
Keesokan harinya.
Valentino mengajak Amanda ke markas yang waktu itu pernah Amanda datangi sendiri, Valentino ingin mengajari Amanda ilmu bela diri serta beberapa senjata harus bisa Amanda kuasai, sejak kemarin hatinya mulai tidak tenang, seperti merasa akan ada hal buruk yang terjadi di masa nanti, dan Amanda harus bisa melindungi diri meski Valentino akan menaruh orang-orang nya untuk menjaga Amanda, tapi Amanda perlu bisa menguasai ilmu bela diri.
"Untuk apa kamu mau mengajak aku ke sana?" tanya Amanda, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju.
Hari ini memang hari Minggu, bebas juga mau kemana pun dari pada harus di rumah saja.
Hanya saja Amanda butuh penjelasan kenapa harus ke markas tempat yang dilihat tidak ada indah-indahnya hanya nuansa warna gelap, Amanda rasanya malas sekali mau ke sana, apa bila tidak ada tujuan penting.
"Aku mau memperkenalkan kamu sama teman-teman aku," jawab Valentino sembari fokus menatap jalanan depan karena posisinya sedang menyetir mobil.
"Untuk apa? itu kan tidak penting," jawab Amanda seraya menoleh ke arah Valentino, benar-benar malas rasanya mau kesana apa lagi alasannya cuma seperti itu.
"Ya supaya mereka kenal." Valentino melihat Amanda sekilas kemudian fokus ke depan lagi.
"His sama saja itu tidak penting," gerutu Amanda dengan bibir mayun.
Setelah pembicaraan itu mereka berdua diam tidak ada yang buka suara, Valentino milih tidak menjelaskan, suapan semua berjalan sesuai rencana.
Tiga puluh menit, mobil telah sampai. Valentino membukakan pintu mobil untuk Amanda.
"Ayo?" ajak Valentino seraya mengulurkan tangannya untuk Amanda genggam namun wanita itu tidak segera meraihnya.
Amanda malas mau masuk ke dalam, lihatlah dari luar hanya sebuah rumah yang besar, di depannya tidak ada bunga atau pohon, benar-benar gersang dilihatnya, meski di dalam sana pasti dingin karena dinginnya AC. Hah! Amanda benar-benar malas.
Amanda tidak mau lama-lama di dalam sana, bisa membuat otaknya buntu gara-gara hanya melihat satu warna yaitu gelap, dan banyaknya orang yang tidak jelas dari mana asal usulnya, Amanda membuat kesepakatan.
"Janji, sehabis dari sini harus temani aku belanja."
Valentino mengangguk.
__ADS_1
Amanda baru menerima uluran tangan Valentino, dan mereka berjalan bersama masuk ke dalam.
Ke datangan Valentino langsung disambut oleh mereka semua, yang tidak terhitung berapa jumlahnya, pokonya di mata Amanda begitu banyak orang, bahkan Amanda melihat juga Sekertaris Son ada di tempat ini.
Mengapa sekertaris Son ada di tempat ini, atau jangan-jangan dia juga ikut-ikutan. Hah aku melupakan satu hal, bahwa setiap ada Valentino pasti ada sekertaris Son, batin Amanda sembari terus mengikuti langkah Valentino sampai kini berdiri di depan mereka semua.
Kenapa pakaian mereka ikut-ikutan serba hitam, kenapa sih harus seperti itu? Apa supaya tidak mudah kotor? Batin Amanda yang tidak mengerti semua itu hanya bertanya-tanya sendiri.
Valentino memasang wajahnya biasa tidak sedingin biasanya, namun meski begitu masih mampu membuat mereka diam tidak berkutik.
"Amanda ... Mereka adalah keluarga kita, disini tidak ada yang namanya orang lain." Valentino menunjukan banyaknya orang di depannya seraya menggerakkan tangan, seolah memberitahu bahwa semua tanpa kecuali.
Amanda mengangguk mengerti, tidak masalah apa bila menjadi keluarga, tapi ada hal yang ingin Amanda ketahui.
