Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 66. Pulang ke rumah Valentino.


__ADS_3

Amanda yang baru saja mau terlelap tiba-tiba merasakan tangan kokoh melingkar di pinggangnya.


Amanda mendesah kasar sudah tahu siapa pemiliknya, Amanda menatap tajam ke arah Valentino yang saat ini tersenyum ke arahnya. "Valentino, kesepakatannya tidak seperti ini! Kau melewati batas yang sudah aku buat, kau singkirkan kemana bantal gulingnya!"


Valentino malas menjawab ucapan Amanda, tidak pedulikan ocehan Amanda, Valentino tetap memeluk Amanda sembari menempelkan pipinya dengan pipi Amanda.


"Mari tidur aku lelah," bicara lembut, mencium pipi Amanda.


Sekuat apa pun Amanda memberontak minta dilepaskan tapi tetap saja tidak akan bisa membuat tangan Valentino teralihkan, tidak ada yang bisa Amanda lakukan selain pasrah sekarang, tubuhnya juga lelah dan ingin segera tidur.


Malam ini mereka tidur bersama melewati malam panjang tanpa melalukan hal lebih.


Keesokan harinya.


Di rumah kediaman Mommy Vio, di dapur sudah riuh sibuk memasak, bahkan Mommy Vio ikut turun tangan mempersiapkan sarapan.


Entah untuk sarapan entah untuk makan siang, yang pasti Mommy Vio mau menyiapkan karena hari ini Valentino dan Amanda akan pulang ke rumah.


Hah Mommy Vio baru membayangkan saja sudah mersa bahagia, karena sebentar lagi rumahnya akan ramai dengan bertambahnya Amanda.


Apa lagi bila nanti ada sang cucu yang lahir pasti akan semakin ramai dan bewarna rumah ini. Mommy Vio memotong sayuran malah sembari melamun membayangkan hal-hal indah.


Mommy Vio akan memasak menu makanan yang beraneka untuk menyambut Amanda, karena hari ini pertama kalinya Amanda akan tinggal di sini.


"Ayo cepat cuci sayuran segar ini," titahnya pada pelayan untuk mencuci sayuran segar yang baru selesai Mommy Vio potong.


"Dagingnya harus empuk ya," bicara lagi sama pelayan yang mau memasak daging.


Mommy Vio melihat ke arah pelayan yang lagi menggoreng tempe mendoan. "Tempenya jangan terlalu kering ya, enakan masih basah-basah."


Pelayan itu mengangguk patuh.


Begitupun seterusnya, semua pelayan yang memegang bagian memasak Mommy Vio beri saran sesuai keinginannya.


Setelah sayuran selesai di cuci, Mommy Vio segera menumis sayuran tersebut. Tinggal menambahkan bumbu dan sayuran pun telah jadi. Menunggu beberapa saat sudah bisa diangkat.


Satu jam berlalu, kini semua masakan sudah matang, para pelayan memindahkannya ke meja makan.


Mommy Vio kembali ke kamar untuk membersihkan badan. Tiga puluh menit kemudian Mommy Vio sudah kembali turun ke lantai satu, beberapa saat lalu Valentino telfon sudah berada di jalan.

__ADS_1


Mommy Vio yang saat ini sudah berada di ruang tamu segera membuka pintu utama, seketika udara pagi hari masuk ke dalam rumah.


Mommy Vio keluar menuju teras rumah, di dekat kebun bunga ada pelayan yang lagi menyirami tanaman bunga.


Di sebelah sana yang tidak terlalu jauh ada pelayan juga sedang memotong rumput, sebagian halaman yang rumputnya sudah terpotong terlihat rapi.


Tiba-tiba perhatian Mommy Vio teralihkan saat mendengar suara deru mobil. Bibir Mommy Vio tersenyum saat melihat siapa yang datang. Anak dan menantunya.


Valentino berjalan ke arah ibunya sembari menggenggam tangan Amanda. Melihat hal itu senyum di bibir Mommy Vio semakin merekah.


Melihat kemesraan anaknya dengan menantunya membuat seorang Mommy miliki bahagia tersendiri.


"Mommy," sapa Amanda juga Valentino bersamaan, saat sudah berdiri di depan Mommy Vio.


Mommy Vio langsung memeluk mereka berdua, sungguh saat ini Mommy Vio sangat bahagia.


Mommy Vio tidak lupa mencium pipi Amanda juga Valentino, meski mereka sudah besar tapi anak tetap lah anak, meski sudah besar tetap pantas mendapat ciuman dari Ibu.


