Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 67. Hampir mati.


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Semua totalnya seratus ribu Nona," ucap pelayan kasir minimarket.


Amanda langsung memberikan uang kes seratus ribuan, setelah itu tanpa mengulur waktu Amanda langsung pergi dari sana.


Saat ini Amanda keluar dari dalam minimarket ada beberapa kebutuhannya yang baru saja Amanda beli.


Di tempat parkiran mobil tidak jauh dari Amanda yang saat ini berjalan, Tomi baru saja keluar dari dalam mobil dan segera mengejar Amanda.


"Amanda ..." teriaknya. Namun Amanda tetap lanjut berjalan untuk masuk ke dalam mobil, meski telinganya mendengar suara Tomi yang memanggilnya. Amanda tidak peduli.


Mobil yang ditumpangi Amanda langsung melaju cepat, ternyata Tomi mengejar Amanda sampai di mobil dan di saat mobil tiba-tiba jalan Tomi terjatuh.


Ah! "Amanda ..." teriaknya saat jatuh ke aspal seraya mendongakkan kepala menatap mobil yang membawa Amanda berjalan menjauh.


Ternyata Tomi tidak berhenti di situ saja, Tomi segera bangkit menuju mobilnya, sampainya di dalam mobilnya, Tomi segera menjalankan mobilnya untuk menyusul Amanda.


Tiga puluh menit. Bertepatan mobil yang membawa Amanda sampai di perusahaan, Tomi juga sampai di sana, saat melihat Amanda keluar dari dalam mobil, Tomi segera keluar dari dalam mobilnya dan menyusul Amanda.


Baru saja Amanda menginjak teras perusahaan merasakan ada yang memegang tangannya, setelah menoleh ternyata Tomi pelakunya, Amanda segera menghempaskan tangan itu.


"Mau apa datang ke sini kembali, hah!" bentak Amanda, kali ini tidak akan lagi bicara lembut sama Tomi, karena pria itu dilembutin semakin menjadi.


Tomi mengangkat tangannya mau menyentuh lengan Amanda, tapi Amanda mundur membuat Tomi pasrah.


"Amanda tolong maafkan aku, aku tidak akan bosan untuk selalu mengatakan hal ini sampai kau mau memaafkan aku," ucap Tomi yang tersirat memaksa.


"Tapi aku bosan melihat wajahmu." Amanda tersenyum getir. Ingin rasanya membuang Tomi ke lautan supaya tidak muncul di depannya lagi, tapi Tomi anak orang.


Tomi mau meraih tangan Amanda tapi seketika Amanda tepis tangan itu disertai sorot mata tajam.


"Plis Amanda aku-.'


"Kau seperti tidak ada wanita lain di muka bumi ini sampai terus menerus mengejar-ngejar istriku yang cantik ini," ucap Valentino memutus ucapan Tomi, yang tiba-tiba muncul dari belakang Amanda, kemudian mencium pipi Amanda. "Masuklah ke dalam biar dia aku yang urus," bisiknya di telinga Amanda.


Cukup sekali tarik, Valentino mampu menyingkirkan tubuh Tomi di depan Amanda, kini wanitanya bisa masuk ke dalam perusahaan tanpa harus ada yang menghalangi.

__ADS_1


Brukk!


Suara Valentino mendorong Tomi sampai membentur dinding.


Sial! Umpat Tomi.


Dengan tatapan tajam mengarah Tomi, Valentino melinting kemejanya sampai batas siku, saat ini Valentino tidak memakai jas hanya mengunakan kemeja yang pas di badannya.


"Jika kemarin aku diam karena tidak berhak ikut campur urusan Amanda. Tapi tidak untuk sekarang? Karena dia adalah istriku." Valentino bicara penuh penekanan disetiap kata. Di lihat dari auranya pria itu jelas saat ini sedang sangat marah.


Tapi Tomi tidak terima dengan ucapan Valentino, bagi Tomi Valentino hanya pria perusak rencananya, dan dalam hati Tomi akan menyingkirkan Valentino, bila perlu akan ia bunuh.


Tomi maju selangkah dan tanpa aba-aba langsung melayangkan bogem mentah tepat di bibir Valentino.


