
Pagi hari saat Amanda mau berangkat kerja, begitu terkejut setelah pintu terbuka, matanya melihat Tomi masih tidur di lantai depan pintu apartemennya.
Terlihat sangat lelah, sampai jam segini saja Tomi belum bangun tidur.
Amanda menghela nafas berat, meyakinkan hatinya untuk tidak goyah, sudah bertekad memutuskan hubungan, Amanda tidak mau peduli lagi dengan Tomi.
Amanda memilih pergi begitu saja tanpa ada niat membangunkan Tomi. Namun ternyata Tomi bangun tepat Amanda melangkah pergi, dan dengan segera Tomi menyusul Amanda.
Tomi memeluk Amanda dari belakang membuat langkah Amanda terhenti. "Aku mohon maafkan aku, aku janji tidak akan kasar lagi sama kamu."
Basi, itulah kata-kata yang tepat untuk menjawab ucapan Tomi, sedikitpun hati Amanda tidak terketuk hanya ucapan janji yang tidak bisa ditepati.
Janji suci pada Tuhan saja Tomi ingkari apa lagi janji-janjian yang Amanda sendiri sudah tidak yakin.
Amanda mau melepaskan tangan Tomi yang melingkar di pinggangnya, namun tidak bisa karena Tomi memeluknya begitu erat, Amanda membuang nafas berat.
Amanda melihat arlojinya waktu menunjuk pukul hampir setengah sembilan, Amanda sebentar lagi ada meeting bersama klien, tidak mau waktunya terbuang sia-sia, Amanda lebih milih membohongi Tomi, supaya bisa segera kabur.
"Lepaskan tangan kamu nanti aku jawab."
"Tidak, nanti kamu akan kabur," ucap Tomi cepat, tidak mau kehilangan kesempatan lagi, sebisa mungkin Tomi akan menahan Amanda demi mendapat minta maafnya.
Lagi-lagi Amanda harus membuang nafas berat. "Baiklah aku maafkan kamu, tapi ada syarat."
"Syarat," ulang Tomi bersamaan dirinya melepaskan tangannya yang memeluk Amanda.
Amanda balik badan menatap Tomi. "Iya, syarat, apa kamu mau?" Amanda menaikan satu alisnya.
Demi mendapat maaf dari Amanda, tidak ada pilihan lain lagi selain mengiyakan keinginan wanita itu.
Tomi mengangguk setuju.
Amanda tersenyum penuh arti.
"Aku berangkat kerja dahulu, nanti aku kirim pesan buat kamu." Amanda menepuk bahu Tomi sebelum ahirnya berjalan pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
Tomi merasa lega setelah mendapat pengakuan maaf dari Amanda, kemudian ingin berjalan pergi juga, namun tiba-tiba ada notif pesan masuk, Tomi segera membuka pesan itu karena yakin dari Amanda.
"Kamu harus berenang di lumpur beserta membuat Vidio dan harus kamu post di sosial media, itu syarat dari aku."
Tomi langsung terkejut membaca pesan dari Amanda. Sementara Amanda, wanita itu sekarang sedang tertawa setelah mengirim pesan ke Tomi.
Tomi mengacak rambutnya. "Ini tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukannya," ucap Tomi yang merasa keberatan dengan syarat yang Amanda berikan.
Tomi segera pergi dari tempat tersebut, menuju pulang untuk mandi dan berganti pakaian kerja, mau bicara soal syarat dengan Amanda, Tomi mau bernegosiasi.
Amanda memang bekerja hari ini, tapi bukan ke perusahaan tujuannya, setelah menjemput Merry, kini mereka berdua bersama-sama pergi ke kota sebelah, untuk bertemu klien.
Satu jam kemudian, Tomi sudah sampai di perusahaan namun setelah mencari Amanda, ternyata tidak ada di sana, Tomi makin kesal, kemudian masuk ke ruang kerjanya sendiri.
Tidak lama kemudian Dinda masuk. "Tomi, bagaiman kabar kamu hari ini?"
"Keluar!"
"Apa sih Tom, kenapa kamu membentak aku!" Dinda tidak terima.
"Keluar!"
Kenapa sih Tomi, benar-benar aneh, gumamnya seraya berlalu.
