
"Dokter bagaimana keadaan pasien di dalam?" tanya Merry penuh khawatir setelah dokter keluar dari ruang IGD.
"Pasien tidak boleh lelah dan tidak boleh banyak pikiran, karena bisa membahayakan kesehatan janinnya," terang dokter tersebut sebelum ahirnya pamit undur diri.
Merry membuka pintu, seketika melihat Amanda yang sudah sadar di dalam sana, Merry mendekat.
"Nyonya, apa ada yang Nyonya butuhkan, akan Merry bantu," tawarnya setelah berdiri di samping ranjang pasien.
Amanda menggeleng. "Aku mau pulng Merry."
Merry mengangguk, kemudian membantu Amanda untuk turun dari ranjang dan keluar dari ruang IGD.
Sebelum pulang mereka harus menebus obat serta vitamin untuk penguat kandungan Amanda, sebelum dokter keluar tadi, juga sudah bicara dengan Amanda bahwa janinnya perlu dijaga tidak boleh sampai banyak stres dan lelah.
Setelah selesai menebus obat juga menyelesaikan administrasi, Amanda dan Merry berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil.
Sampai di sana Amanda memegang tangan Merry dan melihat gadis itu. "Tadi yang membawa aku kerumah sakit siapa?"
"Tuan Jefry, Nyonya. Namun setelah mengantar Anda tadi, Tuan Jefri pamit pergi karena ada urusan."
Amanda manggut-manggut, kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah Merry buka pintunya.
Merry menutup lagi pintu mobil tersebut, kemudian di susul dirinya masuk lewat pintu sebelah bagian depan.
Tidak lama kemudian mobil melaju meninggalkan area rumah sakit dan memasuki jalan raya yang padat akan kendaraan setiap harinya.
Dalam perjalanan pulang tidak ada pembicaraan antara Amanda dan juga Merry, di kursi belakang sana, Amanda sedang memejamkan matanya, entah tidur atau tidak Merry tidak tahu.
Setelah perjalanan tiga puluh menit, mobil yang Merry kendarai kini sampai di depan Apartemen Amanda.
"Nyonya." Merry menoleh ke belakang memanggil Amanda yang ternyata sedang tidur.
Amanda membuka matanya saat mendengar suara yang memanggilnya, Amanda melihat sekeliling yang ternyata sudah berada di depan gedung apartemennya.
Merry yang sudah berada di luar mobil, segera membuka pintu mobil untuk Amanda.
"Terimakasih Merry," ucap Amanda setelah berada di luar mobil.
Merry menunduk hormat, terus memandangi Amanda yang kini mulai berjalan masuk ke dalam gedung.
Merry kemudian kembali masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Amanda yang saat ini sudah berada di dalam lift yang berjalan naik membawa dirinya ke tempat lantai kamarnya berada, keadaannya masih belum baik-baik saja, semua kejadian yang ia ketahui hari ini masih terasa mengejutkan.
Jika mengingatnya Amanda hanya ingin marah, namun sebisa mungkin Amanda berusaha tenang karena tidak mau janinnya sampai terkorbankan.
Peringatan dokter begitu Amanda ingat, ada yang lebih penting yaitu menjaga calon bayinya dari pada mikirin masalah yang hanya merugikan.
Setelah pintu lift terbuka, Amanda melangkah keluar, namun alangkah terkejutnya saat melihat di depan pintu kamar apartemennya, ada pria yang paling Amanda benci, saat ini sedang berdiri di sana.
Amanda melengos, saat melihat Tomi menghampirinya.
"Amanda aku minta maaf," ucap Tomi lirih seraya menatap Amanda yang tidak mau melihat mukanya.
Amanda diam tidak mau menjawab.
Tomi tidak menyerah, kembali meyakinkan Amanda, Tomi memberanikan diri untuk meraih tangan Amanda ingin digenggamnya.
Namun dengan cepat Amanda tepis tangan itu seraya menatap tajam wajah Tomi. "Apa lagi! apa lagi yang mau kamu ucapkan, hah!"
