Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 27. Dinda di tolak Tomi.


__ADS_3

Mobil yang Amanda kendarai kini berhenti di depan rumahnya, rumah yang kini ternyata sudah bukan miliknya lagi, karena sudah di jual Tomi, tapi entah bagaimana caranya mengapa pria itu masih tinggal di sini.


Amanda datang ke sini ingin melihat Tomi ada di rumah atau tidak, pasalnya Tomi tidak datang ke pengadilan, juga tidak masuk kantor.


Kedatangan Amanda yang baru berdiri di teras rumah, langsung disambut oleh pelayan yang baru saja membukakan pintu.


"Nyonya, selamat datang," ucap ramah pelayan itu seraya menunduk hormat.


Amanda tersenyum manis. "Terimakasih Bibik, sehat selalu buat Bibik."


Pelayan tersebut sedikit menyingkir untuk mempersilahkan Amanda masuk ke dalam.


Nyonya Amanda wanita yang sangat baik, Tapi sayangnya suaminya tidak bersyukur, batin pelayan tersebut sembari menatap iba ke arah Amanda yang sedang berjalan.


Amanda duduk di kursi sofa ruang tengah, meminta tolong pelayan untuk memanggilkan Tomi, setelah baru saja bertanya bahwa Tomi ada di rumah.


Tidak lama kemudian Tomi datang, melihat Amanda di rumah seketika Tomi tersenyum bahagia, mendekati Amanda dan langsung memeluk Amanda.


"Amanda ... Amanda, aku merindukanmu, terimakasih karena kamu sudah pulang," ucap Tomi seraya memeluk erat Amanda.


"Tomi lepaskan aku!" bentak Amanda seraya memberontak, tidak sudi dalam hatinya di peluk-peluk Tomi.


Setelah Tomi melepas pelukannya, Amanda menatap tajam ke arah Tomi.


"Amanda, ayolah jangan marah terus-menerus, aku janji akan berubah, plis kasih aku kesempatan kedua," ucap Tomi dengan memohon.


Amanda tersenyum sinis. "Aku datang kemari bukan untuk membahas ingin balikan sama kamu! tapi aku mau menegaskan bahwa perceraian kita akan segera terjadi!"


Tomi menggelengkan kepalanya. "Tidak Amanda, plis kasih aku kesempatan." Tomi mau meraih tangan Manda, namun dengan segera Amanda tepis.


"Sudah banyak kesempatan yang aku berikan! dan kamu hanya menyia-nyiakan kesempatan itu!" jawab Amanda penuh penegasan.


Tomi sampai terdiam tidak bisa berkata-kata lagi selain berucap maaf dengan suara kecil, Tomi juga mengakui bahwa dirinya juga salah, bahkan saat ini begitu menyesali, karena kesalahannya itu sekarang semakin sulit untuk bersama lagi dengan Amanda, dan tentu sulit juga untuk menguasai harta Amanda.


Hah mengapa semuanya jadi begini! teriak Tomi dalam hati.


Amanda kemudian bangkit dari duduknya mau pergi, namun dengan segera Tomi menahan tangan Amanda.

__ADS_1


Tomi berlutut di depan Amanda, berharap Amanda akan kasihan dan kemudian memberikan kesempatan lagi untuknya.


"Amanda aku mohon tolong kita jangan bercerai, tolong pikirkan anak kita Amanda."


Cih anak, sejak kapan peduli dengan anak, memangnya aku tidak tahu tujuan kamu itu apa? sok peduli dengan anak tapi jika berhasil merebut harta aku, mau ceraikan aku, dasar laki-laki jahat! umpat Amanda dalam hati.


Amanda diam saja tidak menjawab ucapan Tomi, Amanda menyingkirkan Tomi dari hadapannya dengan kasar, kemudian langsung berjalan saja.


"Amanda!" teriak Tomi sembari mengejar langkah Amanda, berhasil memegang tangan Amanda namun dengan cepat Amanda menepisnya.


Tomi tidak kalah cara, ia menghadang langkah Amanda lagi, namun tiba-tiba mendengar suara Dinda yang baru datang.


"Tomi." Dinda berdiri tidak jauh dari mereka.


Amanda dan Tomi sama-sama melihat ke arah Dinda.


Amanda tersenyum sinis menatap Dinda beralih menatap Tomi. "Wanita simpanan kamu sudah datang, minggir!"