Darah segar seketika keluar dari sudut bibir Valentino, tapi pria itu malah terkekeh, sembari memuji kekuatan Tomi yang menurutnya rumayan.


"Amanda hanya milikku dan aku akan merebut dari tanganmu!" tegas Tomi penuh percaya diri.


Valentino mengusap sudut bibirnya sembari tersenyum tipis. "Oh ya?"


Bugh!!


Saat Tomi mau bangun lagi, Valentino menahan tubuh Tomi dengan menginjak tubuh Tomi menggunakan kakinya yang masih terbungkus sepatu.


Valentino menekan dada Tomi mengunakan kakinya.


Ah! Tomi meringis kesakitan ini sungguh terasa sangat sakit seperti di tusuk-tusuk, Tomi memejamkan matanya, tangannya mau menyingkirkan kaki Valentino yang menginjak dadanya tapi Tomi tidak kuasa, tubuhnya lemas.


Semakin Valentino menginjak dada Tomi, pria itu seperti mau mati.


"Le-lepaskan a-aku," pinta Tomi dengan suara terbata-bata.


Tomi pikir Valentino bukan orang yang sembarangan, tidak hanya tenaganya yang kuat tapi kakinya saja memiliki kekuatan. Ah Tomi rasanya tidak kuat saat kaki Valentino semakin di tekan menginjak dadanya.


"Valentino." Sebuah bisikan suara Amanda yang entah asalnya dari mana, seketika menyadarkan Valentino yang saat ini mau membunuh Tomi.


Mungkin sedikit lagi Tomi akan mati apa bila tidak mendengar suara bisikkan Amanda, namun saat Valentino melihat sekeliling tidak ada Amanda, hanya ada sekuriti yang melihat ke arahnya tanpa berani ikut campur.

__ADS_1


Uhuk-uhuk, Tomi terbatuk-batuk setelah Valentino menjauhkan kakinya.


Tomi sangat benci dengan Valentino, dan perbuatan Valentino barusan, Tomi bersumpah dalam hati akan mematahkan kaki Valentino.


Valentino dan Tomi saling menatap tajam, Valentino seolah mampu membaca pikiran Tomi.


Bugh!!


Valentino menendang kuat tepat perut Tomi sampai membuat Tomi berguling ke belakang.


Valentino melenggang pergi masuk ke dalam perusahaan Amanda.


Ah! bedebah! sial! Umpat Tomi yang saat ini merasakan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, bahkan susah untuk berdiri.


Beberapa sekuriti yang melihat kejadian ini sampai merinding, perkelahian tidak seberapa tapi mampu membuat lawan sampai terkapar tidak berdaya.


"Hei sekuriti bodoh! Bantu aku berdiri, malah lihatin mulu!"


Ah!!


Sekuriti yang dipanggil Tomi tidak peduli malah masuk semua, semakin membuat Tomi kesal.


"Hei sialan kalian! Sialan!" teriak Tomi memaki sekuriti tadi.


Sementara itu sekuriti yang saat ini sudah masuk ke dalam, malah memuji kehebatan Valentino.


"Suami Nyonya yang kali ini hebat," ucap sekuriti kepala botak.


"Benar, aku saja tidak menyangka melihat perkelahian tadi." Sekuriti rambut cepak ikut menimpali.


"Kalau tadi aku yang berkelahi langsung aku buat pingsan itu tuan Tomi yang sok percaya diri," ucap sekuriti bertubuh kurus tinggi, sok-sokan bicaranya padahal sama Tomi takut dia, dan ucapannya itu membuat dua sekuriti tadi mentonyor kepalanya langsung.


Ahirnya dengan susah payah, Tomi berusaha berdiri, nyuutt rasanya seketika nyeri sekujur tubuh. Tomi berniat akan balas dendam dengan Valentino, tidak terima dirinya dibuat tidak berdaya seperti ini.


Tomi berjalan pelan-pelan sembari memegangi dadanya menuju mobilnya.


"Sepertinya aku harus ke dokter untuk memeriksakan organ tubuhku, aku tidak mau di balik dadaku ada organ yang remuk," ucap Tomi sembari menahan rasa sakit, tangannya segera membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam, tidak lama kemudian Tomi menjalankan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2