
Keesokan harinya Dinda yang lagi di pusat perbelanjaan, saat ini sedang di toko pakaian, Dinda memilih-milih pakaian yang mau dibelinya.
Bukan di deretan pakaian mahal, hanya di toko pakaian biasa, karena keuangannya mulai menipis.
Tiba-tiba ada seseorang yang merangkul pundak Dinda. "Wah belanja ini." Orang tersebut tersenyum miring.
Dinda yang sudah hafal dengan suara orang tersebut langsung menyingkirkan tangan orang itu dari pundaknya.
"Kau mau apa sih Jihan?" Dinda bicara sinis dan menatap tajam.
"Aku." Tunjuk Jihan pada diri sendiri yang kemudian disusul tawa.
Sekarang gantian Rita yang merangkul pundak Dinda. "Memang yang menjadi mau kita kau akan keberatan?" tanya lembut Rita dalam maknanya terselip sesuatu.
"Apa sih kalian tidak usah mengganggu aku!" bentak Dinda sembari menyingkirkan tangan Rita dari pundaknya.
"Eh, ini kamu mau beli baju." Jihan meraih baju yang Dinda pegang. "Kok selera kamu turun kelas, kenapa? tidak punya uang ya, oh kasihan."
Hahaha. Tawa Jihan juga Rita bersamaan.
Dinda geram dengan sindiran Jihan. "Bukan urusan kalian, mau aku belanja barang apa pun itu hak aku bukan hak kalian!"
"Oh tentu, tentu bukan hak kita, kau hidup kesusahan pun kita malah senang." Rita yang bicara.
Dinda membuang nafas berat, niat hati mau beli baju tidak jadi, berniat mau pergi sekarang juga.
Dinda melangkah pergi dengan acuh, namun baru tiga langkah Jihan menarik tangan Dinda lagi hingga membuat Dinda mundur.
"Kenapa buru-buru pergi," ucap Jihan yang langsung mendapat tatapan tajam Dinda.
"Ambillah baju-bajunya yang kau inginkan, aku yang akan bayarin, karena kan biasanya orang hidup susah itu akan senang banget apa bila mendapat gratisan, iya kan?" ucap Jihan lagi yang penuh sindiran.
Jihan dan Rita tertawa lagi saat melihat wajah kesal Dinda.
"Udah ambil sana, mumpung dibelikan ini, gax ada loh beli baju gratis apa bila bukan dibelikan." Rita ukit menimpali.
Ejekan dan hinaan Jihan juga Rita membuat Dinda semkin marah dan kesal, dalam hati Dinda sangat benci dengan mereka berdua, urusannya hanya dengan Amanda, tapi mereka berdua yang tidak tahu permasalahan malah membully nya, apa lagi saat melihat tawa mereka berdua, Dinda makin tidak terima.
Saat Jihan mau bicara lagi dengan cepat Dinda menjambak rambut Jihan sampai membuat Jihan meringis kesakitan.
Rita tidak tinggal diam saja, Rita balas menjambak rambut Dinda, kini mereka bertiga saling Jambak menjambak.
__ADS_1
Jihan berhasil putra balik dan gantian menjambak rambut Dinda, kini rambut Dinda dijambak Jihan juga Rita.
Dan tentu suara ribut-ribut mereka mengundang banyak perhatian para pengunjung.
Sampai-sampai ada yang memanggil sekuriti mall, dan mencoba melerai mereka bertiga, namun usahanya sia-sia tidak ada yang bisa melepas diantara mereka.
Sekuriti sampai kebingungan cara kalo sudah para wanita yang berkelahi, memang sih bukan adu pukul, tapi melihat rambut yang ditarik-tarik seperti itu jadi serem pikir sekuriti.
Dinda yang pling merasa kesakitan di kepalanya karena dijambak Jihan juga Rita.
Kini tambah tiga lagi datang sekuriti untuk membantu, sekarang sudah ada lima yang dua tadi gagal melerai.
Setelah dengan lima sekuriti mereka bertiga ahirnya bisa dilerai.
Seketika Jihan, Rita juga Dinda merasakan panas campur sakit di pangkal rambutnya, karena habis jambak-jambakan rambut, namun ternyata mereka belum juga mau berhenti masih mau lanjut apa bila tangan mereka tidak dipegangi sekuriti.
"Lepaskan Pak aku belum puas menghajar wanita penggoda itu!" bentak Jihan pada sekuriti yang minta dilepaskan.
