkan amplop putih ke tangan Tomi.
Setelah Tomi menerimanya, kurir tersebut langsung ijin pamit pergi.
Baru membaca luarnya saja dari pengadilan negeri Jakarta, Tomi sudah bisa menebak bahwa surat tersebut adalah surat gugatan cerai.
Tomi memasukkan surat tersebut ke dalam tas kerjanya, kemudian masuk ke dalam mobil, dan setelah itu melesat pergi meninggalkan rumah untuk menuju kantor.
Sampai di kantor pukul delapan pagi tepat, Tomi segera mendatangi ruang kerja Amanda.
Tomi mengetuk pintu berulang kali, namun tidak ada sahutan dari dalam, Tomi mau membukanya namun masih terkunci.
"Maaf Tuan, Nyonya Amanda belum datang."
Suara Merry mengalihkan kefokusan Tomi, kemudian Tomi milih pergi dan kembali ke ruang kerjanya sendiri.
Setelah sampai di ruangannya sendiri, Tomi duduk di kursi kebesarannya. "Aku harus tegaskan sekali lagi sama Amanda, supaya dia mau menghentikan perceraian ini."
Ahirnya sembari menunggu Amanda datang, Tomi menyibukkan diri dengan menyelesaikan pekerjaan kantor.
Sementara itu, Amanda yang mau berangkat kantor, dan baru saja membuka pintu ruang apartemennya, Amanda terkejut saat kakinya mau melangkah keluar tiba-tiba menendang sebuah kado yang di letakkan di depan pintu.
Apa itu? gumam Amanda penasaran.
Amanda kemudian mengambil kado itu, kemudian membuka kado tersebut, dan betapa terkejutnya Amanda setelah berhasil membuka bungkus kado itu ternyata di dalamnya sebuah coklat merek Silverqueen.
Coklat Silverqueen tersebut bungkusnya dilapisi kertas, Amanda mengambil kertas itu yang ternyata ada tulisannya, Amanda kemudian membacanya.
...Untuk Amanda yang cantik, dimakan coklat Silverqueen nya biar makin manis....
Dari pengagum Amanda 💖
Amanda hanya terkekeh membaca tulisan tersebut, menurutnya alay seperti anak ABG, namun Amanda tidak menolak, karena mau berangkat kantor, Amanda lebih milih menyimpan surat dan coklat tersebut ke dalam tas kerjanya.
Amanda kemudian berjalan meninggalkan ruang apartemennya, saat berada di dalam lift, Amanda kepikiran tentang siapa orang yang mengirim kado itu untuknya.
Perasaan ulang tahunku sudah lewat, gumam Amanda. Terus berpikir namun juga tidak menemukan, kata pengagum Amanda, terdengar aneh, Amanda pikir orang tersebut sudah cukup lama mengenal dirinya.
__ADS_1
Tidak terasa pintu lift sudah terbuka, Amanda kemudian melangkah keluar menuju basement parkiran mobil.
Setelah sampai di sana, Amanda segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor.
Saat dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba mendapat telpon dari Jefri.
Halo Jefri," ucap Amanda setelah sambungan telepon ia angkat, Amanda sembari menyetir.
"Hari ini kita harus ketemu," ucap Jefri di sebrang sambungan telepon sana.
Amanda mengangguk seolah Jefri mampu melihat.
"Baiklah nanti siang kita bertemu, karena pagi ini aku belum bisa," jelas Amanda yang kemudian sambungan telepon dimatikan setelah mendapat jawaban ok dari Jefri.
Setelah tiga puluh menit, mobil yang Amanda kendarai tiba di perusahaan.
Setelah Amanda keluar mobil, petugas parkir perusahaan membawa mobil Amanda untuk diparkirkan, sementara itu Amanda langsung berjalan masuk ke dalam kantor.
Semua karyawannya menunduk hormat saat tahu Amanda sudah datang.
Sampainya di lantai tempat ruang kerjanya berada, saat Amanda mau memutar handel pintu, pergelangan tangannya tiba-tiba di pegang Tomi.
Amanda berdecak kesal kemudian lanjut memutar handel pintu dan masuk ke dalam, yang diikuti oleh Tomi juga.
Tomi tetap berdiri di depan meja kerja Amanda. "Kita perlu bicara."
Mendengar ucapan Tomi Amanda langsung menatap sinis, tidak penting begitulah arti tatapan sinis Amanda.
