
Saat pintu ruang IGD terbuka, Merry dan juga pria yang tadi menolongnya langsung berdiri.
"Dokter bagaimana keadaan Nyonya Amanda?" tanya Merry penuh rasa khawatir.
"Iya, bagaimana keadaan pasien di dalam?" tanya pria yang tadi menolong Amanda yang juga tidak kalah panik.
Dokter tersebut tersenyum. "Tenang saja, keadaan pasien baik-baik saja, ibu dan bayinya sehat."
Merry dan pria itu langsung bernafas lega setelah mengetahui tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kemudian dokter pamit undur diri, Merry bersama pria itu masuk ke ruang IGD untuk melihat keadaan Amanda.
Saat melihat Merry masuk ke ruang IGD, Amanda tersenyum, fokusnya hanya pada Merry yang saat ini tengah berjalan ke arahnya, dua perawat yang membantu dokter barusan pamit untuk keluar.
"Nyonya, Nyonya baik-baik saja?" tanya Merry setelah berdiri di samping ranjang pasien.
"Aku baik," jawab Amanda dengan suara lemah.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja." Bukan Merry yang bicara tapi pria yang tadi menyelamatkan Amanda dari tabrakan mobil.
Amanda melihat pria itu yang saat ini berdiri di samping Merry, Amanda merasa pernah melihat wajah pria itu, tapi lupa melihat dimana.
"Nyonya, Tuan ini yang tadi menyelamatkan Anda." Merry memberitahu Amanda.
Amanda kemudian ingat kejadian tadi, disaat dirinya benar-benar terkejut melihat mobil yang melaju cepat kearahnya, kakinya mau berlari terasa berat, hanya bisa berteriak namun tiba-tiba merasakan tubuhku ditarik ke belakang oleh seseorang, yang entah siapa Amanda tidak tahu, dan setelah merasa tubuhnya ambruk di pinggir jalan Amanda sudah tidak ingat apa-apa lagi.
"Terimakasih," ucap Amanda seraya tersenyum kecil.
Pria itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Valentino."
Amanda berpikir sejenak untuk menerima jabatan tangan pria itu, kemudian Amanda mengangkat tangannya membalas jabatan tangan pria itu. "Amanda."
Saat berjabatan tangan Valentino tidak langsung melepas tangan Amanda, pria itu menatap dalam bola mata Amanda, apa bila tidak mendengar dehheman Merry mungkin belum Valentino lepaskan.
__ADS_1
"Maaf," ucap Valentino merasa canggung disertai senyum malu-malu.
Amanda tersenyum kecil.
Karena keadaan Amanda baik-baik saja, hanya luka lecet dikit di kening dan sudah diperban, Amanda memilih untuk pulang.
Merry membantu Amanda untuk berjalan keluar dari ruang IGD, sementara itu Valentino menyelesaikan administrasi lebih dulu, Amanda dan Merry menunggu Valentino, setelah menunggu beberapa saat administrasi terselesaikan serta obat untuk penguat kandungan Amanda sudah diperoleh, Valentino menghampiri Amanda.
Mereka bertiga keluar bersama-sama dari dalam klinik, Valentino mengantar Amanda sampai di parkiran mobil Amanda, tadi mobilnya sudah Merry pindahkan ke halaman klinik.
Amanda dan Merry sudah berada di dalam mobil, Valentino masih berdiri di samping mobil Amanda.
"Hati-hati di jalan, kabarin apa bila sudah sampai," ucap perhatian Valentino ke Amanda.
"Tapi sepertinya tidak bisa kabarin kamu," ucap Amanda yang langsung mendapatkan kening berkerut Valentino.
"Karena aku tidak memiliki nomor ponsel kamu."
Valentino langsung menghela nafas panjang, melupakan yang satu ini bahwa belum bertukar nomor telepon.
Amanda kemudian memberikan kartu nama di situ juga ada nama perusahaannya.
Valentino menerima kartu itu, kemudian melambaikan tangan sebelum akhirnya kaca mobil dinaikkan dan mobil melaju.
"Hah yes yes!" ucap Valentino sembari kakinya jingkrak-jingkrak, bahagia hari ini bisa bertemu Amanda, kartu nama milik Amanda sampai Valentino cium-cium.
