
Tiga hari kemudian, tepat hari ini Amanda sudah mendapat ijin untuk pulang. Sejak pukul sembilan pagi tadi Mommy Vio sudah menemani Amanda di rumah sakit. Juga ada satu pelayan Amanda yang juga membantunya yang kini sedang merapihkan barang-barang Amanda.
Valentino kembali yang tadi baru saja keluar untuk menyelesaikan administrasi.
"Sudah selesai Valentino?" Mommy Vio menoleh saat Valentino datang.
"Sudah Mom, Valentino saja yang mendorong kursi roda Amanda."
Setelah bicara seperti itu, Valentino membantu Amanda untuk duduk di kursi roda, Mommy Vio dan pelayan berjalan lebih dulu, kemudian disusul Valentino dan juga Merry.
Hanya mendorong kursi roda Amanda jantung Valentino berdebar-debar tidak karuan. Berulang kali pria itu mengatur nafas.
Jauh merindukan, dekat meresahkan jantungnya pikir Valentino.
Setelah sampai parkiran mobil Amanda, Valentino membantu Amanda untuk masuk ke dalam mobil, Mommy Vio ikut masuk ke dalam mobil Amanda.
Di kursi depan, ada pelayan juga Merry sebagai pengemudi, setelah mobil Merry jalankan, Valentino baru masuk ke dalam mobilnya.
Hah sudah jomblo di dalam mobil juga jomblo sendirian tidak ada yang nemenin, gerutu Valentino dalam hati sembari menjalankan mobilnya mengejar mobil yang Merry kendarai.
Di dalam mobil Amanda, Mommy Vio menggenggam tangan Amanda seolah menguatkan wanita itu, Amanda tersenyum sudah ikhlas dengan yang terjadi.
Tiga puluh menit, mobil yang Merry kendarai sampai di apartemen.
Valentino yang juga sudah sampai, langsung menghampiri Amanda, mereka semua bersama-sama berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.
Setelah sampai di lantai tempat ruang apartemen Amanda, Merry menekan tombol password, setelah pintu terbuka Valentino mendorong kursi roda Amanda untuk masuk ke dalam.
Valentino mengantar Amanda ke dalam kamar wanita itu, untuk kali ini Mommy Vio yang akan menjaga Amanda.
Setelah Amanda berbaring di atas ranjang, Mommy Vio mengusir Valentino dari dalam kamar.
Valentino meminta untuk tidak disuruh keluar, tapi Mommy Vio tetap tegas menyuruh Valentino keluar.
"Keluar, pergi sana ke perusahaan selesaikan pekerjaan kamu jangan hanya meminta Son untuk menghandle." Mommy Vio mengibaskan tangan membuat gerakan mengusir Valentino.
Valentino menghela nafas panjang sebelum ahirnya keluar dari kamar Amanda. Bibirnya ngedumel kesal sama Mom Vio.
Di luar kamar Amanda, ada Merry yang lagi duduk di sofa, gadis itu sedang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
Valentino menghela nafas panjang lagi yang kemudian putuskan pergi dari sana mau datang ke kantor.
__ADS_1
Mommy Vio mau membuatkan makanan untuk Amanda, saat ini Amanda sedang istirahat.
Sampainya di di dapur, Mommy Vio mencari bahan makanan yang mau dibuatnya di dalam kulkas. Tapi sepertinya yang dicari tidak ada.
"Bibi, ada tulang iga sapi tidak?"
Pelayan tersebut yang merasa ditanyai langsung mendekat. "Tidak ada Nyonya, apa mau saya belikan lebih dulu, di bawah sana ada yang jual."
"Boleh, ini uangnya." Mommy Vio menyerahkan selembar uang ratusan ke pelayan tersebut.
Pelayan itu segera membeli tulang iga sapi. Mommy Vio duduk di kursi ruang makan sembari menunggu pelayan itu datang.
Lima belas menit pelayan itu sudah kembali, Mommy Vio segera memasak, rencana mau membuat sup iga.
Mommy Vio mengerjakannya sendiri, pelayan yang tadi menyelesaikan pekerjaan dia.
Sembari menunggu iga yang sedang di presto, Mommy Vio membuat bumbunya. Memang sedikit memakan waktu, karena bila tidak cukup waktunya akan keras dagingnya.
