Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 59. Deal kita menikah.


__ADS_3

Amanda yang sudah sampai di apartemen diantar pulang oleh Valentino, merasa tidak bisa tidur. Sudah berusaha memejamkan matanya tapi pikirannya masih teringat kejadian kecelakaan tadi.


Amanda mengubah posisi tidurnya menjadi telentang, tangan Amanda menyentuh keningnya yang diperban oleh Valentino.


Ya, tadi Valentino yang memperban kening Amanda bahkan Amanda sampai tersanjung dengan perhatian Valentino yang terlihat begitu khawatir dengannya.


"Apa aku harus terima tawaran menikah dengan Valentino? atau aku tetap seperti ini, tapi bagaimana jika ke depan semakin mengerikan? Hah apa sih salah aku sampai ada orang yang meneror aku?" Amanda bertanya pada diri sendiri.


Malam yang panjang ini benar-benar membuat Amanda sulit untuk tidur, sudah berulang kali merubah posisi tidur namun tetap saja mata tidak bisa terpejam.


Pikiran yang ruet bagai benang kusut membuat Amanda tidak tenang, lama membuat Amanda terjaga hingga ahirnya entah dipukul jam berapa Amanda tertidur.


Setelah pagi menyambut, Amanda bangun dengan mata yang terasa sangat berat, tapi Amanda tetap harus memaksa tubuhnya bangun karena suara dering alarm sudah berseru memanggil Amanda.


Amanda menuju kamar mandi membersihkan diri lebih dulu, lima belas menit Amanda sudah keluar dari sana.


Amanda berganti pakaian kerja, kemudian menyisir rambutnya, dan memoles wajahnya tipis-tipis.


Amanda memperhatikan wajahnya di cermin, menghela nafas panjang sebelum ahirnya menyambar tas kerjanya kemudian keluar dari kamar.


Pagi ini Amanda hanya sarapan menggunakan sandwich, sama susu tawar. Sepanjang sarapan Amanda melamun, masih memikirkan keputusan yang tepat untuk ia ambil.


Sampai ahirnya Amanda melihat jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul tujuh pagi, Amanda memutuskan untuk berangkat ke kantor.


Setelah Amanda berada di dalam mobil, Amanda tidak fokus menyetir hampir saja Amanda Menabrak anak kucing.


Amanda mengusap dadanya dengan nafas terengah-engah, seketika kejadian kemarin terekam kembali.


"Ayo lah Amanda kamu harus berhati-hati," ucap Amanda pada diri sendiri yang kemudian melajukan kembali mobilnya.


Tidak lama kemudian mobil pun sampai di perusahaan, Amanda keluar dari sana dan segera masuk ke dalam setelah memberikan kunci sama penjaga parkir untuk memarkirkan mobilnya.


Kedatangan Amanda sebagai pemimpin nomor satu di perusahaan Fashion Amanda Corp di hormati semua orang, para karyawan menunduk hormat saat Amanda datang.


Sampai di dalam ruang kerjanya, Amanda membaca agenda hari ini, tidak lama kemudian Merry datang masuk ke dalam ruang kerja Amanda.

__ADS_1


"Merry, apa hari ini aku ada jadwal untuk keluar?" tanya Amanda menatap Merry sekilas yang baru datang itu kemudian kembali fokus dengan kertas di tangannya.


"Hari ini tidak ada pekerjaan di luar Nyonya," jawab Merry dengan pasti karena tadi sebelum dirinya datang ke mari sudah memastikan agenda Amanda hari ini.


Setelah mendengar jawaban Merry, Amanda seperti memikirkan sesuatu dan entah apa yang Amanda pikirkan tiba-tiba saja Amanda langsung melenggang pergi.


Merry hanya bisa diam melihat Amanda yang tiba-tiba pergi, Merry milih menyelesaikan pekerjaannya.


Dan disinilah Amanda sekarang setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, Amanda berdiri di depan gerbang rumah milik Valentino.


Tidak lama kemudian gerbang dibuka, Amanda membawa masuk mobilnya, setelah terparkir di halaman rumah yang luas itu, Amanda keluar dari dalam sana.