Setelah tiba malam hari, Amanda baru saja sampai di apartemennya, rasanya hari ini begitu lelah.
Melepaskan jas hitam yang dirinya pakai, membawa tubuhnya untuk duduk di sofa, beristirahat di sana.
Tiba-tiba pintu apartemen ada yang mengetuk, Amanda bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu.
"Hei Manda."
"Jihan."
Ucap keduanya bersamaan, mereka berdua langsung berpelukan, Amanda mengajak Jihan sahabatnya untuk masuk ke dalam, setelah melerai pelukannya.
__ADS_1
Jihan duduk di ruang keluarga, sementara Amanda pamit pergi mandi dulu.
Jihan menelisik ruangan ini, yang terlihat sepi, apa Amanda tinggal sendiri? lalu dimana suaminya?.
Jihan jadi bertanya-tanya sendiri, bermain hp sembari menunggu Amanda selesai mandi.
Tiga puluh menit, Amanda sudah tiba di ruang keluarga, mengambil air lebih dulu di dapur, kemudian kembali lagi dengan membawa air minum juga cemilan untuk menemani mengobrol.
"Amanda, sebenarnya cerita yang sebenarnya itu gimana sih, kenapa Dinda sahabat kita bisa menusuk kamu dari belakang, sejak kapan itu?" tanya Jihan langsung setelah Amanda duduk di sebelahnya, Jihan baru tahu setelah Amanda sedikit bercerita tadi pagi, dan memintanya untuk datang ke apartemennya.
Amanda bersandar di sandaran kursi, menatap lurus ke depan, menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu sejak kapan mereka berdua miliki hubungan di belakang aku, tapi aku sering melihat mereka jalan bersama-." Amanda menjeda ucapannya mengatur nafas supaya tidak menangis.
"Bahkan Tomi memberikan uang aku juga buat Dinda belanja, dan itu--." Amanda terdiam air matanya yang ia tahan kini tumpah, Jihan langsung memeluk Amanda.
"Itu ... itu bukan uang sedikit, sampai ratusan juta, bahkan belum lagi yang nilainya satuan juta yang sering Tomi berikan ke Dinda."
"Aku tidak rela, itu semua uang aku yang diberikan cuma-cuma pada wanita perusak rumah tangga aku, aku tidak terima..." Amanda menangis dalam pelukan Jihan, hati Jihan terasa ngilu mendengar cerita Amanda.
Mungkin jika Dinda adalah orang lain yang dahulunya bukan sahabat, sakitnya tidak akan sedalam ini, namun mau bagaimana pun yang namanya suaminya diganggu wanita lain, pasti siapa pun wanita akan sakit hati.
Bahkan ini tidak hanya diganggu tapi juga diambil uangnya.
Jihan melerai pelukannya, menghapus air mata Amanda. "Hei lihat aku, Amanda sahabat aku itu terkenal kuat, terkenal happy, tidak lemah, jangan menangis ada aku sahabat kamu yang siap bantu kamu, katakan padaku kamu butuh apa, hem?"
Amanda menggeleng. "Terimakasih Jihan, aku cuma ingin berbagi, selama ini aku hanya pendam masalah ini, aku tidak tahu mau bicara dengan siapa, terimakasih sudah mendengarkan cerita aku."
Jihan menggenggam tangan Amanda. "Kita adalah sahabat, jika Dinda mengkhianati kamu, tapi aku dan yang lainnya tidak, ceritakan semua masalah kamu sama aku, aku siap membantu."
Amanda kembali memeluk Jihan.
Jihan menguatkan Amanda, sebagai sahabat terbaiknya sejak dahulu sampai sekarang, Jihan tidak ingin Amanda menderita miliki masalah yang berat, bahkan tidak percaya bila rumah tangga Amanda di rusak oleh Dinda.
Sepertinya aku harus menemui Dinda, batin Jihan.
"Sekarang kamu sudah benar-benar yakin mau cerai dengan Tomi?" tanya Jihan setah melerai pelukannya, kini menatap wajah Amanda.
__ADS_1
"Aku sudah yakin, tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dia lagi," ucap Amanda dengan sorot mata yang terlihat begitu sedih.
"Aku mendukung semua keputusan kamu." Jihan tersenyum seraya mengusap lengan Amanda.