
Pria tampan yang menerima kiriman sebuah foto dari anak buahnya, langsung berdecih saat melihat Jefri dalam foto tersebut tengah tersenyum pada Amanda.
"Dasar tuyul beraninya dia senyum-senyum dengan wanita calon istriku," umpatnya, namun bodyguard yang berdiri di ruangan tersebut sudah tidak heran bila bosnya suka bicara asal.
Bagaimana tidak asal, tiba-tiba bicara calon istri, sungguh aneh pikir bodyguard tersebut.
"Tapi tidak apa-apa, kali ini aku maafkan karena kau membantu dia," ucapnya lagi sembari menyentil tepat gambar foto Jefri.
Sementara itu di tempat restoran Amanda bertemu Jefry, ternyata di sana juga ada Dinda yang juga lagi mau makan siang.
Dinda melihat Amanda dengan tatapan benci.
Pria mana lagi itu yang bersama Amanda, cibir Dinda dalam hati.
Kenapa sih Amanda selalu beruntung, batinnya kesal.
Dinda teringat bahwa sejak dahulu Amanda selalu beruntung, dicintai banyak pria tampan dan kaya, dan sebenarnya sudah sejak masa sekolah Dinda iri sama Amanda, namun pada saat itu kejahatan Dinda belum terlihat.
"Apa sih pesona Amanda sampai banyak pria yang dekat dengan dia," cibir Dinda lagi.
Dinda melihat wajahnya di kaca kecil yang selalu Dinda bawa. "Padahal aku tidak kalah cantik dari Amanda," puji pada dirinya sendiri, yang kemudian bersungut kesal ke arah Amanda.
Tidak lama kemudian Amanda dan Jefry pergi dari tempat tersebut, Dinda juga segera bangkit dan mengikuti mereka secara diam-diam.
Kini Amanda dan Jefry sedang menuju ke perusahaan, hari ini juga Amanda akan menekan Tomi, dan akan menunjukan semua kejahatan Tomi.
Amanda tidak akan menundanya lagi, bahkan Amanda juga berniat untuk menunjukan pada kedua mertuanya, suapan tahu kelakukan putranya, dan tidak sekedar menuduh Amanda yang mau cerai tanpa alasan yang kuat.
Tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Jefri sudah tiba di perusahaan.
Amanda dan Jefry berjalan sama-sama memasuki gedung.
Setelah tiba di lantai ruang kerja Amanda, mereka berdua masuk ke dalam, Amanda dan Jefry sama-sama menyusun semua bukti-bukti itu di rangkai dalam bentuk Vidio slideshow, yang nanti akan Amanda tampilkan melalui layar monitor, setelah menunggu beberapa saat Vidio sudah jadi.
Amanda memerintahkan bagian server perusahaan untuk menghubungi Tomi.
Jefry menguatkan Amanda, untuk lebih tenang dan tidak perlu khawatir, Jefry sengaja ikut karena tidak mau terjadi apa-apa dengan Amanda, karena biasanya orang apa bila kejahatannya itu terbongkar bisa berbuat nekat.
__ADS_1
Tentu Jefry paham karena dirinya seorang mafia, banyak kejadian seperti itu terjadi saat membantu masalah kliennya.
Amanda mengerti maksud Jefry. "Aku tidak masalah, aku baik-baik saja, mau seperti apa pun nanti dia akan mengelak, aku yakin bukti yang aku miliki ini sudah kuat bila aku bawa ke jerat hukum."
Jefry menanggapi ucapan Amanda barusan dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Amanda terbuka. Tomi yang tadinya merasa senang karena Amanda memanggilnya, rasa senang itu seketika sirna saat melihat ada pria lain di ruang kerja Amanda.
"Siapa dia!" tanya Tomi dingin sembari melangkah masuk.
Amanda melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak usah banyak tanya, kamu cukup duduk di sana dan lihatlah apa yang akan aku perlihatkan."
Tomi kesal mendengar suara ketus Amanda, Tomi duduk sembari menatap sinis ke arah Jefry.
Amanda tetap berdiri di samping Jefry yang saat ini sedang duduk di kursi kerja Amanda sembari memainkan laptopnya yang sudah terhubung ke layar monitor.