Di teras rumah Mommy Vio sudah menyambut kedatangan Amanda. Mereka berdua sama-sama melempar senyum, Mommy Vio langsung memeluk Amanda setelah Amanda berada di depannya.


"Kenapa mau datang dadakan seperti ini? kan apa bila memberi tahu dari awal Mom bisa mempersiapkan sesuatu," ucap Mommy Vio setelah melerai pelukannya sembari mengusap rambut panjang Amanda yang terasa halus.


Amanda tersenyum. "Sesuatu apa sih Mom? Amanda datang kesini bukan untuk meminta sesuatu," ucap Amanda terus terang sembari berjalan masuk ke dalam rumah bersama Mommy Vio.


Mommy Vio mengajak Amanda duduk di kursi ruang keluarga, di sana ada televisi yang besar, baru saja Mommy Vio bersantai sembari nonton TV.


"Mommy suka lawak?" tanya Amanda karena melihat tayangan televisi yang Mommy Vio putar.


"Oh iya dong supaya awet muda," ucap Mommy Vio yang di susul tawa.


Amanda ikut tersenyum kecil.


Tidak lama kemudian Valentino datang, sebelum Amanda sampai di rumah ini, sudah mengabari Valentino bahwa Amanda mau datang ke rumah, dan sekarang pria itu sudah tiba yang tadi sudah berangkat kantor.


"Tuh Valentino sudah pulang," ucap Mommy Vio memberi tahu Amanda sembari menunjuk Valentino.


Valentino mencium punggung tangan Mommy Vio juga kening sang Mommy.


Valentino berjalan menuju ruang kerjanya yang ada di rumah ini, Amanda menyusul dari belakang.


"Mom, Amanda pamit dulu ya," ucap Amanda yang dibalas senyuman Mommy Vio.

__ADS_1


Setelah Amanda masuk ke dalam, Amanda kembali mengunci pintu itu, dan duduk di depan Valentino dengan meja sebagai pembatas.


Valentino duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan santai dan tatapan intens ke arah Amanda. Siap menunggu kalimat yang akan Amanda ucapkan, dalam hati Valentino pria itu menghitung mudur.


3


2


1


"Bagaimana caranya aku bisa percaya bila kamu benar-benar mencintaiku? Sedangkan aku memiliki pengalaman buruk dalam rumah tangga."


Valentino tersenyum kecil dalam hatinya sudah menduga bahwa Amanda akan menanyakan hal tersebut.


Valentino membuka laci meja kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. "Dengan ini." Valentino menyerahkan empat surat aset yang pernah dijual Tomi dan Valentino beli lagi untuk diberikan Amanda.


"Ini kan-," ucapan Amanda terhenti begitu terkejut melihat empat surat aset itu yang berpindah di tangan Valentino.


"Itu adalah milikmu, dan sudah seharusnya berada di tanganmu," jelas Valentino yang semkin membuat Amanda tidak percaya.


"Kamu mengambil ini," tunjuk Amanda di empat surat itu.


"Lebih tepatnya aku membeli lagi dari orang yang sudah membeli aset milikmu itu," jelas Valentino semakin membuat Amanda terharu, begitu besar perjuangan Valentino, semua surat ini sangat berharga bagi Amanda.


Amanda tampak berpikir.


"Katakan apa yang ingin kau mau untuk aku buktikan," perintah Valentino seolah mampu membaca pikiran Amanda saat ini.


"Seluruh kekayaan yang aku miliki akan aku berikan kepadamu." Valentino meletakan beberapa kartu miliknya yang di dalamnya banyak nilai mata uang sampai tak terhitung, dan surat wasiat seluruh kekayaan di atas meja.


Amanda melihat kartu milik Valentino serta surat wasiat kekayaan itu dengan kepala menggeleng, Amanda tidak butuh semua itu yang Valentino tunjukan.


Amanda sedikit ragu mau mengatakan tapi memang harus Amanda sampaikan, "Em aku meminta jangan menyentuh aku. Em maksud aku-."


"Aku tidak akan memaksa apa bila kau belum siap." Valentino menyembunyikan senyumnya di balik bibir.

__ADS_1


"Baiklah deal kita menikah," ucap Amanda yakin, mereka berdua berjabatan tangan seperti sedang melakukan kesepakatan kerja sama.


__ADS_2