"Hei! Jaga mulutmu! aku bukan wanita penggoda!" teriak Dinda yang tidak terima, sembari memberontak minta dilepaskan.
"Diam kalian semua! ulah kalian membuat toko pakaian ini kacau!" bentak salah satu sekuriti dan seketika Jihan, Rita juga Dinda langsung diam.
"Sekarang ikut kami!"
"Pak kita mau dibawa kemana pak!" ucap Rita panik sembari terus berjalan mengikuti langkah sekuriti tersebut yang memegangi tangannya.
"Pak jangan penjarakan saya Pak, mohon Pak." Dinda ketakutan bila sampai di laporkan ke polisi.
Sampai hampir semua orang di sekitar kejadian tersebut melihat ke arah mereka yang saat ini entah mau dibawa sekuriti kemana.
Setelah tiba di sebuah ruangan, mereka bertiga diminta untuk duduk, sementara itu pria yang duduk di depan mereka berkepala botak dan berbadan gendut, Jihan dan Rita malah ingin tertawa.
"Siapa yang memintamu tertawa!"
Deg.
Jihan, Rita juga Dinda langsung ketakutan, botak-botak ternyata galak juga batin mereka.
"Kenapa kalian ribut di dalam sebuah toko, apa kalian tidak sadar bahwa itu semua dapat mengganggu ketenangan pengunjung yang lain!" Ketua pihak keamanan itu bicara tegas.
"Dia Pak yang mulai." Jihan menunjuk Dinda.
__ADS_1
Dinda tidak terima disalahkan. "Bukan saya Pak, tapi dia yang tiba-tiba datang menghina aku." Dinda menunjuk Jihan balik.
"Kau!" Jihan berdiri wajahnya marah mendengar ucapan Dinda.
"Diam ..." teriak pria itu yang kepalanya malah pusing melihat tiga wanita didepannya yang malah eyel-eyelan tidak ada yang mau mengakui kesalahan.
Jihan kembali duduk lagi, rasa takut kembali menyerang saat pria itu berteriak.
Kepala pihak keamanan membuang nafas berat. "Saya tidak peduli siapa yang salah diantara kalian, tapi sesuai peraturan di pusat perbelanjaan ini, bagi siapa yang bikin keributan sampai menggangu ketenangan pengunjung yang lain, maka harus didenda!"
Ha! Jihan, Rita, juga Dinda langsung terkejut mendengar kata denda.
Mereka bertiga menggeleng bersama. "Pak mohon Pak jangan denda kami Pak," rengek mereka bertiga memohon.
"Tidak bisa! per orang harus bayar sepuluh juta, sepuluh juta!" Pria itu bicara penuh penegasan.
Jihan dan Rita saling pandang, setelah menghela nafas panjang, Rita menyerahkan kartu ATM nya yang siap di gesek di situ.
Setelah beberapa saat, pria itu mengembalikan kartu ATM ke tangan Rita lagi.
"Sudah clear ya Pak," ucap Rita, yang kemudian keluar bersama Jihan, tadi Rita sekalian bayarin buat Jihan.
Namun sebelum keluar dari pintu ruangan tersebut, Jihan menoleh ke belakang melihat Dinda. "Berantem sama elo ternyata tidak gratis."
"Diam lo!" jawab Dinda cepat campur marah.
"Sudah-sudah! sekarang kamu mana bayar dendanya," ucap Pria itu sembari menengadahkan tangan di depan Dinda.
"Pak sebentar Pak, saya mau nelpon teman aku," ucap Dinda minta waktu, pria itu mengijinkan.
"Halo Tomi tolong aku, tolong bantu bayarin denda aku sepuluh juta saja, tolong Tomi," ucap Dinda melalui sambungan telepon setelah panggilannya diangkat oleh Tomi di seberang sana.
"Tidak! aku tidak bisa bantu kamu lagi!" jawab tegas Tomi di sambungan telepon sana.
"Tomi tolong Tomi," ucap Dinda lagi namun sayang sambungan telepon sudah dimatikan.
Dan ahirnya tidak ada pilihan lagi bagi Dinda, selain menyerahkan tas branded yang ia bawa saat ini, bila dijual sampailah lima puluh juta, hanya Dinda berikan cuma-cuma pada pria itu.
"Saya bukan wanita mengapa dikasih tas?" tanya pria itu saat Dinda sudah mau melangkah pergi.
Dinda menoleh. "Buat istri bapak."
__ADS_1
Dengan langkah gontai Dinda ahirnya pergi dari tempat tersebut.