Saat layar monitor di ruang kerja Amanda menyala dan kemudian menampilkan slide show rangkaian bukti kejahatan Tomi.
Seketika Tomi melongo lebar andai ada lalat terbang mungkin langsung masuk karena mengira gua.
Tomi menggelengkan kepalanya, berpikir tidak mungkin Amanda mendapatkan semua itu yang sudah ia simpan dengan rapat.
Tomi berdiri dari duduknya menatap marah ke arah Amanda. "Penipuan macam apa lagi ini yang kau buat Amanda!"
Amanda terkekeh sembari tepuk tangan.
Nyali Tomi sedikit menciut saat mendengar Amanda tepuk tangan, tapi sebisa mungkin Tomi menguasai diri mempertahankan ekspresinya yang lagi marah.
"Sudah aku duga kamu pasti akan bicara seperti itu."
Deg.
Tomi terkejut saat Amanda mampu membaca apa yang akan dirinya lakukan.
"Tapi Amanda, aku tidak mungkin melakukan semua itu!"
Amanda menggelengkan kepalanya tanda tidak mau menerima alasan apa pun dari Tomi.
__ADS_1
"Kita bercerai, atau kamu mau masuk dalam penjara, pilihan yang simpel."
Seketika ucapan Manda barusan langsung menyulut emosi Tomi, pria itu berjalan mendekati Amanda.
"Kau!" suara tinggi Tomi sembari mengangkat tangannya siap mau menampar Amanda.
Namun tangan itu hanya berhenti di udara, karena Jefry dengan sigap menahan tangan Tomi.
Jefry menghempaskan tangan Tomi. "Kalo laki-laki beraninya jangan main kasar sama perempuan bro! nih pukul aku pilih yang mana," ucap Jefry sembari menunjukkan tubuh kekarnya.
Tomi langsung mendengus kesal, melihat tubuh berotot Jefry, sembari menelan ludah kasar.
Amanda yang melihat ekspresi Tomi yang dipamerin tubuh berotot Jefry, langsung istighfar dalam hati, benar-benar selama ini sudah salah mencintai pria yang salah.
"Pria tidak normal, pergi!" Jefry mendorong tubuh Tomi untuk keluar dari ruangan tersebut.
Amanda langsung duduk di kursi sofa setelah Tomi keluar dan pintu sudah kembali Jefry tutup.
Amanda menoleh melihat Jefry yang sedang berjalan menuju kursi sofa. "Mengapa pria seperti itu bisa berhubungan dengan pria juga wanita?"
"Ya bisa, namanya juga kelainan, meski bukan banci," jawab Jefry sembari duduk di sofa.
"Itu sangat mengerikan."
"Dan yang mengerikan itu suami kamu," sarkas cepat Jefry yang kemudian disusul tawa.
Amanda mendengus kemudian melempar bantal kursi sofa ke arah Jefry.
Jefry menangkap bantal itu. "Jangan marah baby."
Amanda melengos, yang kemudian bangkit dari duduknya berganti di kursi kerjanya, Amanda lebih milih lanjut kerja lagi dari pada meladeni Jefry.
Sementara itu Dinda yang berada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari perusahaan Fashion Amanda Corp.
Terus memantau ke sana tidak mau sampai kehilangan mobil Amanda. Namun sudah ditunggu-tunggu sedari tadi ternyata mobil Amanda tidak keluar lagi.
Tapi Dinda putuskan untuk tetap menunggu karena berniat akan bicara sama Amanda, Dinda tidak mau jadi pengangguran, Dinda mau meminta Amanda untuk mencabut informasi buruk mengenai dirinya yang menyebabkan semua perusahaan menolak lamaran kerjanya.
__ADS_1
Sementara itu Tomi yang berada di ruang kerjanya sedang marah-marah, kali ini lebih parah dari sebelumnya, semua barang yang ada di ruangan tersebut Tomi banting dan Tomi hamburkan sampai seisi lantai penuh.
"Aku adalah Tomi hahaha ... Kau tidak akan bisa pergi dariku Amanda hahahah!"