
Setelah lama menangis di depan pintu apartemen Amanda, dan tidak kunjung dibukakan juga oleh Amanda, ahirnya Tomi mutusin untuk pergi dari sana.
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan pagi, Tomi ingin segera pergi ke Singapura untuk menemui kedua orang tuanya, Tomi ingin minta tolong dengan mereka untuk membantu membujuk Amanda.
Pukul sembilan pagi pesawat yang Tomi tumpangi lepas landas.
Setelah menempuh perjalanan satu jam tiga puluh menit, pesawat yang membawa Tomi mendarat di Bandara Changi Singapura.
Setelah keluar dari bandara, Tomi segera memesan taksi online, tidak lama kemudian taksi itu datang, Tomi segera masuk ke dalam, mobil melaju ke tempat tujuan.
Tiga puluh menit, kini Tomi sudah sampai di depan rumah kedua orang tuanya, setelah membayar tagihan taksi, Tomi menekan bel rumah, tidak lama kemudian pelayan rumah datang dan membukakan pintu untuk Tomi masuk ke dalam.
Tomi duduk di kursi sofa tempat ruang keluarga, ibunya sedang di panggil oleh pelayan, Tomi bersandar di sana, kepalanya terasa pusing tidak henti-hentinya terus memikirkan Amanda.
"Tomi."
Ibu Lili datang, saat ini masih turun menapaki anak tangga, Tomi melihat ke arah ibunya.
"Ibu." Mata Tomi berkaca-kaca.
Ibu Lili yang melihat Tomi ingin menangis jadi mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa Tomi?" tanya Ibu Lili yang saat ini baru duduk di sebelah Tomi.
"Ayah dimana, Bu?" Tomi tidak menjawab pertanyaan ibunya, tapi malah bertanya soal ayahnya.
"Ayah masih di kantor," jawab Ibu Lili seraya memperhatikan wajah putranya, yang terlihat miliki beban berat.
Ada apa dengan Tomi, gelagatnya aneh tidak seperti biasanya, batin Ibu Lili penasaran.
"Kamu sebenarnya ada apa-."
"Nyonya, ada telfon dari Tuan," ucapan pelayan yang baru saja datang memotong ucapan Ibu Lili untuk Tomi.
Ibu Lili segera menuju ruang tamu dan mengangkat telepon rumah.
"Kenapa ayah mau pulang?" tanya Ibu Lili panik saat bicara dengan suaminya di sambungan telepon.
__ADS_1
"Ya, udah jika ayah sakit pulang saja sekarang," ucap Ibu Lili sebelum telepon rumah dimatikan.
Ternyata Ayah Andre lagi kurang enak badan, barusan ngabarin mau pulang, Ibu Lili tampak khawatir karena tidak biasanya suaminya sakit dadakan seperti itu.
Perasaan tadi pagi masih sehat-sehat saja Ayah, batinnya kemudian berjalan menuju ruang keluarga lagi.
"Ada apa Ibu?" tanya Tomi saat melihat wajah sedih Ibu Lili setelah menerima telepon dari ayahnya.
"Ayah sakit sebentar lagi mau pulang," ucapnya dengan sendu.
Tomi terdiam seraya melihat ke bawah, Tomi saat ini jadi bingung, mau minta tolong dengan kedua orang tuanya tapi ayahnya malah lagi sakit, Tomi mengusap wajahnya.
Ibu Lili ternyata memperhatikan sikap Tomi sedari tadi, dan rasa penasarannya semkin tinggi ingin tahu permasalahan yang Tomi alami saat ini.
"Tomi, jawab pertanyaan Ibu, apa kamu berantem dengan Amanda?"
Tomi seketika terkejut mendengar pertanyaan sang Ibu, tapi Tomi tidak akan berbohong merasa ibunya sudah bertanya maka Tomi menjawab dengan anggukan kecil.
"Tomi!" pekik Ibu Lili seketika setelah Tomi mengiyakan pertanyaannya.
"Maaf Bu, kedatangan Tomi kemari ingin meminta bantuan Ibu dan ayah," ucap Tomi seraya melihat ibunya dengan pandangan memohon.
Bibir Tomi terasa terkunci lidahnya kelu untuk mengatakan yang sebenarnya, khawatir bila ibunya akan syok setelah mendengarnya.