Setelah dirasa cukup, Mommy Vio segera memasak sup iganya, lima belas menit sup iga pun sudah jadi.
Mommy Vio menyiapkan nasi dalam piring serta memasukkan sup iga dalam mangkuk juga air minum dalam gelas.
Mommy Vio membawanya masuk ke dalam kamar Amanda, sampainya di dalam sana Mommy Vio duduk di kursi samping ranjang.
Setiap suapan demi suapan yang Mommy Vio berikan untuk Amanda, Amanda merasa seperti memiliki sosok seorang ibu lagi.
Setelah makanan itu habis, Mommy Vio memberikan gelas minum, setelah itu Amanda kembali istirahat lagi.
"Mom, terimakasih sudah mau repot-repot merawat aku," ucap Amanda lirih.
Mommy Vio tersenyum. "Tidak repot sayang, sekarang tidurlah."
Mommy Vio menemani Amanda sampai wanita itu tertidur.
Di tempat lain.
Ibu Lili dan juga Ayah Andre langsung datang ke Indonesia setelah mendengar kabar Amanda keguguran, tentu marah dan sedih mendengar kabar tersebut, karena semua itu adalah ulah Tomi putranya sendiri.
"Tomi ..." teriak Ibu Lili dengan marah memanggil Tomi yang kebetulan saat ini duduk di ruang tengah.
Tomi terperanjat kaget mendapat sang Ibu datang ke rumahnya. Tomi baru saja mau menyapa namun lebih dulu mendapat tamparan keras Ibu Lili.
__ADS_1
Plak!
"Bodoh! Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat Amanda keguguran, hah!"
Ayah Andre mau menenangkan Ibu Lili supaya kendalikan emosinya namun tidak bisa Ibu Lili sudah terlanjur marah.
"Jawab Tomi jangan diam saja!" bentak Ibu Lili lagi yang makin kesal melihat Tomi hanya diam saja.
"Aku tidak melakukan apa pun, lagian apa sih urusan Ibu," bicara ketus sembari mau berlalu.
"Tomi!" bentak Ibu Lili lagi yang semakin marah dengan nafas memburu, seketika menghentikan langkahnya.
"Ibu kecewa sama kamu Tomi, tega kamu melakukan itu semua!" Ibu Lili tertunduk lelah di atas sofa.
Ayah Andre langsung memeluk istrinya, menenangkan istrinya yang sedang menangis.
"Aku tidak tahu bila ahirnya akan berujung seperti ini, tadinya aku hanya ingin memberikan pelajaran sama Amanda." Selesai bicara Tomi langsung pergi menuju kamarnya.
Ibu Lili tidak menyahut lagi, hatinya sudah merasa sakit dengan ulah Tomi, rasanya marah dan tidak ingin menganggap Tomi sebagai anak.
Benar-benar tidak tahu sikap buruk Tomi temurunan dari siapa karena sungguh beda dengan ibu dan ayahnya.
Ibu Lili semakin pusing mikirin semuanya, sekarang impiannya memiliki seorang cucu sudah hilang.
Aahhh! Teriak Ibu Lili sembari menangis.
"Bu tenang Bu."
"Ibu tidak bisa tenang Ayah!" Ibu Lili bangkit dari duduknya, menyusul Tomi ke dalam kamar pria itu.
Sampai di sana langsung membuka pintu dengan kasar, Ibu Lili menghampiri Tomi dan kembali menampar pipi Tomi berulang kali sampai puas.
Ibu Lili mengambil bantal dan digunakan untuk memukul Tomi.
Bugh bugh.
"Bu, ampun Bu ampun!" Tomi berusaha menghindar tapi Ibu Lili terus mengejar dan melayangkan pukulan dengan bantal.
Tidak berhenti di situ juga, Ibu Lili menjewer telinga Tomi menariknya sampai sekuat tenaga.
Aaa! ibu sakit ....
__ADS_1
Ibu Lili menyudahi aksinya menatap Tomi yang tampak kacau dengan tatapan tajam serta nafas naik turun dengan cepat sebelum ahirnya pergi dengan perasan hancur campur kecewa.