Balas Dendam Istri

Balas Dendam Istri
BAB 71. Tidak terpengaruh.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pukul dua belas siang.


Amanda dan Merry baru saja selesai meeting bersama klien di sebuah restoran ternama, namun setelah selesai, kliennya langsung pergi ada urusan mendadak.


Amanda merasa malas makan siang di ruang VVIP, karena ruangan itu tertutup, Amanda mengajak Merry untuk makan di luar ruang VVIP supaya bisa makan sembari menikmati suasana di sekitar restoran.


"Nyonya mau makan apa?" tanya Merry setelah keduanya duduk, saat ini Merry sedang memilih menu makanan.


"Nasi sama ayam saja, minumnya sop buah," jawab Amanda, dan Merry segera melingkari menu makanan itu.


Merry memanggil pelayan restoran, setelah pelayan itu datang, Merry menyebutkan menu makanan yang dipesannya.


Pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan.


Amanda mengecek lagi berkas yang tadi disepakati untuk bekerjasama.


"Menurut saya Tuan Lee sangat humble." Merry tiba-tiba bicara dengan senyum di bibir.


Amanda melirik Merry sekilas kemudian fokus lagi dengan berkas di tangannya. "Kenapa? kamu menyukainya?"


Merry hanya bisa menjawab dengan tersenyum, tapi dalam lubuk hatinya sudah menciut, baginya Tuan Lee sangat sempurna, selain tampan dan kaya juga tergolong orang baik, apa bila dibandingkan dirinya sangat jauh.


"Jika iya, aku akan mengatakan sama Tuan Lee."


"Jangan Nyonya," ucap cepat Merry, tidak mau sampai Tuan Lee mengetahui perasaannya yang diam-diam menyukai.


"Kenapa?" tanya lembut Amanda sembari menutup berkas di tangannya dan menyimpannya kembali.


"Aku merasa tidak pantas Nyonya." Merry menundukkan kepalanya.


Amanda tersenyum kecil. "Menurutku malah pantas, karena kau jago berkelahi pasti bisa melindungi anak-anakmu nanti."


"Nyonya," ucap Merry jadi malu.


"Becanda," jelas Amanda.


Karena Merry tidak mau Tuan Lee mengetahui perasaannya, Amanda tidak jadi mengatakannya pada pria itu.


Pesanan makanan sudah tiba, pelayan menyusunnya di atas meja.


"Silahkan dinikmati Nona," ucap pelayan itu sebelum ahirnya beranjak pergi.


Amanda dan Merry segera menyantap makan siangnya. Keduanya fokus makan tidak ada yang saling bicara, rasa ayam gorengnya lezat, Amanda menghabiskannya, biasanya Amanda jarang sampai habis.


Saat tangan Amanda mau mengambil gelas berisi sop buah, tiba-tiba ada tangan lain yang lebih dulu mengambil gelas sop buahnya, dan tiba-tiba ....

__ADS_1


Byurrr!


Wanita itu menyiramkan sop buah ke wajah Amanda.


Merry seketika bangkit dari duduknya dan dengan gerakan cepat melintir tangan wanita itu.


"Beraninya tangan Anda melukai Nyonya saya, hah!" bentak Merry yang semkin kuat melintir tangan wanita itu.


"Ah! Lepaskan! Sakit lepaskan!" teriak Ervina yang merasakan tangannya berasa mau patah.


"Merry."


Mendengar namanya dipanggil sama Amanda, Merry langsung melepas tangan Ervina dengan mendorong wanita itu, apa bila tidak berpegangan kursi mungkin Ervina sudah tersungkur.


Ervina menatap benci ke arah Merry yang sudah berani menyakitinya. Namun tatapannya beralih semakin benci saat melihat Amanda.


"Beraninya kau merebut Valentino dariku!" hardik Ervina kini tatapan wanita itu lebih tajam dari sebelumnya.


Amanda tidak terpancing emosi sama sekali, malah dengan santai membersihkan wajahnya menghilangkan air sop buah mengunakan tisu.


Melihat Amanda yang hanya diam saja, membuat Ervina semakin geram.


"Apa kau tuli hah!" bentak Ervina.


"Kau tidak tahu bahwa Valentino adalah kekasih aku!"


"Ingatnya aku tidak akan membuat hidupmu tenang!" Ervina mengangkat tangannya mau menampar Amanda, namun belum sempat tangan itu mengenai pipi Amanda, Merry lebih dulu menangkapnya dan melintirnya kembali dan mendorong Ervina.


