Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 14. Gaun merah.


__ADS_3

Bagi Dinda acara amal nanti malam adalah sebuah acara yang luar biasa, apa lagi banyak pria pembisnis yang berdatangan berkumpul menjadi satu ruangan.


Hahah!


"Aku harus bisa tampil cantik," ucap Dinda dengan tawa di bibirnya begitu bahagia, berjalan anggun memasuki butik ternama untuk membeli pakaian mahal di sana.


"Beli baju mahal, to bukan uang aku, rumayan lah membodohi si Tomi bodoh."


Hahah!


"Nona Dinda?"


Tawa Dinda seketika berhenti saat mendengar namanya dipanggil, pegawai butik menghampiri Dinda lalu mengajak Dinda untuk masuk ke ruang VVIP, satu jam lalu Dinda sudah membuat kesepakatan dengan pemilik butik, ingin membeli gaun yang bagus.


"Bagaimana Nona Dinda apa kah Anda menyukainya?" tanya seorang Manajer yang langsung melayani Dinda.


Dinda belum menjawab, diam sembari berpikir matanya terus fokus mengamati tiga gaun bagus di depannya.


Antara warna merah, hijau, dan biru. Dinda bingung harus memilih yang mana, semua sama tampak bagus, sampai sulit untuk membedakan yang pling bagus, semua terlihat sempurna tidak miliki kekurangan.


Dan setelah cukup lama terdiam sembari berpikir, ahirnya pilihannya jatuh pada warna biru.


Warna biru adalah warna langit, Dinda berharap dengan memakai gaun warna biru akan mendapat kebaikan, dan dapat mewujudkan impiannya datang ke sana mendapatkan pujaan hati pria kaya.


"Bungkus yang warna biru, berikan padaku sekarang."


"Baik Nona."


Manajer butik mengangkat tangannya, dua pegawai butik mendekat dan segera melepas gaun yang masih terpasang di patung, selesai melepas langsung membungkusnya dengan rapih kemudian memberikannya pada Dinda.


Setelah dari butik, Dinda langsung melajukan kembali mobilnya menuju salon ternama, tiga puluh menit Dinda sudah sampai di tempat tujuan.


Dinda segera meminta pada pegawai salon untuk meng make-up wajah Dinda, acara akan di mulai pukul tujuh malam, dan satu jam sebelum acara dimulai, Dinda dan Tomi harus tiba di sana lebih dulu.


Saat ini sudah pukul lima sore, Dinda tidak miliki banyak waktu untuk berdandan, dengan bicara sedikit ketus, Dinda memerintah pegawai salon untuk mempercantik Dinda.


Setelah make-up dirasa sudah cukup, Dinda mengganti pakaiannya menggunakan gaun yang barusan dirinya beli.


Keluar dari ruang ganti berjalan menuju cermin, melihat pantulan dirinya di sana.

__ADS_1


Perfek, Dinda bahagia dengan tampilan memukaunya malam ini, dengan tersenyum maut Dinda membayangkan akan ada pria kaya yang akan jatuh ke pelukannya.


Setelah persiapannya sudah selesai, Dinda hanya tinggal menunggu Tomi datang, Tomi sudah dalam perjalanan untuk menjemput Dinda, kemudian akan berangkat bersama menuju acara amal.


Dua puluh menit sampai di tempat salon Dinda berada, Tomi menghentikan mobilnya, membuka setengah kaca mobilnya melihat tampilan Dinda malam ini.


Dinda tersenyum-senyum menggoda ke arah Tomi, tapi pandangan mata pria itu biasa saja, Dinda hanya sekedar partner dalam menjalankan bisnis, tidak lebih dari itu bagi Tomi, sementara wanita yang Tomi cintai entah siapa, dengan Amanda juga tidak mencintai.


Dinda masuk ke dalam mobil dengan bibir mengerucut tajam, mengumpat Tomi dalam hati yang tidak bersikap romantis padanya, tidak mau membukakan mobil untuknya.


Tomi kembali melajukan mobilnya menuju tempat acara, di sepanjang perjalanan mereka berdua berdiam saja, Dinda sibuk dengan pikirannya yang membayangkan akan bertemu dengan banyak pria tampan dan kaya, sedangkan Tomi kepikiran Amanda, sebelum berangkat tadi kembali bertengkar dengan Amanda, hanya karena Tomi tidak mau bikin sambal petis jambu.


Sibuk dengan pikiran masing-masing, tidak terasa mobil kini sudah sampai di depan hotel tempat acara.


