
Amanda bersama Jihan juga Rita, saat ini sedang makan malam di restoran, mereka bertiga baru saja sampai, dan baru ingin memesan makanan.
"Kamu mau makan apa? Jihan dan Manda?" tanya Rita yang saat ini sedang memilih menu makanan.
"Spaghetti bolognese, mau?" tanya Rita lagi sembari menatap Amanda dan Jihan bergantian.
"Boleh," jawab Jihan dan Amanda bersamaan.
"Minumannya juga sama, di sini aku pesan jus jeruk," ucap Rita lagi yang langsung mendapat anggukan kepala Jihan dan Amanda.
Rita kemudian menunjuk menu apa saja yang tadi ia pesan ke pelayan restoran.
"Ditunggu ya Kak pesanannya, permisi?" ucap pelayan tersebut sebelum ahirnya pergi.
Jihan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya lihat-lihat orang di dalam Instagram, matanya tiba-tiba terbelalak lebar saat melihat pria tampan yang sudah diikuti selama ini.
Jihan mempamerkan foto pria tampan di Instagram itu ke Amanda. "Manda lihat dia tampan kan," ucap Jihan sembari tersenyum.
Amanda melihat sekilas, tapi tidak memberi reaksi apa pun, Jihan mendengus kesal.
"Mata Jihan itu kadang buram, pria jelek kadang di bilang tampan," celetuk Rita menimpali disertai tawa.
"Ih, tidak ya, ini beneran tampan tau," ucap Jihan yang tidak mau idolanya dibilang jelek.
Obrolan mereka berhenti saat pelayan restoran datang mengantarkan pesanan makanan mereka.
Saat makan bersama, mereka juga diselingi obrolan ringan yang kadang malah Jihan dan Rita seperti tikus dan kucing, Amanda hanya bisa geleng-geleng kepala, karena tingkah dua temannya itu masih tetap sama seperti waktu sekolah dahulu.
Tidak terasa sembari diselingi dengan bicara kini makanan mereka sudah habis, tapi bisa-bisanya minuman Jihan habis lebih dulu dan malah merebut punya Rita, mereka jadi ribut lagi.
Suara ribut mereka berdua terhenti saat ada pria yang tidak diundang tiba-tiba datang menghampiri Amanda.
Dengan tidak tahu malunya pria itu mau menggenggam tangan Amanda, namun dengan segera Amanda tepis.
"Amanda aku mohon pulang ya? beri aku kesempatan untuk perbaiki kesalahan aku," ucap Tomi dengan sangat memohon bahkan matanya sudah berkaca-kaca, entah akting atau beneran sedihnya itu.
"Sayangnya setiap kali aku melihat wajahmu, aku semakin ingin pergi jauh darimu."
Tomi menggelengkan kepala mendengar ucapan Amanda, sungguh bukan ini yang mau Tomi dengar.
Amanda tiba-tiba memecahkan gelas ke lantai.
__ADS_1
Tomi langsung kaget, Jihan juga Rita. Pelayan datang menghampiri, namun sebelum pelayan itu bicara, Amanda mengangkat tangannya bertanda pelayan harus diam.
"Aku akan ganti gelas itu dengan harga satu juta atau dua juta atau lima juta. Aku bisa, tapi? aku tidak bisa mengembalikan gelas yang udah pecah itu kembali utuh," ucap Amanda sembari menunjuk pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Amanda menunjuk dadanya. "Di dalam sini Tomi yang tidak bisa kamu perbaiki."
Tomi nangis mendengar ucapan Amanda, dirinya tahu yang dirasakan Amanda saat ini begitu sakit, dan semua ini salahnya, dan kerena salahnya juga sekarang semua berantakan, bahkan akan lebih berantakan andai bercerai tapi tidak mendapatkan harta Amanda, dalam hati Tomi sangat menyesal.
Amanda menghadap ke arah lain. "Pergilah!"
"Amanda aku-."
"Pergi Tomi!" sarkas cepat Amanda.
Jihan jadi geram melihat Tomi yang bersikeras tidak mau pergi, Jihan menyiram wajah Tomi dengan air jus.
Byurrr!