"Ayo masuk ke dalam, kita sarapan bersama, tadinya Mommy pikir kalian akan tiba di rumah siang hari," ucap Mommy Vio sembari menarik tangan Amanda untuk di ajak masuk ke dalam.


Amanda terkejut sampainya tiba di ruang makan melihat banyaknya menu makanan dia atas meja.


"Iya sayang, ayo kita makan bersama." Mommy Vio tersenyum.


Sebanyak ini apa kah akan habis, batin Amanda sembari menarik kursi dan duduk di sana.


Mommy Vio mengambil nasi beserta sayur dan lauk lainnya lebih dulu. Setelah Mommy Vio selesai sekarang giliran Amanda.


Tanpa diminta Amanda sudah mengerti bahwa saat ini tugasnya menjadi istri, Amanda mengambilkan nasi beserta sayur juga lauk ke pering Valentino, setiap gerakan Amanda selalu Valentino perhatikan sedari tadi.


Amanda tidak tahu bahwa Valentine memuji Amanda di dalam hati.


"Makanlah," titah Amanda sembari mendorong piring ke hadapan Valentino. Pria itu tersenyum manis. Membuat Amanda tidak bisa apa bila tidak membalas senyum itu, hingga beberapa detik mereka saling memandang.


Ehem!


Mendengar dehheman keras Mommy Vio, Amanda langsung memutus pandangan itu dan bergegas mengisi piringnya sendiri dengan nasi dan sayur, sampai lupa tidak ambil lauk.


Kunyah-kunyah makanan masih merasa malu dilihatin Mommy Vio, Amanda mempercepat makannya, dan ingin segera masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Mommy Vio geleng-geleng kepala, anak muda jaman sekarang batinnya, eh! Aku dulu juga seperti itu. Malah Mommy Vio yang jadi senyum-senyum sendiri.


Valentino yang melihat Amanda makan tanpa lauk langsung berinisiatif.


"Cobalah ini sangat enak," ucapnya sembari mencapit lauk diletakkan ke piring Amanda.


Sarapan pagi ini ada warna yang beda, biasanya hanya Mommy Vio bersama Valentino saja tapi sekarang ada Amanda.


Yang merasa bahagia tidak hanya mereka bertiga, tetapi para pelayan yang menyaksikan keluarga baru Tuan Mudanya juga merasa bahagia.


Setelah sarapan selesai, Amanda masuk ke dalam kamar, namun Valentino masih tertinggal di ruang kerja, Mommy Vio mendatangi Valentino. Saat Mommy Vio datang, Valentino menghentikan pekerjaannya.


Mommy Vio mendekati Valentino. "Tadi malam bagaimana malam pertamanya?" tanya Mommy Vio to the poin seraya tersenyum.


Valentino tersenyum kecil. "Seru, seru banget malah. Kenapa? Mommy mau lihat?" ledek Valentino sembari tertawa, yang langsung mendapat pukulan keras Mommy Vio.


Plak!


"Becanda mulu," omel Mommy Vio.


"Buruan beri Mommy cucu, Mommy sudah tua," lanjut ucapnya.


"Astaga astaga, baru saja nikah sudah ditodong dimintain cucu." Valentino geleng kepala. Tapi kali ini mendapat pukulan dari Mommy Vio lebih keras.


Plak!


"Pumpung Mommy masih hidup," bicara ketus sembari berlalu.


Hah Valentino menghela nafas berat, terserah Mommy Vio mau bicara apa? Valentino tidak ambil pusing, tapi sesaat kemudian Valentino tersenyum penuh arti, entah rencana licik apa lagi yang mau pria itu lakukan.


Valentino kembali melanjutkan pekerjaannya.


Di tempat lain.


Ervina menangis di pojokan kamarnya, sejak kemarin mendatangi pesta pernikahan Valentino dan Amanda, lubuk hatinya paling dalam tidak terima.


Menangis sehari semalam tidak akan bisa menghapus rasa sakitnya.


"Valentino ..." teriaknya dengan meraung-raung, air matanya bercucuran. Bahkan dari sejak kemarin pulang dari pesta pernikahan Valentino, Ervina tidak mandi hanya terus menangis dan membuat kamarnya berantakan hingga saat ini sudah mirip kapal pecah. Tisu dan pecahan kaca berserakan di lantai.

__ADS_1


__ADS_2