Setelah mobil terparkir sempurna, Tomi dan Dinda berjalan bersama memasuki ballroom hotel, di dalam sana sudah banyak yang berdatangan, teman kolega bisnis Tomi memanggil Tomi, Dinda bergabung dengan temannya yang lain.


"Hei Tom, apa kabar?" tanya Bram teman baik Tomi.


"Aku baik, kamu bagaimana?" tanya balik Tomi pada Bram, mereka berdua saat ini sedang duduk bersama, di meja bundar, ditemani dengan segelas wine, dengan kadar alkohol rendah.


"Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik."


Tertawa bersama, mereka berdua lanjut bercengkrama lagi, sembari menunggu acara dimulai.


Dinda yang saat ini duduk bersama teman-temannya juga pada sibuk mengagumi para pria kaya.


"Eh yang itu tampan."


"Itu juga tampan."


"Dia, dia makin tampan."


"Aku mau yang tampan dan kaya."


Suara-suara Dinda bersama dua temannya, yang asyik menunjuk dan mengagumi para pria tampan.


Setelah mesin waktu terus berputar, kini tibalah saatnya acara dimulai.


Pemandu acara sudah naik ke atas podium, mulai menjelaskan tujuan acara amal ini, dan setelah menjelaskan dengan panjang lebar, kini mulai pemberitahuan sesuatu yang akan diamalkan.

__ADS_1


"Baiklah akan kita lihat bersama-sama di balik tirai ini, adalah suatu barang mewah, yang bila diantara salah satu tamu undangan, bersedia untuk memiliki, maka akan sangat bersyukur untuk kami, uang amalnya bisa kami berikan pada pihak yang membutuhkan," jelas pemandu acara.


"Mari kita hitung bersama-sama. Satu, dua, tiga ...."


Dalam waktu bersamaan dua wanita cantik menggeser tirai dan seketika menampakkan sebuah mobil antik.


"Inilah sebuah mobil antik, siapa diantara kalian semua yang berani membawa pulang dengan harga 500 juta."


Selesai pemandu acara bicara, hampir setengah tamu undangan yang mengangkat tangannya tanda akan membelinya.


Satu orang berani menaikan harganya. "600 juta."


Yang lain menyahut, "800 juta."


Ada lagi yang menyahut, "850 juta."


Dan masih banyk lagi sahutan-sahutan harga diantara mereka yang berani menawar tinggi, demi membawa pulang mobil antik, ruang acara semakin ramai, dengan sahutan-sahutan mereka semua, seolah tidak ada yang mau mundur, semua ingin maju.


Sampai pada harga penawaran paling tinggi yang dilakukan oleh Tomi.


"Dua miliar!" suara lantang Tomi seketika membungkam mulut semua orang.


"Wuahh dua miliar adalah harga paling tinggi, masih ada yang ingin menyaingi?" tanya pemandu acara.


Semua diam sampai selama tiga menit, pemandu acara kembali bicara, "Baik jika memang tidak ada lagi yang menawar harga tinggi, maka akan saya umumkan, bahwa mobil antik ini akan menjadi milik-."


"Empat miliar ..." suara wanita seketika menghentikan ucapan pemandu acara, dan seketika semua orang melihat ke arah pintu masuk ballroom hotel.


Mata mereka semua terpaku pada sosok wanita yang baru datang, tidak begitu jelas wajahnya karena silaunya lampu yang menerangi ke arah mereka, semua orang sampai menyipitkan matanya, terus memandangi langkah wanita itu yang berjalan semakin mendekat, dengan langkahnya yang anggun menggunakan gaun merah.


Setelah wanita itu sampai di tengah mereka semua, lampau yang menerangi ke arah mereka seketika mati, kini mereka semua bisa melihat siapa wanita itu, yang saat ini kembali berjalan menuju podium.


Saat wanita itu berbalik badan, senyumnya yang mempesona seketika menghipnotis semua orang di ruangan tersebut, tapi tidak dengan Tomi, pria itu marah campur kesal.


"Amanda!" ucap Tomi tegas dengan suara tertahan, makin bergemuruh dalam dadanya.


"Selamat mobil ini menjadi milik Nona Amanda."


"Terimakasih." tersenyum kecil.

__ADS_1


"Menarik," ucap seorang pria tampan, yang duduk di tengah-tengah para orang kaya, hadir di tempat ini hanya sekedar iseng, tidak berminat untuk melakukan apa pun.


__ADS_2