Tomi kemudian menunjukan amplop putih yang berisi surat gugatan perceraian, Tomi kemudian menyobek amplop putih itu menjadi kepingan kertas kecil-kecil, kemudian Tomi sebar mengudara dan kini jatuh bertebaran di lantai.
"Perceraian ini tidak akan pernah terjadi! aku tidak akan pernah ceraikan kamu!"
Amanda langsung bangkit dari duduknya membalas ucapan Tomi, "Dan aku akan membuat perceraian ini sampai terjadi!" jawab tegas Amanda.
Mereka berdua kini sama-sama saling menatap tajam, tidak ada yang mau mengalah semua mau maju.
"Setelah tidak ada yang mau kamu bicarakan lagi, silahkan keluar! tidak lupa kan pintunya," ucap sindiran Amanda sembari duduk kembali dengan dramatis.
Tomi menggebrak meja.
__ADS_1
Tomi sedikit membungkuk untuk menatap lekat wajah Amanda. "Kamu akan menyesal Amanda jika kamu masih nekat mau bercerai!"
Amanda tidak takut dengan ancaman Tomi, Amanda menatap tajam ke arah Tomi yang saat ini sedang berjalan pergi dari ruangan tersebut.
"Lihat saja Tomi, setelah semua bukti yang aku miliki kuat, aku yang akan membuat kamu menyesal lebih dulu. Dan aku katakan aku tidak pernah menyesal untuk berpisah dengan kamu," ucap Amanda sendirian setelah Tomi pergi.
Amanda tidak mau mikirin ucapan Tomi barusan, Amanda kemudian segera menyelesaikan pekerjaannya, karena siang nanti ada janji temu dengan Tomi.
Sementara itu Tomi yang sudah berada di dalam ruang kerjanya, pria itu kembali marah-marah, sangking kesalnya sampai membanting file-file di atas mejanya.
Ahh! keluh kesal Tomi.
"Aku akan melakukan apa pun caranya untuk kita tidak akan pernah bercerai Amanda, bila perlu aku akan membayar para pihak hukum untuk berhenti melanjutkan masalah ini," ucap Tomi sembari mengepalkan tangannya.
Setelah siang hari tiba, tepat jamnya makan siang, Amanda keluar dari gedung perusahaan Fashion Amanda Corp.
Amanda pergi menuju restoran yang sudah Jefri serlok, dengan membawa mobil sendiri, Amanda tidak mengajak Merry, karena wanita itu sudah Amanda beri dengan tugas yang lain.
Dua puluh menit, mobil yang Amanda kendarai sudah sampai di lokasi tujuan.
Amanda segera masuk ke dalam sana, di ujung sana ada Jefri yang melambaikan tangan ke arah Amanda.
Amanda segera berjalan menghampiri Jefri, tempat duduk pilihan Jefri begitu nyaman, di dekat pohon hias jadi terasa sejuk, bantuan juga dari AC.
"Aku minta kamu jangan kaget setelah melihat semua bukti-bukti ini," ucap Jefri setelah Amanda duduk dengan tenang.
Amanda membaca informasi yang Jefri dapatkan. Seketika mulut Amanda menggangga, sungguh tidak percaya, Amanda menatap Jefri masih dipenuhi rasa terkejut, Jefry mengangguk menandakan bahwa semua itu yang Amanda baca adalah benar.
Jadi Tomi pecinta sesama laki-laki, baca ulang Amanda dalam hati, Amanda menggelengkan kepala, sungguh sulit dipercaya.
Pantesan saja dia begitu tegas mengatakan tidak mencintaiku, ternyata itu alasannya, sungguh aku yang bodoh karena sudah menikahi pria berkelainan, batin Amanda menyedihkan.
Jefri kemudian menunjukan bukti yang lainnya, soal harta Amanda yang sudah Tomi ambil.
Amanda meremat jemarinya, Amanda langsung menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan, untuk menenangkan dirinya.
"Semua ini sudah cukup Jefri, terimakasih sudah membantu aku, aku tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa bantuan kamu."
"Hei, jangan bicara yang menyedihkan seperti itu, kita adalah teman," sahut cepat Jefri sembari menggenggam tangan Amanda.
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyum.
Senyum keduanya berhasil di foto oleh pria yang berdiri tidak jauh dengan mereka, kemudian langsung dikirimkan ke bosnya untuk dijadikan laporan.