Tomi gelagapan saat tiba-tiba mendapati wajahnya disiram begitu saja.
"Pergi Lo pergi!" bentak Jihan yang tidak kalah galak suaranya di bandingkan Amanda.
Tomi mengusap wajahnya dengan kasar kemudian pergi dari tempat tersebut.
"Yang sabar kamu pasti bisa melewati semua ini, ada kami berdua yang selalu bersamamu," ucap Rita sembari memeluk Amanda.
"Terimakasih kalian sudah baik sama aku," ucap Amanda yang begitu bersyukur memiliki dua teman baik seperti Jihan juga Rita.
Sementara itu Tomi yang saat ini sudah berada di dalam mobil, langsung memukul stir mobil, menumpahkan rasa kesalnya di sana.
Arghhhh!
Sial! Sial!
Teriakan Tomi campur rasa umpatan.
"Aku tidak mau cerai dengan kamu Amanda, aku tidak mau ..." teriak Tomi sembari menangis.
"Aku salah Amanda aku minta maaf ...."
"Amanda ...."
__ADS_1
Di dalam mobil Tomi terus berteriak minta maaf pada Amanda, sampai-sampai sekuriti penjaga parkiran mendekati Tomi, karena suara Tomi itu mengganggu ketenangan orang lain.
Bagaimana tidak menganggu, karena Tomi tidak menutup kaca jendela pintu mobil, dan pasti suara Tomi terdengar orang lain.
"Maaf Tuan tolong jangan berisik di sini," ucap sekuriti tersebut.
Tomi langsung sadar bahwa dirinya bukan ditempat sepi, karena pikirannya yang buntu, sampai tidak menyadari bahwa saat ini berada di tempat keramaian.
Andai berteriak di tempat sepi, para setan juga pasti terganggu Tom-Tom? cibir hati Tomi yang waras.
Tomi kemudian meminta maaf pada sekuriti tersebut, sebelum ahirnya menyalakan mesin mobil dan membawanya pergi dari tempat tersebut.
Amanda bersama Jihan juga Rita, saat ini bersiap untuk pulang, makan bersama sudah selesai, ngobrol-ngobrol juga sudah selesai, saatnya untuk pulang.
Setelah mereka bertiga sampai di halaman restoran, tiba-tiba ada anak kecil yang menghampiri mereka, membuat langkah mereka yang mau menuju parkiran mobilnya jadi terhenti.
"Kakak," ucap lembut anak kecil sekitar usia delapan tahun menggunakan baju biasa.
Amanda berjongkok mensejajari tinggi anak itu. "Ada apa? ada yang bisa Kakak bantu, mau Kakak anterin pulang?"
Anak kecil itu menggeleng cepat, tangan mungilnya menyerahkan setangkai bunga mawar untuk Amanda. "Ini."
Amanda menerima bunga mawar itu, anak kecil itu langsung berlari, Jihan dan Rita terus melihat kemana anak kecil itu berlari, karena posisi malam hilangnya anak itu tidak terlihat.
Amanda membaca surat yang dililitkan di tangkai bunga mawar itu.
Dari pengagum Amanda.
Jihan juga Rita yang ikut membaca tulisan itu langsung ledekin Amanda.
"Ciee ... dari siapa itu? wah pengagum lho katanya, aku jadi penasaran," ucap Jihan disertai tawanya yang renyah.
Amanda menghela nafas panjang kemudian berdiri lagi. Memukul lengan Jihan yang sudah berani ledekin dirinya. Mereka bertiga jadi tertawa bersama.
Setelah masuk ke dalam mobil, Jihan langsung melajukan mobilnya, tujuan pertama ke apartemen Amanda, karena tadi pergi menggunakan mobil Jihan.
Empat puluh menit, mobil yang Jihan kendarai sudah sampai di apartemen Amanda.
Amanda melambaikan tangan setelah keluar dari dalam mobil tersebut.
Jihan kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.
__ADS_1
Amanda berjalan masuk ke gedung Apartemen, saat berpapasan dengan orang yang Amanda kenal, Amanda tersenyum. baru tinggal beberapa Minggu di apartemen ini, Amanda sudah dikenal sebagai wanita ramah dan tidak sombong.