Amanda menyingkirkan Tomi dengan kasar, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.


Tomi hanya bisa membuang nafas berat melihat mobil Amanda berhasil pergi, Tomi mau kembali ke dalam rumah, namun tiba-tiba pergelangan tangannya di pegang Dinda.


Tomi melihat pergelangan tangannya yang kemudian Dinda langsung melepaskannya.


"Tomi kamu harus tanggung jawab!" ucap Dinda sedikit meninggi.


Tomi seketika tertawa mendengar ucapan Dinda, yang membuat Dinda semakin terhina mendengar tawa Tomi yang seolah mengejeknya.


Setelah tawa Tomi berhenti berganti menatap tajam wajah Dinda. "Kamu mau tahu jawaban aku, tidak akan pernah aku tanggung jawab!"


Tomi mengibaskan tangan seraya berlalu, Dinda menggelengkan kepala sembari menyusul langkah Tomi yang mau masuk ke dalam rumah.


"Tom! Tomi ... kamu tidak boleh seenaknya seperti itu?" teriak Dinda dan setelah berhasil menjangkau tangan Tomi, Dinda membalikan tubuh Tomi dengan kasar.


"Kau sudah mengambil kesucian aku! kau harus tanggung jawab! sekarang hidup aku berantakan karena kamu!" tunjuk Dinda ke wajah Tomi dengan marah.


Hahahaha!

__ADS_1


Tawa Tomi menggelegar, sungguh lucu bagi Tomi bila Dinda sampai meminta tanggung jawabnya, karena jelas-jelas semua itu dilakukan tanpa sadar karena pengaruh alkohol.


Pelayan yang sedang bersih-bersih kaca di luar yang tidak jauh dari mereka berdua berdiri saat ini, sampai mengusap dada saat mendengar ucapan Dinda yang minta tanggung jawab.


Sungguh kasihan Nyonya Amanda, semoga diberi kekuatan dan ketabahan, doa pelayan dalam hati sembari menghela nafas panjang.


Tomi sedikit membungkuk menatap dekat wajah Dinda disertai senyum mengejek. "Bila aku tidak mau kau mau apa?"


Plak!


Dinda seketika menampar pipi Tomi sampai wajah pria itu menoleh, Tomi terkekeh setelah mendapat tamparan Dinda.


Dinda mendorong-dorong bahu Tomi. "Bejat kamu Tomi! ba-jingan kamu Tomi!" teriak Dinda air matanya seketika tumpah.


Tidak menyangka kehidupannya kini akan berubah serumit ini, dalam hati Dinda tidak mau sampai hamil anak Tomi, Dinda terus memukuli bahu Tomi dengan membabi buta.


"Cukup Dinda! cukup!" bentak Tomi seraya menangkap tangan Dinda yang memukul bahunya.


Dinda menggeleng dengan air mata berlinang, Tomi mendorong tubuh Dinda sampai wanita itu mau tersungkur.


Tomi kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Dinda sendirian di luar yang masih terus menangis.


Setelah menangisnya berhenti, Dinda mengusapnya dengan kasar, matanya berubah tajam menatap lurus ke depan.


"Semua ini karena Amanda! awas kamu Amanda ..." teriak Dinda sembari tangannya terkepal.


Ahh! Teriak frustasi Dinda yang kemudian pergi dari rumah Tomi.


Sementara itu Amanda yang saat ini berada di pusat perbelanjaan sedang masuk di toko pakaian bayi.


Tangan Amanda memegang kaus tangan bayi, Amanda tersenyum terlihat lucu dimatanya, membayangkan pasti akan lucu jika nanti anaknya juga menggunakannya.


Amanda belum mau membeli, hanya masih ingin lihat-lihat, entah mengapa rasanya ingin melihat-lihat baju bayi, dan ternyata hal ini sedikit menghibur hati Amanda.


Saat Amanda memegang selimut bayi, tiba-tiba ada tangan yang memegang selimut bayi itu juga, Amanda menoleh ternyata ibu-ibu yang sedang menggendong bayi kecil.


"Maaf Nona," ucap Ibu tersebut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ibu, ambillah." Amanda memberikan selimut yang dipegangnya tadi untuk ibu-ibu tersebut.


Amanda melihat bayi yang berada di gendongan ibu-ibu itu, terlihat menggemaskan dan lucu.


__ADS_2