Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 70. Mencoba jujur.


__ADS_3

Malam hari setelah Amanda di rumah, saat ini sedang makan malam bersama Mommy Vio.


Sengaja makan duluan tidak menunggu Valentino pulang, karena tadi Valentino berkata sudah makan di luar.


Saat Amanda dan Mommy Vio asyik makan malam, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Valentino.


"Mommy!" teriak Valentino sembari menepuk pundak Mommy Vio.


"Valentino, kalau Mommy punya riwayat jantung bisa pingsan tauk!" kesal Mommy Vio karena Valentino ngagetin.


"Nih, aku bawain martabak." Valentino meletakan kotak berisi martabak ke atas meja.


Mommy Vio yang sangat menyukai martabak telur, matanya langsung berbinar melihat martabak itu, rasa kesalnya seketika langsung hilang.


Amanda yang melihat hal itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.


Valentino sudah paham dengan sikap Mommy Vio, dia meski ngomel dan marah-marah itu tidak sungguhan, biasalah sikap orang tua.


Valentino beralih melihat Amanda yang lagi makan, terlihat enak jadi pengen.


Valentino mendekati Amanda dan duduk di sebelah Amanda. Membuat Amanda menaikan satu alisnya, namun setelah mendengar ucapan pria itu Amanda baru mengerti.


"Suapin dong, kelihatannya enak." Valentino tersenyum.


Amanda menyendok kan nasi sama lauk juga ada sayur, kemudian mengarahkan sendok itu ke mulut Valentino.


"Enak?" tanya Amanda tersenyum.


Valentino masih mengunyah-ngunyah setelah ia telan, Valentino bersuara.


"Kalau di suapin tetap beda rasanya," jawab asal Valentino.


Amanda menyuapi Valentino sekali lagi.


Setelah selesai makan malam, Valentino masuk ke dalam kamar lebih dulu. Amanda baru menyusulnya setelah beberapa saat.


Saat baru saja masuk ke dalam kamar, perhatian Amanda pada sosok yang lagi tiduran di kursi sofa yang panjang dengan posisi meringkuk. Persis sekali seperti orang yang lagi sakit menggigil.


Amanda mencoba tidak peduli, dipikirnya Valentino sudah tidur, Amanda berjalan saja menuju kamar mandi.

__ADS_1


Menggosok gigi dan mencuci muka, sesaat Amanda memandangi wajahnya di depan cermin sembari mengeringkan air di wajahnya yang basah.


Setelah selesai Amanda keluar dari sana, saat berjalan di depan sofa tempat Valentino tidur, Amanda samar-samar mendengar suara rintihan.


Amanda menghentikan langkahnya, jelas Amanda tahu bahwa suara itu bukan suara setan tapi suara rintihan Valentino.


Ada apa? Kenapa? batin Amanda bertanya-tanya.


Namun semakin Amanda menajamkan pendengaran, semakin jelas suara rintihan itu, Amanda putuskan untuk mendekat.


"Kamu kenapa?" Amanda meletakkan punggung tangannya ke kening Valentino.


Tidak panas, gumamnya.


"Tubuhku menggigil," ucap Valentino disertai bibirnya yang bergetar saat bicara.


Aneh? berkata menggigil tapi suhu badannya normal, batin Amanda yang sedikit merasa curiga.


Ini serius atau cuma becanda sih, pikir Amanda yang tidak mau dikerjai lagi sama Valentino.


"Baiklah tunggu sebentar aku ambil obat," ucap Amanda sembari berlalu.


Beberapa saat kemudian Amanda kembali lagi, kini datang tidak sendiri tapi bersama Mommy Vio.


Tidak panas tapi kenapa dia menggigil, batin Mommy Vio melihat Valentino beralih menatap Amanda, namun Amanda menggelengkan kepala seolah tahu arti dari tatapan Mommy Vio yang minta penjelasan.


Mommy pergilah, aku kan cuma sandiwara, aku cuma ingin diperhatiin sama Amanda, batin Valentino mengusir Mommy Vio. Tapi mana mungkin Mommy Vio mendengar.


Kali ini yang membuat Mommy Vio bingung bukan Valentino yang tiba-tiba jatuh sakit, tapi kenapa Valentino tiduran di sofa, Mommy Vio memberikan tatapan menuntut penjelasan.