"Amanda aku bisa jelasin bahwa semua itu tidak-."
"Tidak benar! hahah," sarkas cepat Amanda seraya tertawa masam.
Tomi kehabisan kata-kata, bibirnya mau bicara tapi tidak tahu mau bicara apa.
"Minggir!" Amanda menyingkirkan tubuh Tomi yang menghadang dirinya.
"Lebih baik pulanglah! dan jangan telat datang besok pagi ke pengadilan," ucap Amanda tanpa menoleh ke belakang sebelum ahirnya membuka pintu kamar apartemennya dan masuk ke dalam.
Tomi membuang nafas berat seraya kembali masuk ke dalam lift.
Sampainya di lobby Tomi berjalan keluar dengan sangat marah campur kesal, bahkan menutup pintu mobil dengan begitu kuat setelah duduk di dalam sana.
Tomi memukul-mukul setir mobil berulang kali sampai puas, tidak merasakan sakit ditangannya namun yang ia rasakan hanya marah sama dirinya sendiri yang sudah ketahuan Amanda.
Dan membuat semua rencana untuk bisa kembali dengan Amanda akan sulit.
"Semua ini gara-gara Dinda!" teriak Tomi yang menyalahkan Dinda.
Ahh!
Tomi frustasi mengacak rambutnya sendiri, sembari terus berteriak.
__ADS_1
Sementara itu Amanda yang berada di dalam kamar, sedang istirahat ingin segera tidur untuk menghilangkan rasa pusing.
Namun tiba-tiba ponselnya bunyi, Amanda melihat nama yang tertera di layar hp ternyata Ibu Lili sang mertua yang telpon.
"Halo Ibu," sapa Amanda setelah telepon ia angkat.
"Sayang, bagaimana apa keputusan kamu, apa kamu mau kembali ke rumah?" tanya Ibu Lili di sambungan telepon.
Amanda menghela nafas panjang, Ibu Lili yang mendengar helaan nafas panjang Amanda jadi khawatir dan menduga-duga.
"Ibu, Amanda tetap pada keputusan Amanda yang diawal," ucap Amanda cukup tegas.
Ibu Lili yang mendengar suara Amanda di sambungan telepon cukup kaget, dan merasa Amanda benar-benar marah sama Tomi.
Tomi kau sudah memalukan kedua orang tuamu, kau Ibu didik untuk menjadi anak baik, ternyata kau malah menyakiti istrimu, apa kau tidak tahu sama saja kau menyakiti Ibu, geram Ibu Lili dalam hati.
"Baiklah sayang, jika memang keputusanmu untuk bercerai sudah bulat, Ibu tidak bisa melarangnya lagi, namun jika Ibu boleh minta tolong dipikirkan lagi kasihan calon cucu Ibu," ucap Ibu Lili lagi sebelum sambungan telepon dimatikan.
Setelah mendengar ucapan Ibu Lili, Amanda menyentuh perutnya, mengusap lembut janin yang usianya baru empat bulan itu.
Kita tidak pernah tahu akan terlahir memiliki Ayah yang seperti apa, kita juga tidak bisa memilih akan terlahir dari keluarga siapa, pinta Ibu hanya satu Nak? jangan menyesal jadi anak Ibu.
Amanda kemudian berusaha memejamkan matanya, tidak lama kemudian Amanda masuk ke alam mimpi.
Sementara itu, Dinda sejak kejadian kemarin masih syok dan belum siap menerima takdirnya.
Dinda juga marah sama Tomi, kesuciannya harus hilang karena diambil pria itu.
Arghhhh!
"Tomi ...."
Dinda menangis tidak terima. Selama ini tidak ada hubungan apa pun diantara dirinya dan Tomi, selain kerja sama untuk mengambil harta Amanda.
Tidak pernah terpikir bila akan sampai melakukan hal sejauh itu hingga tidur bersama.
"Ini semua gara-gara Tomi yang bodoh itu!"
Ahh!!
"Kau harus tanggung jawab Tomi! kau harus tanggung jawab ...."
__ADS_1