
Di dalam sebuah ruangan mendominasi serba putih, seorang wanita cantik hanya bisa tertunduk hancur setelah mendengar penjelasan dari seorang dokter.
Nyonya bayi Anda tidak bisa kami selamatkan, benturan keras yang mengenai perut Nyonya menyebabkan Anda keguguran.
Aaaa! mengingat ucapan dokter tadi semakin membuat Amanda hancur, rasanya lebih sakit ditinggal oleh calon bayinya yang setiap detiknya telah di impi-impikan yang nantinya akan bersama dan merawatnya namun kini telah pergi.
Valentino dan Merry tetap berada di luar, karena Amanda tidak mau bertemu siapa pun.
Valentino ijin pulang dulu pada Merry karena tadi belum ganti baju, dan akan segera kembali lagi.
Merry hanya bisa menatap sedih melalui jendela yang memperlihatkan Amanda di dalam sana.
Di dalam sana Amanda hanya bisa menumpahkan rasa sakitnya melalui air mata, rasanya hidupnya langsung gelap tidak ada warna, ketika hanya calon bayinya yang menjadi semangatnya selam ini dan saat ini pergi meninggalkan Amanda sendiri, seketika hidup ini tidak ada artinya.
Amanda menunduk dengan derai air mata. "Kenapa kamu pergi tinggalkan Ibu sendiri, kenapa anakku? Di saat Ibu tidak miliki siapa-siapa lagi selain kamu, bahkan kamu yang menemani Ibu sampai sejauh ini ... Tapi kenapa kamu pergi di saat Ibu belum bisa melihat wajahmu ... Belum bisa menggendongmu ... Belum bisa memciummu, kenapa anakku ...."
Amanda memukul-mukul dadanya rasanya sesak di dalam sana, air matanya semakin deras membasahi pipi menangis tanpa suara.
Di luar ruangan Merry ikutan menangis dan ahirnya memutuskan untuk menjauh dari jendela, Merry duduk di kursi tunggu menangis di sana.
Melihat Amanda yang hancur seolah Merry juga yang merasakan kesakitan rasanya kehilangan.
Apa yang bisa aku perbuat untuk bisa mengembalikan semangat dan senyum Nyonya, aku tidak ingin melihatnya berlarut-larut dalam kesedihan seperti itu, batin Merry ikut bersedih.
Tiba-tiba Tomi datang dan langsung membuka pintu ruang tersebut. Tomi berdiri mematung di ambang pintu melihat keadaan Amanda yang begitu menyedihkan.
Merry berdiri tercengang melihat kedatangan Tomi. Namun saat melihat Amanda tidak menolak Tomi datang Merry tidak jadi mengusir pria itu.
Amanda dan Tomi saat ini saling tatap. Apa bila Tomi menatap Amanda penuh perasaan bersalah, tidak menyangka bahwa perbuatannya itu sampai membuat Amanda keguguran dan kehilangan anaknya. Berbeda dengan Amanda yang melihat Tomi penuh kebencian.
Tomi berjalan mendekati Amanda, saat sudah di dekat Amanda tangan Tomi memegang lengan Amanda dengan menangis.
"Amanda maafkan aku," ucap Tomi lirih sungguh tidak tega melihat Amanda yang seperti ini.
"Kamu mau kan maafkan aku Amanda?"
Dengan tidak tahu malunya Tomi masih mempertanyakan hal itu, bahwa Amanda akan memaafkannya.
__ADS_1
Tapi Amanda tetap diam tidak bicara hanya air mata yang terus mengalir deras.
Tomi semakin tidak tega melihat Amanda, Tomi memeluk Amanda. "Jangan seperti ini Amanda, jangan rapuh, maafkan aku, kembalilah seperti Amanda yang dulu, yang ceria jangan sedih seperti ini."
"Kau pembunuh!"
Mendengar suara Amanda Tomi langsung melerai pelukannya dan beralih menatap wajah Amanda, Tomi menangkup wajah Amanda. "Aku tidak tahu bila ahirnya akan seperti ini," ucap Tomi menyakinkan.
Plak!
"Masih bisa berkata tidak tahu."
Plak!
"Ayah macam apa kamu!"
Plak!
"Kau iblis bukan manusia! Kau jahat! Kau keterlaluan ..." teriak Amanda yang kembali terus menampar Tomi berulang kali.