Amanda menatap Valentino. "Apa organisasi ini baik? Bukankah organisasi ini suka membunuh, seperti kabar-kabar itu." Amanda mengintrogasi Valentino.
"Ya, itu benar," jawab santai Valentino, tidak ada yang ingin ditutup-tutupi, baginya Amanda hanya belum paham makanya marah-marah.
"Kami membunuh orang jahat seperti koruptor dan lain-lain," jelas Valentino seraya menatap dalam bola mata Amanda.
"Tapi tetap saja! Apa bedanya dengan kamu yang membunuh." Amanda marah tidak suka dengan penjelasan Valentino.
"Amanda cukup ... aku katakan sekali lagi bahwa organisasi kami itu beda tidak seperti yang lain, uang yang mereka punya untuk makan tetap halal, mereka juga bekerja, apa kamu lupa bahwa aku seorang CEO? Itu artinya organisasi ini hanya membantu menghilangkan orang yang meresahkan, kami tidak mungkin membunuh orang baik, kamu mengerti?" Valentino mengusap lembut wajah Amanda.
Hah meski masih banyak lagi pertanyaan, Amanda milih diam, mau dijelaskan seperti apa pun tetap tidak mengerti, yang bikin bingung kenapa tidak dipenjara padahalkan suka membunuh, bagian ini Amanda masih belum paham cara kerja mereka.
Para anggota yang lain saling pandang melihat bosnya adu mulut sama istrinya, tapi terpesona saat melihat Valentino begitu berlaku lembut sama istrinya, tidak ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya.
Valentino menggenggam tangan Amanda kemudian mengajak Amanda berjalan lagi menuju suatu tempat.
Karena ini adalah rumah yang besar, tempat yang mau Valentino tuju jauh dari lantai satu. Amanda pusing jalan terus tidak sampai-sampai.
__ADS_1
Setelah tiba di ruangan yang dituju, Valentino membuka pintu, dan seketika banyak-banyaknya senjata yang menyambut mata Amanda, sampai membuatnya membulatkan mata.
Berbagai macam jenis senjata api ada, pedang juga ada hampir lengkap semua ada.
"Kamu harus berlatih cara menggunakan senjata itu, dan kamu bisa memilihnya mau dimulai berlatih dengan senjata mana dulu."
Ucapan Valentine seketika membuat Amanda menoleh ke arah Valentino.
Berlatih? Menggunakan senjata dari salah satu senjata-senjata tersebut? pikiran Amanda bertanya-tanya.
Melihat Amanda yang diam saja, Valentino berjalan ke depan, matanya melihat semua senjata miliknya sampai matanya melihat senjata yang cocok untuk Amanda kuasai saat ini, Valentino mengambil senjata itu.
Hanya pistol, ya? Amanda harus bisa mengunakan pistol tersebut dalam berbagai situasi.
Valentino berbalik. "Pegang ini." Valentino melempar pistol tersebut ke tangan Amanda.
Valentino mengajak Amanda ke ruang berlatih lagi. Mata Amanda terbelalak lebar sampai di ruang berlatih, tempat itu sungguh besar dan luas.
Kini mereka berdiri saling berhadapan.
Valentino mengusap rambut Amanda, sengaja Valentino lakukan tidak mau membuat wanitanya takut. "Kamu boleh bertanya?"
Merasa diijinkan untuk bertanya, Amanda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Kenapa aku harus belajar semua ini, apa akan ada hal buruk yang terjadi nantinya?" tanya Amanda rasanya begitu penasaran dengan alasan Valentino yang ingin mengajarinya harus bisa menggunakan senjata.
Valentino menatap ke arah lain. "Mantan suami kamu Tomi sedang dalam perjalanan meminta bantuan seseorang untuk membalas dendamnya." Valentino menghentikan ucapannya, berganti menatap wajah Amanda. "Jika kamu tidak mau belajar semua ini, tidak apa-apa? hanya saja kamu harus tinggal di rumah sampai situasi aman."
"Bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Amanda yang semkin penasaran.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan Amanda, Valentino malah mencium bibir Amanda. Ciuman dalam dan begitu lama sampai membuat Amanda lupa dengan pertanyaannya.
__ADS_1