Kartu namanya saja aku sayangi apa lagi orangnya, gumam Valentino saat kartu nama itu nempel di bibir.
Valentino tidak sadar bahwa tingkah konyolnya barusan itu mengundang perhatian orang-orang, apa lagi saat ini dirinya berdiri di parkiran mobil, lalu lalang orang yang datang dan keluar dari klinik menatap aneh ke arahnya.
Setelah menyadari tingkahnya itu dilihatin orang, Valentine segera menyimpan kartu itu ke dalam dompetnya, kemudian menyibak rambutnya ke belakang seraya memasang ekspresi datar kemudian berjalan menuju mobilnya dengan gayanya yang cool.
Sementara itu di tempat lain, Dinda yang saat ini baru saja sampai di rumahnya, segera masuk ke dalam rumah setelah mobilnya di parkirkan.
__ADS_1
Dinda memasuki rumah dengan perasaan sangat kesal dan marah, sampainya di dalam kamar langsung melempar tas yang Dinda bawa.
Ahh! Sial sial!
Umpat Dinda yang merasa lagi-lagi rencananya untuk mencelakai Amanda gagal, ini bukan yang pertama tapi sudah yang kesekian kalinya, Dinda frustasi harus dengan cara apa lagi untuk mencelakai Amanda supaya berhasil.
"Amanda! kenapa aku tidak pernah berhasil mencelakai kamu, ah!" Dinda berteriak sembari melempar jarum ke foto Amanda yang terpajang di dinding.
Setiap kali Dinda mau melakukan rencana jahat, atau sudah melakukannya, Dinda akan melempar jarum ke foto Amanda, sampai jarum itu menancap di foto itu.
Dinda mendekati foto itu, matanya menatap tajam sembari tangannya menunjuk foto itu. "Lihat Amanda aku akan balas dendam rasa sakit hatiku karena kamu! aku tidak akan biarkan kamu hidup tenang!"
Dinda mengambil pisau buah kemudian ia gunakan untuk menyayat-nyayat sebagian foto Amanda.
Hahahah! Dinda tertawa, tawa yang sebenarnya menyedihkan, miris dengan hidupnya yang sekarang.
Setelah tertawa Dinda ambruk ke lantai menangis di sana, sekarang sudah tidak miliki teman lagi, bahkan pelayan juga sekuriti sudah tidak kerja lagi, Dinda tidak sanggup menggajinya lagi, karena sudah tidak kerja, dan setiap hari selalu ada pengeluaran.
Saat ini yang Dinda miliki hanya kesepian, semua sudah pergi meninggalkan Dinda sendiri. Bahkan rumah yang ia tempati saat ini pasti akan segera Dinda tinggalkan karena bayaran cicilan belum lunas.
Dinda semakin menangis tersedu-sedu mengingat semua itu.
"Kenapa seperti ini kenapa ..." teriak Dinda yang belum siap bila harus hidup susah. Tidak ada lagi yang akan Dinda jadikan keluhan, karena kedua orang tuanya juga sudah meninggal, dan saudara-saudaranya walaupun hidup kecukupan tapi pelit, sungguh miris benar-benar tidak ada yang peduli.
Dinda meratapi nasibnya sendiri.
Sementara itu Amanda yang sudah tiba di apartemen, langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Dia sudah baik sama aku, apa aku perlu memberikan hadiah padanya," ucap Amanda pada diri sendiri sembari bersandar dan mengingat wajah Valentino.
Amanda langsung menepuk jidatnya kini ia ingat bahwa Valentine adalah pria yang di malam pesta itu memberikannya setangkai bunga mawar.
"Apa bila Valentino adalah pria yang sama dengan yang aku lihat malam itu, apa mungkin Valentino yang mengatakan pengagum aku." Amanda bicara sendiri mencoba menyambungkan.
__ADS_1
"Ah, tapi rasanya tidak mungkin, pasti hanya wajahnya kebetulan mirip saja," putus Amanda kemudian, tidak ingin mencurigai seseorang.
Tiba-tiba, pintu kamar Amanda terbuka, pelayan masuk mengantarkan makanan sore untuk Amanda.