Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 28. Jihan vs Dinda.


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Dinda yang saat ini sedang duduk di kursi depan meja rias, kepalanya menunduk sembari ia pijit, Dinda pusing memikirkan hari ini, karena ia harus bayar cicilan mobil, cicilan tas branded, cicilan rumah yang baru di beli tiga bulan lalu.


"Kenapa begini sih, aku harus bayar pakai apa! aku sudah tidak kerja dan nyari kerjaan dalam seminggu ini ditolak terus!" Dinda marah-marah sembari memijit kepalanya yang pusing.


Ya, dalam satu Minggu ini Dinda berusaha mencari pekerjaan lagi, namun sudah mencari ke sana dan ke sini lamaran kerja Dinda di tolak, karena Amanda yang membuat seluruh perusahaan untuk tidak menerima Dinda.


Arghhhh!


Teriak Dinda yang tidak mendapat solusi, Dinda tidak mau kehilangan kemewahan ini, bisa malu dirinya ditertawai para sahabat sosialitanya.


"Ini semua gara-gara Amanda!" ucap marah Dinda seraya melihat wajahnya di depan cermin yang sedang marah dan gigi berkerut-kerut.


"Lihat Amanda kamu akan tahu apa yang aku perbuat sama kamu!"


Ahh!


Dinda terus berteriak dan memaki Amanda, terus menyalahkan Amanda, tanpa mikirin bahwa semuanya itu kesalahan dirinya sendiri.


Tiba-tiba lampu mati.


"Loh, kenapa mati!" ucap Dinda terkejut, ruang kamarnya jadi gelap, Dinda segera menyalakan lampu hp.


"Hah! ini kenapa mati segala sih lampunya," gerutu Dinda, yang kemudian bangkit dari duduknya, berjalan keluar kamar menuju lantai satu.


Karena hari sudah pagi setelah keluar kamar rumah sedikit terang karena dapet cahaya dari celah jendela.


Dinda terus berjalan hingga kini tiba di lantai satu, Dinda kemudian berjalan menuju keluar rumah untuk bertanya sama satpam.


Di luar rumah satpam sedang mengecek listrik. "Hidup kok, wah habis nih pulsanya," ucap satpam tersebut.


Dinda yang baru keluar dari dalam rumah, melihat satpam baru keluar dari samping rumah. "Kenapa Pak listriknya?"


Satpam menoleh. "Pulsanya habis Nyonya."


"Waduh bagaimana ini, baru masak nasi," ucap pelayan yang baru datang.


"Iya, lagi nyuci baju juga," ucap lagi dari pelayan lainnya.

__ADS_1


"Berisiiikk!" teriak Dinda sembari menutup telinganya.


Dinda menatap tajam dua pelayan itu. "Kalian bisa diam tidak! terserah kalian mau masak atau mau nyuci baju saya tidak peduli!" teriak Dinda lagi yang kemudian langsung masuk kembali ke dalam rumah.


Dua pelayan itu saling pandang dengan tatapan bingung.


"Kenapa Nyonya marah-marah?" tanya temannya.


Pelayan satunya hanya mengangkat bahunya.


Di dalam kamar Dinda semkin kesal dan marah, saat ini sedang membuka gorden kamar supaya ruang kamarnya terang.


"Sudah tidak punya duit, cicilan harus dibayar, dan sekarang lampu malah ikutan mati! hah! benar-benar apes dunia ini apes!" bicara nyrocos marah-marah.


Setelah Dinda membuka semua gorden, seketika ruang kamar jadi terang, Dinda berjalan menuju lemari tempat penyimpanan tas branded.


Dinda mengambil satu tas branded miliknya bewarna kuning. "Hah, rasanya sayang sekali, tapi sepertinya aku harus menjualmu." Dinda menciumi tas tersebut itu.


Tidak ada pilihan lagi, karena cicilan juga harus di bayar, dan harus membeli pulsa listrik bila tidak maka nanti akan gelap, meski jahat tapi masih miliki hati kasihan pada pelayan bila malam hari harus gelap-gelapan.


Soal dirinya jika tidak beli pulsa bisa nginap di rumah temannya, begitulah pikir Dinda.


