
Pagi hari.
Setelah selesai mandi, tiba-tiba hp Amanda bunyi, Amanda mengangkat telepon tersebut.
"Halo."
"Benar ini adalah Nyonya Amanda?" tanya seseorang di sambungan telepon.
"Iya benar," jawab Amanda yang semakin penasaran dengan orang tersebut, perasaan Amanda mendadak tidak enak.
"Saya cuma mau memberitahu Anda bahwa pabrik Anda yang berada di solo sudah saya beli, uangnya sudah saya transfer."
"Apa! saya tidak menjual pabrik itu," ucap Amanda terkejut.
"Tapi di surat ini yang bertanda tangan Anda Nyonya," jelas orang di sambungan telepon.
"Tidak! saya tidak pernah menjual pabrik itu! dan apa kah surat yang Anda terima itu asli?"
"Asli Nyonya, sudah saya cek keaslian surat kepemilikan pabrik itu," jawab orang di sambungan telepon yang merasa gimana, bingung juga karena tiba-tiba yang bernama Amanda di hubungi tidak merasa menjual pabrik.
Amanda langsung duduk di kursi depan meja rias, memijit pelipisnya yang mendadak pusing, dan langsung berpikir bahwa semua ini pasti ulah Tomi.
Sambungan terus dimatikan oleh pihak sana, setelah tidak ada lagi suara Amanda.
Amanda benar-benar terkejut dengan berita ini, karena memang seingatnya tidak menjual pabrik itu.
"Tomi ..." teriak Amanda begitu geram campur marah.
Tiba-tiba Amanda teringat kisahnya di kehidupan sebelumnya yang berakhir tragis, Amanda menggelengkan kepalanya tidak mau hal itu terjadi. Tidak mau hartanya diambil oleh Tomi.
"Aku harus pulang sekarang, aku akan mencari bukti-bukti itu, aku yakin jika aku bertanya, Tomi pasti akan mengelak," ucap Amanda dengan marah, kemudian langsung bersiap.
Hari ini Amanda tidak jadi berangkat ke kantor, apa bila pagi ini Tomi sudah berangkat ke kantor, kesempatan emas bagi Amanda, karena bisa masuk ke ruang kerja Tomi yang ada di rumah.
Hah sial sial! bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini! umpat kesal Amanda.
Amanda baru ingat bahwa Tomi memiliki kunci untuk membuka brangkas isi surat-surat kekayaan Amanda, ya karena dulu tidak tahu bila Tomi jahat.
"Aku harus menghubungi Merry." Amanda langsung menelpon hp Merry, sambungan telepon langsung di angkat oleh Merry.
__ADS_1
"Merry, tolong kamu buka brangkas dan ambil semua surat-surat yang ada di dalam sana, bawa ke ruangan kerja aku," ucap Amanda di sambungan telepon, di seberang sana Merry menjawab siap, setelah itu sambungan telepon dimatikan.
Amanda yang sudah siap, langsung keluar dari apartemennya.
Sampainya di parkiran mobil, Amanda langsung segera melajukan mobilnya menuju rumah.
Dalam mengendarai mobil, Amanda sudah tidak peduli dengan kendaraan lain, Amanda mengendarai sedikit ogal-ogalan, hanya demi segera sampai di rumah.
Dua puluh menit, mobil Amanda sudah memasuki halaman rumah, saat Amanda keluar mobil, sopir yang semalam bersama Tomi langsung ketakutan.
Tidak memberitahu Amanda, hanya menunduk hormat saat melihat Amanda.
Setelah pintu rumah dibuka oleh pelayan, suasana sepi seketika yang menyambut kedatangan Amanda.
Amanda masih berdiri di ruang tamu. "Apa Tuan sudah berangkat kerja, Bibi?" tanya Amanda pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Em, be-belum Nyonya," jawab pelayan tersebut takut-takut, karena tahu sedang dengan siapa Tuannya di dalam kamar sana.
Amanda mengibaskan tangan bertanda pelayan boleh pergi dari hadapannya.
Hah aku pikir Tomi sudah berangkat kerja, tapi sudahlah aku masuk ke kamar aku dulu, kira-kira Tomi tidur di mana Ya? batin Amanda bertanya-tanya, sembari berjalan menuju kamar.
Dan setelah kakinya menginjak lantai tempat kamarnya berada, Amanda melihat pintu kamarnya seperti sedang tidak dikunci. Terlihat ada celah sedikit terbuka.
Amanda segera melangkah cepat dan membuka pintu lebar-lebar.
Amanda tersenyum sinis melihat pemandangan di dalam sana. Niatnya yang mau masuk ke kamarnya Amanda urungkan dan ahirnya memutuskan untuk menunggu Tomi di ruang keluarga.
*
*
*
Tepat pukul sepuluh pagi ahirnya orang yang Amanda tunggu-tunggu telah turun juga.
"Gimana? Serunya mainnya?" sindir Amanda, bibirnya tersenyum sinis sembari berdiri menatap mereka berdua.
"Amanda, kau ada di rumah? kenapa tidak mengabari aku sup-,"
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Amanda yang seketika memotong ucapan Tomi.
Amanda menatap Tomi dengan tajam. "Tadi pagi ada yang menghubungi aku bahwa pabrik di solo dijual, dan aku tidak merasa menjualnya." Amanda menunjuk wajah Tomi. "Dan kau pasti pelakunya."
"Amanda aku-,"
"Jika kau berani menjual lagi aset milikku yang lain kau akan aku buat mendekam di penjara seumur hidup!" acam tegas Amanda lengkap dengan tatapan tajam, yang tidak membiarkan Tomi untuk bicara.
Amanda mengalihkan tatapannya ke wanita yang berdiri di sebelah Tomi. "Dan kau! Wanita mu-ra-han!"
"Jaga ucapanmu!"
"Dinda!" bentak Tomi seketika saat Dinda berani bersuara tinggi ke Amanda.
Amanda hanya tersenyum sinis, jika dahu mungkin Amanda akan senang jika dibela oleh Tomi, tapi tidak untuk sekarang.
Amanda meraih tas yang tergeletak di sofa, kemudian mau beranjak pergi dari sana.
Namun baru beberapa langkah Tomi menghalanginya.
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Apa sudah tidak ada kesempatan untuk aku lagi?"
Hahah. Amanda tertawa.
"Cinta? Kesempatan?"
Hahaha. Tertawa lagi.
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Tomi." Amanda terkekeh masam.
"Itu tidak mungkin." Tomi menggelengkan kepalanya.
"Cintaku sudah melebur hilang sejak pertama kali aku melihat kamu berkhianat!"
Deg!
Tomi terdiam.
"Gak ada yang tersisa lagi," lanjut ucapnya yang kemudian langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Setelah Amanda pergi, Dinda mendekati Tomi yang kemudian mengusap lengan kekar pria itu untuk menenangkan.