"Tomi jawab Ibu!"
"Amanda minta cerai Ibu."
Seketika kepala Ibu Lili berdenyut mendengar ucapan Tomi, tidak menyangka rumah tangga yang selama ini terlihat harmonis dan baik-baik saja ternyata menyimpan masalah besar di dalamnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan sampai Amanda meminta cerai!"
"Amanda minta cerai," ulang Ayah Andre yang baru pulang dari tempat kerja, jalanan sepi membuatnya cepat sampai di rumah.
Ibu Lili dan Tomi sama-sama terkejut mendapati Ayah Andre yang sudah sampai di rumah.
__ADS_1
"Ibu, apa maksudnya?" tanya Ayah Andre yang kini duduk di sebelah Ibu Lili, menatap intens Ibu Lili.
"Ayah, Tomi dan Amanda mau bercerai," ucap Ibu Lili lirih seraya menangis.
Ayah Andre langsung menatap tajam ke arah Tomi. "Benar itu Tomi, jawab!"
Tomi mengangguk cepat, kepalanya menunduk dalam, tidak berani menatap mata Ayah Andre yang pasti terlihat kecewa.
"Apa yang sudah kamu lakukan, apa!" sentak Ayah Andre, Ibu Lili mengusap lengan suaminya supaya marahnya mereda, mengingat Ayah Andre saat ini sedang kurang baik kesehatannya.
"Maafkan Tomi Ayah Ibu, semua salah Tomi hingga Amanda tidak bisa memaafkan kesalahan Tomi, tapi Tomi tidak mau bercerai, Ayah Ibu." Tomi memohon mengatupkan tangan di depan dada.
"Itu masalah kamu, Ayah dan Ibu tidak bisa membantumu!" bentak Ayah Andre dengan tatapan kesal ke arah Tomi.
"Tidak, Ayah Ibu, Amanda sangat dekat dengan kalian, aku yakin Amanda akan mendengarkan nasehat, Ayah dan Ibu."
Ucapan Tomi terdengar meyakinkan di telinga kedua orang tuanya, namun tetap saja urusan mereka berdua, Ayah Andre dan Ibu Lili sebenarnya tidak boleh ikut campur.
Meskipun kesal melihat putranya yang sudah membuat kesalahan, tapi juga tidak bisa dibohongi bila harapan Ayah Andre dan Ibu Lili bahwa pernikahan Tomi dan Amanda tetap bisa terselamatkan.
"Ibu akan bicara dengan Amanda, semoga Amanda mau mendengarkan," putus Ibu Lili, yang siap akan membantu Tomi.
Tomi langsung tersenyum setelah berhasil mendapat bantuan kedua orang tuanya.
"Terimakasih Ayah Ibu, terimakasih."
Tomi tidak bisa berlama-lama di Singapura, setelah urusannya dengan kedua orang tuanya selesai, selang satu jam Tomi pamit untuk kembali ke Indonesia.
Tomi yang saat ini sudah berada di dalam pesawat, tersenyum lega, hatinya sudah sedikit tenang, tidak seperti saat tadi mau berangkat.
Setelah pesawat mendarat di bandara Sukarno-Hatta, Tomi segera turun dari pesawat, menuju pintu keluar, dan segera pergi dari bandara, tadi saat masih di dalam pesawat sudah menghubungi sopirnya untuk menjemput, jadi saat Tomi keluar bandara langsung naik mobil.
Mobil yang Tomi tumpangi menuju rumahnya lebih dulu, istirahat di dalam rumah, setelah tiba malam hari Tomi mendatangi apartemen Amanda lagi.
Tomi yang saat ini sudah berdiri di depan pintu apartemen Amanda terus mengetuk pintu, dan terus menekan bel, tapi Amanda juga tidak kunjung keluar.
__ADS_1
Di dalam sana Amanda tahu bila Tomi ada di luar saat ini, tapi Amanda malas mau membuka pintu, lebih asyik nonton film Drakor yang lagi romantisan.
Di luar sana Tomi terus saja menekan bel dan mengetuk pintu, sampai lama-lama Tomi merasa mengantuk dan lelah, ahirnya Tomi tertidur di depan pintu apartemen Amanda.