"Bisa Anda tidak melukai fisik, jika mau bicara maka bicaralah," ucap Merry dingin sembari menatap tajam ke arah Ervina.


Amanda membiarkan Ervina bicara sepuasnya, Ervina terus mengoceh dan menghina Amanda.


Merasa sudah cukup mendengar ocehan dan hinaan Ervina, Amanda menjentikkan jarinya. seketika pria ber jas hitam menghampirinya.


"Bawa wanita itu keluar!" perintah Amanda dengan suara yang terdengar dingin.


Mendapat perintah sang Nyonya, dua pria berjas hitam itu langsung menyeret Ervina keluar dari restoran tersebut.


"Hei, lepaskan aku!" teriak Ervina saat tubuhnya di tarik keluar oleh dua pria berjas hitam tadi.


Merry menatap Amanda. "Nyonya baik-baik saja?" tanya Merry penuh khawatir.


Amanda menggeleng. "Ambilkan jas saya di mobil, saya tunggu di kamar mandi." Amanda langsung berjalan menuju kamar mandi.


Merry berjalan keluar untuk mengambil jas Amanda di dalam mobil.


Di dalam mobil Amanda ada beberapa jas miliknya, yang sengaja di gantung di dalam mobil, sewaktu-waktu butuh ganti tidak repot, contoh seperti kejadian barusan.

__ADS_1


Amanda harus ganti, karena sehabis ini masih ada jadwal bertemu dengan seseorang.


Setelah mengambil satu set jas di dalam mobil, Merry membawanya ke kamar mandi, untuk memberikannya ke Amanda.


Amanda segera menggantinya, beberapa saat di dalam Amanda keluar sudah berganti jas yang baru.


Mereka berdua berjalan menuju keluar.


Sampainya di dalam mobil, Merry meletakkan jas kotor Amanda di bagasi mobil, tidak lama kemudian mobil pun melaju.


Tiga puluh menit, mobil yang Merry kendarai sampai di tempat tujuan.


Merry mendampingi Amanda masuk ke dalam gedung tempat wawancara akan dilakukan, ada stasiun televisi yang ingin mewawancarai Amanda.


Sampainya di dalam sana, Merry menunggu di luar, sementara yang masuk ke dalam hanya Amanda. Dan acara wawancara dilakukan.


Dua jam Merry menunggu Amanda di luar pintu, dan kini Amanda baru saja keluar dari ruang tersebut.


Banyak wartawan di tempat ini, Amanda dan Merry seolah sudah biasa tertangkap kamera, mereka berdua berjalan biasa menuju parkiran mobil.


Sekarang waktu sudah sore hari, Amanda meminta Merry untuk mengantarkannya pulang langsung.


Saat mengendarai mobil, sesekali Merry melihat Amanda melalui kaca mobil, Amanda terlihat bisa saja tidak menunjukan kekesalan, Merry berpikir Amanda tidak terpengaruh sama sekali dengan wanita asing yang tadi muncul di restoran.


Beberapa saat kemudian mobil sampai di rumah. Amanda masuk ke dalam rumah, sementara Merry kembali melajukan mobilnya.


Tibanya di dalam kamar Amanda langsung merebahkan tubuhnya, rasanya mengantuk dan ingin segera tidur, tapi teringat belum mandi.


Amanda putuskan untuk mandi.


Tibanya pukul tujuh malam, Valentino pulng kerja, saat pria itu masuk ke dalam kamar, Amanda membantu melepaskan jas yang Valentino gunakan, tiba-tiba Amanda ingin mencium aroma jas Valentino.


"Kenapa?" tanya lembut Valentino saat melihat Amanda mencium jasnya.


"Kali aja ada parfum wanita yang menempel," jawab asal Amanda sembari berjalan menuju ranjang baju kotor.


Valentino bingung dengan jawaban Amanda, milih mengikuti Amanda dan ingin memastikan.


Amanda menoleh saat Valentino berdiri di belakangnya. "Tadi siang mantan kamu menemui aku."


"Tapi dia tidak melukai kamu kan?" tanya panik Valentino sembari memeriksa tubuh Amanda, memastikan Amanda baik-baik saja.


Melihat Valentino yang panik, Amanda ahirnya buka suara.


"Tenang saja ada Merry yang selalu menjaga aku." Amanda tersenyum.


Valentino memeluk Amanda.

__ADS_1


__ADS_2