Meski pipinya sudah merasa kebas dan terasa panas Tomi tidak melawan membiarkan Amanda melakukannya, sekarang Tomi sadar bahwa dirinya memang sudah keterlaluan.
Valentino yang baru saja datang langsung memegangi Amanda untuk berhenti menampar Tomi.
Bukan untuk melindungi Tomi, tapi untuk melindungi Amanda, kehilangan calon bayinya membuat kesehatan mental Amanda terganggu.
Aaaaa! Teriak Amanda di pelukan Valentino. Sembari mengusap punggung Amanda untuk lebih tenang, Valentino menoleh ke arah Tomi. "Pergilah biarkan Amanda tenang dahulu." Valentino bicara dingin.
Dengan berat hati Tomi ahirnya pergi.
Anakku anakku, gumam Amanda dalam Isak tangisnya.
Bibir pucat itu terus meracau memanggil anakku dan tubuhnya bergetar bertanda dia sedang menangis.
Tanpa Amanda ketahui saat ini Valentino juga ikutan menangis, entah kenapa rasanya juga ikutan sakit melihat Amanda serapuh ini.
Valentino hanya bisa berandai-andai, andaikan dirinya ada di sana pasti semua ini tidak akan terjadi, Amanda tidak akan sampai keguguran.
__ADS_1
Valentino sangat sedih melihat keadaan ini, andaikan dirinya bisa menukar akan ia tukar kesedihan Amanda dengan kebahagiaannya, biar cukup Valentino saja yang merasa sedih jangan Amanda.
Namun sayangnya itu hanya sekedar angan-angan yang tidak mungkin terjadi, karena kenyataannya tidak pernah bisa di tukar.
Amanda melepas pelukannya kini menata Valentino. "Dia jahat dia pembunuh anakku," ucap Amanda dengan menangis pilu.
Plis Manda jangan seperti ini, batin Valentino yang kembali memeluk Amanda. Semakin tidak tega melihat Amanda yang seperti ini.
"Dia pembunuh dia pembunuh dia pembunuh ..." teriak Amanda dalam pelukan Valentino.
Valentino semakin erat memeluk Amanda supaya wanita itu bisa tenang.
Tidak lama kemudian dokter datang bersama dua perawat, Valentino membantu Amanda berbaring di atas ranjang, kemudian membiarkan Dokter memeriksa Amanda.
Valentino menunggu di luar .
Di dalam sana, dokter menyuntikkan obat penenang untuk Amanda supaya bisa istirahat.
Setelah pemeriksaan selesai Dokter keluar kemudian menjelaskan keadaan Amanda.
"Tuan, sebaiknya pasien di dalam jangan sampai stres, bila perlu di hibur supaya lupa dengan kesedihannya, supaya segera pulih kesehatannya," ucap Dokter tersebut sebelum ahirnya pergi.
Valentino mengusap wajahnya dengan kasar sembari kembali duduk, Valentino sedang berpikir untuk melakukan sesuatu.
"Apa proses perceraian Amanda sudah dilakukan?" tanya Valentino pada Merry.
"Sudah Tuan, hanya saja dipersulit, Tuan Tomi yang mempersulit," jelas Merry yang langsung mendapat helaan nafas berat Valentino.
Valentino memukul kursi tunggu di sebelahnya, ikut geram dengan Tomi. Ingin rasanya membantu proses perceraian Amanda dan Tomi supaya cepat selesai, tapi sadar tidak miliki kewajiban, dan ingat pesan Mommy Nya.
Sementara itu Amanda yang saat ini sedang tidur, di alam mimpi Amanda bertemu dengan seorang anak bayi.
Melihat bayi kecil itu yang kulitnya putih bersih dan bersinar, Amanda bahagia dan ingin mendekati mau menggendong bayi itu.
Namun saat tangan Amanda mau mengambil bayi itu, seorang wanita berjubah putih lebih dulu mengambil bayi itu dan menggendongnya kemudian membawanya berjalan pergi.
"Anakku ... Anakku ... Kembalikan anakku!" teriak Amanda memanggil bayi itu sembari tangganya ingin menjangkau orang tersebut.
__ADS_1
Amanda berlari ikut mengejar langkah orang itu yang membawa bayi, namun Amanda tiba-tiba tersandung hingga jatuh.
"Anakku ..." teriak Amanda sembari melihat orang yang tadi membawa bayi namun semakin lama semakin hilang dari pandangan matanya.