Dinda yang tadi pagi sudah mandi saat ini cukup ganti pakaian, dan setelah selesai, Dinda melakukan makeup tipis-tipis.


Setelah tiga puluh menit, Dinda sudah sampai di mall, dan langsung berjalan menuju toko yang menjual beli tas branded.


"Aku mau jual tas aku, 100 juta," ucap Dinda sembari menaruh tas miliknya di meja.


Pemilik toko mengambil tas itu dan melihatnya untuk melihat masih bagus dan layak tidak untuk seharga segitu


Pemilik toko menggelengkan kepala. "Tujuh lima juta," ucapnya sembari menaruh tas itu di meja lagi.


"Ini masih bagus baru beberapa kali aku pakai," protes Dinda, yang tidak terima dihargai segitu.


Pemilik toko menggeleng lagi."Toko kami belum bisa."


Hah Dinda membuang nafas berat, sembari berpikir bahwa dirinya saat ini benar-benar butuh uang.


"Ya sudah tujuh lima," putus Dinda ahirnya dengan sangat terpaksa.

__ADS_1


Pemilik toko kemudian memberikan uang kes senilai tujuh lima juta untuk Dinda, dan setelah itu Dinda langsung pergi dari tempat tersebut.


Dinda keluar dari mall, namun berjalan ke sebelah mall yang kebetulan ada kafe di sana, Dinda mau bersantai dulu di sana.


Dinda memesan jus alpukat, sembari menunggu pesanan jus datang Dinda memainkan ponselnya.


Ternyata di kafe tersebut juga ada Jihan, Jihan yang tanpa sengaja menoleh, tiba-tiba melihat wanita yang mirip Dinda.


Seperti Dinda, gumam Jihan.


Jihan terus menatap Dinda sampai pelayan kafe datang mengantarkan jus pesanan Dinda, dan saat itu lah Jihan yakin bahwa yang dilihatnya ini adalah beneran Dinda.


Jihan langsung bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Dinda, sampai di sana langsung menggebrak meja dan seketika membuat Dinda terlonjak kaget.


Dinda mendongakkan kepalanya melihat siapa pelakunya, terkejut saat tahu yang menggebrak meja adalah Jihan sahabatnya.


"Jihan, kamu kenapa? kenapa datang tiba-tiba marah, kita tidak miliki masalah bukan?" tanya Dinda yang manis.


Jihan membuang nafas berat sembari sedikit membungkuk menatap lekat wajah Dinda. "Kita memang tidak miliki masalah, tapi karena kau merusak rumah tangga Amanda, itu jadi masalah juga bagi aku!"


Dinda malah tertawa mendengar ucapan Jihan.


Ha-haha-hahaha.


"Kamu lucu sekali Jihan." Dinda berdiri dari duduknya menatap Jihan tidak kalah tajam. "Jadi Amanda sialan itu sudah ngadu sama kamu! dasar perempuan pengadu!"


Plak! "Jaga mulut kamu! Amanda tidak mengadu tapi kamu yang keterlaluan!" bentak Jihan setelah menampar pipi Dinda.


Dinda marah, nafasnya naik turun dengan cepat sembari memegangi pipinya yang terasa panas. "Kamu bisa menyalahkan aku! tapi kehidupan aku sekarang susah gara-gara Amanda, sampaikan ke dia aku akan balas perbuatannya itu!"


Plak!


Jihan menampar pipi Dinda lagi yang kali ini lebih menambah tenaganya, sampai pipi Dinda yang putih menggambar lima jemarinya.


Jihan menuding wajah Dinda yang terlihat marah dan kesal. "Beraninya kamu mau mencelakai Amanda, kamu akan lebih dulu mendapatkan balasannya!" bentak Jihan, kemudian pergi dari hadapan Dinda.


Arghhhh!


Sialan kalian semua! umpat Dinda sembari terus mengusap pipinya yang terasa panas.

__ADS_1


"Lihat saja aku tidak akan tinggal diam, hidupku susah sekarang karena kalian! karena Amanda!" teriak marah Dinda seraya melihat Jihan yang terus berjalan pergi.


Dinda tidak peduli berteriak meski di tempat tersebut banyak orang, sampai mereka semua menatap aneh ke arah Dinda.


__ADS_2