Deg.


Amanda jadi bingung ditatap seperti itu oleh Mommy Vio, jangan sampai Mommy Vio tahu yang sebenarnya.


"Mom, apa sebaiknya kita bawa Valentino ke ranjang, Manda tidak kuat kalau sendiri."


Ahirnya kalimat itu yang terucap dari bibir Amanda tidak ada pilihan lain, mendengar ucapan Amanda, Mommy Vio mengangguk.


Mereka berdua memapah Valentino untuk dipindahkan ke ranjang. Valentino berbaring di sana, Mommy Vio menutup tubuh Valentino menggunakan selimut.

__ADS_1


"Sudah malam sebaiknya kamu segera tidur," ucap Mommy Vio sebelum ahirnya pergi dari kamar Amanda.


Amanda meletakkan lagi obat yang tadi sempat ia bawa, saat mau naik ke atas ranjang, Amanda merasa ragu, entah kenapa rasa takut langsung menyerang. Padahal Valentino suaminya, tapi Amanda tidak bisa menjelaskan.


"Apa aku tidur di sofa saja ya," bicara sendiri, saat ini sudah duduk di pinggiran ranjang, Amanda benar-benar merasa tidak nyaman.


Sudah merasa yakin dengan keputusannya, Amanda bangkit dari duduknya, namun dengan gerakan cepat Valentino menarik pinggang Amanda membuat wanita itu seketika berbaring di atas ranjang dengan posisi di himpit kaki dan juga tangan kekar Valentino.


"Valentino, kau-."


Emm. Belum sempat Amanda melanjutkan kata-katanya, bibirnya lebih dulu dibungkam dengan bibir Valentino.


Bibir manis Amanda membuat Valentino candu, saat ini menciumnya penuh menuntut dan baru terlepas saat Amanda kehabisan oksigen.


Valentino berguling ke samping seraya menatap langit-langit kamar.


Amanda menormalkan nafasnya yang memburu, mengusap bibirnya yang basah ulah Valentino.


"Aku tidak bisa Amanda ... Aku tidak bisa jauh dari kamu ... Meski tanpa menyentuh kamu, aku mau tetap bisa tidur di sebelah kamu ... Aku tidak bisa berjauhan." Valentino mencoba jujur dengan perasaannya, tidak mau tersiksa sendiri. Bagi laki-laki mengendalikan hasrat itu berat, apa lagi wanita yang diinginkannya ada di dalam satu kamar.


Meski begitu Valentino tidak berani menyentuh Amanda lebih tanpa ijin dari Amanda, hanya keinginan kecil yaitu ingin tidur bersama saja.


Amanda terdiam mendengar ucapan Valentino, Amanda merasa menjadi istri yang jahat sudah tidak melayani suami dengan baik, tapi bagaimana Amanda merasa takut, entah lah Amanda sendiri juga pusing kenapa harus takut.


Mendapati Amanda yang diam tidak merespon ucapannya, Valentino kembali bersuara.


"Aku tidak marah, aku hanya mencoba jujur mengutarakan apa yang ada di dalam hatiku." Valentino memiringkan tubuhnya menatap wajah Amanda dan mengelus pipinya.


Valentino tersenyum.


Amanda menatap Valentino dengan bola mata bulatnya yang jernih, Valentino semakin suka memandangi wajah Amanda, tangannya tidak mau henti terus mengelus pipi mulus Amanda.


"Maaf, saat ini aku belum siap, tapi kamu boleh tidur di samping aku, hanya sebatas itu yang bisa aku ijinkan saat ini," ucap Amanda dengan mata menunduk ke bawah, tidak mampu membalas tatapan Valentino.


Cup. Valentino kembali mencium bibir Amanda. Dalam hatinya senang sudah mendapat ijin boleh tidur bersama.


"Sekarang tidurlah." Dengan gerakan cepat Valentino menarik pinggang Amanda masuk ke dalam pelukannya.


Amanda terkejut sampai matanya mendelik.

__ADS_1


Posisi mereka saling berhadapan, Valentino memberikan Amanda di posisi paling ternyaman, Amanda menenggelamkan wajahnya di dada bidang Valentino.


Tangan Valentino mengusap rambut panjang Amanda, tidak lama kemudian mereka sudah masuk ke alam mimpi.


__ADS_2